Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Paket untuk Nabila


__ADS_3

“Mau aku whatshap in dokter maya buat janji periksa?” Tanya Nabila setelah mereka memastikan hasilnya. Sesuai hasil browsing dari beberapa sumber dua garis meskipun yang satu samar adalah positif hamil.


Abel mengangguk. “Mau.” Jawab Abel lirih.


“Bukan kamu, Bel. Bukan kamu!” Nabila menghela nafasnya.


“Oh, bukan aku to.” Jawab Abel polos.


“Nit, nggak papa kita bakalan selalu ada buat kamu.” Ujar Nabila memahami kekhawatiran Nita.


“Gimana kalau keluarga mas Riko nggak mau nerima aku dan bayi ini?Gimana kalau keluarga mas Riko jadi memandang aku rendah?” Tanya Nita dengan terisak. Ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang selama ini di pendamnya.


“Gue tetep terima lo, kok. Gue sama Nabila juga nggak akan mandang lo rendah. Kalau keluarga mas Riko nggak mau nerima lo dan bayi lo, kita besarim bayi lo sama-sama. Gue sama Nabila bisa dan siap jadi mama!Iya kan, Bil?” Abel melirik Nabila yang langsung diangguki Nabila.


“Makasih ya guys. Kalian selalu ada di saat aku butuh.” Ucap Nita.


“Jangan khawatir-in hal-hal yang belum pasti. Sekarang kamu periksa dulu aja, aku udah Whatshap dokter Maya. Kamu bisa langsung masuk ke ruangan dokter Maya.” Ujar Nabila.


“Ayo, Nit!” Abel memegangi lengan Nita. Ia akan menemani Nita ke dokter kandungan.


***


“Permisi!” Ucap suster di ambang pintu. “Maaf ada paket untuk Nyonya Nabila.” Suster itu masuk ke ruangan Nabila membawa sebuket bunga.


Adam langsung menoleh dan menerima buket bunga yang di bawa suster itu. “Terimakasih, Sus.” Adam sedang berdiri mengobrol dengan Yoga seraya menatap Nabila yang tengah tidur.


“Sama-sama, Pak.” Suster itu meninggalkan ruang rawat inap Nabila.


“Dari siapa, mas?” Tanya Yoga penasaran.


“Penggemar rahasia mbakmu!” Jawab Adam datar. Laki-laki itu menyerahkan buket bunga itu pada adik angkatnya. “Kamu buang saja, jangan sampai Nabila tau!” Tegas Adam.


“Mas tau siapa yang ngirim?” Yoga menerima buket bunga itu lalu mengamatinya.


“Baru di selidiki.”


“Bahaya ini mas, berarti orang itu ada di sekitar kita.” Ucap Nabila.


“Aku juga berpikir begitu.”


“Jangan-jangan ada ubis ubis nya mas.” Ucap Yoga begidik ngeri-ngeri.


“Ubis-ubis apa?” Tanya Adam.


“Itu lho, jangan-jangan ada peletnya?”


Adam menggelengkan kepalanya. “Kamu percaya begituan?Hm, mana ada jaman sekarang yang kaya gitu, Ga.” Adam orang modern yang tidak percaya hal takhayul atau semacam pelet, dan sebagainya.


“Bisa aja mas, orang bisa melakukan hal apa saja demi mencapai tujuannya mas.” Yoga mendekati Adam berbicara dengan serius.


“Buang saja bunga itu!” Menyuruh Yoga segera membuang bunganya.


Yoga pun berjalan keluar dari kamar inap Nabila untuk membuang bunganya.

__ADS_1


“Tunggu!” Adam menghentikan langkah Yoga.


Yoga menoleh. “Gak jadi dibuang?” Tebak Yoga.


“Kamu pulang saja terus bakar bunga itu!” Perintah Adam.


“Dibakar?Yakin?”


“Iya, kalau ada peletnya biar musnah sama api.” Ucap Adam yang akhirnya percaya hal berbau mistis karna Yoga.


“Oke.” Yoga keluar dari kamar inap Nabila.


Setelah menjalani opname 2 hari Nabila diizinkan pulang oleh dokter. Semua keluarga datang menjemput Nabila. Hanya mama Silfi yang tidak ikut. Mama Silfi menunggu dirumah.


Mobil iring-iringan yang ditumpangi Nabila dan keluarganya meninggalkan rumah sakit. Setelah menempuh perjalanan 30 menit mereka sampai di rumah mewah milik Adam.


“Hati-hati Nduk!” Ucap ibu Putri saat Nabila akan turun dari mobil.


“Iya, buk.” Nabila berpegangan tangan ibu Putri.


