Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Hasil penjebakan .


__ADS_3

***


Kakek Han dan Daniel tiba di mansion, kakek tak henti-hentinya memuji kecantikan Caca di depan Daniel. Semua itu kakek lakukan agar Caca terlihat sempurna di mata Daniel, bagaimana pun kakek bisa melihat dengan jelas Daniel tidak tertarik pada Caca. Sehingga kakek harus berupaya ekstra membuat Daniel menyukai Caca.


“Huft.” Daniel mendengus kesal mendengar kakek yang terlalu berlebihan memuji Caca.


“Apa kakek tidak bisa berhenti memujinya, aku sungguh muak mendengarnya.” Gerutu Daniel tidak suka.


Kakek John menaikan salah satu alisnya. “Kakek hanya mengatakan kenyataan nya, dia sempurna untuk menjadi istrimu. Apa kakek salah?”


“Sudahlah terserah kakek saja, aku lelah.” Berlalu meninggalkan kakek dan menuju kamarnya di lantai tiga. Sementara kakek hanya geleng-geleng kepala.


Tidak papa lah dapat Caca, toh dia juga cucu Nanto.


Kakek sebenarnya masih kecewa karna calon Daniel tidak sesuai harapannya, ia berharap Bella juga datang namun harapan hanyalah harapan. Kakek juga bisa memahami Bella mungkin tidak mau ikut ke pertemuan keluarga karna takut dijodohkan dengan Daniel mengingat jarak umur Bella dan Daniel cukup jauh. Hampir terpaut 10 tahun.


Didalam kamarnya Daniel menghubungi Abel, ia sudah merindukan Abel sejak pertemuan tadi. Ingin sekali Daniel kabur dari pertemuan dan menelpon Abel tapi ia tidak bisa melakukan itu, ia masih tau sopan santun.


Tut..tut..tut.. nada panggilan Daniel sudah terhubung. Namun tidak ada jawaban.


Akhirnya Daniel memilih untuk istirahat, besok ia akan ikut kakek ke perusahaan membantu mengurus masalah perusahaan Kakek.


***


“Si Alan!!” Pekik seorang wanita paruh baya. Ia terlihat emosi melihat pesan singkat dari ponselnya.


“Sudah ku katakan tua Bangka itu tidak akan tinggal diam saja, dia pasti bisa membujuk cucu nya untuk memenuhi wasiat orang yang sudah mati.” Ujar seorang lelaki paruh baya di sebelahnya.


Mereka adalah ibu Defan dan pamannya. Kedua orang itu masih mengintai harta kakek Han dan warisan peninggalan nenek. Padahal Sania sudah mendapat banyak uang dari perceraiannya dengan Daddy Daniel. Namun, ia masih serakah dengan alasan hak untuk Defan.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang, kak?Semua hartanya pasti jatuh ke anak mantan suamiku?Bagiamana dengan Defan?” Tanya Sania pada Robi yang tidak lain adalah kakaknya.


“Memang kenapa dengan Defan, Bu?Defan juga tidak butuh warisan kakek dan nenek, lagi pula mereka juga tidak menyukai Defan. Bukankah harta gono gini yang ibu dapatkan dari Daddy sudah lebih dari cukup untuk kita hidup?” Defan yang kala itu akan pergi ke kamarnya tidak sengaja mendengar percakapan ibu dan pamannya.


“Defan sejak kapan kau disana?” Sania terkesiap melihat Defan sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Sejak awal ibu dan paman mengobrol.” Jawab Defan santai berjalan ke arah ibu dan pamannya.

__ADS_1


Ck.. Robi berdecak malas. “Dasar bodoh..” pekik Robi.


“Siapa yang bodoh paman?”


Defan tau ucapan paman nya itu ditujukan padanya, ia hanya ingin memastikan saja agar ibunya bisa membuka mata lebar. Orang yang ibu nya anggap sebagai kakak itu adalah orang yang paling licik dan tidak bermoral. Bagaimana Robi bisa mengatai Defan bodoh sementara Defan selalu rangking pertama sejak sekolah hingga lulus S2.


“Kau, memang ada siapa lagi disini selain aku, kau dan ibumu.” Ketus Robi.


“Oh.. Defan pikir paman mengatai ibu.” Sania melotot pada Robi mendengar ucapan Defan.


“Mana mungkin, Ibu mu sangat cerdas bahkan ia bisa mendapatkan harta gono gini dari ayahmu yang sangat banyak lebih dari 50% kekayaan ayahmu.” Jawab Robi gelagapan. Sania manggut-manggut dan tersenyum bangga. Astaga, apa mendapat harta gono gini yang banyak dari mantan suami adalah suatu hal yang bisa dibangggakan.


“Itu paman juga tau jika harta ibu sangat banyak, kenapa ibu masih serakah mengatakan warisan nenek?Lagi pula yang membuat harta ibu berkurang adalah paman, paman dan keluarga paman yang menumpang hidup dengan kami. Jika paman dan keluarga paman tidak menumpang hidup, harta ibu cukup untuk beberapa turunan.” Ujar Defan santai sengaja memancing amarah Robi.


Robi geram mendengar tuduhan Defan jika dirinya menumpang hidup pada Sania. Ia pun mengayunkan tangannya dan menampar Defan, plak.. Satu tamparan keras mendarat di pipi Defan.


