Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Jenny lagi


__ADS_3

Seminggu berlalu dan Adam belum kembali dari Bali. Sudah seminggu pula Abel menginap di rumah Bila, tapi tidak dengan Nita karena dia harus kerja partime dan mengurus ibunya. Hari ini acara Dies Natalis kampusnya di gelar, Bila berpakaian lebih rapi dari biasanya, meskipun tetap sederhana. Dia berangkat ke kampus bersama Abel dengan menggunakan mobil Abel.


“Bel lo mau nemenin gue ke Bali ngga?” tanya Bila.


“Lo mau nyusul suami lo?” tanya balik Abel.


“He’m, udah seminggu mas Adam nggak ngabarin gue. Tio bilang Mas Adam sangat sibuk, tapi gue curiga dia ketemuan sama mantannya.”


“Lo cemburu Ra?” Abel melirik ke Bila yang duduk di samping kursi kemudi.


“Gue nggak cemburu, tapi cemas” ucap Nabila polos.


“Anjir itu namanya cemburu sheyeng!” Abel tertawa dengan sikap Nabila. (Sheyeng adalah nama panggilan sayang)


“Mau enggak nemenin gue?” tanya Bila penuh harap, “Kalau mau gue booking tiket sekarang nih.”


“Iyaaa..iyaaa, apa sih yang gak buat lo. Ke ujung dunia sekalipun gue temenin.”


“Mana kartu identitas lo?!”


Beberapa saat kemudian Abel menerima pesan. Tiket pesawat sudah di booking dengan layanan first class.


“Lo beli tiket first class?” Abel lagi-lagi melirik ke Nabila. “Kan mahal, lo gak eman sama duit lo”


“Nggak..lagian gue bayar pakai duit Mas Adam.” jawab Nabila nyengir. “Kalo pake duit gue ya eman,”


“Sialan lo.”


Sampai di kampus Nabila menghampiri Nita. Karena hari ini tidak ada kelas Bila mengajak kedua sahabat untuk bersantai di cafe, kemudian kembali ke kampus saat Acara dies Natalis di mulai.


Siang hari tamu-tamu acara sudah mulai berdatangan, banyak Alumni yang datang termasuk Caca kakaknya Abel. Caca berdiri di depan mobilnya terparkir seperti menunggu seseorang.


“ Lo udah lama Ca?,” Riko dan Kevin menghampiri Caca.


“ Baru aja sampai, Adam mana?,” tanya Caca.


“ Tuh dia udah kelihatan,” Kevin menunjuk mobil Adam yang baru saja memasuki gerbang Kampus.


Adam turun dari mobilnya bersama Tio, menghampiri ketiga sahabatnya, mereka saling berpelukan satu sama lain.


“ Gue kiro lo gak bakalan datang Bro, gue jadi kaget waktu lo whatshap bilang mau datang,” ucap Caca menepuk bahu Adam.

__ADS_1


“ Dia mau cari jodoh kali Ca,” ucap Kevin menimpali.


“ Yups Mahasiswi kampus ini kan cantik-cantik,” tukas Caca.


“ Iyaa kaya tu cewek,” Riko menunjuk seorang cewek yang sedang berjalan di depan kampus, dengan jarak sekitar 25 meter dari arah Riko.


“ Wih iyaa.. bening bener, meskipun sederhana tapi aura cantiknya tetep kelihatan,” ucap Kevin kagum.


Adam juga ikut memandangi perempuan yang dimaksud Riko dan Kevin, dia tersenyum melihat istrinya itu sampai Nabila hilang dari pandangannya.


“ Jangan salah Bro, dia meskipun sederhana gitu tapi putri keluarga kaya,” kata Caca.


“ Lo kenal Ca ?,” Adam sedikit menyelidik.


Mereka bertiga beralih menatap Adam, baru kali ini dia bertanya jika satu geng sedang membicarakan perempuan, biasanya Adam terkesan cuek.


“ Kenal.. Mau gue kenalin, dia temen adek gue. Gak hanya cantik dia juga baik hati banged, kayaknya cocok kalo sama lo Dam,” ucap Caca.


“ Kenalin ke gue aja Ca,” sahut Kevin.


Caca memperhatikan Kevin dari atas sampai bawah. “ Kalo sama lo ngga cocok, kasihan Bila terlalu cantik bersanding sama lo yang pas-pasan,”


Mendengar ucapan Caca Riko dan Adam pun terkekeh, ada kebanggaan tersendiri di hati Adam mendengar Caca yang mengatakan bahwa ia cocok dengan Nabila.


“ Bilangin makasih ke Bila yaa,” ucap Caca menerima paperbag itu. “Eh gimana Ibu kamu Nit?Kak Caca belum sempat mampir,” tanya Caca.


“ Alhamdulillah sudah sehat Kak,” jawab Nita.


