
Sudah seminggu Yoga di Jakarta, dia juga sudah bisa beradaptasi dengan kehidupan di Jakarta. Yoga juga sudah mendapatkan sekolah, dia berangkat sekolah dengan sopir karena belum hafal Jakarta.
“Kamu bisa nyetir Ga?”tanya Nabila.
“Bisa mbak, dari kelas 3 SMP saya sudah bisa nyetir mbak. Dulu sering bantu bapak angkut panenan dari sawah sebelum pick up bapak akhirnya di jual Ibu saat bapak sudah nggak ada.” Jawab Yoga.
“Owalah, kejam ya Ga ibu tirimu.”
“Yah, lumayan sih mbak.”
“Kalo pas ada waktu luang kamu latian bawa mobil sendiri saja, dimulai keliling yang dekat-dekat rumah, nanti kalo sudah handal kamu ke sekolah bawa mobil sendiri saja.”
“Ah, nggak perlu mbak, saya bisa naik angkot mbak.”
“Udah nggak papa, kamu nurut aja lagipula itu juga kemajuan mas Adam. Nanti dia akan angkat kamu jadi adiknya secara legal, jadi kamu tenang aja.” Tutur Nabila.
“Tapi mbak, kalo bawa mobil sedikit berlebihan mba, mending saya bawa motor aja. Soalnya saya juga belum dapat teman yang cocok mbak, takutnya kalo bawa mobil nanti malah dikira orang kaya kalau di manfaatkan teman yang jahat kan repot mbak.”
“Wo iya iya, ya sudah kamu pakai klx nya mas Adam saja atau mau pakai scoter?” Tanya Bila.
“Memang ada mbak scoter?”
“Ada punyaku, tapi di cafe. Kalau mau besuk kita bisa ambil.”
“Itu aja mbak, aku mau pakai scoter” ucap Yoga.
“Oke deh.”
“Non, mobilnya sudah siap.” Ucap Pak Slamet menghampiri Nabila dan yoga yang sedang bersantai di taman belakang.
“Oke Pak, saya ambil tas dulu.” Jawab Nabila.
“Mbak mau pergi?” Tanya Yoga.
“He’m Ga, mau ke belanja bulanan. Kamu mau ikut nggak?”
“Nggak mbak.”
Nabila kembali ke kamarnya untuk mengambil tas. Nabila berbelanja di temani Pak Slamet sebagai sopir dan Bi Ijah. Nabila memilih belanja di supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, karena selain dekat juga lengkap. Semua yang dibutuhkan Nabila tersediadi supermarket itu.
“Bi, orang rumah ada yang bisa bikin sambel plencing nggak ya?” Tanya Nabila.
“Saya saja bisa Non, kan cuma Sambel bawang di kasih gula Jawa to Non.”
__ADS_1
“Iya sih Bik, ya udah nanti nyambel ya bik.”
“Siap, Non.”
Nabila lalu mengambil bayam dan kangkung segar. Biasanya jika di Jogja Nabila akan membeli daun ubi jalar, karena daun ubi jalar sangat enak jika di makan dengan Sambel plencing. Dari tempat sayuran Nabila beralih ke tempat ayam dan daging, disana dia mengambil beberapa daging sapi dan daging ayam.
“Non, mau ambil ikan apa?” Tanya bik Ijah.
“Nila aja bik, sama cumi dan udang juga ya bik!”
“Baik, Non.”
*Drtt..drttt..**pesan masuk dari Adam.*
📲 Adam: Masih lama belanjanya?
📲 Nabila: Masih mas. Ada apa?
📲 Adam: Kangen kamu ❤️
📲 Nabila: Kan baru 3 jam kita nggak ketemu mas..
📲 Adam: 1 menit nggak ketemu kamu aja udah kangen banged, apalagi 3 jam.
📲 Adam: Kamu cantik pakai baju warna soft gitu. Coba nengok ke belakang.
Nabila langsung menoleh belakang setelah membaca chat dari Adam. “Mas Adam?” Nabila kaget suaminya sudah berdiri dengan jarak 10 meter di belakangannya. Dia langsung berjalan kearah suaminya. “ Mas kok bisa disini?” Tanya Nabila.
“Kan kangen kamu.” Jawab Adam.
Nabila langsung menggandeng manja lengan suaminya itu. “Karena udah disini harus nemenin aku belanja sampai selesai yaa.”
