
Pohon yang tumbuh dengan rimbun serta angin sepoi-sepoi di tambah hiruk piuk suara anak-anak saling sahut-menyahut dan berlarian adalah pemandangan yang jarang Daniel temui. Abel tahu dengan pasti suaminya yang terbiasa dengan suasana kantor dan sidang itu butuh menghidup udara segar. Apalagi masalah akhir-akhir ini menambah beban pikiran bahu Daniel, meskipun lelaki itu seolah santai di hadapan istrinya namun Abel yakin Daniel tengah berpikir keras untuk menyelesaikan masalah hukum yang saat ini menjerat suaminya.
Sebagai refresh otak. Abel mengajak Daniel jalan-jalan di taman pada sore hari. Taman yang berada di dekat kediaman orang tua Abel itu cukup ramai saat sore hingga malam. Banyak anak-anak bermain di sana, karena banyak pula wahana permainan yang bisa anak-anak gunakan untuk bermain. Selain, anak-anak orang tua dan pasangan muda-mudi juga kerap nongkrong di taman sekedar mencari angin segar atau kuliner an.
Abel yang dari kecil hingga besar tinggal di komplek itu cukup fasih dengan menu-menu makanan enak yang di jual di area food court taman. Salah satu kesukaan Abel adalah bakso bakar dan sosis bakar. Dengan bumbu manis pedas sesuai di lidah Abel.
“Enak sayang.” Puji Daniel setelah merasakan bakso bakar rekomendasi dari sang istri. Mungkin bisa di bilang ini pertama kalinya Daniel makan bakso bakar di food court. Abel yang saat itu sedang mengunyah sosis menanggapi ucapan suaminya dengan memberi jempol tangan. “Makannya Bee, kamu itu harus sering-sering jajan sama aku.”
“Iya, iya.. tapi, kalau tiap hari kamu bisa gemuk Ups.” Refleks Daniel langsung menutup mulutnya. Kata “gemuk” tidak boleh di ucapkan pada perempuan atau dia akan berubah menjadi singa betina.
“Jadi menurut kamu aku gemuk?”
Nah, ‘kan? Berubah lah Abel. Perempuan yang semua ceria menjadi cemberut wajahnya ditekuk bak setrikaan yang kusut.
“Nggak, kamu seksi.” Kata Daniel sambil mengedipkan matanya menggoda Abel.
“Apaan sih, dasar aligator.”
“Tapi kamu cinta ‘kan?”
“Pertanyaan macam apa itu??” Abel menelisik dengan tatapan tidak suka membuat Daniel hampir keringat dingin. “Ya jelas aku cinta lah.” Ucap perempuan itu kemudian sambil mengedipkan sebelah matanya membalas godaan dari Daniel dan melangkah menunju jajajan yang lain.
Fyuh, lega rasanya menjadi Daniel. Ia tidak jadi berkeringat dingin, Abel yang semula ia kira marah karena ucapan gemuk dari Daniel ternyata mudah di bujuk. Daniel mengekori kemana Abel melangkah, istrinya itu kini berhenti di depan penjual Sempol ayam.
“Pak, mau sepuluh ribu yaa!”
“Siap. Neng.”
Daniel tak berkedip melihat jajanan yang seperti sate ada tusuknya namun lebih mirip gorengan.
Daniel mendekati Abel dan berbisik di telinga Abel, “Aku mau juga, tapi kayaknya banyak minyaknya sayang. Lemaknya banyak.”
Dilihat memang banyak minyaknya apalagi Sempol yang baru saja di tiriskan dari minyak mendidih.
__ADS_1
“Kalau takut gemuk nggak usah makan.” Balas Abel cuek.
Cih, istriku ini memang seenaknya saja.
“Tambah 10 ribu lagi, pak!” Ucap Daniel pada pak penjual.
“Siap,” girang sekali pak penjual Sempol itu, “mas nya bule ya? Blasteran mana mas?” Tanya pak penjual Sempol.
Yaya, Daniel memang terlahir dengan tampang bule. Blasteran Kanada Surabaya dulu nya..
“Ah, papa saya Kanada, pak.”