“Dasar anak kurang ajar, tidak tau di untung, kau bisa hidup enak dan dilahirkan itu semua karena ku, aku yang membuatmu di lahirkan. Jika bukan karena aku yang menjebak Daddy mu membuatnya tidur dengan ibu mu, kau tidak akan pernah dilahirkan dan menikmati semua kekayaan ini.”


Tanpa disadari Robi membuka rahasia besar yang selama ini di sembunyikan dengan rapat oleh Sania. Bukan hanya Sania yang tergelak dengan ucapan Robi, Defan yang awalnya tidak tau apa-apa pun kaget. Selama ini ia berusaha menerima sikap dingin kakek Han padanya dengan kepercayaan diri meskipun ia anak dari simpanan namun Daddy nya mencintai ibunya. Ia dilahirkan atas dasar cinta, tidak disangka Defan anak dari hasil penjebakan. Sekarang bagaimana Defan akan menghadapi kakeknya?Ia sangat malu.. Defan yakin kakek Han tau masalah ini makannya kakek Han selalu bersikap dingin pada Defan.


“Kakak..” pekik Sania menyentuh lengan Robi agar lelaki itu menghentikan ucapannya.


“Cih..” Defan mengelap darah yang keluar dari bibirnya lalu menatap Robi tajam. “Bagus lah jika aku hanya anak dari hasil penjebakan jadi aku bisa lebih tau diri untuk tidak mengharapkan warisan dari nenek. Keputusanku menolak perjodohan itu sudah benar, dan aku pastikan kalian tidak akan menerima sepeserpun warisan dari nenek!” Tegas Defan dengan berteriak pada Robi dan Sania. Defan seperti hilang kendali wajahnya merah padam ia juga berkaca-kaca menahan cairan bening yang sejak tadi susah berkumpul di pelupuk matanya bersiap terjun bebas.


Setelah mengucapkan kata sakral nan keramat juga mengkhawatirkan bagi Sania dan Robi Defan keluar dari kamar Sania dengan membanting pintu. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan mansion mewah milik ibunya.


Di sepanjang perjalanan Defan tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia pun menangis sesenggukan seperti anak kecil sambil mengemudi.


“Kenapa Daddy tidak mengatakan kebenarannya padaku, kenapa?” Pekik Defan sambil memukul stir kemudinya.


“Pantas saja kakek tidak menyukaiku, yah mana mungkin kakek menyukai anak yang sudah merusak rumah tangga Daddy dan mommy Ana.” Isak tangis Defan semakin kencang kala mengingat mommy Ana. Ibu kandung Daniel yang selalu memperlakukannya dengan baik walaupun Defan anak dari simpanan Daddy nya.


“Maafkan Defan mommy, Daddy, maafkan Defan, tidak seharunya Defan ada di kandungan ibu saat itu.”


Defan tau cerita tentang ibunya yang hamil diluar nikah, tapi yang ia tau ibunya adalah simpanan Daddy nya. Defan tidak tau jika ibunya sengaja menjebak Daddy nya. Daddy nya terpaksa menikahi Sania karena Sania sudah datang dengan mengandung Defan dan mengatakan Sania adalah simpanan Daddy nya.


Defan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga mobil itu oleng dan menabrak pembatas jalan.

__ADS_1


***


Daniel langsung datang ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan adiknya di rawat karena kecelakaan. Defan sendiri sengaja memberitahu pihak rumah sakit untuk menghubungi Daniel sebagai keluarganya.


“Cih.. Anak nakal!” Gerutu Daniel masuk ke dalam ruang rawat Defan. Beruntung Defan hanya mengalami luka ringan dan lecet-lecet saja.


“Maaf, aku terpaksa menghubungi kakak.” Ujar Defan sambil menunduk.


Meskipun menunduk Daniel bisa melihat dengan jelas wajah sembab Defan. “Apa yang terjadi, apa kau bertengkar dengan ibumu?” Defan mengangguk. “Apa dia marah karena kau tidak mendapat warisan dari nenek?” Tanya Daniel lagi. Defan menjawabnya dengan mengangguk dan menggeleng.


“Kau mau mengangguk atau menggeleng, yang jelas!”


“Kata paman aku lahir bukan karena ibu simpanan Daddy, tapi, karena ibu sengaja menjebak Daddy hingga mengandung aku.” Gumam Defan lirih namun masih bisa terdengar jelas di telinga Daniel.


“Lalu?”


“Aku malu, pantas saja kakek membenci ku.”


Daniel geleng-geleng kepala. “Kenapa memikirkan hal yang tidak penting, kau sudah lahir untuk apa di sesali lagi pula Daddy juga tidak menyesali kehadiranmu. Buang jauh-jauh hal tidak penting dari pikiranmu.” Ucap Daniel santai namun terdengar serius. Daniel mendekati Defan dan duduk di kursi sebelah brankar.


Defan hanya diam tidak menyahuti ucapan Daniel.


“Apa aku boleh ikut kakak ke Indonesia?” Tanya Defan penuh harap.


“Pergilah dulu, kau sepertinya butuh liburan. Aku masih harus tinggal bebeapa hari untuk mengurus masalah perusahaan.” Ucap Daniel sambil tersenyum.


“Masalah itu pasti karna ibu dan paman.”


“Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Pergilah liburan, kau perlu refresing.” Defan mengangguk, benar apa yang diucapkan Daniel. Ia perlu kabur sebentar untuk menerima kenyataan pahit kelahirannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Done tiga bab untuk hari ini ya guys, ini 1300 kata lebih loh.. Jangan pelit tinggalkan jejak ya!


__ADS_2