
kriet... pintu kamar tempa Nabila dirawat terbuka sedikit. Muncul Nita dengan raut khawatir. Tadi Nita juga sempat menelefon Nabila karena masalah cafe, tidak disangka Nabila tengah mengalami musibah.
Nita berjalan pelan karena melihat Nabila tertidur. “Maaf, apa anda yang menjawab telefonnya tadi?” Tanya Nita menghampiri Ayu yang sedang mengusap-usap kepala sang putra.
Ayu pun menggangguk. “Sahabatnya Nabila?”
“Iyaa Kak, Terimakasih sudah menolong Nabila.” Ucap Nita menjabat tangan Ayu. Nita lalu suduk di sofa depan Ayu.
“Sama-sama, sudah menjadi kewajiban saling menolong sesama manusia.”
“Saya Nita, Kak.” Nita memperkenalkan diri, tadi saat sedang bertelefonan dengan Nita, Ayu memang sudah memperkenalkan diri karna Nita bertanya.
“Iya Nit. Tadi kan udah kenalan di telefon. Kok bisa sih Nabila jalan sendiri pas hamil?Kenapa enggak di kawal, dia kan istri Presdir juga?Bahaya tauk.”
“Nabila nya yang nggak mau di kawal, kak. Katanya malu.” Nabila memang pernah cerita tidak mau mendapat pengawalan dari Bodyguard karena malu dilihat orang, padahal dirinya bukan artis ataupun orang penting.
“Mungkin kedepanya lebih baik ada Bodyguard, Nit. Nanti kamu coba ngomong sama suaminya, jangan sampai kejadian kayak gini terulang lagi.” Kata Ayu masih mengelus rambut putranya. Itu adalah salah satu caranya untuk membuat sang putra tertidur.
“Iya, kak. Aku juga berfikiran seperti itu.”
Saat tengah asik mengobrol Natalie masuk. “Bu, sudah waktunya.” Ucap asisten Ayu.
“Nit, aku boleh nitip si kembar bentar enggak?Aku harus ketemu klien, tapi mereka tidur. Nggak mungkin aku ajak.” Ucap Ayu seraya memandang dua malaikat kecilnya secara bergantian.
“Dengan senang hati, mbak. Tinggal disini saja, Nita pasti jagain. No WhatsApp mba berapa?” Nita meminta kontak Ayu agar bisa lebih mudah menghubungi Ayu jika si kembar bangun dan menanyakan mommy nya.
“Ini.” Ayu mengarahkan ponselnya agar Nita bisa memindai barcode whatshap Ayu. “Aku tinggal dulu ya, Nit.”
Nita mengangguk, sementara Ayu langsung berbanjak dari duduknya seraya mengambil tas Hermes mahal miliknya.
Tak lama kemudian Yoga dan Bi Sumi pun juga datang kerumah sakit. Nita sudah menghubungi Yoga setelah mendapat kabar Nabila terluka. Yoga pergi kerumah sakit dengan mobilnya sendiri.
“Mbak, gimana keadaan mbak Bila?”
“Untunglah lukanya tidak parah Ga.”
“Syukurlah mbak. Jantungku hampir copot waktu mbak telefon tadi, mana aku masih di tengah lapangan basket.”
“Jadi, kamu langsung kesini?”
“Aku pulang dulu mbak, mandi terus kesini.”
Yoga memandangi dua bocah yang sedang terlelap di sofa dengan kaki saling menedang. “Siapa mereka mbak?”
“Anaknya yang tadi nolong Nabila, Ga. Imut kan?Mereka kembar lho, Ga.”
__ADS_1
“Ibunya cantik mbak?”
“Banged Ga, elegan banged pokoknya.”
“Pantes aja hasilnya begitu.” Yoga terus-terusan memandangi bocah kecil di hadapannya itu. Jessi sangat imut di mata Yoga.
Jessi membuka matanya pelan. Entah karena mendengar suara Nita dan Yoga yang terlalu berisik atau karena sudah waktunya bangun. Jessi pun memandangi keadaan sekitar dia melihat Nabila masih tertidur, dia pun menatap Yoga dan Nita secara bergantian. Begitu tidak menyadari kehadiran ibunya, gadis cilik itu langsung menangis.
“Mommy hua hua hua.” Jessi menangis sedikit berteriak sampai membangunkan Jordan.
“Jessi, What?” Tanya Jordan mendudukkan dirinya melihat kembaranya menangis.
“Where ia mommy?hua hua hua.” Tangis Jessi semakin pecah, Jordan langsung melihat kesekeliling mencari-cari sosok ibunya.
