
Mendengar suara Nabila yang mulai meninggi Adam dengan lembut menenangkan istrinya, “Bil ini beneran enak, aku nggak bohong. Coba kamu tanya ke yang lain pasti sama jawabannya.”
“Benaran enak?” Suara Nabila kembali melembut.
Adam mengangguk dengan yakin, “Iyaa.. Kita makan sama-sama yaa.”
Adam menuntun Nabila agar duduk di kurai ruang makan, di meja makan sudah siap hidangan makan malam yang tadi di siapkan bik Sumi. Sop yang di buat Nabila hanya tambahan saja. Baru satu suapan Nabila sudah lari ke kamar mandi karena merasa mual. Adam pun menghentikan makannya dan langsung menyusul Nabila. “Kamu gak papa?” Tanya Adam saat Nabila selesai muntah, “Kita kerumah sakit yaa, atau aku minta dokter maya kesini.”
“Nggak papa mas, ini bawaan bayi. Aku udah baca-baca. Mual dan muntah pada orang yang baru saja hamil muda memang biasa.”
Adam memapah Nabila untuk kembali keruang makan. “Tapi kamu tetap harus makan ya, aku nggak mau kamu sakit kalau nggak makan. Sedikit aja nggak papa.” Setelah sampai di ruang makan, Adam menuangkan air putih hangat untuk di minum Nabila.
“Makasih, mas.” Jawab Nabila menerima segelas air putih hangat. Nabila menyiasati makan dengan sup jadi tanpa perlu banyak mengunyah langsung di telan saja. Karena jika terlalu lama mengunyah dia akan merasa mual. Sesudah makan, Adam mengantar Nabila untuk kembali ke kamarnya.
“Gimana?Masih mual?” Tanya Adam.
Nabila duduk seraya bersandar di pucuk ranjang, dan Adam duduk tepat di depan Nabila di tepi ranjang menghadap Nabila. “Nggak kok, Mas.”
Drtt..drtt.. panggilan masuk di ponsel Adam, tertera nama si panggil adalah Kevin. Adam berdiri ke arah meja sofa tempat dimana tadi dia meletakan ponselnya.
📞 Halo?Oke, aku kesana sekarang!
“Siapa mas?” Tanya Nabila.
“Kevin sayang, dia minta aku ke Club sekarang. Kevin bilang Riko kena masalah.” Jawab Adam setelah mengakhiri panggilan telefon dari Kevin.
“Ya udah nunggu apa lagi, mas kesana sekarang aja.” Nabila pun bangkit mendekati Adam tang masih dengan tangan menggenggam ponselnya.
“Kamu nggak papa kan aku tinggal sebentar?” Adam tidak tega meninggalkan Nabila sendirian, apalagi dengan kondisi Nabila yang sering tiba-tiba muntah dan mual.
“Mas tenang aja, dirumah kan banyak orang. Aku nggak sendirian.” Nabila meyakinkan Adam.
Adam lalu mengambil jaketnya dan mencium kening Nabila. “Aku pergi dulu sayang, kamu tidur duluan saja. Tidak perlu menungguku.”
__ADS_1
“Iyaa, Mas.”
Sesudah Adam pergi, Nabila kembali bersandar di ranjang seraya membaca novel.
Tok..tok..
“Mbak, ini yoga.” Ucap sang pengetuk pintu.
Nabila menghentikan aktivitas membaca bukunya untuk membuka pintu. “Ada apa Ga?”
“Mba besuk ada pertemuan wali, tadi aku mau bilang sama mas Adam tapi nggak ketemu.” Jawab yoga yang masih berdiri di depan pintu kamar Nabila.
“Oalah, tak kirain opo le. Tenang aja besuk kalau Mas Adam sibuk, mbak yang datang ke pertemuan wali murid.”
“Makasih, mbak.”
“He’m, dah kamu istirahat sana.” Yoga pamit dan kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Adam menghampiri Kevin yang berada ruangan VVIV bersama Riko. Ada beberapa orang berbadan tegap juga disana. Adam langsung duduk dan bergaung dengan mereka, muka Riko terlihat kusut. “Ada apa?” Tanya Adam.
Riko menghela nafasnya, “Rani ngancem gue. Kalau gue nggak nikahin dia, dia bakalan bunuh diri.”
