
Adam menuruni anak tangga satu persatu, langkahnya berjalan menuju dapur, ia sangat yakin istrinya itu pasti sedang di dapur. Benar sesuai dugaan Adam, Nabila tengah membuat sesuatu di dapur.
“Sayang?” Adam memeluk Nabila dari belakang, mengagetkan wanita mungil yang sedang mengiris brokoli.
“Mas udah pulang?Kok sampai larut?”
“Maaf, sayang. Banyak sekali perkerjaan hari ini.”
“Baiklah, mas mandi dulu sana!kalau udah nanti kesini, kita makan bareng.”
“Tapi aku sudah makan sayang, nanti aku temani kamu makan saja ya.”
“Oke.”
Adam kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri, tidak butuh waktu lama Adam sudah kembali ke dapur dengan piyama. Adam melihat Nabila masih sibuk, seperti menggoreng sesuatu. Nabila bahkan tidak menyadari kehadiran Adam, karena tidak mau menggangu kegiatan istrinya Adam memilih duduk di kursi pantry seraya menunggu Nabila selesai memasak.
“Eh, kok udah disini aja. Kapan turun?” Nabila sedikit kaget saat berbalik mendapati Adam sedang duduk di kursi pantri menatapnya.
“Udah lumayan lama, Bil. Kamu sih keasikan masak, sampai nggak sadar sama kehadiranku.”
“Ya, maaf ya sayangku.” Kata Nabila. Nabila membawa apa yang sudah di masaknya tadi ke meja pantry.
“Yakin mas Adam nggak mau?”
“Kok kayaknya enak Bil.” Adam mengambil sendok dan langsung mencicipi masakan Nabila. Satu suap, dua suap, tiga suap dan akhirnya Adam ikut makan masakan Nabila sampai habis tak tersisa.
“Alhamdulillah.” Ucap Nabila sesudah selesai makan. Adam mengambilkan segelas air putih untuk Nabila. “Makasih, mas.”
“Sama-sama sayangku.” Kata Adam seraya mengusap lembut rambut Nabila.
Adam langsung membawa piring-piring kotor untuk di cuci, Adam mencuci semuanya seorang diri.
Cekrek... suara datang dari arah Nabila, terlihat Nabil tengah memegang ponselnya mengambil foto Adam yang sedang mencuci piring. “Sayang.” Keluh Adam menoleh, ia melihat istrinya tengah memotretnya.
“Mas, ini tuh moment langka. Harus diabadikan sebaik mungkin, seorang Presdir Hanggara Group mencuci piring.” Nabila mendekati Adam yang sedang meletakan piring yang habis ia cuci di rak.
“Lihat, mas!” Nabila menunjukkan hasil foto yang ada di ponselnya.
“Orang ganteng mau di foto dari sisi apa aja, sedang ngapain aja tetep ganteng, Bil.”
“Idih, narsis amat.”
“Hahaha, ayo ke kamar!” Adam menggandeng lengan Nabila. Mereka berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Sampai di kamar, Nabila langsung menggosok gigi, mencuci mukanya dan memakai cream malam. Berbeda dengan Adam setelah menggosok gigi, Adam langsung naik keranjang lalu berbaring sembari memandangi istrinya yang tengah duduk di depan cermin memakai Cream malam.
“Sayang?”
“Hmm.” Nabila hanya menyauti panggilan suaminya dengan berdehem, lalu ia naik ke atas ranjang berbaring di sebelah Adam. “Selamat malam, Mas.” Ucap Nabila seraya mencium pipi Adam, Nabila lalu menelusuplan kepalanya di dada bidang Adam.
“Cup...I love you, Aira Nabila Tanisha.” Adam mengecup puncak kepala Bila.
Nabila mendongakan kepalanya melihat Adam. “Tumben nyebut nama lengkap?”
“Kamu nggak suka?”
“Suka mas, suka banged.”
“Yaudah, sekang kamu tidur yaa. Ini udah jam 1 loh Bil.”
“Iyaa... iyaaa. Love you too, mas Adam ku.” Keduanya pun tidur dengan saling berpelukan.
***
Nabila dan Nita berjalan di koridor kampus sembari bercerita, kali ini mereka hanya berdua tanpa Abel. Abel bolos kuliah hari ini, karena bangun kesiangan dan terlalu malas untuk bangkit dari tempat tidur.
Saat melewati lapangan basket, Nabila melihat Revan tengah di kerumuni mahasiswi-mahasiswi cantik. Nita juga melihat pemandangan yang membuatnya begidik, bukan karena ngeri tapi ilfil melihat para perempuan itu genit di depan Revan. “Eh, Bil waktu itu gue pulang dianter kak Revan lho.”
