
“ Yang namanya Sambel pasti pedes Mas.”
Yoga sendiri malah tertawa melihat Adam yang tengah kepedasan. “ Kenapa kamu malah tertawa Ga?” Tanya Adam.
“ Mas Adam lucu, padahal hanya makan Sambel sedikit saja kepedasan.” Jawab Yoga.
“ Memang kamu berani makan Sambel kayak Nabila?”
“ Wah, kalau seperti mbak Bila saya juga tidak berani mas. Kalau hanya dua sendok saya masih bisa.”
“ Dirumah ini cuma Bila yang sanggup menghabiskan Sambel satu mangkuk Ga. Untung pembantu banyak Ga, coba kalau yang masak Nabila tiap hari, bisa-bisa kita nggak makan. Dia menunya pedas semua.”
“ Aku sudah mengurangi porsi Sambel kok mas.” Ucap Nabila.
“ Bagus dong, biar menu makan kita sama hahaha” kata Adam.
Mereka bertiga menghabiskan makan malam dengan senang. Sesudah makan malam Yoga kembali ke kamarnya, Nabila dan Adam juga kembali ke kamarnya.
Nabila dan Adam sudah berbaring di ranjang, Nabila tidur dengan kepala bertumpu di lengan Adam.
“ Mas?”
“ Kenapa sayang?” Tanya Adam.
“ Mas jadi keluar negeri?”
“ Jadi Bil, nggak lama kok mungkin 2 hari.”
“ Owh.”
“ Apa kamu mau ikut saja?Liburanmu kan masih lama?” Tanya Adam seraya mengelus lembut rambut Nabila dengan tangan kirinya.
Nabila meringkuk kearah Adam masuk dalam dekapan Adam, “ Tidak, lagi pula mas disana kan urusan pekerjaan bukan liburan. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan mas.”
“ Kita bisa sekalian liburan disana kalau kamu mau.” Jawab Adam.
“ Tidak usah mas, kan kita sudah ada rencana akan liburan bareng dengan sahabatku dan sahabat mas Adam.”
“ Oh iya, baiklah. Sekarang mari tidur. Aku sangat mengantuk.”
__ADS_1
Setelah itu mereka memejamkan matanya dan terlelap. Adam dan Nabila terbiasa tidur dengan berpelukan, bagi nabil pelukan Adam seperti sihir Nina bobok. Dia akan mudah sekali tidur jika di peluk Adam.
Pagi harinya seperti biasa Adam pergi ke perusahaan dengan Tio, Yoga berangkat sekolah diantar Pak Slamet dan Nabila pergi ke cafe dan toko kue miliknya. Nabila menggunakan mobil pribadinya menuju cafe, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Seperti biasa saat di perjalanan Nabila memutar musik agar tidak terlalu sunyi.
Sesudah memarkirkan mobilnya Nabila masuk ke dalam cafe, dilihatnya Nita sedang membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Suasana cafe sudah ramai meskipun terbilang masih cukup pagi.
“ Ramai Nit?” Nabila menghampiri Nita yang sedang mengelap meja.
“ Iya nih Bil, lumayan nanti siang juga ada pesanan nasi 200 box, diambil jam 12:00.” Jawab Nita.
“ Alhmdulillah, aku bisa bantu-bantu hari ini.” Ucap Nabila.
“ Terimakasih Bu bos, memang kita memerlukan waitress tambahan hahaha. Soalnya yang waitress ada yang off hari ini Bil, ditambah ada pesanan jadi kurang tenaga deh, makanya aku wa kamu tadi.”
“ Oke deh, aku ganti baju terus bantuin kalian.”
Nabila meninggalkan Nita untuk berganti pakaian seragam cafe. Sudah biasa bagi Nabila menjadi pekerja di cafe nya sendiri. Sesudah berganti pakaian Nabila lalu bergabung dengan Nita, menjadi pelayan. Nabila bolak balik melayani pesanan makanan maupun minuman dari pengunjung yang datang. Saat akan membawa piring kotor Nabila tiba-tiba merasa pusing. Dia akhirnya meminta bantuan pekerja lain untuk menggantikan pekerjaanya. Nabila kemudian naik keruang atas tempat yang biasa dia gunakan untuk istirahat. Dia berbaring di ranjang ruangan itu, dan mengatur penafaasnnya.
Aneh sekali masa iya aku masuk angin sampai sekarang, padahal aku udah minum tolak angin.
Nabila mengirim pesan pada Nita.
10 menit kemudian Nita naik ke atas menyusul Nabila, dia membawakan Nabila teh anget dan makan siang. Saat Nita masuk Nabila tengah berbaring dengan mata terpejam. “ Bil ?”
