Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Hp miring


__ADS_3

Nabila sudah kembali bergabung dengan Abel dan Rangga.


“Kenapa, mas Adam nggak bisa jemput lagi?”


“Bisa kok Bel, cuman telat aja.” Nabila manaruh kembali ponselnya ke dalam tas.


Abel manggut-manggut.


“Suami yang nggak perhatian.’ Batin Rangga.


“Memang kamu nggak kemaleman nanti, Bil?Atau aku antar aja, kebetulan aku free.” Rangga modus dengan menawarkan diri akan mengantar Nabila pulang.


“Nggak usah, kak. Nggak kok kalau kemaleman, paling sejaman mas Adam juga sampai sini.” Ucap Nabila dengan tersenyum.


“Gue kayaknya gak bisa nemenin sampai lo dijemput deh, Bil.” Baru saja mendapat telepon dari kakaknya agar Abel segera pulang. Kak Caca mau meminjam mobil Abel.


“Nggak papa, lo duluan aja.” Balas Nabila.


“Biar saya yang nemenin Bila, Bel. Sekalian ngobrol disini.” Rangga menawarkan diri. Lelaki itu senang mendapat kesempatan berduaan dengan Nabila.


‘Cepet pulang sana, Bel!’ Batin Rangga.


Abel menghabiskan red velvet cake nya lalu ia pun pulang. Tak lupa sebelum pulang, Abel cipika-cipiki dulu dengan Nabila.


“Tia ati di jalan.” Nabila melambaikan tangannya saat mobil Abel keluar dari parkiran cafe miliknya. Abel mengangguk seraya membalas lambaian tangan Nabila.


‘Capek pengen tiduran sebentar, tapi nggak enak ninggal kak Rangga.’ Batin Nabila merasa tubuhnya sangat lelah.


“Loh kak Rangga udah mau pulang?” Melihat Rangga baru saja membayar billnya. Rangga memasukan kembali kartu ATM yang baru saja ia gunakan untuk membayar ke dalam dompetnya. Ia tersenyum melihat Nabila sudah berdiri di belakangnya. Ternyata Nabila mengikuti Rangga sampai ke kasir.


“Sayang!” Teriak Adam dari arah pintu masuk. Nabila membalik tubuhnya untuk melihat sosok yang baru saja memanggilnya.


Rangga pun ikut menoleh ke arah asal suara. Padahal laki-laki itu baru saja akan menjawab pertanyaan Nabila. Kedatangan Adam sudah pasti membuat Rangga merasa kesal. Niat Rangga mengobrol santai berduaan dengan Nabila pun kandas. Ia memilih untuk kembali duduk di kursinya tadi.


“Mas kok udah sampai?Katanya bakal jemput telat.” Nabila berjalan meninggalkan Rangga untuk menghampiri suaminya yang juga berjalan mendekat padanya. Mereka saling berhenti saat jarak diantara Mereka hanya tinggal beberapa jengkal saja.


“Kerjaanku udah selesai kok.” Meraih tangan Nabila dan menggenggamnya. ”Kita pulang sekarang, sayang?” Sengaja mengajak Nabila langsung pulang karna melihat sosok Rangga. Ia tidak mau menyapa Rangga meskipun hanya basa-basi.


“Bentar, mas. Bila ambil tas sekalian pamit ke kak Rangga dulu.” Adam mengangguk. Nabila berjalan menuju Rangga untuk pamit sekalian mengambil tasnya yang tergeletak di kursi nya tadi. Rangga yang sudah paham Nabila akan pamit pun berdiri dari duduknya.


“Kak, suamiku sudah jemput.” Meraih tasnya yang lalu ia selempangkan di bahu kanannya.


“Aku tau, ayo jalan bersama sampai pintu keluar.” Ajak Rangga yang memilih untuk pulang juga. Lagi pula tidak ada faedahnya Rangga nongkrong sendiri.


***


“Kok bisa ada Rangga?” Tanya Adam sambil fokus mengemudi. Pandangan matanya menatap arah depan. Dengan tangan kanannya memegang stir kemudi. Sementara tangan kirinya memplay musik agar perjalanan mereka tidak membosankan.


“Kebetulan aja, mas.” Jawab Nabila karna memang hanya kebetulan mereka bertemu, seperti kata Rangga tadi.

__ADS_1


“Masa sih hanya kebetulan?”


“Maksud mas apa?” Tidak mengerti dengan pertanyaan Adam.


“Aneh aja, udah dua kali kalian kebetulan ketemu di cafe.” Jawab Adam datar. Laki-laki itu sepertinya tidak percaya dengan kebetulan yang di ucapkan Nabila.


“Soalnya temen mas Rangga yang punya sorum mobil sebelah cafe ku, mas. Katanya mereka sering nongkrong di cafeku.”


“Kamu percaya?” Sekilas melirik Nabila.


Nabila mengangguk.


‘Aku merasa tidak sesederhana itu,’ batin Adam.


Setelah menempuh perjalanan 45 menit Adam dan Nabila sampai dirumah. Adam tidak memasukan mobilnya ke dalam garasi, ia malah memarkir mobilnya di depan pintu utama.


“Kok parkir disini, mas?” Nabila heran tidak biasanya Adam memarkir mobilnya di depan pintu utama.


“Aku ada urusan lagi di kantor,”


“Lah, tadi katanya udah selesai?” perempuan itu melepas sabuk pengamannya.


