
Nabila akhirnya tersadar setelah satu jam tertidur. Ia terbangun di sebuah ruang kamar mewah dengan dekorasi klasik.
“Kamu sudah bangun.” Ucap seseorang.
“Kamu?”
Nabila membelalakkan matanya melihat seorang lelaki yang duduk di bangku sebelah tempat tidur. Lelaki itu duduk dengan tangan bersedekap di depan dada dan kaki ia silangkan di atas kaki yang lainnya.
“Apa kabar sayang?” Seringai lelaki itu sambil membelai pipi Nabila.
Najis! Batin Nabila.
“Jangan sentuh aku!” Sentak Nabila mendudukkan dirinya bergeser menjauh dari jangkauan lelaki itu. Namun lelaki itu malah naik ke atas tempat tidur mendekati Nabila.
“Ka..kak Rangga mau apa?” Teriak Nabila ketakutan memegang selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Nabila memang masih berpakaian lengkap tapi ia merasa takut dengan gerakan Rangga.
“Aku hanya ingin menyentuh pipi mu.” Ucap Rangga lembut.
“Tidak!Aku tidak mau kau sentuh!” Nabila gemetaran takut dengan Rangga yang tidak seperti Rangga biasanya. Tatapan lelaki itu seperti harimau kelaparan yang akan menerkam mangsanya.
“Apa mau kakak sebenarnya?” Nabila memberanikan diri untuk bertanya.
Mas Adam tolong. Batin Nabila.
“Kamu tidak perlu memanggil suamimu, dia tidak akan datang.” Ucap Rangga tersenyum. Lelaki itu semakin mendekat pada Nabila.
“Kau tanya apa mauku?Mauku kamu, aku mau kamu dan hatimu.” Lanjut Rangga.
“Ma..maksud Kakak apa?” Tanya Nabila berpura-pura tidak tau maksud perkataan Rangga. Padahal ia tau Rangga masih terobsesi padanya dilihat dari tatapannya.
“Aku mencintai mu, Bil!Aku mencintaimu Nabila Aira Tanisha!” Ujar Rangga serius.
Itu bukan cinta Rangga, itu obsesi!Mana ada cinta yang menyakiti wanita yang dicintainya.
“Kak Rangga jangan bercanda!Mana mungkin kak Rangga cinta sama Bila,” sergah Nabila.
“Bila, aku tidak bercanda!Kenyataannya memang aku cinta sama kamu, aku mau kamu jadi milikku.” Rangga berusaha menarik tangan Nabila pelan. Namun Nabila menepisnya.
“Aku akan buktikan kalau kamu tidak percaya.”
“Aku percaya..aku percaya.” Teriak Nabila cepat. Rangga pun menyunggingkan senyumnya. Ia merasa seperti mendapat lampu hijau.
“Tapi, Bila sudah menikah kak, Bila sudah bersuami dan bahkan sebentar lagi melahirkan.” Nabila menunjuk perutnya yang buncit seperti bola basket besar.
__ADS_1
“Aku tidak masalah.” Tegas Rangga menjeda ucapannya, “Aku bisa menjadi Ayah yang baik untuk anak yang akan segara kau lahirkan.” Lanjutnya seraya memejamkan mata sebentar lalu kembali membuka matanya.
“A..aku yang masalah kak, aku mencintai suamiku, dan aku tidak mungkin membalas cintamu kak. Aku menganggapku sebagai teman kak.” Ucap Nabila berhati-hati.
Ia tidak berani menatap Rangga. Ia sangat takut Rangga akan murka setelah mendengar kejujuran nya.
“Untuk saat ini tidak masalah kau tidak mencintaiku, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku setelah kita tinggal bersama.” Rangga ya tetap kekeuh untuk memiliki Nabila. Sepertinya hatinya telah tertutup oleh hal yang salah.
“Ini salah kak, kita tidak mungkin tinggal bersama. Aku mencintai suamiku saat ini, esok dan selamanya kak. Tidak tersisa lagi tempat untuk laki-laki lain.”
Jawaban Nabila kali ini sukses membuat Rangga marah. Rahang Rangga mulai mengeras, satu gerakan tangan kanan Rangga mencengkeram rahang mulut Nabila.
“Percaya diri sekali kamu, Bil!Kita lihat apa kamu masih bisa mencintainya setelah kamu jauh darinya.” Seringai licik Rangga.
