Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Kantor polisi


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah dua jam sejak kepergian Daniel ke kantor polisi di dampingi papa Damar. Selama itu pula Abel menunggu dengan cemas. Bagaimana mungkin suaminya menjadi pembunuh? Sejahat-jahatnya Daniel, Abel yakin suaminya itu tidak akan melakukan pembunuhan.


Sesekali Abel mondar mandir sambil menggigit ujung jarinya, sampai mama Lila yang melihatnya pun pusing. Mama Lila menegur Abel agar bersikap tenang namun Abel tetap tidak bisa tenang.


Sepuluh menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Tidak salah lagi mendengar suaranya, jelas itu mobil milik papa Damar. Abel langsung berlari keluar rumah menyambut papa Damar. Namun, papa Damar hanya terlihat sendiri saat turun dari mobil.


Abel berjalan menghampiri papa Damar, “Daniel mana, pa?” Celingukan mencari sosok suaminya di sekitar papa Damar. Abel mendekati mobil dan mengintip ke dalam mobil, barangkali Daniel masih berada di dalam mobil.


“Suami Abel mana, Pa?Kok papa pulang sendiri?” Raut wajah gelisah kembali terlihat di wajah Abel, mata nya pun berkaca-kaca. Daniel, suaminya itu tidak ikut pulang bersama papa Damar.


“Kita bicara di dalam saja.” Menarik tangan Abel lembut dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Abel menurut saja, berjalan dengan langkah gontai.


“Kenapa papa tinggalin Daniel sendiri? Kenapa papa tega?Kalau Daniel di siksa gimana?Kalau Daniel ketakutan sendirian di kantor polisi, gimana?” Lirih Abel terisak.


Sampai di ruang tamu papa Damar mengajak Abel duduk.


“Daniel mana, Pa?” Mama Lila pun ikut menanyakan keberadaan menantunya yang tidak ikut pulang bersama mama Lila.


“Duduk dulu, ma.” Suruh Papa Damar agar mama Lila yang baru datang dari ruang keluarga itu duduk.


“Hiks..hiks...hiks..” apa yang bisa Abel lakukan saat tau papa Damar pulang tanpa suaminya? Menangis, harusnya Abel ikut pergi ke kantor polisi dan menemani suaminya.


Papa Damar menepuk-nepuk lembut bahu putrinya seakan memberi kekuatan, “Suami kamu pasti pulang nanti, maafkan papa yang meninggalkan suami kamu. Daniel yang minta papa untuk pulang, dia mengkhawatirkan kamu. Daniel menyuruh papa pulang untuk menenangkan kamu, menyuruh papa untuk mengatakan jika baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir, dia akan segera pulang.” Tutur papa Damar lembut.


Abel mengusap air matanya dengan ibu jari nya, “Meskipun begitu harusnya papa tetap disana mendampingi Daniel, lagi pula di rumah Abel nggak sendiri. Berbeda sama Daniel, dia disini sendiri, kakek sudah kembali ke Kanada.” Sahut Abel. Mama Lila mengangguk setuju dengan ucapan Daniel, karena yang mama Lila tau Daniel memang tidak mempunyai keluarga.


“Betul, kata Abel, pa.”

__ADS_1


“Daniel tidak sendiri, ada Tuan Raka bersamanya, juga sahabat nya, Tuan Mike dan Wu bai. Tuan Raka juga sudah janji sama papa akan mengeluarkan Daniel secepat mungkin, paling lambat malam ini Daniel sudah bisa pulang. Papa percaya sama tuan Raka.” Ucap papa Damar.


Oh.. benar yang di ucapkan papa Damar, Abel sampai lupa jika Daniel juga memiliki pendukung yang kuat. Abel jadi bisa bernafas lega. Abel yakin Raka pasti tidak akan membiarkan Daniel menanggung tuduhan yang tidak benar itu.


“Tapi, Daniel nggak disiksa ‘kan, pa?Kayak di sinetron-sinetron orang yang di tuduh sebagai pembunuh pasti disiksa napi lain?” Menatap papa Damar.


“Pikiran bodoh dari mana itu, suami kamu tidak masuk jeruji hanya di mintai keterangan oleh penyidik.” Mengelus kepala Abel dengan penuh kasih.


“Syukurlah.”


***


Sore harinya Abel tiba-tiba mendapat telepon dari nomor yang tidak di kenal. Orang itu adalah Defan, adik tiri Daniel. Nampaknya Defan juga sudah tau Daniel masuk kantor polisi, Defan menanyakan bagaimana keadaan Daniel lewat Abel. Abel pun mengatakan jika Daniel baik-baik saja.