Adam memiringkan tubuhnya menghadap ke Nabila. Laki-laki itu lalu mengecup kening istrinya. Cup.. “Maaf, ini urusan mendadak.” Jawabnya lalu mengusap lembut kepala Nabila.


“Baiklah,” dengan tangan kirinya Nabila meraih gagang pintu mobil. Perempuan itu siap untuk turun dari mobil.


“Tunggu!” Adam menahan Nabila dengan tangan kanannya. Nabila menoleh. “Ayah pergi sebenar ya sayang.” Mengelus perut Nabila.


Perempuan itu langsung menuju kamarnya. Nabila merasakan tubuhnya tidak nyaman. Mungkin karna keringat. Ia langsung membersihkan dirinya.


***


Hari H pernikahan Riko dan Nita. Di kediaman Adam pagi ini sangat sibuk. Adam dan keluarganya tengah bersiap untuk datang ke pernikahan Riko dan Nita. Semua keluarga Adam akan datang ke pernikahan Riko dan Nita;Nabila, Yoga, Mama Silfi dan Ibu Putri.


“Cepet pakai bajumu, mas!” Teriak Nabila pada Adam yang masih nyantai duduk disofa seraya ngegame. Setelah mandi Adam tidak langsung berganti baju. Laki-laki itu malah asyik ngegame dengan ponsel pintarnya, ia hanya mengenakan jubah mandinya.


“Memang kamu sudah selesai, sayang?” Sahut Adam tanpa melihat Nabila. Laki-laki itu masih fokus dengan game nya.


“Tinggal hairdo, mas. Ini sebentar lagi juga selesai kok.” Nabila mengotak atik rambutnya agar rapi.


“Oh.”


“Kok oh?” Nabila mengernyitkan alisnya.


“Lima menit lagi, Bil. Ini nanggung.” Jawab Adam belum selesai dengan game pubg nya.


“Ya udah aku berangkat sama Yoga aja. Soalnya Bila udah selesai.” Perempuan itu sudah selesai menata rambutnya. Ia juga sudah selesai dengan make upnya, juga sudah memakai dresscode nya.


“Eh, tunggu sayang!” Adam mengakhiri permainan game nya. Laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya menuju walk in closet nya untuk berganti pakaian. Adam dengan cepat memakai celana jojon dan kemana putih dresscode sebagai teman mempelai pria. Ia melempar jubah mandinya ke sembarang arah, yang tentunya akan dimarahi Nabila nanti. Karna istrinya paling tidak suka pakaian yang berceceran.

__ADS_1


Setelah selesai memakai dresscode sebagai mempelai pria. Adam kembali ke ruang kamarnya, laki-lali itu tidak menemukan istrinya dikamar. ‘Aduh, sudah ditinggal.’ Terburu-buru keluae dari kamar mencari Nabila. Adam bahkan belum memakai sepatu dan kaos kakinya.


***


Sesuai permintaan Adam, Nabila naik turun dari lantai satu ke kamarnya maupun ke lantai yang lain naik lift. Ia sangat menjaga kehamilannya. Jadi, Nabila tidak membantah saat Adam melarang dia naik turun tangga.


Ting.. pintu lift terbuka. Nabila keluar dari lift menuju ruang keluarga dimana anggota keluarga yang lain sudah menunggu.


“Mana mas Adam, mbak?” Tanya Yoga, remaja laki-laki itu sudah rapi dengan setelan jas navy dan dasi kupu-kupu. Ia duduk di sofa dengan kaki bersila, kedua tangannya memegang ponselnya dengan posisi miring. Kemungkinan sedang ngegame.


Nabila mengangkat kedua bahunya. “Nggak tau, kayaknya dia nggak ikut. Lagi sibuk.” Jawab Nabila santai lali duduk disebelah mama Silfi.


“Memang Adam ngapain, Bil?” Penasaran mama Silfi.


“Sibuk ma, Hp miring.” Jawab Nabila lagi.


“Hp miring?” Mama Silfi mengernyitkan alisnya. Perempuan paruh baya itu tidak paham dengan yang diucapkan Nabila.


“Maksudnya ngegame, ma. Kalau lagi ngegame kan handphone nya dimiringkan, ma.” Sahut Yoga menjelaskan.


“Owh.” Mama Silfi manggut-manggut.


“Beneran suami kamu nggak ikut, Nduk?” Tanya Ibu Putri serius.


“Ikut, Buk. Adam ikut!” Teriak Adam menuruni tangga. Laki-laki itu menenteng sepatu dan kaos kakinya. Masih menggunakan sandal rumahan.


Nabila melihat kearah suaminya dengan geleng-geleng kepala. Ia pun berdiri dan menghampiri suaminya. “Dasi kamu gimana sih, mas?” Membenarkan dasi suaminya yang miring.


“Cepet pakai sepatumu!” Memakai kaos kaki dan sepatunya, setelah Nabila membenarkan dasi Adam.


“Mas ngekill berapa?” Tanya Yoga.


“3, Ga. Soalnya sudah diteriaki nyonya terus. Jadi, nggak fokus, Ga.” Jawabnya.


“Jadi, salah Bila?” Dengan kedua tangan bersedekap didada menatap tajam Adam.


“Eh, nggak sayang.” Adam nyengir.


“Sudah-sudah, kita berangkat saja!” Ajak Ibu Putri.


“Pakai mobil berapa?” Tanya Nabila.


“Mama sama ibuk ikut Yoga aja, mbak. Biar nanti bisa bolos.” Ucap Yoga.


“Oke.”


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2