Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Pulang ke rumah


__ADS_3

Empat hari berlalu, Nabila sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Tapi masih harus istirahat, belum boleh beraktivitas berat.


“Yoga, kita pulang saja tidak usah nunggu mas Adam.”


“Tapi mbak, mas Adam baru jalan kesini. Kasian mbak kalau ditinggal.” Ucap Yoga.


Nabila tampak sebal menunggu Adam tak kunjung menjemputnya, ia sudah sangat bosan di rumah sakit.


“Maaf sayang, kamu pasti menunggu lama.” Ucap Adam begitu tiba dirumah sakit.


“Nggak cuman lama, tapi seharian. Mas janji jemput aku jam 10 pagi, sekarang sudah jam 5 sore, hampir magrib.” Gerutu Nabila tidak senang.


“Aku minta maaf, sayang. Urusan dikantor hari ini banyak sekali, aku bahkan tidak sempat makan siang.” Jawab Adam memelas, Adam sengaja mencari perhatian untuk meluluhkan Nabila tang sedang marah itu.


“Jadi, mas Adam belum makan siang?”


Adam menggelengkan kepalanya. “Ayo pulang.” Adam menggandeng lengan Nabila keluar dari rumah sakit diikuti Yoga yang membawa tas berisi baju Nabila selama di rumah sakit.


“Jangan ngebut, Ga.” Nabila memperingatkan adik angkatnya itu, Yoga tadi langsung menyusul Nabila ke rumah sakit begitu pulang sekolah. Yoga membawa mobilnya sendiri.


Mobil Adam dan mobil Yoga pun saling ber-iringan keluar dari area rumah sakit.


“Akhirnya sampai rumah juga.” Begitu menginjakkan kaki di rumah, Nabila merasa senang. Para bibi dan tukang kebun pun langsung menghampiri Nabila, mereka juga sangat mengkhawatirkan keadaan Nabila.


Setelah sedikit berbincang dengan para bibi, Nabila pergi ke kamar. Ia langsung merebahkan diri di ranjang.


“Mas pinjam ponselmu boleh?”


Adam menyerahkan ponsel miliknya. “Soalnya ponselku mati mas, lupa nggak di charge.”


“Kamu mau telefon siapa?” Tanya Adam penasaran.


“Aku mau telefon Jessi, kangen.” Dua hari yang lalu Ayu mengajak Jessi dan Jordan untuk pulang ke Jogja menjenguk yangti dan yangkung.


“Aku boleh tanya nggak, Bil?” Ada yang mengganjal di Fikiran Adam.


“Apa mas?”


“Daddy nya Jessi sama Jordan bule ya?”


“Aku kurang tau, Mas. Jordan bilang sejak lahir mereka nggak punya daddy, mommy nya ninggalin Daddy nya pas Jordan sama Jessi masih di kandungan.” Nabila mengatakan sesuai apa yang di ceritakan Jordan.


Bukannya puas dengan cerita Nabila, Adam malah tambah penasaran. “Ninggalin karena apa, Sayang?Trus Jessi sama Jordan tau nggak siapa Daddy nya?”

__ADS_1


“Nggak tau, Mas. Aku nggak enak mau nanya sama mbak Ayu. Apalagi kenal belum lama.”


“Tapi kalau di lihat Jordan mirip rekan bisnisku, Bil.”


“Iyakah?”


“He’m. Sudahlah kamu istirahat dulu, masih capek kan. Sini aku puk puk.”


Dengan puk puk dari Adam, tanpa butuh waktu lama Nabila langsung tertidur pulas. Nabila tidak jadi menelefon Jessi karena tidak diangkat oleh bocah kecil itu.


***


“Gimana sih kalian tidak becus?!” Teriak seorang perempuan di sebuah gedung apartemen kumuh.


“Maaf, Non. Kami tidak menyangka dia akan membanting setir dan selamat. Padahal kami lihat dengan jelas mobilnya menabrak pohon.” Jawab salah satu lelaki di hadapan perempuan itu.


“Nyatanya dia baik-baik saja, dari yang ku dengar. Kalian aman kan?” Muncul sedikit rasa khawatir di wajah perempuan itu.


“Aman. Non. Tidak mungkin ada jejak dari kami.”


“Baiklah, ini bayaran kalian.” Perempuan itu pun menyerahkan segepok uang cash kepada dua lelaki di hadapanya. Setelahnya dia keluar dari apartemen itu.


***


“Maaf, aku lama. Dimana ibumu?”