“Baiklah, kakak jemput di bandara satu setengah jam lagi.” Ucap Abel sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


Setelahnya Abel bersiap-siap untuk menjemput Defan. Adik tiri Daniel itu baru tiba di Jakarta sore hari entah dari mana berliburnya.


“Mau jemput Defan, ma. Adik nya Daniel.” Jawabnya.


“Tapi, sopir lagi antar papa ada pertemuan sama koleganya.” Ucap mama Lila.


“Abel nyetir sendiri aja, ma.”


“Yakin?Atau mama temani?”


“Yakin, ma. Mama dirumah saja, nanti kalau Daniel pulang nggak ada yang nyambut kalau mama ikut Abel.”


“Benar juga, ya! Ya sudah, kamu hati-hati.”

__ADS_1


“Siap, ma.”


Abel pergi ke bandara dengan mobil Daniel. Ia cukup mengebut karena tidak mau telat menjemput Defan. Lebih tepatnya karena ada hal yang harus Abel urus setelah menjemput Defan. Jalanan kota Jakarta sore itu cukup tenang tidak sepadat biasanya, jadi, perjalanan Abel menuju bandara cukup mulus dan lebih cepat dari estimasi waktu yang standar. Apalagi mobil yang di bawa Abel mobil sport.


“Kamu yakin?” Abel dan Defan sudah berada di dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat.


“Jika perkiraan ku tidak melenceng.”


“Hah, jawaban macam apa itu, Defan?” Kesal Abel.


“Defan yakin, kak. Kita lakukan saja rencana kita.” Ucap Defan kali ini terlihat serius.


“Oke.”


Abel berpegangan pada gagang pintu mobil karena Defan memacu mobilnya di atas rata-rata. Ternyata ada yang lebih jago ngebut selain Kevin, pikir Abel. Selama ini Abel hanya tau satu orang yang paling jago ngebut dari semua orang yang Abel kenal yaitu Kevin. Tapi, setelah bertemu Defan, sepertinya Abel jadi mempunyai pembanding antara Kevin dan Defan.


***


Di kantor polisi Daniel dan Raka nampak santai mengobrol sambil ngopi dengan tim penyidik. Mereka nampak saling bertukar cerita. Sebenarnya Daniel bisa pulang bersama papa Damar jika mau. Namun, ia dan Raka sedang bermain trik untuk menarik si pembunuh Dewi yang sebenarnya.


Toh, sudah lama Daniel dan Raka tidak menghabiskan waktu seharian di kantor polisi. Meskipun ia pengacara, namun berbeda saja kesannya jika di tahan di ruang penyidikan. Itung-itung mereka nostalgia saat masa sulit di luar negeri dan saat masih berhubungan secara langsung dengan diniah bawah. Dulu, kantor polisi adalah tempat yang sering Daniel kunjungi, begitu pun Raka.


“Saya tidak menyangka Tuan Daniel mendapat masalah seperti ini.” Ucap Pak Bambang yang menjabat sebagai Kapolres.


Daniel tersenyum tipis, “Yah, beginilah kehidupan, Pak. Masalah bisa datang kapan saja.” Jawabnya sopan. Daniel selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua.


“Saya yakin bukan Tuan Daniel pelakunya, ini pasti kesalahpahaman saja. Hanya saja rekaman CCTV yang jadi masalah, Tuan Daniel terlihat mengunjungi aprtemen almh. Dewi.” Sesuai keterangan Daniel di curigai sebagai pelaku pembunuhan Dewi karena terlihat berkeliaran di sekitar apartemen Dewi.


“Saya dan beberapa anak buah saya memang sempat pergi ke apartemen Dewi beberapa waktu lalu, Pak. Kedatangan saya ke sana juga menyangkut kecelakaan istri saya beberapa waktu lalu.” Jawab Daniel.

__ADS_1


“Oh, iya. Saya sudah dengar kecelakaan yang menimpa nyonya Abel.”


“Sebenarnya itu sudah hampir dua bulan, tapi karena terjadi masalah ini, mau tidak mau saya jadi menguak kecelakaan tersebut yang tidak lain adalah ulah Dewi.” Begitulah Daniel lalu memberitakan kronologi kecelakaan yang sempat menimpa Abel, lengkap dengan penyelidikan yang dilakukan anak buahnya juga Dewi yang merupakan pelaku sabotase mobil Caca hingga Abel yang mengalami peristiwa naas beberapa waktu lalu.


__ADS_2