
Adam mendengarkan curhat an Yoga dengan terkekeh. Sesekali laki-laki itu tertawa mendengar curhat an Yoga. “Jadi, kamu babak belur karena tawuran?” Tanya Adam.
Yoga mengangguk. “Doni tidak terima mobilnya hancur. Kami saling serang karena emosi.” Jawab Yoga. Perkelahian tidak bisa dihindari ketika Yoga menghancurkan mobil Doni. Kedua kubu pun bertarung, namun, Yoga dan teman-temannya menjadi pemenangnya. Doni dan teman-temannya meninggalkan tempat futsalan. Tapi, kembali dengan polisi dan orang tuanya untuk menangkap Yoga. Yoga pun memerintahkan teman-temannya untuk pergi lebih dulu sebelum Doni dan para polisi mendekat. Ia lebih memilih menanggung konsekuensi sendiri daripada melibatkan sahabatnya. Awalnya Radit dan teman-teman yang lain tidak mau meninggalkan Yoga. Radit mau menghadapi Doni dan para polisi bersama-sama. Tapi, Yoga tidak setuju. Yoga akhirnya mengaku jika dirinya adik angkat orang kaya dan meyakinkan Radit, dirinya pasti bisa menyelesaikan masalah itu. Radit pun percaya pada Yoga. Radit meninggalkan dan teman-temanya meninggalkan Yoga dengan cepat.
“Hahaha, seusia kalian memang masih nakal-nakalnya. Aku maklumi, yang penting jangan membahayakan dirimu. Jangan sampai terluka.” Ucap Adam.
“Mas Adam nggak marah?” Tanya Yoga.
“Nggak, aku juga pernah muda.”
“Tapi mobilku jadi hancur. Pasti perbaikannya mahal.”
“Tidak masalah, kau tinggal ambil salah satu mobil di parkiran sebagai gantinya. Jangan kayak orang tipis lah, mas dan mbak mu ini sangat kaya.” Ucap Adam penuh percaya diri, lebih ke sombong sih. Tidak papa kan sombong dengan adik sendiri.
“Tapi mbak Nabila?” Tanya Yoga ragu.
“Nabila nggak akan marah hanya karena kamu merusak satu mobil, kalaupun marah, dia pasti marah karena kamu membuat wajah tampanmu bonyok.” Ujar Adam santai.
“Mas yakin?”
“Hm.. tapi, kau siap-siap saja. Dia pasti tidak akan mengizinkan mu keluar rumah untuk beberapa hari haha.” Adam sangat hafal sifat istrinya. Dia pasti akan memperlakukan Yoga yang bonyok seperti seorang pasien. Atau lebih tepatnya mengurung Yoga sementara agar tidak berkelahi lagi.
***
Sesuai kata Adam, Nabila tidak mengizinkan Yoga untuk keluar rumah. Sebagai gantinya ia memperbolehkan Yoga mengundang teman-temannya untuk main kerumah.
Nabila, Abel dan Nita sedang asik bercanda di ruang keluarga. Mereka membahas masalah pernikahan Nita. Nabila memutuskan untuk mengantar Nita ke tempat Ayu. Nita akan memesan baju pernikahan dibutik Ayu.
“Non, ada tamu.” Ucap Bi Sumi mendekati Nabila. Bi Sumi dari pintu utama karna mendengar bel. “Siapa, Bi?” Tanya Nabila menghentikan obrolannya dengan kedua sahabatnya.
“Sepertinya teman den Yoga, non.”
__ADS_1
“Oh, suruh ke taman belakang saja, Bi. Terus bibi panggil Yoga di kamarnya.” Tutur Nabila. Panjang umur, yang di bicarakan terlihat berjalan menuruni anak tangga. Yoga memakai kaos dan celana pendek rumahan. “Mbak teman-temanku datang, aku bawa mereka ke gasebo belakang ya.” Ucap Yoga semangat. Bocah itu berucap dengan melewati Nabila, ia akan menemui teman-temannya yang menunggu di ruang tamu.
“Bi, nanti antar jus sama camilan untuk Yoga dan teman-temannya ya.” Ucap Nabila. Ia bangkit dari duduknya. Nabila, Abel dan Nita akan pergi ke butik milik Ayu.
