
Riko melajukan mobilnya menuju rumah Nabila. Di dalam mobil Jessi terlihat tenang duduk di pangkuan Nita.
Hening..hening..hening.. Keheningan membuat Jessi mengantuk, akhirnya bocah kecil itu tertidur.
Melirik Jessi yang sudah terlelap, Riko pun memberanikan diri mengajak Nita berbicara. “Kamu marah?” Tanya Riko memecah keheningan.
“Nggak.” Jawab Nita singkat.
“Yakin?Terus kalau nggak marah kenapa diem aja?” Cukup lama Riko menunggu jawaban Nita, tapi perempuan itu seakan membisu. Malas berbicara.
“Hei, lihat aku!” Tangan kiri Riko menyentuh dagu Nita yang sedang menatap ke arah luar mobil. Menggerakan dagu itu agar si pemiliknya mau menoleh ke Riko.
“Mas, mending fokus nyetir aja deh!” Ucap Nita melepaskan tangan Riko.
“Baiklah, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti ketika sampai di rumah Nabila.” Riko kembali menatap depan dan fokus pada kemudinya.
“Terserah.”
Ya Nita mungkin sedang marah. Tapi Nita sendiri masih ragu, apa yang membuat Nita bisa begitu marah dengan Riko. Perempuan itu hanyalah mantan, ya hanya mantan Riko.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Nabila. Nita langsung menggendong Jessi masuk ke dalam rumah. Gadis kecil itu masih tidur, bahkan tidak terbangun saat Nita menggendongnya.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Riko juga langsung masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat mobil Yoga memasuki halaman rumah.
Terlihat Nabila dan Abel keluar dari mobil Yoga. “Baru pulang juga?” Tanya Abel. Riko pun mengangguk.
“Adam kemana?Kok Yoga yang jemput?” Tanya Riko.
“Tadi tiba-tiba ada telefon dari kantor polisi, mas. Jadi mas Adam nggak bisa anter pulang.” Jawab Nabila.
“Oh, perkembangan penyelidikan kecelakaan kamu paling.”
Nabila, Abel, Riko dan Yoga pun masuk bersama kedalam rumah. Nabila langsung ke dapur karena mau membuat susu. “Astaga, sejak kapan dapur ku jadi toko buah?” Nabila kaget melihat begitu banyak buah-buatan di dapur miliknya.
“Bi Sumi, ini bener rumahku kan?” Tanya Nabila memastikan.
“Benar kok non.” Jawab Bi Sumi yang sedang mengeluarkan satu per satu buah dari kardus besar.
“Lah, Kita emang kapan buka toko buah?eh bukan, kapan kita beli buah sebanyak ini Bi?” Tanya Nabila lagi heran.
Bu Ijah langsung mendekati Nabila dan berbisik. “Ini yang bawa non Abel, Non. Katanya anggota keluarga kita banyak, jadi butuh asupan buah yang banyak juga.” Bisik Bi Ijah ke telinga Nabila.
Nabila manggut-manggut. “Tapi nggak gini juga kali Bi. Bi sortir aja Bi, jangan di buka semua. Yang masih di kardus biarkan aja, nanti biar dikirim ke panti sama pak Slamet. Trus kita ambil secukupnya saja.” Kata Nabila, mana mungkin menghabiskan buah yang hampir satu truk itu.
‘Otaknya si Abel lagi error kali yaa.”
__ADS_1
“Siap, Non.”
Nabila pun kembali ke ruang keluarga dengan segelas susu hangat di tangannya. “Bel.”
“Kenapa?” Abel sedang santai dengan cilok yang tadi di belinya bersama Yoga yang juga asik menyantap cilok.
“Lo gila bawa buah segitu banyaknya?” Nabila duduk tepat di sebelah Abel.
“Iya mbak, mbak Abel kayaknya otaknya error.” Sahut Yoga.
“Apaan sih kalian, gue itu menjaga asupan gizi buat kalian. Kalian nggak tau buah itu kaya akan vitamin?” Gerutu Abel, tidak terima.
“Ya tapi nggak se truk juga lo bawa, Bel. Ujung-ujungnya mubazir kalau nggak habis kan?” Nabila mengambil posisi berbaring di sofa yang masih lebar itu. Ia merasa tubuhnya butuh istirahat.
Yoga pun tidak mau kalah, ia juga menyerang Abel. “Mbak Abel mau buka warung buah di depan gerbang mbak, dah maklumin aja.” Ucap Yoga.
“Sial*n lo Ga, gue ga kekurangan duit tau. Lagian gue udah beliin kulkas khusus buah buat lo, aman kan?” Menatap Nabila dengan senyum.
“Masih nggak cukup zhezeng, sebagian gue mau kirim ke panti gak papa kan?Udah banyak soalnya di rumah.” Nabila yakin Abel tidak mungkin berkata tidak.
