
Daniel memesan makanan untuk Abel.
“Terimakasih,” ucap Abel senang menatap berbagai macam hidangan di hadapannya. Ia juga melihat minuman beralkohol yang di pesan Daniel.
“Jangan minum!” Cegah Abel saat Daniel hendak minum wine.
“Kenapa?”
“Jika kau mabuk siapa yang akan menjagaku?” Tanya Abel serius.
“Jika hanya segini aku tidak akan mabuk.” Daniel tersenyum senang.
“Tetap saja, jangan minum.” Rengek Abel seraya menggelanyuti lengan Daniel.
“Hem, baiklah.” Daniel menghela nafas seraya mengelus puncak kepala Abel.
“Nah, gitu.” Abel melepaskan lengan Daniel dan mulai makan. “Selamat makan.”
“Aku kenyang, melihat nafsu makan mu membuatku kenyang seketika.” Lelaki itu benar-benar senang melihat nafsu makan Abel.
“Aaa..” Abel mengangkat sendok yang berisi makanan.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Daniel.
“Buka mulutmu, aku akan menyuapimu.” Ucap Abel. “Cepat buka mulutmu, aaa.”
Mau tidak mau Daniel pun membuka mulutnya. Lelaki itu menerima suapan dari Abel. Abel menyuapi Daniel dengan sendoknya.
“Nah, begitu dong. Pintar ya anak bunda.” Abel mengelus elus kepala Daniel seperti seorang ibu mengelus kepala putranya.
Daniel merasakan kehangatan seorang ibu dari Abel. Ia tersentuh oleh sikap Abel. Padahal Abel hanya menyuapinya makan. Ia mengunyah makanan itu dengan senang hati.
“Lagi.” Abel menyuapi Daniel lagi dan Daniel pun menerima dengan senang hati.
“Kamu juga makan.” Ucap Daniel dengan mulut penuh makanan. Abel pun mengangguk.
***
Diruangan lain masih dalam Club yang sama. Adam mengajak Tasya minum sampai perempuan itu mabuk. Setelah Tasya mabuk Adam akan mengorek informasi dari Tasya.
“Tuan Adam, kau sangat tampan.” Ucap Tasya seraya mengelus pipi Adam.
Adam merasa jijik pipi nya disentuh oleh Tasya namun ia mencoba sabar. “Anda juga sangat cantik, nona.” Balas Adam sambil tersenyum.
Adam sudah berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan Tasya. Sesuai permintaan Adam, ia mau makan malam dengan Tasya jika mereka melakukan kerja sama di awal sebelum makan malam. Adam juga berkata akan menuruti semua keinginan Tasya.
“Jika aku cantik maka Menikahlah denganku, tinggalkan Nabila.” Tasya sudah mabuk, ia mulai berceloteh tidak jelas.
‘Bagaimana dia tau nama Nabila?’ Batin Adam.
“Nabila, anda tau Nabila?” Mulai mengorek informasi dari Tasya. Tasya pun mengangguk.
“Dia istrimu yang akan segera kau ceraikan.” Tasya terkekeh. Ia menggelanyuti lengan Adam dan menyenderkan kepalanya di bahu Adam.
“Kenapa aku menceraikannya?”
“Karna dia tidak layak untukmu.” Jawab Tasya.
“Tidak layak?Mengapa tidak layak?” Tanya Adam.
“Kau tau, ini rahasia.” Tasya berbisik di telinga Adam.
__ADS_1
“Aku tidak tau.” Jawab Adam.
Adam pun mengangkat tubuh Tasya agar duduk di pangkuannya. Memudahkan Tasya untuk berbisik padanya. Tasya yang mendapat perlakuan seperti itu mengira Adam sudah jatuh pada pesonanya. Tasya bahkan mengalungkan kedua tangannya di leher Adam.
“Katakan padaku apa yang tidak aku ketahui.” Bisik Adam ditelinga Tasya. Bisikan Adam membuat Tasya bergairah. Perempuan itu bahkan menggigit daun telinga Adam.
“Kakak sepupu ku menginginkan istrimu. Dia akan memisahkan mu dari istrimu, sekarang mungkin istrimu sudah mendapat foto kita.” Bisik Tasya yang langsung membuat Adam geram. Ia sudah jatuh pada jebakan Tasya ternyata.
“Foto kita kapan?”
“Saat masuk ke dalam kamar hotel, saat di bar, saat kita bertemu dimanapun itu.” Jawab Tasya.
‘Br*ngsek.’ Batin Adam seraya mengepalkan tangannya.
“Siapa yang melakukan itu, apa kakak sepupumu?” Tasya mengangguk.
Adam mulai menebak siapa dalang di baliknya. Namun, ia tidak bisa menebak.
“Rangga, kak Rangga mungkin sekarang sedang menghibur istrimu.” Ucap Tasya.
“Jadi, Rangga!Mungkin dia juga yang mengirimi bunga Nabila.” Batin Adam.
“Apa dia yang menghasut ayahmu untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan ku?” Tanya Adam lagi.
