
Mobil memasuki sebuah gerbang yang menjulang tinggi, pekarangan dan taman yang sangat luas, terlihat Rumah megah nan mewah dengan beberapa mobil nampak terparkir rapi di garasi.
Tio menghentikan mobilnya di depan pintu masuk, lalu membukakan pintu mobil Adam, sementara Nabila lebih memilih keluar tanpa menunggu Tio membukakan pintu.
“Ini bukan rumah Mama Mas?” kata Nabila memperhatikan rumah mewah di hadapannya.
“Ini rumah pribadiku, kedepanya kita akan tinggi disini!” jawab Adam memasuki rumah yang di ikuti Nabila dari belakang.
“Kita tinggal disini berdua saja mas?”
“Tidak nanti akan ada sopir, satpam, dan Bibi yang akan membantumu mengurus rumah, mereka akan datang mulai besuk.”
“Kalau begitu saya permisi Tuan.” ucap Tio.
“Oke, kamu hati-hati di jalan Tio.” kata Adam.
“Siap, Bos.” ucap Tio siap grak.
Adam berjalan menuju kamarnya, Nabila mengekor di belakang Adam karena dia tidak tau dimana kamarnya.
“Mulai sekarang ini kamar kita?” ucap Adam saat sudah masuk ke dalam ruang kamarnya.
“Telalu luas.” jawab Nabila “Mas bisakah kamu mengantarku ke apartemen?”
“Kamu mau apa keaprtemen?”
“Aku harus mengambil bajuku, aku tidak membawa cukup baju saat dari Jogja.”
“Oh, ikuti aku!” Perintah Adam masuk ke ruangan lain masih dalam lingkup kamar Adam, Nabila mengikutinya. “Ini punyaku, punyamu di sebelah.” ucap Adam menunjuk closet room.
“OMG,” ucap Nabila menutup mulutnya tak percaya.
“Mama yang menyiapkan semua untukmu, bahkan interior kamar, semua yang ada disana sudah sesuai dengan selera dan ukuranmu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir kekecilan ataupun kebesaran. Aku juga tidak tau dari mana Mama tau ukuranmu.” ucap Adam.
“Aku harus berterimakasih sama Mama,” jawab Nabila.
“Jadi, kamu tidak berterimakasih padaku?”
“ Tidak... kan yang menyiapkan semuanya Mama.”
“Tapi, aku yang membayar tagihannya.”
“Ya, siapa suruh Mas mau membayar semuanya.” ucap Nabila.
Astaga anak ini membuatku jengkel. Gumam Adam.
“Sudah, aku mau mandi,” Adam meninggalkan Nabila.
Nabila juga memilih untuk membersihkan dirinya, setelah selesai mandi di kamar tamu Nabila menuju ke dapur melihat apakah ada bahan untuk memasak. Dilihatnya kulkas Adam penuh dengan bahan, Nabila tampak semangat melihat sayur mayur hijau di kulkas, ia segera beraksi. Nabila sibuk memasak di dapur, ia menyiapkan makan malam.
“Bil kamu ngapain?” tanya Adam menghampiri Nabila. “Aku cari dari tadi ternyata bersembunyi disini.”
__ADS_1
Nabila mengernyitkan alisnya “Bersembunyi??Aku tu lagi masak mas, buat makan malam, memang Mas tidak lapar?”
“Kamu bisa masak?”
“Masak mah gampil mas, jangan meremehkan aku.” Jawab Nabila.
“Gampil apaan bil?” tanya Adam.
“Gampang Mas,” Nabila mengiris brokoli yang akan dibuat sop.
“Gampang tapi enak engga, aku gak mau makan kalau nggak enak.” kata Adam seraya duduk di kursi pantri.
“Dijamin mantap, nanti mas kalau sudah nyobain masakanku gak bakalan mau jajan di luar lagi.” ujar Nabila bangga.
“Coba kamu buktikan, lebih cepat aku sangat lapar!”
“Sabar.. 15 menit lagi selesai.”
15 menit kemudian masakan makan malam selesai, Nabila segera menyajikannya di meja. Adam sudah siap menyantap hasil masakan dari chef Bila. Bila mengambil nasi untuk suaminya. Adam mulai memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.
“Bagaimana Mas?” Tanya Nabila penasaran.
“Enak,” ucap Adam senang, Adam menyantap makan malamnya seperti orang kelaparan berhari-hari tidak makan, sampai tidak ada yang tersisa satupun.
Nabila sangat senang melihat suaminya tidak pilih-pilih makanan, apalagi menghabiskan makanan yang telah dimasaknya. Setelah makan malam Adam kembali ke ruang kerjanya, sementara Nabila memilih untuk tidur di kamar karena sudah mengantuk.
