
Sudah keliling jalanan Adam tidak menemukan soto Lamongan yang masih buka. Terpaksa mereka pulang tanpa hasil, sebagai gantinya Nabila membeli bakmi Jawa goreng.
“Maaf ya sayang, besok mas carikan soto Lamongan nya.” Ucap Adam membujuk Nabila. Mereka sudah sampai di apartemen Nabila beberapa menit yang lalu.
Nabila mengangguk, meskipun kecewa tapi ia tetap tersenyum pada Adam. Besok juga masih bisa makan soto Lamongan.
“Bila mandi ya, mas.” Nabila berjalan menuju kamar mandi.
“Kita mandi bareng saja.” Adam meletakan jas nya ke dalam ranjang pakaian kotor lalu menyusul Nabila ke kamar mandi.
Pukul 23:45, Nabila yang sudah tertidur sejak satu setengah jam yang lalu tiba-tiba terbangun. Perempuan itu merasa lapar. Ia pun menoleh ke sebelahnya mencari Adam, namun suaminya itu tidak berbaring di sebelah Nabila. Hanya ada guling di sebelah Nabila.
Nabila turun dari tempat tidur untuk mencari Adam. Ia berjalan keluar dari kamarnya, dilihatnya Adam tengah menonton televisi di ruang tengah.
“Loh, kok kamu bangun, sayang?” Melihat Nabila berjalan kearahnya. Terlihat istrinya masih menahan kantuk, lalu apa yang membuatnya bangun?
Nabila duduk di sebelah Adam lalu menyenderkan kepalanya di bahu Adam, membuat Adam miringkan kepalanya melirik Nabila. “Mas laper.” Keluhnya seraya mengelus perutnya.
“Laper?” Padahal sebelum tidur Nabila sudah makan bakmi Jawa.
“Ia, pengen bakso.”
“Oke, mas keluar cari bakso buat kamu.” Ucap Adam seraya mendorong kepala Nabila agar tidak menyender dibahunya. Karna, ia akan mengambil jaketnya dan pergi membeli bakso.
“Ikut.” Rengek Nabila manja.
“Sayang..Di luar hujan, pasti dingin banged. Kamu di apartemen aja, ya?” Bujuk Adam.
Nabila menggeleng pelan. Ia tetap mau ikut Adam mencari bakso.
“Huft, baiklah. Ganti bajumu dengan yang hangat!” Adam mengehela nafas kasar. Ia memerintahkan pada Nabila untuk berganti baju. Tidak mungkin Nabila keluar dengan daster tipis yang ia kenakan saat ini.
Sementara Nabila ganti baju, Adam menghubungi Tio untuk mencari penjual bakso kaki lima yang masih buka. Dengan begitu ia tidak akan membuang waktunya berkeliling mencari penjual bakso.
Tio memang asisten Adam yang bisa diandalkan. Tidak perlu waktu lama Tio pun mengirim alamat penjual bakso yang masih buka. Ia juga mencarikan rute yang tidak terkena banjir.
“Ayo, mas!” Ajak Nabila semangat. Ia sudah menggunakan celana panjang dan hodie. Sesuai permintaan Adam, ia memakai pakaian yang hangat.
__ADS_1
“Oke.” Adam meraih tangan Nabila dan menggandengnya. Mereka keluar dari apartemen dan langsung menuju lokasi yang sudah dikirim Tio.
30 menit waktu yang dibutuhkan mereka untuk sampai ke tempat itu. Bakso Mbah Rejo, namanya. Cukup rame ternyata di jam tengah malam begini, nyatanya banyak kendaraan yang terparkir di sekitar bakso itu. Kendaraan itu terlihat berjejer rapi karna ada tukang parkir yang menatanya. Kebanyakan kendaraan roda dua. Mungkin muda mudi yang sedang pacaran lalu lapar di jam tengah malam.
Adam sudah memarkirkan mobilnya dengan rapi. Ia pun melepas sabuk pengamannya. “Ayo turun sayang.” Ajak Adam.
Nabila melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil. Ia tidak menunggu Adam untuk membukakan pintu. “Mas tau dari mana tempat ini?” Tanya Nabila. Perempuan itu heran kapan Adam tau tempat-tempat seperti ini. Apalagi Adam tidak bingung sama sekali, dari apartemen Adam langsung menuju ke tempat itu. Seakan ia sudah tau lama tempat itu.
“Aku tadi tanya Tio.” Jawab Adam menggandeng istrinya menuju tempat makan.
“Pantesan.” Gumam Nabila.
“Pak, bakso dua masih?” Tanya Adam pada bapak penjual bakso.
“Masih Tuan, makan disini apa bungkus?”
Adam menoleh pada istrinya mencari jawaban dari istrinya. “Makan disini.” Bisik Nabila.
