
Seusai makan malam bersama, Nabila menemui yoga di kamarnya. Yoga tengah membaca buku tentang hukum.
Tok...tok... “Apa mba Bila boleh masuk?” Suara Nabila terdengar dari balik pintu.
“Masuk saja mba, tidak dikunci.”
Nabila masuk dengan membawa 2 paperbag bertuliskan Vans dan Nike. Lalu ia meletakan paperbag itu di ranjang Yoga. “Ini mbak belikan sepatu untuk kamu.”
Mata Yoga langsung berbinar-binar. Yoga dengan cepat menyambar paperbag yang sudah tergeletak di ranjangnya itu. “Wah ini kan Nike keluaran terbaru, pasti mahal ya mbak?”
“Memang kenapa kalau mahal?”
“Ya kan aku gak enak mbak.” Jawab Yoga nyengir.
“Halah, gaya. Ga uang saku kamu masih enggak?”
“Masih mbak, yang dari mbak Nabila masih. Terus aku dikasih kartu ATM sama mas Adam juga.”
“Iya to, yaudah di gunain aja. Kamu nggak perlu terlalu berhemat Ga. Sekarang kamu tinggalnya sama aku dan mas Adam, bukan sama ibu tirimu lagi. Jadi kalau mau beli apa yang kamu mau ya beli aja. Apa yang di kasih mas Adam buat kamu itu udah jadi milik kamu.” Kata Nabila, ia duduk di tepi ranjang Yoga memperhatikan Yoga sedang mencoba sepatunya.
“Iya mbak, tapi Yoga kak juga harus tau diri mbak. Bukan malah ngabisin uang mas Adam seenaknya.”
Tanpa di sadari di ambang pintu Adam tengah berdiri memyaksikan istrinya dan adik angkatnya itu. “Ya kalau kamu mau tau diri, kamu harus belajar yang rajin Ga, buktikan ke Mbak dan mas mu kalau kamu bisa menjadi pengacara seperti yang kamu impikan.” Adam berjalan masuk ke kamar Yoga, ia lalu duduk di sebelah Nabila.
“Eh.. Kalau itu sudah pasti mas, mas Adam sama mbak Bila tenang aja aku pasti bisa jadi pengacara yang hebat.” Kata yoga dengan penuh percaya diri.
“Mbak percaya sama kamu, ya sudah mbak sama mas mu balik ke kamar dulu.” Nabila beranjak mengajak suaminya meninggalkan kamar Yoga.
“Makasih untuk sepatunya mbak.”
“Sama-sama Ga.”
Adam dan Nabila kembali ke kamarnya. “Sayang, aku nggak di beliin?”
“Ada kok, nih.” Nabila menyerahkan sebuah buku pada Adam. Buku itu berisi petunjuk tentang kesiapan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
“Kamu mau aku baca ini?”
Nabila mengangguk. “Harus di baca sampai selesai, nggak boleh di skip!”
“Iya sayangku, iya.” Adam menarik Nabila agar mendekat, ia memandangi bibir istrinya, tangan Adam menyentuh pipi Nabila dengan lembut. “Cup..” Adam mengecup sekilas bibir Nabila.
Adam selalu saja merasa gemas pada Nabila, Nabila selalu saja kaget saat Adam tiba-tiba mengcup bibirnya padahal ia sudah sering melakukan itu. Adam pun mulai mencium bibir Nabila, ia meng*l*m*t bibir Nabila dengan sangat buas. Tangan kirinya merengkuh punggung leher Nabila agar Nabila tetap dalam ciumanya. Tangan Adam yang kanan mulai bergerilya, tangannya menyusup masuk dalam piyama Nabila, mencari-cari gundukan di dada Nabila, sementara bibirnya dan Nabila masih saling bertautan. Cukup lama Adam bermain-main dengan tangannya di dada Nabila, sampai saat Nabila hampir kehabisan nafas, Adam pun melepaskan ciumanya. Adam beralih pada tengkuk leher Nabila, me*j**ati nya membuat beberapa tanda disana. Permainan Adam semakin panas dan liar, mereka berdua akhirnya melakukan apa yang seharunya di lakukan pada saat itu.
Pagi harinya Nabila bangun jam setengah 5, ia langsung keramas dan sholat subuh. Sementara Adam masih tidur dengan tubuh polos tanpa sehelai pakaian pun hanya berbalut selimut. Nabila menempatkan guling di samping Adam sebagai penggantinya. Adam nampak memeluk erat guling itu. “Tadi malam sungguh keterlaluan kami melakukannya. Mas Adam sama sekali tidak mau berhenti, aku lelah sekali.” Gerutu Nabila.
