
Makan nasi kuning saja sampai belepotan seperti bayi, namanya juga Abel.
“Pelan-pelan makannya, kamu nggak lagi lomba cepet-cepetan makan sampai habis.” Ucap Daniel lembut seraya mengambil satu butir nasi di sekitar mulut Abel.
“Aku, kan, ngimbangin kamu, kamu makannya cepet banged.” Masih penuh dengan makanan di mulutnya Abel protes pada Daniel yang sudah lebih dulu menghabiskan makannya.
“Lain kali kamu nggak perlu ngimbangin saya, kamu bisa makan sesantai kamu. Saya pasti tunggu kamu sampai selesai, nggak bakalan saya tinggal.” Sambil merapikan sulur anak rambut Abel yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Daniel menyelipkan sulur anak rambut itu ke belakang telinga bergabung dengan seluruh rambut Abel yang lain.
“Hm.. ngomong dong dari tadi, jadi, aku bisa santai. Gak tau apa aku hampir tersedak karena ngejar kecepatan makan kamu.” Gerutu Abel.
“Siapa yang suruh Abel.. Saya makan cepat karna sudah terbiasa.” Daniel geleng-geleng kepala. Sementara Abel malah mengerucutkan bibirnya semakin menggemaskan bagi Daniel.
***
“Bawa jaket sama tas gendong kamu!Nggak usah bawa tas kecil itu.” Tas kecil yang di maksud Daniel adalah tas slingbag.
“Iyaa..iya, memang kita mau kemana?Tumben bawa jaket.” Mengambil jaket hodie nya. Beruntung saat berangkat Abel membawa serta jaket hodie kesayangannya.
Abel tidak menolak saat Daniel menggenggam tangannya dan menggandengnya. Mereka keluar dari hotel dengan bergandengan tangan. Daniel berhenti sebentar di depan salah satu karyawan hotel yang di kenalnya. “Pesanan saya sudah ada, Pak?” Tanya Daniel pada lelaki paruh baya yang juga manajer hotel itu.
“Sudah, tuan.” Jawab lelaki itu seraya memanggil dua karyawan lain yang tidak jauh darinya. Dua karyawan itu membawa dua helm. Satu helm full face dan satu helm biasa. Abel sendiri hanya diam dan mendengarkan percakapan Daniel dan karyawan hotel.
“Ini, tuan. Menyerahkan pada Daniel.”
Daniel melepas pegangan tangannya dari Abel, dan menerima helm dari karyawan hotel. “Tolong, kamu bawa satu.” Lalu memberikan satu helm biasa pada Abel, dan satu helm full face ia bawa sendiri.
“Terimakasih, pak.” Ujar Daniel pada karyawan hotel.
“Sama-sama, Tuan.”
“Ayo!” Kembali menggenggam tangan Abel dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang helm. Abel memegang helmnya dengan tangan kiri, karna tangan kanannya di genggam Daniel.
“Kita mua jalan naik motor?” Tanya Abel berbinar disela-sela mereka berjalan menuju parkiran. Daniel mengangguk.
“Serius?” Daniel mengangguk lagi.
“Asyik..” girang sekali Abel di ajak jalan-jalan naik motor.
Mereka sampai di parkiran depan hotel, bukan di basement. Motor klx warna hitam terparkir disana.
“Naik itu?” Abel melepaskan genggaman tangan Daniel menunjuk pada motor klx di parkiran. Dan, Daniel mengangguk. “Kamu nggak suka?” Tanya Daniel berhati-hati.
“Mana mungkin, aku senang sekali.”
“Syukurlah.” Mereka sampai di samping motor klx yang masih terparkir rapi. Daniel meletakan helm full face nya pada spion motor. Lalu ia meraih helm yang di pegang Abel. “Sini aku bantu.” Memakaikan helm untuk Abel.
Uuuu.. so sweet. Fiks, lo idaman gue banged, Niel. Teriak Abel dalam batinnya.
Tak lupa Daniel mengaitkan kunci helmnya agar aman. “Sudah.”
“Makasih.”
__ADS_1
Daniel pun memakai helmnya sendiri lalu naik keatas motor. Di ikuti Abel yang langsung membonceng.
“Kita mau kemana hari ini?” Sudah menyiapkan motor beserta helmnya, namun Daniel tidak memikirkan tujuan mereka jalan-jalan, apa-apaan?
Abel terbengong mendapati pertanyaan dari lelaki yang beberapa detik yang lalu ia kagumi. “Memang kamu belum punya tujuan mau kemana hari ini?” Tanya Abel. Daniel menggeleng.
“Terus?”
“Kamu pengennya kemana?Saya terserah kamu saja.”
Sebenarnya untuk tempat tujuan Abel sudah punya banyak tempat yang ingin ia kunjungi. Ia hanya berbasa-basi pada Daniel saat menanyakan tujuan mereka hari ini.
Karna hari ini Abel sudah membuat planning akan kemana saja.
“Mau kemana, Bel?” Tanya Daniel.
“Aku pengen ke gua pindul, tapi, lumayan jauh dari kota bisa 2 jam lebih baru sampai sana.” Jawab Abel.
