
Beberapa bulan kemudian. Saat ini usia kandungan Nabila sudah masuk 8 bulan 20 hari. Sebentar lagi Nabila akan melahirkan, ia mulai mengurangi kegiatan di luar rumah. Termasuk kegiatan kampusnya. Namun, ia belum cuti kuliah. Nabila memutuskan akan cuti kuliah saat kandungannya menginjak 9 bulan.
Seperti biasa hari ini Nabila pergi ke kampus. Ia sudah semester akhir. Yang artinya sudah harus mengurus skripsi. Nabila juga sudah mencicil untuk skripsinya.
Nabila menunggu Adam menjemputnya di cafe miliknya. Nita dan Abel sudah pulang lebih dulu. Abel yang biasanya menemani Nabila hingga jemputannya datang terpaksa pulang lebih dulu karna sore ini adalah hari pertunangan kak caca.
Sudah hampir satu jam Nabila menunggu Adam. Ia juga sudah merasa bosan dan kesal.
“Mas Adam pasti bohong, lebih baik aku pulang sendiri.” Gerutu Nabila sambil memesan taksi online.
Bebebepa saat kemudi taksi online yang di pesan Nabila pun datang. Ia masuk ke dalam taksi itu dengan menggerutu karna suaminya.
‘Biar aja mas Adam nyariin, salah siapa lama.’ Batin Nabila.
“Loh, loh, jalannya beda sama jalan kerumah.” Gumam Nabila.
“Maaf, pak. Ini bukan jalan ke alamat yang saya pesan di aplikasi.” Ujar Nabila pada pengemudi .
“Iya mbak, lewat jalan alternatif mbak. Soalnya jalan yang biasnya macet.” Jawab pak pengemudi.
“Masa sih, pak?Di aplikasi nggak ada tanda macet kok, kuning semua kok jalurnya jadinya nggak macet. Kalau macet, kan, merah.” Ucap Nabila melihat ponselnya. Ya, di aplikasi sudah canggih bisa memperlihatkan kepadatan jalur yang akan dilewati. Jika macet maka jalur di aplikasi akan berwarna merah, jika tidak maka berwarna kuning.
“Itu, benar macet kok mbak.” Ucap pengemudi itu sambil tergagap.
Kok kaya ada yang nggak beres ya? Di aplikasi juga nggak jalan mobilnya, padahal ini kan udah jauh banged dari cafe.
“Saya turun disini saja deh pak.” Ucap Nabila tiba-tiba. Ia merasa ada yang janggal saat ini.
“Tidak bisa mbak, harus sesuai aplikasi.” Jawab pak sopir.
Gimana sih, ha wong dia aja nggak lewat jalan seusai aplikasi kok.
“Nggak papa pak, saya bayar sesuai aplikasi.” Ucap Nabila lagi berharap pak sopir mau menuruti keinginan nya.
“Mbak kok cerewat banged sih, duduk yang manis aja nanti juga sampai.” Balas pak sopir ketus.
“Lah kok bapak jadi nyolot sih?Saya, kan, minta turun disini saja, masalahnya apa coba?Saya juga mau bayar penuh kok, bukannya bapak malah untung. Gimana sih aneh.” Ujar Nabila tak kalah ketus.
Nabila memang berani jika mendapati hal-hal yang janggal.
“Bukan masalah bayaran tapi masalahnya saya bos saya marah kalau nggak bisa bawa mbak, udah deh mbak diem aja jangan ceriwis.” Ujar pak sopir merasa kesal.
“Bos, maksudnya ap-?”
Baru saja Nabila akan bertanya seseorang membungkam mulutnya dengan sapu tangan hingga perlahan Nabila kehilangan kesadaran.
“Lo nggak salah kasih dosis biusnya, kak?” Tanya pak sopir pada lelaki yang baru saja membius Nabila. Lelaki yang sejak tadi bersembunyi di bagian belakang mobil, bagasi.
“Aman untuk ibu hamil.” Jawab laki-laki itu.
__ADS_1
Mobil melaju memasuki sebuah rumah mewah dengan mini taman dan kolam kan di depan rumah itu.
***
Adam yang semula terjebak macet pun akhirnya tiba di depan cafe milik istrinya. Namun, ia tidak bisa menemukan Nabila. Nabila tidak ada dimana pun, Adam sudah memeriksa seluruh ruangan cafe termasuk ruang pribadi Nabila namun tetap tidak menemukan istrinya.
“Ran, saya mau pinjam laptop yang bisa untuk cek CCTV!” Seru Adam pada Rani.
“Baik, tuan.”
Adam bisa melihat istrinya masuk ke sebuah mobil, Adam menebak mungkin taksi online. Ia akhirnya menyadari Nabila marah karena dirinya telat dilihat dari ekspresi Nabila yang menggerutu sambil naik ke mobil.
Adam memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia mengira Nabila pasti sudah sampai dirumah.