“Waktu habis kerja, aku lagi nunggu angkot eh kak Revan lewat. Dia Mawarni tumpangan, gue ngikut aja. Lagian waktu itu gak ada angkot yang lewat.”
“Sampai depan apartemen?”
“Ya iyalah, ya kali kak Revan turuninya gue di jalan.”
“Hihihi, kali aja kan.”
‘Jadi yang dimaksud Yoga waktu itu kak Revan, lucu sekali padahal mas Riko udah cemburu.’
“Nggak setega itu kali, Bil.”
Mata kuliah hari iki membosankan, membuat ngantuk. Dosenya sudah tua dan tidak lucu sama sekali, cara mengajarnya pun datar. Pantas saja Abel memilih bolos kuliah. Sehabis kuliah Nabila mengajak Nita untuk menemaninya ke Mall. Ia ingin membeli sepatu baru untuk Yoga, Nabila melihat Yoga tidak punya cukup sepatu untuk sekolah, basket maupun futsal. Yoga hanya punya 2 sepatu, menurut Nabila itu sangat kurang. Setidaknya Yoga harus punya 4 sepatu.
Tidak disengaja Nabila dan Nita bertemu Riko yang kala itu juga sedang mencari sepatu di Mall. “Kalian berdua aja?”
Nabila dan Nita kompak mengangguk bersamaan. “Mas Riko juga sendiri?” Tanya Nita.
“Tadi sama Kevin, tapi dia lagi ke kamar mandi.”
“Aku juga ke kamar mandi bentar ya, Bil.”
__ADS_1
Nita meninggalkan Nabila dan Riko di store sepatu. Nabila terlihat akrab dengan Riko, ia meminta bantuan Riko memilihkan sepatu yang pas untuk Yoga dan suaminya. Tanpa di sadari dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap mereka dengan amarah dan rasa kesal.
“Jadi, demi perempuan itu. Awas kamu Riko, aku pasti akan membuatnya menderita.” Ujar seorang perempuan yang diam-diam dari tadi mengikuti Riko, perempuan itu memandang Nabila dengan tatapan penuh dendam. Setelahnya perempuan itu meninggalkan Mall.
Setelah selesai berbelanja, Riko dan Kevin mengajak Nabila dan Nita untuk sekedar ngopo bersama. Nabila dan Nita tentu saja tidak menolak. Kevin memanfaatkan moment itu untuk membuat Adam cemburu, ia membagikan foto kebersamaannya bersama Nabila dan Nita pada Adam. Beberapa detik kemudian ponsel Kevin berdering, ada panggilan masuk dan ID si pemanggil adalah Adam. Kevin langsung mengangkat panggilan dari Adam, Kevin juga menekan tombol speaker on.
📞 Sayang, minta traktir yang banyak sama bos Kevin. Kamu juga Nita, minta traktir bos Riko yang banyak. (Kata Adam disebrang sana)
📞 hahaha, Bilang aja Bro kalau lo cemburu. Sini jemput istri Lo. Kasian tau bumil nyetir sendiri.
📞 Otw. (Klik Adam langsung mematikan telefonnya, membuat Kevin dan Riko terkekeh)
30 menit kemudian Adam sudah bergabung bersama mereka di salah satu cafe. Cukup lama mereka berbincang, sampai akhirnya adzan magrib menyadarkan mereka jika waktu sudah mulai gelap. Adam pun mengajak Nabila untuk pulang, sementara ia menyuruh Riko menggunakan mobil Nabila untuk mengantar Nita. Dan lagi-lagi Kevin harus pulang sendirian.
Nabila terlihat menguap beberapa kali saat di mobil. “Kamu ngantuk, sayang?”
“Kayaknya sih iya mas.”
“Kok kayaknya sih?Tidur aja, nanti aku bangunin saat sampai rumah.”
“Kata orang tua, magrib-magrib nggak boleh tidur mas.”
“Kenapa?kan udah sholat magrib yang penting.”
“Pamali, mas.”
“Oh.” Adam tidak bertanya lebih lanjut, ia memilih mengikuti apa yang Nabila katakan.
Saat sampai dirumah, keadaan rumah sepi seperti biasanya. Para bibi lebih sering menghabiskan waktu di paviliun belakang, dan Yoga sepetinya belum pulang. Mungkin anak itu basket sepeti biasanya.
.
.
.
Bersambung..
Maaf yaa guys belum bisa update setiap hari, tapi aku usahain seminggu update 3/4 kali yaa. Semoga para pembaca tetap mau menunggu Nabila dan Mas Adam.
Karena aku lagi mau fokus menyelesaikan musim pertama untuk “My Dave” ...
Sabar ya untuk pembaca setia Nabila dan mas Adam.
Kiss jauh dari aku untuk pembaca setiaku ❤️
__ADS_1