“Tidak masalah, kamu pegangan yang bener. Saya mau ngebut.” Ujar Daniel seraya meraih dua tangan Abel agar melingkar diperutnya.
“Ngebut gak papa, aku suka tapi tetap safety ya!”
“Siap.”
**FYI:** Wisata Gua di Gunungkidul ini berada di desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Pindul cave termasuk objek wisata gua kapur unik, lantaran di dalam gua ada aliran sungai bawah tanah memanjang dari mulut gua hingga ujung gua dekat dam air.
Panjang sungai goa Pindul sekitar 350 meter, lebar gua mencapai 5 meter, sedangkan kedalaman air sungai kisaran 5 meter hingga 12 meter, tergantung intensitas air hujan.
Ada 3 zona di gua Pindul Gunungkidul yaitu zona terang, zona remang dan zona gelap. Sama hal nya seperti gua-gua pada umumnya, wisata Pindul cave memiliki stalaktit dan stalagmit memukau, namun menjadi pembeda hanyalah kapasitas stalagmit dan stalaktit.
Sumber: datawisata.com
“Kamu kedinginan?” Daniel melihat Abel sedikit menggigil saat selesai menyusuri sungai dalam gua. Perempuan itu mengangguk. “Kan, saya bilang apa, kamu ngeyel.” Sudah seperti ibu-ibu Daniel memarahi Abel yang terlihat kedinginan itu. Sejak awal mereka sampai di gua pindul Daniel sudah melarang Abel menyusuri gua dengan naik ban di atas aliran sungai yang cukup panjang.
“Tapi, kan, seru. Coba di Jakarta, kita mana bisa main seperti ini.”
“Sudahlah, cepat ganti baju.” Menemani Abel sampai ke depan toilet.
Sebelum sampai di gua pindul Abel berhenti di salah satu toko pakaian membeli baju seadanya untuk ia dan Daniel gunakan menyusuri gua. Sehingga baju mereka tadi pagi tidak basah.
Sebelum melanjutkan perjalanan Abel dan Daniel lebih dulu makan siang, mereka sudah menghabiskan waktu seperempat hari di gua pindul. Mereka makan siang dengan menu nasi Padang. Abel makan dengan lauk ayam goreng dan Daniel makan dengan menu lauk rendang.
“Habis ini kita ke pantai ya, aku udah cari pantai yang sunset nya bagus.” Ajak Abel.
“Kemanapun asal kamu suka, saya suka.” Balas Daniel.
Abel mengajak Daniel menuju salah satu pantai di Gunungkidul yang sudah di rekomendasikan oleh Yoga.
“Em.. Daniel kayaknya kita salah jalan deh.” Gumam Abel ragu.
Sudah dua jam Abel dan Daniel berkendara namun belum sampai tempat tujuan. Padahal Abel sudah mengikuti semua yang di katakan mbak-mbak Google Maps.
__ADS_1
Daniel menepikan motornya sebentar, lalu ia menoleh pada Abel. “Coba saya lihat Maps kamu.” Pinta Daniel meminjam ponsel Abel. Abel pun memberikan ponselnya pada Daniel.
“Hm.. ini salah Abel, lihat!” Abel menurut ia melihat ke arah ponselnya.
“Harusnya di pusatkan dulu, setelahnya kamu ikuti saja arahannya, atau kamu bawa headshet nggak?” Abel menggeleng.
“Ya sudah, kita coba jalan lagi. Semoga lancar.” Ucap Daniel dan Abel mengangguk.
Setelah dua jam tiga puluh menit mereka baru sampai di tempat tujuan pertama. Sekitar pukul 15:30 mereka sampai di pantai ngobaran. Pantai dengan nuansa Bali.
Di pantai itu Abel dan Daniel hanya sebentar tidak sampai tiga puluh menit. Hanya mengambil beberapa foto lalu melanjutkan perjalanan.
Sampailah mereka di tempat tujuan terakhir hari ini. Yaitu pantai kesirat.
Di pantai kesirat, Abel dan Daniel menghabiskan waktu hingga petang. Mereka sekalian menikmati sunset.
“Kamu capek?” Abel khawatir Daniel kecapekan karna lelaki itu mengendarai motor dari pagi sampai petang, ini saja mereka belum pulang ke hotel. Dan, perjalanan menuju hotel nanti cukup lama.
“Saya nggak capek.” Jawab Daniel.
“Yakin?” Daniel mengangguk.
“Makasih.” Lirih Abel.
“Makasih untuk?”
“Sudah mau menemaniku liburan.”
Sekilas Daniel tersenyum, “Saya yang harusnya berterimakasih sama kamu, Abel!Karna kamu saya bisa refresing dan tau berbagai wisata di Jogja.” Ujar Daniel.
“Ya udah kita sama-sama berterimakasih.”
“Daripada itu, ada yang mau saya bicarakan sama kamu.” Ucap Daniel serius.
“Apa?”
“Maukah kamu menjadi pacar saya?”
“Apaa?!!” Tanya Abel sedikit kaget.
.
.
.
.
__ADS_1
Done bab kedua untuk hari ini.. see you tomorrow guys