“Loh, tuan pulang sendiri?” Tanya Bi Sumi dan Adam mengangguk. Adam tidak peka dengan pertanyaan Bi Sumi.
“Non Bila nya nggak ikut pulang, tuan?” Tanya Bi Sumi lagi.
“Bila belum pulang, Bi?” Tanya Adam tersentak. Bi Sumi menggeleng.
“Kok bisa?” Adam sedikit meninggikan suaranya sedetik kemudian ia sadar.
“Maaf, saya kaget saja Bi. Nabila seharusnya sampai dirumah satu jam yang lalu, saya telat jemput. Dia naik taksi, aneh belum pulang.”
“Mungkin non Bila mampir ke supermarket dulu, tuan.” Bi Sumi tidak mengambil hati ucapan Adam yang sedikit membentak.
“Bisa jadi sih Bi.” Adam melewati Bu Sumi sambil merogoh ponselnya yang berada si saku celananya. Ia mencoba menghubungi Nabila namun ponsel istrinya tidak aktif.
“Assalamualaikum!” Seru Abel.
“Walaikumsalam.” Sahut Adam.
“Nabila ada mas?Aku mau nginep lagi gabut.” Ucap Abel santai seraya mendudukkan dirinya di sofa sambil meletakan tas nya di sebelahnya.
“Bila belum pulang, Bel.” Ucap Adam khawatir.
Abel mengernyitkan alisnya. “Kok bisa?”
“Makanya itu, dia ada hubungin kamu nggak?” Abel menggeleng.
“Udah hampir magrib, mas. Kita pulang kuliah itu jam 1 loh. Nggak mungkin Nabila belum pulang, kalaupun Nabila mampir jajan atau ke Mall dia selalu pulang sebelum magrib.” Ucap Abel yang sangat tau kebiasaan Nabila.
“Kamu benar, Bel.” Ucapan Abel membuat Adam gusar. Ia langsung memeriksa mengambil laptop di ruang kerjanya di ikuti oleh Abel.
“Kamu kenal mobil ini, Bel?” Tanya Adam seraya menunjuk mobil di layar laptop. Abel menggeleng.
“Taksi online kali mas.” Ujar Abel.
“Kalau taksi online Nabila pulang kemana?Sampai sekarang belum sampai rumah.” Gerutu Adam.
__ADS_1
“Aneh, coba minta tolong siapa gitu buat lacak mobil itu mas, Abel jadi nggak tenang nih.”
Adam melirik Abel sekilas. Ia bisa melihat raut kekhawatiran di wajah Abel.
“Mas!” Panggil Yoga melangkah masuk ke ruang kerja Adam.
Adam melihat ke arah Yoga. “Mbakmu ada hubungin kamu nggak?” Yoga menggeleng.
“Memang kenapa?” Tanya Yoga.
“Mas buruan minta tolong siapa gitu.” Rengek Abel tidak sabaran.
“Iya..sebentar.” Adam menelepon Tio untuk memeriksa plat nomer mobil yang ditumpangi Nabila.
“Tinggal nunggu hasilnya.”
“Ada apa sih mbak?” Tanya Yoga lirih.
“Bila belum pulang, Ga. Padahal harusnya udah sampai dari tadi.” Jawab Abel.
“Kok bisa?” Tanya Yoga. Abel menggeleng.
“Gimana mas?” Tanya Abel dan Yoga serentak setelah melihat Adam menerima telepon.
“Itu plat palsu.” Ucap Adam lemas.
“Maksudnya?” Selidik Abel.
“Mobil itu memakai plat palsu, Bel.” Jawab Adam. Ia berpikir untuk mencari Nabila, ini sudah pasti ada yang tidak beres.
Adam pun menghubungi Wu bai untuk meminta pertolongan melacak keberadaan Nabila. Karna yang Adam tau Wu bai paling handal di bidang itu.
30 puluh menit berlalu. Akhirnya Wu bai di temani Daniel sampai di rumah mewah Adam. Di ruang keluarga rumah itu sudah ada beberapa orang menunggu kedatangan Wu bai. Adam yang sibuk menghubungi beberapa orang yang mungkin Nabila kenal, Abel yang juga sibuk menghubungi teman-temannya, Yoga yang sibuk menenangkan Nita yang sudah mulai menangis. Riko juga sibuk dengan ponselnya.
“Dam!” Panggil Daniel, seluruh orang di ruang keluarga Adam langsung menoleh begitu juga Abel.
“Kalian datang,” Adam langsung menyuruh Wu bai dan Daniel duduk lalu menceritakan kronologis menghilangnya Nabila.
“Oke, gua akan coba retas CCTV jalanan.” Ucap Wu bai mulai berkutat dengan laptopnya.
***
Nabila akhirnya tersadar setelah satu jam tertidur. Ia terbangun di sebuah ruang kamar mewah dengan dekorasi klasik.
“Kamu sudah bangun.” Ucap seseorang.
“Kamu?”
.
__ADS_1
.
.