“ Baguslah.. kamu jangan sungkan kalo butuh apa-apa bisa bilang ke Abel atau aku, sekarang kamu kerja dimana?,”


“ Aku kerja di cafe Bila kak, waktunya fleksibel. Jadi bisa sambil mengurus ibu,” jawab Nita.


“ Bagus dong.. Kaka dengar kamu mau jual rumah, kamu bisa tinggal di rumah kakak. Masih banyak kamar dirumah, bisa sekalian nemenin Abel.” Caca menyarankan pada Nita.


“ Makasih banyak kak, tapi aku dan Ibu tinggal apartemen Bila,” jawab Nita lagi sopan.


“ Oh yaudah yang penting kamu sama ibu kamu aman yaa,”


“ Iyaa kak..Terimakasih,”


Riko mengamati Nita dari atas sampai bawah, ada perasaan berbeda saat dia matanya bertemu pandang dengan Nita. “Ca lo ngga ngenalin dia ke gue,”

__ADS_1


“ Gak lo Playboy,eh Bel lo ngga pulang ke rumah, dah seminggu lo nginep di rumah Bila,” tanya Caca melihat adeknya.


“ Gak, gue betah di rumah Bila.,” jawabnya singkat.


Abel tidak menyapa sahabat Caca karena mereka terlihat sibuk dengan ponselnya. Sementara Adam berbincang dengan Leo. Riko masih memandang Nita, membuatnya merasa risih.


“ Kak Caca,” Jenny berlari menghampiri Caca.


“ Ada nenek lampir,” gerutu Abel.


“ Hai Jen, lama tidak bertemu,” Caca dan Jenny saling berpelukan. Sedangkan Abel acuh tak acuh.


Jenny menatap ketiga lelaki tampan yang berdiri tidak jauh dari Caca. Jenny menatap kagum pada ketampanan Adam. Adam sendiri cuek dengan tatapan genit Jenny.


“ Kak ini teman-teman kakak?,” tanya Jenny yang diangguki oleh Caca.


“ Apa lo lihat-lihat gue?,”Tanya Abel saat Jenny menatapnya.


“ Kak. Kakak tau ngga Abel tu temenan sama anak kampung, temen-temen Abel anak-anak miskin,” ucap Jenny menunjuk Nita.


Adam, Riko dan Kevin menatap Jenny dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


“Iyakah Jen?,” tanya Caca.


“ Iyaa Kak, ada satu lagi namanya Nabila dia tu juga anak kampung asalnya dari Jogja, pakaianya kampungan, norak, dia juga kecentilan,”


Mendengar nama Nabila di ucap Abel mendidih begitu juga dengan Adam, muka Adam berubah masam. Tio khawatir Adam akan langsung memberi perintah untuk menyingkirkan perempuan yang baru saja menghina istrinya.


Abel maju menghampiri Jenny, Plakk tamparan keras mendarat di pipi Jenny membuat semua mata yang ada disitu kaget. “ Lo bilang Bila Apa tadi? Kampungan Norak?Mata lo buta apa, Bila sederhana gitu lo ngga lihat pakainya dia dari ujung kepala sampai ujung kaki Branded semua, bahkan buat beli mobil lo aja cukup. Lain kali sebelum ngomong lo deketin Bila dulu, lo lihat dengan baik pakaianya!” Tegas Abel.


Nita menahan tangan Abel, “Istigfar bel istigfar,” lirih Nita.


“ Lo berani nampar gue Bel?lagian apa yang gue bilang bener dia kan kampung, kalopun pakaian dia branded palingan dapat dari om om, kalo engga mau dari mana lagi anak miskin punya duit untuk membeli barang branded,” Jenny menatap Abel dengan tatapan yang tidak kalah sinis.


Kali ini Nita yang mendidih gara-gara ucapan Jenny.. Plakk tamparan kedua mendarat di pipi Jenny. “ Astaghfirullah.. kamu kalo punya mulut di jaga ya Jen, kali ini kamu udah keterlaluan, selama ini Bila diem karena ngga mau ribut sama kamu. Tapi jangan harap aku dan Abel bakalan diem aja saat kamu merendahkan Bila, kamu selama ini iri kan sama Bila?Dia lebih segalanya dari kamu, lebih cantik lebih pinter, semua orang sayang sama Bila. Ditambah lagi kamu iri karena Kak Revan suka sama bila kan?kamu tenang aja Bila gak bakalan suka sama Kak Revan, lagian dia juga udah ada yang punya. Jadi selagi aku masih ngomong baik-baik kamu stop menghina Bila dan jangan ganggu Bila lagi. Atau kamu bakal tau akibatnya!” Tegas Nita dengan tatapan tajam.


Jenny terlihat memegangi kedua pipinya yang merah karena tamparan Abel dan Nita.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung .


__ADS_2