Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Meminta izin


__ADS_3

Nabila terpaksa menemani Rangga makan karna lelaki itu memohon-mohon pada Nabila untuk menemaninya makan. Padahal ia merasa muak dengan Rangga. Nabila ingin sekali memaki-maki Rangga dan menanyakan apa benar Rangga yang mengiriminya bunga setiap hari. Namun, ia masih bisa menahan keinginnnaya karna tidak mau marah-marah dan mengganggu kandungnya mengingat kemarin ia sempat pingsan karna setres.


“Kak Rangga emang nggak kerja?” Tanya Nabila setelah melihat jam tangannya. Jam makan siang sudah selesai setengah jam yang lalu namun lelaki itu belum juga pergi dari cafe miliknya.


Nabila ingin mengusir Rangga tapi tidak bisa jika melihat ke loyal an pelanggan. Rangga tergolong salah satu pelanggan cafe yang loyal.


“Nggak Bil, aku udah bawa semua kerjaan ke rumah.” Jawabnya santai.


Cih, jika di pikir-pikir dia seperti mas Adam saja suka seenaknya sendiri. Batin Nabila.


“Oh..” Nabila manggut-manggut.


“Kamu sendiri?Nggak sibuk?” Tanya Rangga pada Nabila.


Nabila menggeleng. Ia sama sekali tidak sibuk. Selama liburan Nabila menjadi pengangguran yang sukses. Ia hanya menghasilkan waktu setiap harinya dengan makan, nonton drama, rebahan, makan lagi, rebahan lagi.


“Kalau gitu mau nggak nemenin aku ke taman?Aku udah lama nggak jalan ke taman, pengen makan cilok.” Ujar Rangga sengaja menarik perhatian Nabila dengan cilok.


Nabila yang notabene penggemar somay, cilok, cireng dan penthol akan sulit menolak tawaran Rangga. Apalagi ia jarang pergi makan jajajan itu bersama Adam.


Rangga tersenyum samar melihat Nabila yang berbinar mendengar dirinya menyebutkan cilok. Ia sudah tau Nabila sangat menyukai jajajan itu dari alm. Randy. Dulu kakak kembarannya itu selalu menceritakan setiap hal tentang Nabila padanya. Meskipun mereka tinggal di negara yang berbeda alm.Randy selalu menyempatkan diri untuk curhat pada Rangga tentang kehidupan sehari-harinya.


“Em.. gimana ya kak?” Nabila ragu-ragu.


Cilok cilok cilok, dengan bumbu kacang dan kecap serta tusuk kecil. Uh, aku yakin sebentar lagi iler ku turun begitu aja. Kak Rangga kok bisa sih ngajak jalan dengan embel-embel cilok. Aku kan jadi bimbang gimana gitu. Batin Nabila kesal.


“Gimana apanya?Gas aja lah, apa kamu takut suami kamu marah?” Pancing Rangga ingin mengetahui apakah Nabila takut pada Adam atau tidak.


Sedikit sih. Batin Nabila .


“Eng..nggak kok kak. Mas Adam nggak pernah nglarang Nabila jalan sama temen. Yang penting Nabila izin dulu sama mas Adam.” Nabila sengaja menekankan kata teman agar Rangga sadar jika Nabila hanya menganggap Rangga sebatas teman.


Tidak lebih, sebagai seorang teman ada beberap hal yang boleh dan tidak di lakukan. Nabila juga sengaja menekankan kata izin agar Rangga sadar jika Nabila punya seseorang yang perlu ia mintai izin sebelum melakukan sesuatu. Ia seakan ingin menekankan hak Adam atas dirinya.


Jika Nabila sudah meminta izin pada Adam dan Adam mengizinkan nya maka Nabila akan pergi bersama Rangga. Namun? Jika, Adam tidak mengizinkan maka Nabila tidak akan pergi. Dan, Rangga harus mengerti itu.


“Ya sudah coba kamu izin ke suami kamu dulu!” seru Rangga menahan kesal.


Lagi-lagi Rangga merasa cemburu dengan posisi Adam. Bagaimana Adam bisa mendapatkan istri secantik dan sepatuh Nabila?Harusnya ia lebih cepat kembali ke Indonesia.


“Kalau gitu aku telepon mas Adam dulu ya kak.” Ucap Nabila meminta izin, dan Rangga pun mengangguk.

__ADS_1


Nabila membawa ponselnya menjauh dari Rangga. Ia ingin lebih privasi saat bertelepon dengan suami tercintanya.


***


Adam sudah menyelesaikan semua pekerjaanya di negara itu. Ia tinggal terbang ke Paris besok untuk mencari oleh-oleh yang Nabila pesan.


Kini dirinya sedang mendudukkan diri di sofa sembari memaikan game mobile legend di ponselnya saat game itu tiba-tiba saja berhenti karna ada panggilan masuk.


