
Pagi menyapa sepasang suami istri yang masih terlelap saling berpelukan. Keduanya seakan tidak terpengaruh pada cahaya sinar matahari yang masuk kedalam kamar hotel melalui celah jendela yang tak tertutup tirai.
Selain itu keduanya tidak terganggu sama sekali oleh dering ponsel yang berada di nakas. Ponsel di atas nakas itu sudah berdering beberapa kali namun tak mampu membangunkan pasangan suami istri itu.
Hingga akhirnya ketukan pintu lah yang membangunkan mereka. Abel memaksa dirinya turun dari ranjang saat mendengar ketukan pintu yang cukup keras bahkan bisa di bilang gedoran. Daniel juga ikut terbangun oleh suara ketukan pintu itu, namun dia malah membenarkan selimutnya hingga menutup seluruh tubuhnya dan tidur kembali.
Siapa sih, pagi-pagi udah berisik aja.
“Kakek!!” Abel terkesiap melihat siapa sang pengetuk pintu itu. Kakek Han berdiri di depan pintu di dampingi oleh John.
Kok aku jadi nggak tenang ya. Melihat ekspresi tidak terbaca dari kakek Han.
“Maafkan kakek menggangu waktu kalian, apa kakek boleh masuk??” Abel tentu saja langsung mengiyakan pertanyaan kakek Han. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.
Kakek melangkah masuk ke dalam hotel. Berdampingan dengan Abel sementara John berjalan di belakang mereka. “Apa suamimu belum bangun?”
“Ah, iya, belum, kek. Biar Abel bangunkan mas Daniel, kakek silahkan duduk.”
__ADS_1
Kakek Han pun duduk di sofa ruangan depan, sementara Abel langsung masuk ke dalam kamar untuk membangunkan suaminya.
“Bee, bangun Bee. Ada kakek.” Membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Daniel lalu mengguncang pelan tubuh suaminya.
“Apa yang kakek lakukan pagi-pagi sekali?” Mendengar nama kakek Han disebut Daniel langsung bangun. Lelaki itu membuat peregangan otot sambil menatap istrinya.
“Entahlah, aku akan mandi. Kamu temui kakek.” Daniel mengangguk. Sedetik kemudian lelaki itu menggeleng.
“Kenapa?” Tanya Abel herannya
“Aku ikut mandi, lebih baik menemui kakek setelah mandi.” Ucap Daniel.
“Iyaa, sayangku.”
Daniel mengikuti Abel masuk ke dalam kamar mandi. Abel mandi di bath up sementara Daniel mandi dengan shower. Daniel selesai mandi lebih dulu karena dia merasa tidak enak jika kakek Han menunggu lama. Usai memakai bajunya Daniel langsung menemui kakek Han di ruang depan atau ruang tamu yang ada di dalam kamar hotel itu.
“Kenapa lama sekali, kau sunggu membuat kakek menunggu, tidak sopan.” Keluh kakek Han.
__ADS_1
“Kalau begitu kenapa kakek datang kesini pagi-pagi sekali, saat aku dan Abel bahkan belum bangun. Apalagi semalam malam pertama kami, sungguh tidak sopan plus menggangu saja.” Keluh Daniel tak mau kalah dari kakek.
“Kau memang pintar membalas ucapkan kakek.” Cebik kakek Han.
“Terimakasih atas pujiannya.”
“Kau pikir itu pujian.” Kakeh Han mendengus kesal.
“Dan, aku belajar dari kakek.” Balas Daniel.
Memang ya Daniel dan kakek Han itu selalu saja ribut saat bertemu. Apa meraka tidak lelah selalu ribut?Untung saja John selalu menjadi penengah di antara mereka. Tak jarang pula John malah terkena apes saat berniat menengahi mereka, entah itu yang mendapatkan teriakan dari kedua nya atau kadang gaji nya sampai di potong karena sikap kekanak-kanakan dua majikannya itu.
“Tuan besar ingat kita kesini bukan untuk berdebat.” John yang berdiri di sebelah kakek Han langsung menunduk mengingatkan tujuan awal mereka. Kakek Han mengangguk.
“Kenapa kalian malah asyik berbisik?” Tanya Daniel menyelidik.
.
__ADS_1
.
.