“Baik, Non.”
***
Di taman belakang..
“Gila, rumah lo Gede banged Ga. Mewah kayak rumah konglomerat.” Ujar Radit terpukau dengan rumah mewah yang ia jejaki. Radit melihat luasnya taman belakang. Ada gasebo, kebun bunga, ayunan dan kolam renang di taman belakang.
“Gue emang adik konglomerat hahaha.” Jawab Yoga santai.
“Nggak nyangka gue, padahal lo biasa aja di sekolah. Ternyata orang kaya.” Sahut Dito.
“Yang kaya kakak gue, bukan gue.”
“Tapi, yakin nggak papa kita main kesini?” Tanya Radit was-was.
“Santai aja, kakak gue nggak pernah beda-berani manusia kok. Kalian mau nginep disini juga nggak masalah.” Jawab Yoga.
“Serius?” Tanya Radit dan Dito.
Yoga mengangguk. “Agendakan aja, nanti kita barbeque-an kalau kalian nginep.” Selama ini jarang teman Yoga berkunjung atau bisa dibilang tidak pernah. Karna Yoga menyembunyikan identitasnya yang berasal dari keluarga Adam. Tapi, karna sekarang Radit dan Dito sudah tau, ia akan sering-sering mengundang teman-temannya datang.
***
Nabila sedang di cafe miliknya memeriksa keadaan cafe juga toko kue di sebelahnya. Sekalian dirinya menunggu jemputan dari Adam. Perempuan itu terlihat menikmati segelas teh hangat dan sepotong chiffon pandan cake. Ia duduk di kursi yang berada di sudut cafe, tempat yang sangat strategis untuk melihat pelanggan keluar masuk cafe miliknya.
Seorang waitress datang menghampiri Nabila dengan buket bunga di tangan kanannya. Sepertinya bunga Lili. “Maaf mbak, ini ada kiriman bunga untuk mbak Nabila.” Ucap Tito waitress cafe miliknya.
__ADS_1
“Bunga?” Guman Nabila sambil menerima buket itu. “Makasih ya, To.” Ucapnya pada Tito lembut. Tito mengangguk lalu meninggalkan Nabila untuk kembali pada tugasnya.
Nabila melihat bunga yang kini ada di tangannya. Buket bunga Lili yang sangat indah. Ada memo di dalam buket itu. Nabila meraih secarik kertas memo itu lalu membacanya.
Isi memo..
Bunga yang indah ini, untuk kamu yang cantik. Kamu sang pemilik hatiku (emot love).
Dari siapa?Itulah yang ada di pikiran Nabila. Mungkin dari mas Adam, karna Nabila kan sang pemilik hati Adam. Dengan pe-de nya Nabila berpikir bunga itu dari Adam. Nabila langsung tersenyum. ‘Harum.’ Batin Nabila.
Hari-Hari berikutnya Nabila selalu mendapat kiriman bunga di cafe nya. Tentu saja dengan memo yang berbeda-beda. Isi memo nya lebih ke gombalan atau rayuan. Nabila menjadi heran, jika Adam, kenapa Adam bisa se-gombal itu mengiriminya bunga setiap hari dengan catatan-catatan lucu. Ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Adam nanti. Drttt..ponselnya berdering, satu pesan masuk dari suaminya.
📲Sayang maaf aku nggak bisa jemput, kamu pulang di jemput pak Slamet ya. Love u.
‘Mungkin mas Adam sibuk.’ Batin Nabila. Ia langsung membalas pesan dari suaminya.
📲Oke mas, jangan pulang malem ya. Aku kangen.
Setelah membalas pesan suaminya Nabila bersiap mengambil tasnya di ruang atas dan menunggu pak Slamet di depan cafe. 10 menit menunggu mobil rumah sudah kelihatan. Nabila langsung masuk ke dalam mobil begitu mobil berhenti di depannya. Ia tidak menunggu pak Slamet membukakan pintu. Karna menurutnya tidak perlu, ia tidak suka di perlakukan seperti itu.
“Pak, mampir ke Indomar*t yaa,”
“Baik, Non.”
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Siapa yang mengirim buket bunga ke Nabila?Apakah Adam?