“Dengan senang hati Tuan putri.” Jawab Adam lagi.
Nabila mengajak Adam untuk memilih cemilan, buah dan lain sebagainya. Setelah hampir 2 jam akhirnya Nabila selesai belanja. Bik Ijah dan pak Slamet memasukan barang belanjaan ke dalam mobil. Sementara Nabila berdiri disamping mobil, menunggu Adam yang sedang menerima telefon.
“Pak Slamet sama Bi Ijah pulang duluan saja Pak, saya sama Bila masih ada urusan.” Ucap Adam setelah mengakhir panggilan telefonnya.
“Baik, Tuan.” Ucap Pak Slamet.
Adam menggandeng Nabila ke arah mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Nabila. Dia kemudian berjalan berputar ke arah kemudi. “Kita mau kemana mas?” Tanya Nabila.
“Ke kantorku sebentar, ada laporan yang butuh tanda tanganku.”
__ADS_1
“Ohh.”
Adam melajukan mobilnya menuju Hanggara Grup. Saat sampai di kantor pusat Hanggara grup ternyata Nabila malah tidur, Adam tidak mau membangunkan Nabila. Dia mengangkat Nabila dalam gendongannya masuk ke kantor, sontak semua pegawai langsung memperhatikan Adam. Adam membawa Nabila naik ke lantai dimana ruangan Presdir berada dengan lift khusus Presdir. Setelah sampai diruangan nya, Adam membaringkan Nabila di ruang kamar yang biasa digunakan Adam untuk beristirahat.
“Maaf, Tuan.” Ucap Tio.
“Tidak papa, klien yang satu ini memang ribet. Kamu siapkan saja ruang meeting, 5 menit lagi saya kesana.”
“Baik, Tuan.”
Adam kembali ke kantor karena telefon dadakan dari Tio, salah satu klien Adam ingin memajukan jadwal pertemuan karena harus kembali ke negara asalnya. Terpaksa Adam yang tadi sedang menemani Nabila harus kembali ke kantornya, dia membawa Nabila ke kantor agar bisa meredam amarahnya. Karena Adam paling tidak suka pertemuan yang tidak terjadwal apalagi terkesan mendadak. Untung saja Adam yang sekarang sudah tidak se kejam Adam yang dulu. Jika dia masih Adam yang dulu pasti dia akan langsung membatalkan kerjasamanya dengan klien ini.
Meeting dengan klien berjalan lancar, setelah 1 jam akhirnya selesai. Adam kembali keruangannya, dilihatnya Nabila masih terlelap, dia kemudian mengunci ruangannya dan berbaring di sebelah Nabila sampai akhirnya tertidur.
Nabila mulai mengerjapkan matanya pelan, Adam masih terlelap dengan memeluk Nabila yang tadi tertidur miring. Nabila memutar tubuhnya sampai menghadap Adam. “ Mas, bangun!”
Adam yang mendengar suara Nabila langsung membuka matanya, “Kamu sudah bangun sayang.”
“Maaf, tadi aku ketiduran mas.”
“Tidak perlu minta maaf, apa kamu mau pulang sekarang?” Tanya Adam.
Nabila pun mengangguk, “Iya.”
Adam langsung beranjak dari tidurnya, dan mengirim pesan ke Tio agar menyiapkan mobil. Nabila sendiri membasuh mukanya, setelah itu mereka turun ke basement, disana Tio sudah menunggu. Tio yang mengemudikan mobil Adam, karena nabila tidak mau Adam yang menyetir sendiri, Nabila khawatir Adam masih mengantuk. Satu jam kemudian mereka sampai di kediaman Adam.
“Kamu bawa saja Tio, kamu jemput saya besuk pagi!”
“Baik, Tuan.” Setelah mengantar Adam dan Nabila, Tio pulang kerumahnya dengan mobil Adam.
Adam dan Nabila langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka makan malam bersama. Menu makan malam kali ini plencing kangkung sesuai permintaan Nabila, lengkap dengan tempe goreng. Sementara untuk Adam dan Yoga menunya cumi asam manis.
“Ini apa Bil?” Tanya Adam menunjuk Sambel plencing.
“Sambel mas.”
“Kok ada gula Jawanya?”
“Iya, tapi enak kok. Mas mau coba?”
Adam mengangguk, dia lalu mengambil sesendok Sambel dan kangkung sebagai lalapan. “ Huwah..pedes Bil.”
Bersambung..
__ADS_1