Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Kartu tanpa batas limit


__ADS_3

Aduh sepertinya kak Revan yang memanggil. Nabila menoleh ke arah suara berasal.


“Kak Revan..”


“Aku tadi nyari kamu di kelas, tapi kata Abel kamu sedang keluar, apa kamu sudah makan siang?” tanya Revan.


“Sudah kak, tadi aku keluar sekalian makan siang.” jawab Nabila.


“Sendirian?”


“Sama temen kak,”


Suami juga bisa dibilang temen kan, insyaallah teman hidup sampai mati. Gumam bila.


“Oh ..Padahal aku mau ngajak kamu makan siang,” Ucap Revan.


Mau jawab apa nih. “Memang temen Kak Revan yang lain kemana?” tanya Bila.


“Ada kok, cuman aku pengen makan bareng kamu aja.”


“Makan sama siapa saja rasanya sama kok kak, jangan pilih-pilih teman makan. Kasian perut kakak nanti bisa kena mag kalo telat makan,” kata Nabila .


“Bukan itu maksudku Bil..,” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Nabila memotong perkataan Revan.


“Maaf kak..aku masuk dulu yaa, Aku lihat Pak Raden udah jalan keruanganku.” Ucap Bila seraya berlari meninggalkan Revan, ia tidak mau telat, karena Pak Raden adalah dosen Killer yang tidak mentolelir keterlambatan apapun alasannya.


“Yah, ditinggal lagi,” Revan memandangi kepergian Nabila.


Disisi lain ada seseorang yang memperhatikan dari jendelan ruang atap, ya orang itu adalah Adam. Dari ruangan dimana Adam tengah berada memang bisa melihat area dalam kampus. Karena ruangannya berada di lantai atap cafe. Adam menatap tajam ke arah Revan.


Apa dia lelaki yang semalam mengirim pesan pada Bila? Gumam Adam.


Sore harinya sepulang kuliah Bila menghampiri Adam yang masih berada di cafe, Adam sedang memangku laptop mengetik sesuatu mungkin berkaitan dengan pekerjaan.


“Mas.” Panggil Nabila.


“Hemm.. tunggu sebentar,” ucap Adam masih fokus pada laptopnya.


Nabila duduk di samping Adam, mengamati suaminya yang sedang sibuk. Dia bermain ponsel.


“Ayo pulang!” ajak Adam setelah mematikan laptopnya. “Pakai mobilmu, mobilku di bawa Tio.” Adam beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Nabila menyerahkan kunci mobilnya pada Adam, dia membantu Adam membawa jasnya. Setelah pamit pada karyawan Nabila pulang bersama Adam. 30 menit kemudian mereka sampai dirumah langsung menuju kamar untuk membersihkan diri. Setelah menyantap makan malam, Nabila kembali kekamar.


“Mas engga keruang kerja?” tanya Bila pada Adam yang duduk di sofa kamar mulai membuka laptop.


“Aku akan bekerja disini, kemarilah ada yang ingin aku bicarakan.” Adam menepuk sofa di sebelahnya agar Bila duduk disebelah Adam.


“Ada apa mas?”


“Ini untuk kamu,” menyerahkan kartu hitam tanpa batas limit. “Gunakan untuk keperluanmu, termasuk uang belanja bulanan dan gaji pembantu. Semua tangggung jawab rumah menjadi urusanmu, aku tau kamu punya penghasilan tapi ini juga kewajibanku untuk menafkahi kamu, kamu bisa tabung penghasilan dari toko kue dan cafe milikmu, kamu mengerti kan Bila?” tegas Adam.


“Iyaa mas, Terimakasih.” ucap Bila menerima pemberian suaminya dengan senang hati.


“Selain kebutuhan rumah tangga, setiap bulan kamu harus setidaknya menggunakan kartu ini 10x untuk keperluan pribadimu.”


“Apaa?Tapi 10x itu termasuk banyak mas.”


“Terserah mau kamu pakai untuk apa, tapi itu wajib tidak ada nego.” Tegas Adam.


“Hemm.. baiklah mas, akan aku gunakan sebaik mungkin.”


Adam mengusap rambut Bila, deg..deg.. hanya di usap rambutnya oleh Adam detak jantung Bila tak karuhan.