“S.a.k.i.t kak.” Nabila terbata-bata kesulitan untuk berbicara karna Rangga mencengkeram rahang mulutnya.
Rangga melepaskan cengkeramannya lalu mengelus lembut pipi Nabila, ia melembut melihat air mata menetes di pipi Nabila. Di usapnya buliran air mata itu dengan ibu jarinya. “Cukup sampai sini saja percakapan ini, aku akan mengambilkan makan untuk mu.”
Rangga turun dari tempat tidur berniat meninggalkan Nabila.
“Jangan mencoba melakukan hal yang sia-sia, kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini!” Tegas Rangga merasakan pergerakan dari Nabila di atas telat tidur. Setelah mengucapkan ancaman itu Rangga keluar dari kamar itu.
***
Wu bai terlihat fokus dengan laptonya. Tidak ada yang berani menggangu Wu bai. Mereka hanya bisa mengandalkan Wu bai.
Abel langsung meraih tas nya mengikuti Adam. “Bi titip Nita!” Ucapnya pada Bi Sumi.
“Kalian mau kemana?”
“Mencari Nabila!” Tegas Adam dan Abel serentak.
“Kau pergi dengan ku saja.” Daniel beranjak dari duduknya sambil meraih tangan Abel.
“Biar Adam pergi dengan Wu bai!” Lanjut Daniel.
“Aku setuju!” Ucap Adam.
“Kalau begitu aku akan pergi bersama Yoga.” Ucap Riko kemudian.
Sepakat, mereka akan pergi dengan tiga mobil dan berpencar namun tetap berkomunikasi.
***
__ADS_1
Di tengah perjalanan Wu bai menemukan lokasi Nabila berada saat ini. Di saat yang sama pula Tio memberikan infomasi yang mencurigakan dari Rangga.
Tio melaporkan jika Rangga tiba-tiga membeli rumah yang dekat dengan rumah Adam. Rumah itu hanya selisih dua rumah dari rumah Adam. Dan, di tempat itu pula Nabila berada sesuai dengan lokasi yang di temukan Wu bai.
“Baj*ngan!” Adam memukul kemudinya lalu memutar balik arah. Ia juga memberi tahu Abel dan Riko lokasi Nabila.
***
Nabila hendak turun dari tempat tidur namun ia malah terpeleset sebagian selimut yang tergerak di lantai. Benturan yang keras antara tubuhnya dan lantai pun tidak bisa Nabila hindari, punggungnya juga terpentok tempat tidur.
“Auwh.” Ringis Nabila merasakan sakit yang luar biasa.
Nabila berusaha berdiri Nabila tidak sanggup, ia merasa lemas seketika ditambah aliran darah merembes di belahan pahanya.
“Adek harus tahan sampai bantuan datang, bunda mohon.” Tangis Nabila pecah melihat darah keluar di belahan pahanya. Ia berucap seraya mengelus-elus perutnya. Takut terjadi sesuatu pada anaknya.
Ceklek pintu kamar itu terbuka. Rangga datang seraya membawa makan malam.
“Bila kamu.” Ucap Rangga panik langsung menghampiri Nabila. Rangga meraih bahu Nabila.
“Apa yang terjadi?”
“Kak tolong, selamatkan anakku.” Lirihnya.
“Pasti!” Rangga berniat membopong Nabila namun ia melihat darah mengalir di belahan paha Nabila sekita pandangan Rangga buyar. Ia merasa pusing dan lemah.
Rangga bahkan terhuyung hingga tangannya melepaskan bahu Nabila.
Apa ini, dia kenapa?Batin Nabila.
“Kak, kak Rangga kenapa?” Mengguncang bahu Rangga pelan dengan sisa kekuatannya sambil menahan sakit.
Namun, Rangga tidak menyahut pertanyaan Nabila. Lelaki itu nampak berkeringat dan lemah.
Ya Allah, Bagaiamana ini?
Harapan Nabila hanyalah Rangga, yang bisa menyelamatkannya dan bayinya saat ini. Namun, melihat keadaan Rangga sepertinya tidak mungkin. Nabila hanya bisa terisak di sisa-sisa kesadarannya. Ia melantunkan ayat-ayat Alquran yang ia hafal untuk menenangkan dirinya sendiri. Berharap ada keajaiban.
Bapak, ibu, mas Adam, mama, papa, kakek, selamat in Bila.
.
.
__ADS_1
.
.