“Welcome home, sayang!” Sambut mama Silfi di depan pintu utama dengan senyum sumringah. Mama Silfi maju mendekati Nabila menggandeng lengan kanan Nabila. Kini Nabila masuk kedalam rumah diapit oleh mama Silfi di lengan kanan dan ibu Putri di lengan kiri. Keduanya membawa Nabila ke kamarnya dengan menggunakan lift. Kasian Nabila jika harus naik tangga.


“Bila ngantuk ma,” ucap Nabila duduk di ranjang miliknya.


“Oke, kamu bobok cantik dulu. Nanti mama bangunkan pas makan siang.” Nabila mengangguk. Lalu mama Silfi dan Bu putri meninggalkan kamar Nabila. Mereka menuju ruang keluarga dimana anggota keluarga yang lain sedang berkumpul.


“Nabila tidur, ma?” Tanya Adam begitu mama Silfi sampai diruang keluarga.


“Yaudah, Adam ke kantor dulu.” Pamit Adam pada keluarganya.


“Jangan pulang malam, Dam!” Ujar kakek Trisno. Adam mengangguk.


***


“Ada paket untuk non Bila, Bu!” Ucap Bi Sumi pada ibu putri. Ibu putri menoleh.


“Kasih langsung ke Nabila aja dikamarnya.” Bu Putri sedang menggoreng lele untuk makan malam.


“Baik, Bu.” Bi Sumi langsung menuju kamar Nabila.


Tok tok.. “Masuk!” Sahut Nabila dari dalam kamar.


“Non, ini ada paket untuk non.” Bi Sumi menyerahkan paket untuk Nabila.


“Makasih, Bi.”


‘Paket apagali ini?’ Nabila mengamati paket yang berada ditangannya. Nabila masih ingat bagaimana ia dan Adam bertengkar gara-gara sebuah paket. Ia tidak mau lagi bertengkar dengan Adam.


Pun, Nabila mengambil ponselnya untuk menghubungi Adam.


‘Hallo!’ Sahut Adam dari seberang.


“Mas, pulang jam berapa?” Tanya Nabila.

__ADS_1


‘Sebentar lagi, ada apa?’


“Aku dapat paketan lagi, tidak ada nama pengirimnya.” Ucap Nabila hati-hati takut suaminya malah lagi.


‘Jangan dibuka!Nanti aku yang buka!’ Tegas Adam.


“Baik.”


‘Oke, aku tutup dulu. Jangan lupa minum obatmu.’ Klik Adam lebih dulu menutup sambungan telepon dari Nabila.


***


Adam sedang rapat saat menerima telepon dari Nabila. Ia terpaksa menghentikan rapatnya untuk mengangkat telepon dari Nabila.


Setelah selesai rapat Adam bergegas untuk pulang ke rumah. Adam tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya setelah mendapat telepon dari Nabila. Si pengacau semakin berani.


“Apa ada masalah, Tuan?” Tanya Tio pada Adam. Tio bisa membaca bosnya sedang gelisah.


“Tidak!” Jawab Adam seraya memejamkan mata. Laki-laki itu menyenderkan kepalanya di punggung kursi mobil.


“Tio!”


“Ia, Tuan.”


“Tolong, tempatkan beberapa pengawal untuk istriku. Sementara selama Nabila masih dirumah, tempatkan mereka di luar rumah.” Ucap Adam. Untuk beberapa hari kedepan Nabila tidak akan keluar rumah. Perempuan itu masih butuh istirahat total. Nabila sudah mengambil izin tidak masuk kuliah selama 8 hari. Sebagai gantinya akan mengerjakan tugas kuliah secara online.


“Baik, Tuan.”


“Urus sebaik mungkin, jangan mencolok. Jangan ada orang rumah yang tau.” Adam tidak mau memberitahu keluarganya jika Nabila tengah diteror pengacau. Ia tidak mau keluarganya ikut khawatir.


“Baik, Tuan.”


**


“Assalamualaikum, ma, buk!” Sapa Adam mencium punggung tangan mama dan ibu mertuanya.


“Walaikumsalam.” Jawab Silfi dan Putri serentak.


“Tumben kamu udah pulang?” Tanya mama Silfi.


“Nabila kangen katanya ma, minta Adam pulang cepat.” Jawab Adam berbohong.


“Oh, ya sudah sana temui istrimu.” Adam pun pamit pada Silfi dan putri menuju kamarnya.


Sampai di kamar, Adam melihat Nabila tidur dengan memeluk guling. Menggemaskan sekali. Cup.. mengecup kening Nabila sekilas. Jika Nabila dalam keadaan sadar Adam tidak punya kesempatan melakukan itu. Karna, ia masih berpura-pura kesal dengan Nabila.


Adam meletakan jas dan kemeja kotor nya di keranjang. Ia juga melepas sepatunya dan meletakannya di rak sepatu kotor. Adam melihat box asing di dekat sofa, kemungkinan itu adalah paketan yang dikatakan Nabila saat di telepon tadi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2