
Malam sebelum Adam pergi ke luar negeri untuk urusan kerjaan.
Nabila sedang mengepak perlengkapan yang di perlukan Adam selama di luar negeri dengan koper. Ia memasukan satu persatu pakaian Adam ke dalam koper itu.
“Mas, nanti kalau di sana jangan sampai telat makan. Terus jangan pergi ke bar!” Tegas Nabila pada Adam.
“Ia.. sayangku.” Jawab Adam seraya memainkan ponselnya. Lelaki itu sedang bermain game mobile legend.
“Terus, jangan lupa lima waktunya. Yang paling penting ini sih, kalau oleh-oleh nya misal ada waktu aja. Kalau bisa sih ya disempetin nyari oleh-oleh.” Celutuk Nabila menutup koper Adam. Ia sudah selesai mengepak perlengkapan Adam.
“Ngomong aja oleh-olehnya juga wajib, Bil.” Adam geleng-geleng kepala.
“Ya, itu kamu tau mas.” Nabila terkekeh.
“Aku ngegame bentar, kamu tidur duluan aja.”
Nabila pun naik ke atas tempat tidur. Ia memilih untuk tidur duluan. Sementara Adam masih menyelesaikan game nya.
***
Keesokan paginya.
“Mas tititp mbakmu ya, Ga.” Ucap Adam setelah menyelesaikan makan sarapan. Ia mengelap mulutnya dengan tisu.
Yoga mengangguk. “Tenang aja, mas. Selama mas diluar negeri Yoga bakal pulang tepat waktu.” Jawab Yoga, ia masih sibuk mengunyah roti tawar selai kacang.
“Mas, nggak usah khawatir in Bila, mas fokus aja sama kerjaan, mas.” Nabila menimpali.
“Iya.. inget ya, Bil. Mas nggak izin in kamu nyetir sendiri, kalau mau kemana-mana minta antar pak Slamet atau Yoga.” Tujuan utamanya agar Nabila tidak pergi sendirian. Lebih aman Nabila bepergian ditemani, apalagi kehamilan Nabila terus membesar. Kadang ada juga keluhan yang Nabila rasakan dari perutnya.
“Siap bosque.” Ucap Nabila seraya hormat.
Seusai sarapan Adam pergi ke bandara. Ia menolak Nabila yang akan mengantarnya sampai ke bandara, lagi pula Nabila juga harus kuliah.
Nabila kuliah di antar oleh Yoga, karna pak Slamet harus mengantar Adam dan Tio. Sampai di kampus Nabila langsung mencari Nita dan Abel di kelas.
Nabila hanya melihat ada Abel di dalam kelas.
“Nita, mana?” Tanya Nabila.
“Belum masuk.” Jawab Abel.
“Tapi, harusnya udah masuk, kan?” Tanya Nabila lagi, Abel hanya mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu.
Sampai kelas selesai Nita tidak terlihat. Sepertinya perempuan itu masih izin.
__ADS_1
“Lo nggak berpikir mereka masih bulan madu, kan?” Tanya Abel seraya menggandeng lengan Nabila menuju kantin untuk makan siang.
“Harusnya udah pulang, kok. Kemarin aku whatshap Nita katanya hari ini masuk.” Jawab Nabila, menghentikan langkahnya saat sampai di kantin. Ke kemudian memilih duduk di kursi yang menghadap lapangan basket, sesuai permintaan Abel. Yah, Abel, kan, mau melihat anak-anak PJKR bermain volly.
“Coba gue yang whatshap.” Abel meraih ponselnya yang berada didalam tas. Ia mengirim chat pada Nita. Menanyakan apakah Nita sudah pulang dari bulan madu atau belum.
Setelah mengirim chat pada Nita, Abel meletakan ponsel dan tasnya di atas meja.
“Lo, mau makan apa?Biar gue yang pesen.” Ucap Abel.
“Bakso tapi Mie putih ya, aku nggak suka Mie kuningnya. Sama sate ampela nya 3, terus mendoan 2, terus es jeruk 1.” Ucap Nabila yang sukses membuat Abel menganga. Sejak kapan Nabila makan sebanyak itu.
“Yakin habis?” Tanya Abel memastikan. Kalau tidak habis, kan, mubazir.
“Habis, kok. Aku lagi pengen makan itu semua.”
Abel manggut-manggut. Ia lalu meninggalkan Nabila untuk memesan bakso.