Apa ini?aku gugup hanya karena sentuhan sepele dari Mas Adam?. Bila memperhatikan suaminya yang telah kembali fokus pada laptopnya.


📞Haloo?Hm Oke, aku segera kesana.


Ucap Adam lalu mematikan telefon dari Kevin.


“Siapa Mas?,” tanya Nabila.


“Kevin temanku memintaku untuk menyusul mereka ke bar sekarang, sepertinya sedang terjadi masalah di bar. Apa kamu mengizinkan?” tanya Adam.


“Pergilah Mas jika temanmu sedang membutuhkan bantuan.” ucap Nabila, sebenarnya dia tidak suka Adam pergi ke Bar, walaupun pernikahan mereka hanya perjodohan tapi ada rasa tidak rela jika Adam pergi ke bar.


“Tenang saja, aku tidak akan macam-macam!” ucap Adam meyakinkan Nabila, karena dia tau raut muka Nabila berubah saat dia meminta izin untuk pergi ke bar.


“Aku percaya Mas.”


Adam berganti pakaian casual dan memakai jaket. “Tidurlah dulu, jangan menungguku,” ucap Adam, Nabila hanya mengangguk pelan. Adam berjalan keluar dari kamar tapi berbalik lagi kearah Nabila.


“Ada yang ketinggalan mas?” tanya Nabila.

__ADS_1


“Ada..Cup..” Adam mengecup kening Nabila dengan lembut, “Aku pergi dulu.”


Nabila masih mematung di tempatnya, menyentuh keningnya. Baru saja dia menyadari Adam sudah hilang dari pandangannya, deg deg ..


Sepertinya jantungku bermasalah, selalu saja berdetak semaunya saat berdekatan dengan Mas Adam. Kali ini Mas Adam bahkan menciumku, apa ini pertanda aku harus siap jika sewaktu-waktu mas Adam akan meminta Hak malam pertamanya.. Nabila merinding sendiri memikirkan apa yang ada di di fikiranya.


Dia memilih untuk cuci muka dan tidur.


***Boss Club***


Di ruangan VVIP sudah ada Kevin dan Riko. Juga di meja ada beberapa camilan dan minuman beralkohol. Adam yang baru saja tiba langsung duduk di sofa panjang sebelah Riko.


“Ada Apa?” tanya Adam.


“Riko sedang galau, pacarnya hamil.” bisik Kevin.


“Kenapa galau?tinggal dinikahin aja selesai kan?” Ujar Adam santai.


“Permasalahanya belum tentu itu anak Riko, dan kamu tau pacar Riko tidak hanya satu.” ucap Kevin serius pada Adam.


“Apa yang membuatmu ragu anak itu bukan anakmu?”tanya Adam kearah Ruko.


“Masalahnya aku bertanya pada dokter usia kandungannya 5Minggu. Sementara dia mengaku padaku 3Minggu. Aku ingat kami berhubungan sekitar satu bulan yang lalu, bukankah berarti saat kami berhubungan dia sudah Hamil?” kata Riko menjelaskan. “Dan aku tidak mau menikah dengannya, dia denganku bukan yang pertama.” Ucapnya lagi tanpa rasa malu.


“Biar anak buah Adam yang menyelidiki tentang kehamilan Rani, kamu terima beres saja. Iya kan Dam??”


“Tidak masalah,” jawab Adam “Asal kamu mau memutuskan semua pacarmu,” kata Adam dengan santai.


“Hahaha, ****** lo Rik.” ujar Kevin.


“Yah .. pacarku cantik semua Dam, cara main mereka juga mantap, mana bisa di putuskan begitu saja.”


“Ya, sudah terserah, kalau begitu kamu nikah saja.” Adam sedikit mengancam, sudah saatnya Riko berhenti bermain dengan para wanita begitu pikir Adam.


“Baiklah, asal kamu membantuku mengurus masalah Rani, aku akan memutuskan semua pacarku.” ucap Riko dengan mengangkat dua jari .


“Oke.. Paling lama 2 hari kamu akan dapatkan laporan dari penyelidikan.”


“Thanks Bro.” Riko menepuk bahu Adam dengan senang.


Mereka bertiga mengobrol hingga larut, Adam bahkan meminum minuman beralkohol, untung saja dia bawa sopir jadi aman. Pak Slamet menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2