Sekitar pukul 23.20 perkerjaan Adam selesai, ia kembali ke kamarnya dilihatnya sang istri tengah tertidur pulas. Adam membenarkan selimut Nabila kemudian berbaring di sampingnya.
***
Pagi harinya Nabila bangun lebih awal seperti biasa sholat subuh, lalu mempersiapkan sarapan. Adam memang tidak pernah sholat, jadi bangun siang. Nabila tau Adam tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, dia ingin membantu Adam pelan-pelan agar mau sholat tapi tanpa paksaan. Setelah selesai membuta sarapan Nabila membangunkan Adam. Dan kemudian dia juga membersihkan diri karena harus pergi ke kampus.
“Mas aku nebeng sampai kampus yaa, mobilku kan di apartemen.” ucap Nabila.
“Aku pulang malam hari ini, kamu akan dijemput sopir nanti.”
“Tidak perlu mas, aku akan ke cafe sepulang kuliah,” Dia ingin mengecek keadaan Toko kue dan cafenya.
“Terserah kamu saja,”
Setelah mengantar Nabila, Adam menuju Hanggara Grup tapi tentu saja Tio yang memegang kemudi, setiap pagi Tio menjemput Adam, malam harinya Tio pulang dengan membawa mobil bosnya. Hari ini jadwal Adam seharian di Hanggara Grup.
***kampus Nabila ***
“Pagi Bil.” Sapa Revan.
“Pagi kak,” jawab Nabila dengan senyum ramah.
“Aira,” teriak Abel memeluknya. “Gue kangen banged sama lu ra, eh ada kak Revan.”
“Hai Bel?” sapa Revan pada Abel.
“Hai juga kak, kalo gitu kita masuk duluan ya kak,” ucap Abel menyeret Nabila.
“Eh, iya.” jawab Revan.
Padahal belum sempat ngobrol. Revan menatap punggung Nabila yang mulai menjauh.
“Nita mana?”
__ADS_1
“Hari ini dia off, harus ngurus administari kepulangan ibunya, nanti kita yang jemput Nita sepulang kuliah,” ucap Abel. “Dan ternyata deposit lu yang di Rumah sakit buat ngebiayaain perawatan ibu Nita ada sisa, gua bilang ke Nita buat pegangan dia aja sisanya. Gak papa kan Bil”
“Ya gak papa lah, gua malah senang dengernya. Eh gua mau cerita nih sama kalian.”
“Apa-apa?” tanya Abel dengan mata berbinar-binar.
“Ntar deh kalo ada Nita biar gue gak perlu ngulang ceritanya.”
“Kasih bocoran dikit deh.” Rengek Abel.
“ No!” tegas Nabila
Suara cewek centil mengganggu pembicaraan mereka.
“Upik abu tetaplah Upik abu.” sindir
Jenny melewati keduanya masuk ke dalam kelas.
“Bawang merah selamanya hanya akan menjadi Bambang merah, tidak akan pernah menjadi Queen,” sindir Abel melirik Jenny.
“Dah Bel, lu jangan ladenin orang kaya Jenny, banyak banyakin istigfar deh,” ucap Nabila .
Pukul 14:30 mata kuliah selesai, Nabila dan Abel segera menjemput Nita dan ibunya menggunakan mobil Abel.
“Bel lo ganti mobil lagi?”tanya Nabila.
“Nggak ini mobil kakak gue, kita tukeran,” jawab Abel. “Lagian gue mana ada duit buat ganti mobil.”
Sesampainya di rumah sakit, Nita sudah menunggu ibunya di depan loket pengambilan obat. Mereka sedang mengantre untuk mengambil obat. Setelah itu mobil Abel melaju menuju rumah Nita. Ibu Nita sudah kelihatan sehat tapi belum bisa berjualan sayur dipasar, sementara kios mereka di sewakan sampai ibunya benar-benar sembuh, jadi sekarang Nita lah tulang punggung keluarganya.
“Nit lo mau kerja di cafe gua gak?” tanya Nabila.
“Mau banged, gua emang lagi butuh banged pekerjaan.”
“Ya udah, lu besuk pulang kuliah bisa langsung kerja, ntar gua bilang ke anak-anak.”
“Makasih yaa Ra, lu selalu Bantuin gue.”
“Kita kan sahabat!”ucap Nabila.
“Eh Ra, lu tadi mau cerita apaan?” tanya Abel ..
“Sebentarnya gue ...”
Bersambung..
Like
Like
Like
Komen
Komen
Komen
VOTE
__ADS_1
VOTE
VOTE