Ya semalam Adam melakukannya berkali-kali, sampai Nabila hampir tidak berdaya dibuatnya. Mungkin Adam terlalu rindu pada Nabila, ia sudah beberapa hari tidak mencumbu istrinya itu.
“Pagi, Bi.” Sapa Nabila pada Bi Sumi dan Bi Ijah yang sedang sibuk membuat sarapan di dapur.
“Pagi juga, Non. Apa tidurnya nyenyak non?”
“Lumayan, Bi. Bi hari ini Nabila mau bubur kacang Ijo yaa, tapi pakai gula jawa ya jangan gula pasir.”
“Siap, Non.” Bi Ijah langsung mencari persediaan kacang Ijo, kemudian Bi Ijah merebus kacang Ijo itu.
“Mas, tadi kamu agak kasar tau. Nggak khawatir sama adek?” Nabila memprotes Adam yang kurang lembut seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Adam baru saja selesai mengancingkan baju kemejanya, ia langsung mendekati Nabila mengelus perut Nabila. “Maaf, Maafin ayah ya dek. Nanti ayah lebih hati-hati lagi.” Ucap Adam lembut, ia beralih berjongkok dan menciumi perut Nabila.
“Iyaa, ayah. Adek Maafin.” Nabila menjawab dengan suara seperti anak kecil.
Adam kembali berdiri sejajar dengan Nabila. “Maaf ya sayang. Lain kali kamu inget in aku, kalau aku terlalu kasar mainnya.”
“Iya, mas gak papa.”
“Kamu kan tau sayang, aku selalu tidak bisa mengendalikan diriku saat menyentuhmu.” Adam memeluk Nabila dan menghujani wajah Nabila dengan ciuman mesra.
“Sudah.. Nanti mulai lagi.” Nabila menghentikan Adam yang gemas menciumnya sedari tadi. Kemudia ia memakaikan dasi Adam dan mengajak Adam untuk turun sarapan.
Di meja makan sudah ada Yoga yang sedang menikmati roti bakar buatannya sendiri. Sementara ada Bi Sumi di sebelah Yoga sedang menyiapkan bekal untuk Yoga.
__ADS_1
“Ga, kamu nggak malu sama temen-temen bawa bekal gitu?” Adam baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi.
“Nggak, kenapa malu mas. Bawa bekal malah terjamin kebersihan dan rasanya.”
Nabila mengambilkan nasi dan lauk untuk Adam. Serta menuangkan susu putih segelas.
“Nggak usah itu, aku nggak mau minum susu Bil. Nggak enak.” Celutuk Adam saat tau istrinya tengah menuangkan susu kedalam gelas.
“Kenapa?Mas kan suka susu putih?”
“Nggak suka lagi, bau soalnya?”
Nabila dan Yoga pun saling pandang. Susu putih bau itu darimana baunya, aneh-aneh saja si Adam pikir Nabila. “Baiklah.” Nabila mengganti susu putih itu dengan secangkir teh hangat.
“Ga, bentar lagi musim hujan kamu bawa mobil aja ke sekolahnya.”
“Ada mantol kok mbak.”
“Kamu nggak pernah mau bawa mobil kenapa Ga?Dulu waktu di anter pak Slamet sering turun di perempatan kan?” Tanya Nabila.
“Kak mbak Bila udah tau alasanya.” Yoga memang sempat bercerita pada Nabila tidak mau membawa kendaraan yang mahal karena takut dimanfaatkan teman-temanya. Selama ini teman-teman Yoga hanya tau Yoga anak yang diangkat oleh keluarga sederhana. Karena Yoga salalu pergi ke sekolah dengan scooter milik Nabila atau klx milik Adam.
“Nanti mas beliin kamu, sedan murah aja. Kamu ke sekolah bawa itu. Yang penting pas hujan aman.”
“No, aku nggak setuju. Kalau sedan nanti pas banjir tergenang, mending jeep aja. Aman kalau banjir!”
Yoga menatap Adam penuh dalam-dalam, ia mau Adam membantunya menolak keinginan Nabila membeli jeep.
“Sayang, wilayah rumah kita dan sekolah Yoga itu bebas banjir. Apa kamu lupa?”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...