Kevin menenggak bir yang tadi hampir ditenggak oleh Riko. “Tuh cewek emang udah ngerencanain semuanya dengan mateng.”
“Jadi, jawaban lo apa?” Tanya Adam.
Riko mengacak rambutnya sendiri. Dia merasa sangat frustrasi saat ini. “Ya, gua jawab iya. Gua mau nikahin dia, gua gak ada pilihan Dam. Lo tau ini berhubungan sama nyawa orang.
“Gue yakin dia cuka gertak lo Rik, perempuan matre seperti dia nggak bakalan nge bahaya in nyawanya sendiri!” Seru Kevin dengan sangat yakin.
Adam sepemikiran dengan Kevin, “Rik, gue rasa lo jangan gegabah. Gue bakal cari cara buat lo ngelawan Rani. Untuk sementara lo baik-baikin si Rani dulu, kalau bisa lo undur rencana pernikahan lo.”
“Tapi gimana Dam?Gimana gue bisa baik-baikan dia?Gue aja eneg banged liat muka dia.” Ucap Riko merasa tertekan dengan apa yang disarankan Adam.
__ADS_1
“Lo bersabar dulu Rik, sampai gue sama Adam berhasil nemuin cara.” Sahut Kevin.
“Lo tenang aja Rik, gue yakin ngga akan lama kok. Gue udah punya rencana.” Sahut Adam. Adam langsung mengatakan rencananya pada Kevin dan Riko.
“Oke, gue setuju.” Setelah mendengar rencana dari Adam, Riko sedikit merasa lega. Dia seperti menemukan cahaya di tengah kegelapan yang sedang menyelimuti hatinya.
“Lo yakin bapak dari anak yang dikandung Rani bisa ditemukan?” Tanya Kevin ragu.
Adam pun tertawa dengan pertanyaan Kevin. “Lo lupa siapa gue Vin?Hal apa yang nggak bisa gue temukan?” Kata Adam.
Kevin mengangguk anggukan kepalannya. “Gue lupa kita punya bos Adam. Tapi sayang sekali Bos besar Hanggara grup juga punya kelemahan.”
“Apa kelemahannya?” Tanya Riko serius.
“Suami takut istri!” Jawab Kevin.
“Sialan lo.”
Seluruh orang yang diruangan itu pun tertawa. Tidak seperti saat Adam, kini suasa sudah kembali normal. Muka Riko yang tadi banyak tekan juga sudah normal. Riko tidak lagi memikirkan ancaman-ancaman Rani, dia sangat yakin Adam dan Kevin bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah ini. Adam pun menceritakan kepada kedua sahabatnya jika Nabila tengah hamil. Riko dan Kevin sangat antusias, mereka bahkan ingin ikut Adam pulang dan memberi selamat secara langsung pada Nabila. Tapi Adam melarangnya, Adam tidak mau ada tamu yang datang tengah malam. Apalagi tamu yang berniat mengganggu jam istirahat Nabila.
Jam 01 pagi Adam kembali ke kediamannya, di lihatny istriny tengah tertidur pulas. Setelah membersihkan diri dan berganti piyama tidur, Adam langsung berbalik di sebelah Nabila dan memeluk istrinya. Nabila sedikit menggeliat saat merasakan tangan Adam tengah melingkar di perutnya, tapi dia sama sekali tidak membuka matanya. Cukup lama Adam memandangi wajah istriny yang tengah tertidur itu. Sesekali Nabila nampak tersenyum.
“Kamu mimpi apa sih Bil?Kenapa bisa semenggemaskan ini?” Adam mencubit pipi Nabila yang baru saja tersenyum. Lagi-lagi Nabila hanya menggeliat. Entah jam berapa Adam akhirnya tertidur juga.
Pagi harinya sebelum Adam berangkat kerja, Nabila menyampaikan undangan wali murid dari sekolah Yoga. Adam pun menyanggupinya, dia sendiri yang akan menghadiri pertemuan wali murid. Adam tidak mau Nabila capek jika Nabila yang datang ke sekolah Yoga. Padahal sebenarnya Nabila ingin sekali datang ke pertemuan wali murid, Nabila ingin melihat suasana sekolahan di Jakarta. Tapi dia tidak mau Adam khawatir juga, jadilah Nabila hanya bisa menuruti perkataan Adam untuk tinggal dirumah.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1