“Di dalam, aku panggil ibu terus langsung kerumah sakit saja, mas.” Riko pun mengangguk, Nita masuk kedalam apartemen, beberapa saat kemudian Nita kembali bersama ibu.


Nita akan membawa ibu kerumah sakit diantar oleh Riko. Seharian ini ibunya susah makan dan sedikit bicara. Membuat Nita khawatir saja.


Cukup 30 menit mobil yang dikemudikan Riko sampai dirumah sakit. Nita pun langsung membawa ibunya, pihak rumah sakit mengatakan jika sang ibu harus dirawat inap. Nita langsung mengurus prosedur masuk ibunya.


“Gimana?” Tanya Riko setelah memarkirkan mobilnya, Riko memang sedikit lama karena setelah memarkir mobil ia menjawab telefon dari Adam dulu.


“Harus nginep.”


“Ya udah gak papa, aku temani kamu.” Semalaman Riko menemani Nita dan menginap dirumah sakit.


“Nit.” Riko mencoba membangunkan Nita.


Nita mengerjapkan matanya melihat Riko sedang berdiri membungkuk kearahnya. “Sudah pagi ya?”


Riko pun mengangguk. “Aku harus ke kantor, kamu nggak papa kan aku tinggal sebentar?”

__ADS_1


“Iyaa, gak papa. Mas Riko berangkat aja.”


Setelah Riko pergi, Nita pun membersihkan dirinya. Saat keluar dari kamar mandi Nita melihat sang ibu masih tertidur. Akhirnya Nita memutuskan untuk membeli sarapan dulu.


***


Belum sampai setengah perjalanan Riko mendapat pesan dari Nita. Setelah membaca pesan itu, Riko pun memutar arah nya kembali kerumah sakit. Tidak lupa Riko menghubungi asistennya untuk membatalkan semua jadwal Hari ini.


Riko memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Cukup 15 menit ia sampai dirumah sakit. Ia langsung berlari cepat ke ruangan tempat ibu Nita dirawat.


Riko pun masuk keruangan ibu Nita, dia melihat ibu Nita sudah terbujur kaku dengan ditutup kain kafan full dari atas kepala sampai kaki. Sedangkan Nita nampak lemas duduk disamping jenazah ibunya, menatap jenazah ibunya dengan tatapan kosong.


Riko langsung berjalan menghampiri Nita tanpa berkata apa pun. Riko pun merengkuh tubuh Nita ke dalam pelukannya. “Aku disini, masih ada aku.” Lirih Riko.


Nita tidak menjawab, ia justru langsung menangis keras di pelukan Riko. Terus dan terus menangis sampai Nita pun kelelahan dan tak sadarkan diri.


Drap..


Drap..


Drap..


Suara gemuruh langkah berlarian menuju ruangan ibunya Nita. Nabila dan Adam baru saja tiba. Mereka segera berangkat ke rumah sakit begitu mendapat kabar dari Riko.


Sedangkan Abel, ia masih dalam perjalanan dari Singapura. Abel juga langsung memesan tiket untuk pulang begitu Nabila mengabarinya berita duka.


Saat sampai di rumah sakit, Nabila melihat Nita tengah lemas dengan bersandar di bahu Riko. Tatapan Nita masih kosong. Nabila pun mendekati Nita. Ia langsung memeluk Nita menggantikan Riko yang sudah berdiri. Riko tau Nabila lebih bisa menenangkan Nita.


“Bil..” lirih Nita.


Belum sempat Nita meneruskan apa yang ingin dia katakan sudah di potong oleh Nabila. “Kamu masih punya aku dan Abel. Nit. Aku dan Abel keluargamu juga.” Kata Nabila.


Nabila tau Nita pasti akan berkata jika dirinya kini menjadi anak yatim piatu dan tidak punya keluarga. Nabila tidak mau Nita merasa sendiri, padahal di sekelilingnya banyak yang menyayangi Nita.


“Bil. Hiks hiks hiks, ibu bener-bener ninggalin aku hiks hiks. Ibu udah nggak ada hiks hiks, aku harus bagaimana?Aku harus bagiamana menjalani hidupku tanpa ibu, Bil?Aku harus bagaimana?Aku belum sempat membahagiakan ibu hiks hiks.” Nita menangis tersedu di pelukan Nabila.


Riko tidak tega, hatinya ikut berduka melihat perempuan yang dicintainya kehilangan sosok berharga dalam hidupnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2