
Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya Ayu datang bersama Natalie asistennya. Seperti biasa perempuan yang juga seorang designer itu selalu tampil elegan dan fashionable.
“Maaf ya aku telat, kalian pasti udah nunggu lama.” Ucap Ayu seraya cipika cipiki dengan Abel dan Nabila. Perempuan itu juga menjabat tangan Adam dan Yoga.
“Nggak papa mbak, santuy aja.” Balas Abel.
“Si kecil mana mbak, kok nggak ikut?” Tanya Yoga.
“Yang cewek atau cowok, Ga?” Tanya balik Ayu.
“Yang cewek lah mbak, dia kan Gemes Gemes gimana gitu kalau sama Jessi.” Sahut Abel menggoda Yoga.
“Ikut Daddy nya, Ga. Jangan-jangan kamu naksir sama putriku, Ga?” Selidik Ayu.
“Hahaha, nanti mbak nunggu dewasa.” Ucap Yoga.
Setelah ngobrol sedikit Ayu langsung membantu Nabila dan yang lainnya mencoba baju yang sudah mereka pesan. Satu persatu dari mereka mencoba bajunya, untuk merasakan apakah sudah sesuai dan nyaman dipakai atau belum.
“Bagaimana?” Tanya Ayu yang sedang membantu Nabila mencoba dressnya.
“Udah pas mbak,” jawab Nabila.
“Terus kenapa kamu cemberut, sayang?” Adam melihat Nabila cemberut dari tadi. Padahal baju yang dicobanya terlihat cantik dan sangat cocok dengan Nabila.
“Gak papa, mas.” Jawab Nabila singkat.
‘Gak papa nya kamu, pasti ada apa-apa sayang.’ Batin Adam.
Yoga yang sudah selesai mencoba jas nya pun mendekati Nabila. “Mbak temenku ulang tahun malem minggu besuk.” Ujar Yoga.
“Terus?”
“Beliin baju, mbak.” Pinta Yoga.
“Oke.” Jawab Nabila singkat. Nabila kemudian menoleh ke Ayu. “Mbak, koleksi untuk dresscode party di lantai berapa?” Tanya Nabila pada Ayu.
“Lantai 3 sebelah kanan, Bil.” Jawab Ayu.
“Kamu udah denger kan, Ga?” Yoga pun mengangguk.
“Bayarin ya, mbak. Aku butuh 3 setelan, sekalian untuk dua temanku.” Ucap Yoga jujur berniat membelikan baju untuk kedua temannya. Yoga tau kedua temannya tidak mampu membeli baju yang mahal. Jika datang dengan baju kusut pasti mereka akan jadi bahan ejekan teman yang lain.
“Tenang, mas mu ada disini. Beli semua yang kamu butuhkan.” Ucap Nabila.
__ADS_1
“Mantul!” Yoga mengacungkan jempolnya kemudian meninggalkan Nabila menuju lantai 3.
Adam mendekati Nabila dan berbisik. “Sayang, mau kemana bocah itu?”
“Beli baju buat ke pesta ulang tahun temannya.” Jawab Nabila. Adam manggut-manggut.
Nabila melihat Abel dan Ayu mengobrol dengan ceria. Sesekali Abel terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Ayu. Nabila dibuat penasaran dengan apa yang mereka obrolkan. “Kalian ngomong in apa sih?” Tanya Nabila penasaran.
“Jodoh buat Abel, Bil.” Jawab Ayu.
“Mbak Ayu serius nyariin jodoh buat Abel?” Nabila pikir Abel hanya bercanda minta dicarikan jodoh oleh Ayu. Ternyata mereka serius.
Ayu mengangguk. “Serius dong, Abel juga udah pengen punya pasangan kan?” Abel mengangguk.
“Tapi harus f*ck boy ya, mbak!” Ujar Abel mengingatkan.
Adam yang mendengar permintaan Abel pada Ayu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Jika perempuan normal pasti akan mencari jodoh laki-laki yang baik. Tapi, Abel malah minta dicarikan f*ck boy.
“Kamu yakin, Bel?” Tanya Adam.
“Yakin dong, mas.”
“Nggak mudah lho Bel berurusan sama f*ck boy.” Tutur Adam.
“Emang itu sensasinya, mas. Cari yang beda haha.” Abel terkekeh. Ayu dan Nabila hanya bisa tersenyum heran dengan Abel.