Nabila membuka matanya saat mendengar suara Nita. “ Eh, ada apa Nit?Maaf aku hampir ketiduran.”
Nita menyentuh kening Nabila. “ Lo sakit atau masuk angin?Mau gue kerokin?”
Nabila menggelengkan kepalanya dan duduk bersandar di ranjang. “ Nggak tau nih tiba-tiba pusing, kelaparan kali ya.”
“ Hm, nih gue bawain makan siang sama teh anget. Lo makan gih.” Kata Nita seraya mengambil makanan yang tadi diletakannya di meja dekat sofa ruangan itu.
Nabila mulai makan perlahan. “ Makasih Nit.”
Nita mengangguk. “ Lo nggak usah bantu ke bawah lagi, kita udah nggak kerepotan kan pesanan nasi box udah selesai dan dikirim.”
“ Iya, iya.” Ucap Nabila.
Drttt..drtt.. ada pesan masuk ke ponsel Nabila. Pesan itu datang dari salah satu anggota Grub yang berjudul “ Donor darah langka.”
__ADS_1
[ Urgent Rumah Sakit Pusat HG, butuh transfusi segera korban dari kecelakaan beruntun. Merapat segera ] Admin Grub Selfi.
[ Oke, otw ] Anggota Grub Desi.
[ Otw dalam setengah jam] Nabila.
Setelah membaca pesan dari Grub dan membalasnya, Nabila segera menghabiskan makanannya. Dengan cepat Nabila menengguk teh hangat yang dibawakan Nita, dia kemudian mandi lalu berganti pakaian dan langsung menuju rumah sakit. Sebelumnya Nabila pamit pada Nita yang masih sibuk mengurusi pelanggan cafe. Nabila melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sebenarnya Nabila jago menyetir jadi dia tidak takut jika harus ngebut di jalan raya. Perjalanan menuju rumah sakit dari cafe Nabila hanya butuh waktu 15 menit. Sesampainya di rumah sakit dia langsung menuju IGD, disana sudah ada Selfi, Desi dan beberapa anggota yang lain.
Nabila langsung meghampiri Selfi. “ Bil cepet lo antri ke ruang periksa!Yang lain udah masuk, tinggal nunggu hasil. Kalau hasil aman langsung donor.” Ucap Selfi.
“ Baik, Kak.” Nabila lalu ikut mengantre bersama beberapa anggota yang lain untuk di periksa, sebelum mendonorkan darah ada beberapa tahapan pemeriksaan yang harus di lalui.
“ Butuh berapa kantong Des?” Tanya Nabila pada Desi. Nabila dan Desi sudah berteman lumayan dekat sejak pertama kali Nabila bergabung di Grub, sekitar satu tahun yang lalu.
“ Pas nya nggak tau Bil, tapi kayaknya banyak. Sekalian buat stock rumah sakit kayaknya. Korbannya ibu hamil Bil, kasian banged.” Desi sendiri merupakan sosok teman yang menyenangkan juga, meskipun tidak seakrab Nita dan Abel.
“ Ya Ampun, kamu lihat korbannya?”
“ Enggak sih, aku cuman di kasih tau Kak Selfi.
“ Nona Nabila.” Panggil suster.
“ Aku masuk dulu Des.” Ucap Nabila saat dirinya dipanggil suster yang di angguki oleh Desi. Nabila masuk keruang pemeriksaan. Sekitar 10 menit dia keluar dari ruang pemeriksaan, dan kembali duduk di rumah tunggu untuk menunggu hasilnya. Nabil menunggu sendirian diruang tunggu, karena yang lain sudah selesai di periksa dan masuk keruang donor darah.
5 menit kemudian Nabila dipanggil lagi oleh suster, hasil pemeriksaan sudah keluar. “ Maaf Nona, anda tidak bisa mendonorkan darah sekarang.” Ucap suster itu.
“ Kenapa sus?” Tanya Nabila.
“ Anda sedang mengandung, usia kandungan masuk 5 minggu dan masih rentan. Jadi untuk sementara tidak bisa mendonorkan darah dulu.”
“ Sa-saya hamil sus?” Tanga Nabila memastikan perkataan dari suster.
“ Iya, Nona. Lebih baik anda periksa ke bagian poli kandungan.”
“ Baik, Sus. Terimakasih.”
Nabil langsung mengirim pesan pada Kak Selfi karena tidak bisa ikut mendonorkan darahnya. Dia kemudian menuju bagian obgyn, karena sudah sore bagian obygn sudah tutup pelayanan umum. Nabila lalu duduk termenung di ruang tunggu lobi rumah sakit masih memegangi hasil dari pemeriksaan tadi, dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan suster itu. Dia pun mengirim pesan pada Adam.
📲 Nabila: Mas, aku hamil.
__ADS_1
Bersambung ...