Abel berpikir dalam beberapa waktu, ia pun menyangga dagunya dengan jari telunjuk. “Kok aku nggak kepikiran ke situ sih?”
Yoga tergelak hatinya, ia ingin ikut pak Slamet mengantar buah itu ke panti. “Mbak aku boleh ikut pak Slamet ke panti?”
“Mbak aku mau ke atas ganti baju sebentar.” Ucap Yoga pada Abel, lalu dengan kecepatan kilat Yoga pun berlari ke kamarnya.
“Lah belum juga dijawab, udah ilang aja tu bocah kaya angin.”
Nabila sudah kembali lagi keruang keluarga dengan membawa amplop coklat berisik uang cash. “Kemana Yoga?”
Abel menujuk kamar Yoga tanpa menjawab pertanyaan Nabila. Dengan itu pun Nabila sudah paham Yoga sedang pergi ke kamarnya. “Lo temenin Yoga gih!”
“Kenapa gue?” Tanya Abel, Abel sedang mager berbaring di sofa ruang keluarga dengan bantalan sofa dan memainkan ponselnya. Abel sedang berselancar di dunia maya. Mungkin saja sedang ngepoin mantannya.
“Ya lo kan yang paling nganggur di antara kita semua.” Jawab Nabila. Memang benar, Abel tidak sibuk. Tidak seperti Nabila yang harus menjaga si kembar, ataupun Nita yang masih labil dengan emosinya setelah kepergian ibunya. “Gimana?”
“Ya udah iya, iya.” Abel bangkit dan menaruh ponselnya ke dalam tas. “Gue pamit sama Nita dulu.”
Abel berlalu menuju kamar yang Nita tempati. Saat sampai di kamar itu Abel melihat Nita tengah tertidur memeluk Jessi. Sementara Riko nampak bekerja di sofa, Riko fokus menatap laptop yang ada di depanya.
Abel pun memilih kembali ke ruang keluarga.
“Udah pamit sama Nita?”
Abel menggeleng. “Nita tidur sama Jessi, terus mas Riko kayaknya lagi sibuk ngurus kerjaan. Jadi, gue balik kesini. Ntar lo aja yang bilang ke Nita, kalau dia nyari in gue.” Abel kembali mendudukkan dirinya di sofa.
__ADS_1
“Oke, setelah ini aku juga mau Bobo siang bentar. Adek nyuruh bundanya Bobo siang.” Ucap Nabila mengelus perutnya.
“Hilih, alesan.”
Tap..tap.. Yoga sudah kembali. “Mbak mau titip apa?”
Nabila menyerahkan amplop coklat berisi uang cash ke Yoga. “Kasih ke ibu panti ya, terus salamin aja dari mbak buat ibu.”
“Oke. Siap.” Yoga kemudian pamit pada Nabila. Dan dengan bersama Abel, Yoga pergi ke panti.
Yoga membawa mobil sendiri, sementara pak Slamet di temani Bi Sumi. “Ga, mampir ke supermarket bentar.” Ucap Abel.
“Oke mbak.”
Yoga menepikan mobilnya di supermarket, begitu juga pak Slamet yang berhenti di belakang mobil Yoga.
Abel langsung masuk ke supermarket itu. “Kamu yang dorong!” Perintah Abel pada Yoga agar mendorong troli.
Abel mengambil beberapa susu kaleng dan susu saset, ada juga roti tawar dan juga beberapa pak Indomie goreng dan Indomie rebus.
“Mbak ada yang kurang.” Ucap Yoga.
“Apa?Sarden mbak.”
“Kamu yang beli yaa, limit kartuku bulan ini sudah melebihi batas.” Abel sedikit blak-blakan. Memang bulan ini pengeluarannya banyak, apalagi dia kan baru saja bolak balik Jakarta Singapura menjenguk kakeknya yang sakit.
“Kalau gitu Yoga aja yang bayar semuanya mbak.” Ucap Yoga.
“Memang kamu punya uang kalau mau bayar semua?” Tanya Abel.
“Hei, kau meremehkan adik sultan wkwk.” Yoga langsung terkekeh. “Mbak nggak tau uang jajanku sebulan berapa dari mbak Bila dan mas Adam?Kalau tau mbak bisa pingsan Hahaha.”
Bukan sombong, memang benar uang jajan Yoga sangat berlimpah dari Nabila dan Adam. Belum lagi uang warisan hasil jual tanah dari bapaknya yang belum ia pakai sama sekali.
Dulu Yoga hanya mengambil beberapa dari uang warisan itu untuk Yoga berikan pada Budhenya. Budhe yang sudah berjasa menyimpan warisan Yoga dengan baik.
“Memang berapa?” Bisik Abel penasaran.
“Ye kepo Hahaha.” Yoga kembali terkekeh. Dia kemudian berjalan menuju tempat sarden dan mengambil beberapa dus.
.
.
Bersambung..
__ADS_1