Nabila yang kelelahan pun tertidur di didalam mobil. Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Waktu sudah menunjukan jam makan malam. Awalnya Adam ingin mengajak Nabila makan di luar. Tapi, Nabila malah tidur.
Sampai dirumah pun Nabila tidak terbangun. Adam terpaksa menggendong Nabila keluar dari mobil. Sampai diruang keluarga Adam melihat mama Silfi dan Ibu Putri sedang mengobrol seraya menikamati singkong goreng dan teh hangat.
Mama Silfi menyenggol bahu ibu Putri saat melihat Adam menggendong Nabila. Mama Silfi juga mengarahkan pandangannya pada anak dan mantunya yang baru saja memasuki ruang keluarga.
Ibu Putri pun menoleh dan melihat Adam sedang menggendong Nabila. “Tidur, Dam?” Adam mengangguk.
“Adam ke atas dulu, ma, buk.” Ucap Adam yang diangguki mama Silfi dan Ibu putri.
Kedua ibunya itu melihat Adam dan Nabila dengan senyum-senyum. Senyum bahagia melihat keharmonisan rumah tangga Adam dan Nabila.
“Nggak sabar lihat cucuku lahir, Jeng.” Ujar mama Silfi.
“Sama, besan.” Ucap Bu Putri.
“Mau cucuk cewek atau cowok, Jeng?” Mama Silfi menyeruput teh manisnya.
__ADS_1
“Mau dua-duanya, Jeng. Kembar gitu biar rame.” Sahut Bu Putri.
“Semoga saja, Jeng. Kalau enggak dapat kembar ya biar mereka buat lagi.” Ucap mama Silfi keduanya pun langsung tertawa.
Adam turun dari kamarnya sudah habis mandi dan memakai piyama tidurnya. Ia menghampiri mama Silfi dan Bu Putri.
“Mama sama ibuk sudah makan malam belum?” Tanya Adam seraya duduk di sofa yang berada di hadapan ibu putri dan mama Silfi.
“Sudah, kamu belum makan?”
“Belum, ma.”
“Berarti Nabila juga belum makan, Nak?”
“Belum, buk. Dibangunin juga nggak mau, buk. Tapi, sore tadi ngemil banyak kok, buk.” Jawab Adam.
“Nanti paling bangun tengah malam, Nak.”
“Bisanya memang gitu, buk.”
“Mau mama temani makan, Dam?” Mama Silfi kasian melihat anaknya yang akan makan sendirian.
“Nggak usah, ma. Adam makan sendiri aja.” Balas Adam. Laki-laki itu beranjak dari duduknya menuju ruang makan untuk makan malam.
Setelah makan malam Adam kembali ke kamarnya. Ternyata Nabila sudah bangun. Perempuan itu duduk dengan kaki berselonjor yang ditutupi selimut. Perempuan itu melamun entah apa yang dilamunkan Nabila. Bahkan perempuan itu tidak menyadari kehadiran Adam yang masuk kedalam kamar. Adam mendekati Nabila lalu duduk di tepi ranjang. Menatap wajah istrinya lekat-lekat.
“Eh, mas Adam kapan masuk kamar?Kok Bila nggak denger suara pintu terbuka?” Nabila menatap Adam dengan tersenyum.
Meraih pipi Nabila dan mengusapnya lembut dengan tangan kanannya. “Kamu melamun sayang. Jadi, nggak sadar aku masuk.” Ucap Adam lembut.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu, sayang?” Adam masih mengelus pipi Nabila. Popo yang semakin hari semakin membulat karna berat badan Nabila yang semakin bertambah seiring bertambahnya usia kandungan Nabila.
“Aku kepikiran sama pengirim bunga itu, mas.” Masih ada perasaan mengganjal di dalam diri Nabila. Apalagi ia maupun Adam belum tau siapa si pengirim bunga. Dan, apa motifnya mendekati Nabila. Sudah seminggu ini kiriman bunga berkurang yang awalnya setiap hari menjadi dua hari sekali.
“Tidak usah kamu pikirkan, biar aku yang mengurusnya!” Seru Adam tidak mau membuat pikiran Nabila terbebani. Adam sudah memerintahkan Tio untuk mengawasi sekitar cafe dan mendata orang yang sekiranya mencurigakan. Adam yakin si pengirim bunga akan muncul dalam waktu dekat.
“Kami percaya sama suamimu, kan, Sayang?” Lanjut Adam. Nabila mengangguk.
“Bila percaya, mas.”
.
.
__ADS_1
.
.