“Nih, sate ampela 3, mendoan 2, yang 2 punya gue.” Menyerahkan piring kecil berisi sate ampela 3 dan tempe mendoan 4.
“Makasih, aunty.”
“Bil, jangan banyak-banyak sambelnya, gue takut ntar perut lo kenapa-napa kalau makan Sambel.” Abel mengingatkan saat melihat Nabila mengangkat wadah Sambal yang berwarna merah.
“Nah, gitu dong nurut.” Balas Abel.
***
Nabila dan Abel pergi menjenguk Nita setelah kelas usai. Abel mendapat kabar dari Riko jika Nita dirawat dirumah sakit. Nita kelelahan sepulang dari bulan madu. Keadaanya drop, Nita pun harus masuk rumah sakit dan opname.
“Bil?” Abel menoleh sekilas pada Nabila yang duduk disebelahnya lalu kembali fokus pada kemudinya. Abel dan Nabila sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Hem.” Balas Nabila singkat.
“Emang kalau bulan madu capek banged, ya?” Tanya Abel.
“Nggak juga, mungkin Nita drop karna dia, kan, lagi hamil muda juga.” Jawab Nabila.
“Tapi, bulan madunya, kan, cuman ke Bandung. Nggak naik pesawat juga.” Nita dan Riko memang hanya pergi ke Bandung untuk bulan madu sesuai permintaan Nita. Lagi pula Nita tidak diizinkan naik pesawat oleh dokter kandungan.
“Atau jangan-jangan mereka main terus sampai Nita kelelahan?” Abel menerka-nerka apa yang terjadi sampai Nita drop.
“Hem, pertanyaan kamu ambigu deh, Bel. Main terus itu main yang kaya gimana?Main diranjang atau main keliling kota Bandung menikmati wisata di kota itu?” Nabila membuka jus alpukat yang ia bawa dari cafe nya lalu meminumnya. Ia juga membawa beberapa cup cake untuk Nita.
“Main di ranjang lah,”
__ADS_1
“Bisa jadi sih.”
“Gue tanya langsung ke orangnya aja deh.” Ucap Abel serius.
Sampai dirumah sakit, Abel menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan Nita dirawat.
“Dimana?” Tanya Nabila yang menunggu di kursi tunggu. Abel baru saja dari resepsionis.
“Kamar VIP 7 lantai 4.” Jawab Abel.
Mereka pun menunju ke lantai 4 ruangan dimana Nita dirawat. Untung saja Nabila dan Abel sempat berpapasan dengan Riko. Mereka jadi lebih mudah menemukan ruangan Nita dirawat.
“Eh, kalian datang.” Sapa Nita melihat Nabila dan Abel masuk kedalam ruangan.
“Gue nggak tau lo bisa sakit juga!” Seru Abel berjalan mendekati Nita.
“Kok bisa sampai drop, Nit?” Nabila meletakan cup cake yang ia bawa ke atas nakas di sebelah brankar Nita.
“Hanya kecapekan aja,” jawab Nita.
“Kebanyakan main di ranjang sih.” Goda Abel seraya duduk di sofa.
“Huss, jangan ngomong sembarangan, Bel. Nggak sopan!” Sahut Nabila mengingatkan.
“Nggak papa, Bil. Kita berdua, kan, tau Abel kayak gimana. Tapi, tebakan kamu kali ini salah, Bel.” Ucap Nita.
“Hah, terus?” Abel tidak percaya.
“Aku mual-mual terus selama di Bandung, jangankan main di ranjang, mau bangun aja mual. Disana aku cuman tiduran terus, nggak kemana-mana. Aku malah nggak enak sama mas Riko. Harusnya dia kan bahagia, tapi, malah jadi ngurusin aku yang mual-mual. Sampai akhrinya kemarin kita mutusin kembali ke Jakarta.” Tutur Nita menjelaskan.
“Hahaha, kasian mas Riko.” Abel terkekeh bukannya iba malah seperti meledek.
“Sabar ya, Nit. Masih trimester pertama emang banyak cobaannya.” Ucap Nabila menenangkan.
“Emang wanita hamil harus menderita gitu ya, guys?” Tanya Abel serius. Ia menatap Nabila kemudian menatap Nita secara bergantian.
“Nggak kok, Bel. Setiap wanita hamil cobaannya beda-beda, tergantung bawaan bayi masing-masing.” Jawab Nabila.
“Owh.” Abel manggut-manggut.
.
.
.
__ADS_1