Lelaki itu tersenyum saat melihat siapa yang menelponya. Ia tidak menggerutu ataupun marah si penelepon mengganggunya aktivitas bermain game nya. Justru ia sedari tadi menunggu-nunggu panggilan telepon itu.


“Halo sayangku..” sapa Adam sumringah menjawab telepon dari istrinya.


‘Assalaamu’alaikum mas!’Tutur Nabila lembut sekalian mengingatkan Adam harusnya menyapa dengan salam terlebih dahulu.


“Eh, iya. Walaikumsalam sayang. Maaf mas lupa.” Sahut Adam.


‘Nggak papa, mas. Lain kali dibiasakan mengucap salam dulu saat menerima telpon.’ Lanjut Nabila dia seberang.


“Siap sayang, aku nunggu telepon kamu dari tadi.” Adam tidak bisa menyembunyikan kenyataan bagaimana dirinya sangat merindukan istrinya.


‘Hehe, Bila keasyikan ngemil sama nonton drama jadi lupa telepon mas.’


“Huft, kebiasaan kamu, Bil. Padahal aku kangen banged sama istriku tersayang, dia malah melupakan suaminya karna drama. Sadiss.” Gerutu Adam yang langsung mendapat tawa renyah dari ujung telepon.


‘Maaf..maaf, sebenarnya Bila telepon mas karna ada hal yang mau Bila omongin mas.’ Suara Nabila terdengar ragu-ragu.


“Ada apa sayang?Ngomong aja.” Adam berubah menjadi serius namun suaranya masih terdengar lembut. Ia tidak bisa menebak apa yang akan Nabila bicarakan.


‘Bila pengen cilok sana somay yang ada ditaman, mas. Bila mau beli tapi..’ Nabila seakan ragu untuk meneruskan apa yang akan ia katakan.


“Tapi apa sayang?” Tanya Adam.


‘Tapi, Boleh nggak Bila perginya di temenin teman Bila.’ Jawab Nabila.


“Teman siapa yang?Bukan Abel atau Nita?”


Jika hanya Abel atau Nita pasti Nabila langsung to the point. Ia bisa menebak teman yang akan menemani Nabila bukan kedua sahabat baiknya itu.


‘Bukan.’ Sahut Nabila.


“Lalu siapa, sayang?”

__ADS_1


‘Kak Rangga, mas. Kebetulan kak Rangga juga mau beli, Bila sekalian aja biar ada temennya. Boleh nggak mas?Kalau nggak boleh nggak papa.” Lirih Nabila yang suaranya hampir tidak terdengar oleh Adam.


“Berdua aja?” Tanya Adam.


‘Iyaa, tapi, Bila cuma mau beli cilok aja terus pulang. Bila pakai mobil sendiri kok.’ Jawab Nabila cepat tidak mau membuat suaminya berpikiran yang tidak-tidak.


“Ya udah boleh, tapi, langsung pulang setelah beli cilok ya!” Ujar Adam memberi izin dengan syarat.


“Yeay.. makasih mas adamku, muuuah.’


Suara manja yang dirindukan Adam selama dirinya di luar negeri itu benar-benar membuatnya hampir goyah dan terbang ke Indonesia saat itu jug. Untung saja ia tersadar langsung jika masih ada oleh-oleh yang belum ia selesaikan sebelum pulang ke Indonesia.


“Sama-sama sayangku, muaaah.” Membalas ciuman jarak jauh dari Nabila.


Setelah mendapatkan izin dari Adam, Nabila langsung mematikan teleponnya.


Sementara Adam tersenyum licik. “Ternyata kau sudah mulai menjalankan kan rencanamu, Rangga. Coba kita lihat seberapa jauh usahamu merebut Nabila dariku.” Smirk Adam.


Jika Adam yang dulu ia pasti akan merasa cemburu melihat Nabila jalan dengan lelaki lain meskipun hanya sekedar membeli cilok. Namun saat ini ia terpaksa mengizinkan Nabila karna ingin tau seberapa usaha rival nya untuk merebut istrinya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nabila.


“Masuk!” Sahutnya.


Asisten Tio datang membawa makanan yang di pesan oleh bosnya. Ia juga menenteng beberapa kaleng minuman bersoda.


“Lama sekali kau, apa kau sekalian mencari gadis bule?” Goda Adam pada Tio.


Untuk membeli makanan dan minum nan yang diinginkan Adam, asistennya itu membutuhkan waktu hampir dua jam. Untuk saja cacing di perut Adam masih bisa menahan diri untuk tidak berkonser ria.


“Maaf, Tuan. Jalanan macet, ada festival tahunan.” Balas Tio membela diri. Yah, meskipun jelas seratus persen Adam tidak akan percaya.


“Oooo.” Adam manggut-manggut seraya mengambil makanya dari paperbag yang di bawa Tio.


“Ayo makan!” Ajak Adam.


Tio pun tanpa sungkan ikut makan bersama Adam. Mereka berdua bukan sekedar atasan dan asisten biasa, Adam sudah menganggap Tio seperti saudaranya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2