“Makan disini, pak. Sama teh anget dua, pak.”
Adam dan Nabila mencari tempat duduk yang nyaman. Ia duduk di pojok dekat tembok agar Nabila bisa menyandarkan punggungnya di tembok. Tempat itu lesehan dengan beralaskan tikar.
“Mas, Bila mau nambah.” Ucap Nabila. Perempuan itu baru saja menyelesaikan makan satu mangkuk bakso. Namun, sepertinya masih kurang. Entah porsinya yang sedikit menurut Nabila, atau memang nafsu makan Nabila sedang meningkat.
“Oke.” Adam beranjak dari duduknya untuk menghampiri bapak penjual bakso. Ia akan memesan lagi satu mangkuk bakso kuah untuk Nabila. Adam sendiri sudah menyelesaikan makannya beberapa menit yang lalu.
Nabila makan dengan lahap. Pipinya menjadi menyembul saat ia sibuk mengunyah bulatan bakso itu. Tidak tanggung-tanggung Nabila menghabiskan tiga porsi bakso kuah, satu gelas teh anget dan satu gelas besar air putih.
“Udah, mas. Bila kenyang, ayo pulang.” Mengelus perutnya merasakan perut yang tadinya keroncongan itu sudah penuh kembali. Bahkan sepertinya tidak ada celah kosong di perutnya sekarang.
“Kamu duluan ke mobil, mas bayar dulu.” Adam menyerahkan kunci mobilnya pada Nabila. Nabila mengangguk dan meninggalkan Adam menuju mobil.
“Lucunya, setelah kenyang langsung tidur.” Adam tersenyum, ia merasa gemas pada istrinya. Perempuan itu tertidur dalam perjalanan pulang.
***
Keesokan Paginya.
__ADS_1
Setelah mengantar Nabila ke kampus, Adam pergi keperusahaan.
“Apa maksudnya ini, Tio?” Tanya Adam marah. Laki-laki itu membaca laporan di laptopnya. Laporan yang bisa membuatnya rugi triliun an.
“Maaf, Tuan. Seperti yang anda baca di laporan, Tuan Kris tiba-tiba membatalkan kerja sama nya.” Ujar Tio. Padahal itu adalah proyek baru yang hampir berjalan, hanya tinggal tanda tangan kontrak dengan perusahaan milik tuan Kris.
“Apa kau sudah menyelidiki alasan Tuan Kris membatalkan kerjasama?”
“Maaf Tuan, kami belum tau alasannya. Saya sudah mencoba menghubunginya berkali-kali, namun beliau tetap kekeh tidak mau bicara alasan nya. Bahkan sekarang, Presdir Kris menolak panggilan telepon dari saya.” Jawab Tio.
Adam merasakan ada yang tidak beres dengan pembatalan kerjasama kali ini. Apalagi dirinya sudah pernah menjalin kerja sama dengan Kris sebelumnya.
Adam berpikir untuk beberapa saat.
“Tidak ada pilihan lain, Tio.” Ucap Adam serius.
“Maksud Tuan?” Tanya Tio yang sudah bisa membaca rencana bosnya.
“Ya, aku akan menemuinya sendiri. Aku rasa ada yang tidak beres.” Adam menopang dagunya dengan kedua tangannya. Ia berencana untuk pergi keluar negeri menemuai tuan Kris secara pribadi. Adam yakin jika dirinya yang datang langsung tidak mungkin tuan Kris menolak kedatangannya.
“Baik, Tuan. Saya akan mengatur keberangkatan anda. Dan, jadwal yang harus diubah karena rencana mendadak ini.” Ucap Tio sopan.
“Hm.”
Tio lalu keluar dari ruangan Adam.
Setelah Tio pergi, Adam menjadi galau. Apakah keputusannya sudah tepat?Ia enggan untuk pergi apalagi Nabila sudah hamil besar. Namun, masalah kali ini berpengaruh besar pada perusahaannya. Adam tidak mungkin membiarkan perusahaannya merugi. Sebagai pemimpin dia bertanggung jawab penuh atas keberlangsungan hidup perusahaan.
“Nabila pasti bisa mengerti.” Gumam Adam, ia mulai memutar otaknya mencari cara untuk meminta izin pada Nabila. Jika ia tau masalah seperti ini akan terjadi pasti ia tidak akan memperbolehkan kedua mamanya pulang. Setidaknya saat Adam pergi Nabila tidak akan kesepian jika ada mama Silfi dan Ibu Putri. Tapi, mereka baru pulang beberapa hari yang lalu. Adam tidak enak jika meminta mama dan ibu mertuanya untuk kejakarta lagi.
“Yoga jarang dirumah, terus para bibi kebanyakan di rumah belakang. Kalau aku pergi Nabila sama siapa?” Gumam Adam.
.
.
.
__ADS_1