“Yaa..Dia yang membuatmu kesini dan berjauhan dengan istrimu.” Jawab Tasya dengan polosnya. Ia mabuk berat, Tasya pasti akan menyesali apa yang di ucapkannya malam ini. Ia sudah membuka kedok Rangga tanpa sadar.
“Cium aku Adam, kau sudah berjanji akan menuruti perintahku.” Pinta Tasya mendekatkan bibirnya pada Adam.
Adam pun memajukan bibirnya, ia meraih tengkuk leher Tasya seakan berusaha mencium Tasya. Belum sampai Adam mencium Tasya, perempuan itu sudah tak sadarkan diri karna Tio menyuntiknya dengan bius.
“Kau datang tepat waktu, Tio. Bonus 100% gaji untukmu!” Adam mendorong Tasya menjauh dari tubuhnya.
“Terimakasih, Tuan.”
Sementara Tio langsung mengambil kamera yang sebelumnya ia letakkan disudut ruangan untuk merekam percakapannya dengan Tasya.
“Ayo pergi!” Ajak Adam.
“Kita kemana, Tuan?”
“Kembali ke hotel, aku perlu mandi. Menghilangkan sentuhan perempuan itu.” Jawab Adam.
“Baik, Tuan.”
***
Abel masih bersama Daniel diruangan yang tadi. Semua percakapan Adam dan Tasya Abel mendengarnya. Ternyata diruangan itu ada CCTV tersembunyi yang sudah di pasang oleh anak buah Daniel.
“Rangga?” Abel shock mengetahui siapa dalang di balik foto yang dikirim ke Nabila beberapa hari yang lalu. Ia bahkan sampai menjatuhkan ayam yang akan dimakannya.
“Bel, are u oke?” Tanya Daniel. Abel pun tersadar.
“Ayamku.” Meratapi nasib ayam goreng nya yang sudah tergeletak di lantai. Daniel pun menggeleng.
“Nanti aku berikan ayam goreng jika perlu sekalian resto nya.” Ucap Daniel mengelus lagi kepala Abel.
“Janji, ya!”
“Hem.”
“Eh, kok kita bisa lihat keadaan di ruangan itu. Siapa yang kasih CCTV disana?” Tanya Abel penasaran. Ia ingin bertanya dari tadi tapi tidak sempat.
__ADS_1
“Aku.”
“Kau?” Daniel mengangguk.
“Memang kau kenal dengan pemilik Club ini?”
“Aku pemiliknya.” Jawab Daniel santai.
“Waow, amazing.”
“Ayo pulang!Kau sudah belum makannya?” Daniel mengalihkan pembicaraan.
“Sudah, tapi, aku mau rekamannya.”
“Baiklah, ayo!”
Daniel dan Abel kembali ke hotel. Abel langsung mengepak bajunya. Ia berniat segera pulang.
“Kau mau pulang?” Tanya Daniel.
“Iya.. urusanku sudah selesai disini.” Jawab Abel.
“Tapi, kita belum liburan.” Daniel kecewa. Ia masih ingin berduaan dengan Abel. Jika di Indonesia Daniel akan sangat sibuk.
“Tapi, aku harus memberi tahu Nabila.”
“Kau bisa mengirimnya video itu, dan liburan disini dulu.” Membujuk Abel agar tinggal untuk liburan dulu.
“Tidak bisa, aku harus berada di sebelah Nabila saat ini. Aku tidak bisa membiarkan Nabila mengurus masalahnya sendiri, apalagi dia sedang hamil.” Tolak Abel lembut.
“Tapi...”
“Kau mau liburan denganku?” Tebak Abel dan Daniel pun mengangguk.
“Bagaimana kalau kita ke Jogja, setelah aku membantu Nabila menyelesaikan masalahnya.” Ajak Abel.
“Jogja, kau tidak suka luar negeri?” Tanya Daniel.
“Bukan begitu, aku sangat ingin ke Jogja. Disana kita bisa menginap di hotel Adam, ngirit.” Ucap Abel membuat Daniel terkekeh. Perempuan itu sangat suka gratisan.
“Aku bisa membayar hotel nya, tidak perlu irit.” Ucap Daniel.
“Kenapa harus membayar jika bisa mendapat gratisan?” Daniel bingung harus menjawab apa. Ia juga bisa menginap di hotel Raka jika hanya mencari gratisan saja.
“Baiklah, aku mau ikut liburan di Jogja.”
“Gitu dong dari tadi, ayo pulang!” Ajak Abel.
“Sekarang juga? Tanya Daniel. Abel pun menangguk.
“Aku sudah meminjam jet milik suami mbak Ayu, kita bisa pulang sekarang.” Ucap Abel.
“Kau sungguh teliti sekali.” Puji Daniel.
“Tentu saja, Abel gitu loh.” Ucap Abel bangga.
Daniel tidak jadi mengurus urusannya di luar negeri. Ia memilih untuk pulang bersama Abel. Lelaki itu sudah menjadi buntut Abel. Sebagai gantinya Daniel meminta Wu bai mengurus masalahnya.
.
.
__ADS_1
.