“Woo, di Indonesia ngapain, mas?”
Ih, kenapa juga pak penjual iki kepo. Abel hanya diam menyimak percakapan pak penjual Sempol dengan suaminya.
“Kerja. Pak. Kebetulan istri asli Jakarta.” Merangkul pinggang Abel dengan mesra sementara Abel memasang senyum terbaiknya.
“Oalah, pasangan yang cocok. Satunya ganteng satunya tampan. Nanti kalau punya anak pasti ganteng-ganteng dan cantik-cantik juga kayak bapak ibuk nya.”
Pak penjual Sempol merespon dengan positif lalu mendoakan yang baik-baik untuk Daniel dan Abel. Puas jalan-jalan di taman sambil kuliner an, Abel dan Daniel pun memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah orang tua Abel, mereka sudah di sambut oleh Mike, sahabat Daniel. Mike nampak mengobrol santai dengan papa Damar di ruang tamu.
“Nah, itu mereka.” Papa Damar menunjuk Abel dan Daniel yang baru masuk ke dalam rumah. Dengan Daniel yang membawa kresek hitam di tangan kanannya. Mike menyambut pasutri itu dengan senyuman cassanova nya.
“Udah lama?” Tanya Daniel.
“Lumayan.” Jawab Mike.
“Tadi papa mau suruh orang buat jemput kalian, tapi kata Mike nggak usah. Ya sudah lumayan lama Mike ngobrol sama papa.” Sahut papa Damar.
Abel dan Daniel duduk di sofa yang sama.
“Ini pesanan papa?” Tanya papa Damar melihat kresek hitam yang dibawa Daniel.
“Iya, pa.”
__ADS_1
“Wah, makasih. Ambil piring, Bel. Papa mau buka sekarang biar Mike nyicipin.”
“Iya, iya, pa.” Abel berlalu menuju dapur untuk mengambil piring.
“Kamu harus coba, Mike. Ini martabak favorite om, kalau mau beli harus antri lama paling cepet satu jam baru dapat.” Ucap papa Damar membuka kotak yang berada di dalam kresek. Kotak berisi martabak telur dan sapi kesukaan papa Damar.
Mike mengangguk-anggukan kepalanya. Dalam batinnya seenak-enaknya martabak tetaplah Junk food. Mike yang seorang dokter pasti lah tahu makanan sehat san tidak. Lalu dimana enaknya martabak? Bukannya rasanya sama saja.
Belum mencoba sudah menjudge, dasar Mike.
Seakan tahu apa yang di pikirkan Mike, Daniel angkat bicara, “martabaknya beda, enak. Sekali coba pasti nagih.”
“Masa ?” Masih saja Mike tidak percaya.
“Eee, nggak percaya kamu. Coba aja makan, om nggak pernah bohong. Kalau nggak seenak itu mana mungkin mantu om yang itu mau di ajak antri lama-lama.” Ucapan Daniel di perkuat oleh papa Damar.
Abel kembali dengan membawa piring dan tisu agar minyak dari martabak tidak kemana-mana.
“Gimana? Om nggak bohong ‘kan?” Papa Damar menunggu reaksi Mike setelah mencoba martabak itu, begitu pun Abel dan Daniel. Mike manggut-manggut, “iya, om. Ternyata enak.” Tanpa malu Mike mengambil lagi satu potongan kecil dan langsung di makan.
“Makanya jangan judge makanan dulu sebelum masuk ke mulut.” Sindir Daniel.
“Hahaha.” Semuanya terkekeh.
Setelah papa Damar dan Abel pergi ke kamar masing-masing kini tinggalah Daniel dan Mike di ruang tamu. Mereka akan membahas hal yang penting.
“Ada perkembangan?” Menanyakan kasus yang saat ini menyeret Daniel.
“Lebih baik kita ngobrol di luar.” Ajak Mike pada Daniel dan lelaki itu pun mengangguk mengiyakan nya. Daniel berlalu sebentar menuju kamarnya untuk meminta izin pada istrinya keluar rumah bersama Mike.
.
.
.
__ADS_1