
Abel dan Daniel tiba di sebuah hotel. Daniel memesan kamar yang berada di sebelah Abel. Kamar yang di pesan Abel cukup mewah karna ia sedang menyiapkan misi penting memata-matai seseorang yang juga menginap di hotel itu. Ya, Abel sedang berusaha memata-matai Adam. Apakah suami sahabatnya itu benar-benar selingkuh atau ada hal lain yang terjadi.
***
Nabila mondar-mandir di ruang kelaurga sambil menggenggam ponsel di tangan kanannya. Ia seakan sedang menunggu telepon dari seseorang..
“Mbak..bisa nggak mbak diem duduk gitu?Yoga pusing lihat mbak jalan kesana kemari.” Yoga sedang menonton siaran pertandingan basket di salah satu saluran televisi.
Nabila berhenti sejenak dari mondar-mandir nya. Kini menatap Yoga dengan jengkel, remaja lelaki itu seakan tidak memahami apa yang Nabila rasakan. Yoga malah enak-enakan menonton televisi dan makan camilan.
“Kamu nggak tau mbak lebih pusing dari pada kamu.”
“Sabar mbak, Yoga tau kok.”
“Yaudah kalau tau kamu diam aja, jangan ganggu mbak.” Nabila berjalan mendekati Yoga dan duduk di sebelahnya.
“Oke, Yoga diam.” Menutup mulutnya dengan rapat.
“Akhirnya menelepon juga.” Gumam Nabila menatap ponselnya yang berdering. Sebuah panggilan masuk dari Abel sahabatnya yang sedang bertugas menjadi mata-mata.
“Hallo!” Jawab Nabila.
‘Gue udah sampai dari tadi, sorry baru sempet telepon.’ Sahut Abel, perempuan yang menelepon Nabila.
“Iya nggak papa, yang penting kamu udah sampai dengan selamat.”
‘Ya udah, gue cuman mau ngabarin itu. Ntar gue telepon kalau udah dapat kabar mas Adam.”
“Iya, kamu hati-hati disana.” Nabila langsung menghela nafas lega setelah mendapat kabar Abel sampai dengan selamat.
“Mbak Abel ya?” Tanya Yoga.
“Hu’um.” Nabila mengangguk, “Kamu tumben dirumah, nggak basket?” Tidak biasanya Yoga betah di rumah. Tidak biasanya juga Yoga menonton televisi di ruang kelaurga. Biasanya lelaki itu memilih berdiam di kamarnya mau itu menonton televisi ataupun mengerjakan hal lain.
“Lagi pengen aja.” Jawab Yoga.
Nabila meninggalkan Yoga menuju kamarnya. Ia bisa tidur nyenyak malam ini, setelah semalam tidak bisa tidur karna memikirkan suaminya.
__ADS_1
***
Hari berikutnya Nabila pergi ke cafe miliknya. Ia akan menghabiskan waktu di cafe nya. Diruang pribadi miliknya di lantai atas dekat loteng.
“Ada apa mbak?” Tanya Nabila melihat mbak Rani menyusulnya di ruangan pribadi Nabila. Mbak Rani salah satu karyawan Cafe Nabila.
“Itu, kemarin ada bunga untuk kamu, Bil.” Mbak Rani menyerahkan sebuket bunga mawar putih yang masih terlihat segar walaupun sudah dari kemarin.
“Dari siapa mbak?” Nabila mengernyit heran, padahal sudah beberapa waktu ia tidak mendapat bunga. Kali ini ia mendapat bunga lagi. Yang dulu saja Nabila belum tau siapa pengirimnya, sekarang sudah dapat lagi.
“Pengirimnya secret admirer, Bil.” Sebelumnya mbak Rani sempat mengintip memo yang berada di dalam buket bunga itu. “Maaf, aku penasaran jadi baca memo nya.” Lanjut mbak Rani.
“Nggak papa, mbak. Makasih ya.” Menerima buket bunga dari mbak Rani. Mbak Rani dan Nabila sudah sangat dekat, jadi mereka tidak terlalu formal saat hanya berduaan. Sesuai permintaan Nabila juga mbak Rani memanggil Nabila dengan nama, karna mbak Rani lebih tua dari Nabila.
“Kalau gitu mbak kembali ke bawah, Bil.” Nabila pun mengangguk.