“Anak manis cup cup. Mommy baru beli makan sebentar.” Ucap Yoga menenangkan Jessi.
“Iya sayang, sini sama tante.” Nita pun merengkuh Jessi dalam gendongannya. “Cup cup anak baik.”
“Uncle tau kemana mommy?” Tanya Jordan pada Yoga. Jordan memang sedikit lebih dewasa dari umurnya. Ia bisa memahami keadaan.
“Mommy sedang bertemu rekan bisnisnya, mommy kalian menitipkan kalian pada kita.” Jawab Nita. Nita tidak mau si Yoga salah bicara.
“Oh. Baiklah.” Jawab Jordan. Berbeda dengan Jessi, Jordan tetap tenang meskipun tidak menemukan mommy nya saat bangun. Karena Jordan tau, mommy nya pasti sedang ada urusan dan nanti akan kembali menjemput mereka. Mommy nya tidak mungkin meninggalkan Jordan dan Jessi.
“Jadi, mommy sedang bekerja aunty?” Cicit Jessi pada Nita.
“Aunty Jessi lapar.”
“Namamu Jessi?” Tanya Nita yang langsung diangguki Jessi. “Aunty akan menemani Jessi makan.”
“Aku saja mbak, mbak disini saja jaga-jaga kalau mbak Nabila bangun.” Ucap Yoga.
“Yakin, kamu Ga?”
“Iya, mbak. Jessi sama uncle ya, aunty Nita harus jaga aunty Nabila.” Yoga membuka kedua tanganya agar Jessi masuk ke gendongannya. Dengan menurut Jessi pun mengangguk. Yoga mengajak Jessi dan Jordan ke kantin rumah sakit di ikuti Bi Sumi.
***
Dikantin rumah sakit, Yoga memesankan bakso untuk Jessi dan Jordan.
“What is it?” Tanya Jessi penasaran.
“Jessi enggak tau ini apa?”
Jessi pun menggeleng. “Ini namanya bakso. Apa Jessi belum pernah makan bakso?” Tanya Yoga.
__ADS_1
“Belum.” Jawab Jessi polos.
‘Astaga.. Bagaimana mungkin belum pernah makan bakso.’
“Kami lama lahir dan lama di luar negeri, Uncle.” Ucap Jordan paham Yoga sedang penasaran.
“Oh, pantesan. Jadi, kalian ke Indonesia ngapain?liburan?”
“No, uncle. Jessi mau menjenguk yangkung (eyang kakung) dan yangti (eyang putri) di Jogja. Tapi ketemu aunty Nabila sakit.” Cicit Jessi menjawab pertanyaan Yoga.
“Tapi sepertinya kita akan menetap uncle.” Jawab Jordan santuy.
“Dulu uncle juga tinggal di Jogja lho.”
“Really?” Tanya Jessi tidak percaya.
“Iyaa, tapi dulu waktu uncle kecil. Kalian tinggal dimana saat diluar negeri?”
“Kami lahir di Korea uncle, tapi pindah ke Paris saat berumur 2 tahun.” Lagi-lagi Jordan yang menjawab pertanyaan Yoga.
“Wah asyik dong, kalian berarti pernah ke menara eiffel?”
“Sering, uncle belum pernah?Nanti Jessi ajak kesana sama mommy dan Kaka Jordan.” Cicit gadis kecil itu seraya menyeruput kuah bakso. “Waow enak.”
Yoga membantu memotong bakso itu menjadi beberapa bagian kecil lalu dengan telaten menyuapi Jessi. Sementara Bi Sumi membantu Jordan makan.
Setelah selesai makan Yoga membayarnya dan mengajak kedua bocah itu untuk kembali ke kamar inap Nabila.
****
Begitu mobil yang di kemudikan Tio berhenti di depan rumah sakit, Adam langsung lari menuju kamar inap Nabila. Sepanjang perjalanan dari Bandung ia merasa sangat cemas, cemas jika terjadi sesuatu dengan Nabila dan anak didalam kandunganya.
“Nit, gimana keadaan Bila?” Lirih Adam begitu masuk dikamar inap Nabila.
“Tadi sadar sebentar, lalu tidur lagi. Pengaruh obat kayaknya, Mas.” Jawab Nita, dia langsung bangkit dari duduknya. Memberi kesempatan pada Adam untuk dia kursi sebelah tempat tidur Nabila.
Adam memegangi tangan Nabila menatap sendu wanita yang kini sedang terbaring dengan mata terpejam itu.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Mampir ya guys ke karya baru author “Beka Istri yang kaya” ...