Nabila meletakan bunga itu diatas meja kemudian memotretnya. Ia juga memotret memo yang terselip di buket bunga itu. Setelahnya Nabila mengirim foto-foto hasil jepretannya itu pada Adam. Ia mengirinya lewat pesan singkat.
Isi pesan..
Mas, aku dapat bunga lagi. (Lampiran foto bunga dan memo)
***
Adam menatap tidak suka pada isi pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia pun mengepalkan tangannya kesal.
“Ada apa tuan?” Tanya Tio bisa membaca kekesalan dari raut wajah Adam yang berubah menjadi merah padam.
“Istriku mendapat kiriman bunga lagi.” Adam juga merasa kesal karna belum bisa menemukan siapa si pengirim bunga itu.
“Kalau begitu saya akan mengecek CCTV sekitar an cafe, Tuan.” Ucap Tio seraya membuka laptopnya. Adam pun mengangguk.
Adam ingin sekali langsung pulang ke Indonesia setelah membaca pesan dari Nabila, namun apalah daya masalah kerja sama nya dengan tuan Kris belum selesai. Ia perlu menyelesaikan urusannya di luar negeri dulu baru pulang, bagaimanapun sekarang yang paling mendesak adalah urusannya dengan tuan Kris.
“Tuan, sekertaris nona Tasya menghubungi.” Ucap Tio setelah mendapat telepon dari sekertaris Tasya. Ia belum sempat memeriksa CCTV sekitar cafe karna sudah lebih dulu mendapat telepon dadi sekertaris Tasya.
“Apa yang dia katakan?”
__ADS_1
“Nona Tasya ingin mengajak anda makan malam sekaligus membahas kerjasama.” Ucap Tio ragu.
“Apa maunya sekarang?” Gumam Adam merasa tidak nyaman dengan permintaan Tasya. Dimana ia selalu berakhir kesal jika menuruti permintaan Tasya.
“Bagaimana, Tuan. Apakah Tuan akan menerima ajakan nona Tasya atau menolaknya.” Tio menunggu jawaban Adam, karna sekertaris Tasya juga menunggu jawaban Adam. Sekertaris Tasya meminta Tio untuk menghubunginya setelah mendapat jawaban dari Adam.
“Bagaimana menurutmu, Tio?” Adam meminta pendapat pada Tio.
“Menurut saya lebih baik tuan menerima ajakan nona Tasya.” Jawab Tio sopan dan tenang.
“Kau tau, kan, aku sudah muak dengan perempuan itu, kenapa aku harus menerima ajakan makan malamnya lagi?Aku bahkan tidak percaya perempuan itu akan membahas kerjasama di acara makan malam kali ini.” Adam masih ingat bagaimana Tasya mempermainkannya. Perempuan itu berulang kali menipu Adam dengan embel-embel membahas kerjasama untuk menuruti kemauannya.
“Kita bisa mencari tau apa motif nona Tasya bermain-main dengan anda, Tuan.” Ucap Tio kemudian mendekati Adam.
“...” Tio membisikkan sesuatu pada Adam. Adam mendengarkan dengan tenang dan manggut-manggut.o
“Kali ini kau sedikit licik, Tio.” Ucap Adam setelah mendengar rencana licik Tio.
“Terimakasih untuk pujiannya, Tuan.”
“Jika rencanamu berhasil aku akan memberimu bonus dan libur satu minggu.” Ucap Adam serius.
Wajah Tio langsung berbinar. “Anda tidak boleh ingkar ya tuan.” Ucap Tio senang.
“Tentu saja.”
***
Adam dan Tio sudah sampai di sebuah restoran mewah tempat dimana ia dan Tasya janjian untuk makan malam. Adam datang dengan setelan jas hitam, dengan gagahnya Adam berjalan ke ruangan yang sudah di booking oleh Tasya.
Sampai diruangan itu Tasya sudah menunggu Adam, ia tersenyum genit saat melihat Adam berjalan ke arahnya. Tasya yang semula duduk itu langsung berdiri menyambut Adam.
Entah mengapa Adam merasa Tasya ingin menggodanya. Selain memakai dress malam yang sangat seksi, perempuan itu juga memakai parfum yang sangat menyengat. Adam bahkan hampir muntah dengan wangi parfum Tasya, namun ia menahannya. Ia tidak mau mengacaukan rencana Tio. Jika rencana Tio berhasil maka Adam bisa pulang lebih cepat dan menemui Nabila. Istri yang sudah sangat ia rindukan.
.
.
__ADS_1
.