
“Maukah kamu menjadi pacar saya?”
“Apaa?!!” Tanya Abel sedikit kaget.
Mau romantis tapi gagal karena sikap berlebihan Abel, Daniel yang mendengar teriakan Abel justru menutup kedua telinganya. Perempuan itu ditembak bukannya meleleh malah teriak-teriak.
“Sorry..He.” Ucap Abel sambil nyengir. “Silahkan di ulang, aku udah siap, kali ini nggak bakal teriak lagi.” Lanjutnya berkata.
Daniel geleng-geleng kepala. “Nggak ada siaran ulang, sudahlah lain kali saja.” Ucap Daniel santai.
“Hei..mana bisa lain kali, diulang, nggak boleh nggak, harus di ulang dong.” Rengek Abel. Daniel diam, lelaki itu justru menikmati indahnya sunset di pantai kesirat.
“Daniellll.” Rengeknya sambil menarik-narik ujung kaos lelaki itu. “Niel..ulang ya..ya.” Abel memposisikan dirinya di hadapan Daniel sambil memelas dan mengedip-ngedipkan matanya. Tak lupa perempuan itu menarik-narik ujung kaos Daniel.
“Huft.” Lelaki itu hanya bisa menghela nafas mendengar rengekan dan melihat tingkah gemas Abel. Abel biasa saja Daniel meleleh apalagi Abel bertingkah menggemaskan seperti itu, meleleh melebur jadi debu deh Daniel.
Daniel pun langsung menarik Abel ke dalam pelukannya memeluk Abel se-erat mungkin. Abel yang kaget dengan sikap Daniel tidak menolak, ia justru membalas pelukan Daniel dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Daniel.
“Dengarkan aku, kali ini tidak ada siaran ulang.” Ucap Daniel lembut dan Abel mengangguk di pelukan Daniel.
“Ini mungkin mendadak untuk kamu, tapi, tidak untuk saya, sejak pertama kali mengenal kamu, saya sudah jatuh cinta sama kamu, semakin saya mengenal kamu semakin bertambah pula rasa cinta saya buat kamu, jadi, Isabella Anastasia, maukah kamu menjadi pacar saya?” Daniel berkata seraya mengelus rambut kepala Abel.
“Hm..” jawab Abel dengan deheman.
“Hem.. aja?” Daniel melepaskan pelukannya lalu menunduk menatap Abel dengan intens dan memegangi kedua bahu Abel.
“Ya mau apa lagi, kamu, kan, udah tau jawaban aku.” Jawab Abel seraya mendongak.
“Jadi?”
“Ya itu..”
“Itu apa?Katakan dengan jelas.” Goda Daniel melihat Abel terlihat malu-malu.
“Iya itu aku mau.” Ucap Abel seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Daniel. Daniel pun tersenyum lega, akhirnya mereka resmi jadian.
“Jadi ini hari pertama?” Tanya Daniel dan Abel pun mengangguk.
***
Dua hari kemudian, Rencana liburan yang harusnya sampai besok harus berakhir malam ini karena Daniel tiba-tiba mendapat telepon penting dari Wu bai. Lelaki itu harus kembali ke Jakarta saat itu juga, mereka mendapat pinjaman jetpri milik Raka yang dikirim khusus untuk menjemput Daniel.
Daniel dan Abel terburu-buru pergi ke bandara, padahal sudah jam 21:00 malam.
__ADS_1
“Untung aku udah beli oleh-oleh tadi siang.” Gumam Abel seraya mendudukkan dirinya di kursi. Mereka sudah berada di dalam jetpri yang akan membawa keduanya ke Jakarta.
“Maaf, karena pekerjaan ku liburan kita terganggu.” Ucap Daniel, lelaki itu duduk di sebelah Abel.
“Nggak papa, kita juga sudah 4 hari di Jogja, aku sudah puas.” Jawab Abel. Daniel pun mengangguk.
Selama perjalanan Abel memilih untuk tidur, lumayan bisa tidur kurang lebih satu jam an sampai di Jakarta.
Sampai dijakarta Daniel tidak langsung mengantar Abel, lelaki itu justru membawa Abel ke Club tempat dirinya dan Wu bai melakukan pertemuan. Bukan tanpa alasan Daniel membawa Abel turut serta bersamanya, waktu pertemuan sudah mepet tidak sempat bagi Daniel jika harus mengantar Daniel pulang dulu.
Di sepanjang perjalanan menuju ruang VVIP tempat pertemuan Daniel menggandeng Abel dengan mesra. Sesekali mereka berpapasan dnegan karyawan Club yang membungkuk hormat pada keduanya.
Ceklek.. Daniel membuka pintu ruang pertemuan, disana sudah ada Raka, Wu bai dan Leo.
“Maaf, saya terlambat.” Ucap Daniel sopan pada Raka. Raka hanya mengangguk. Sementara Leo dan Wu bai nampak menggoda Daniel.
Raka dan yang lainnya nampak welcome pada Abel, mereka tidak mempermasalahkan Daniel yang membawa Abel. Justru mereka merasa senang dengan kehadiran Abel setidaknya si cassanova Daniel itu tobat.
“Aku harus gimana?” Bisik Abel pada Daniel seraya bergelanyut di lengan Daniel.
“Kamu mainan Hp atau apa terserah selama saya meeting.” Jawab laki-laki itu lembut seraya mengajak Abel duduk di sofa.
Satu jam berlalu, belum ada tanda-tanda pertemuan akan berakhir. Abel mulai bosan. Ia mendekati Daniel dan berbisik pada lelaki di sebelahnya itu. “Minjem jaket kamu.” Daniel mengangguk lalu melepas jaketnya dan memberikannya pada Abel.
Daniel tau maksud Abel, lelaki itu langsung mengusap-usap rambut kepala Abel dengan lembut hingga perempuan itu terlelap.
“Astaga cewek lo gampang banged tidurnya.” Celoteh Wu bai melihat Abel yang sudah terlelap. Padahal belum ada tiga puluh menit Daniel mengusap-usap kepala Abel, tapi, perempuan itu sudah tertidur pulas.
“Dia kecapekan Bro.” Sahut Daniel.
“Sorry, kita udah menggangu liburan kalian.” Tukas Leo.
“Tidak masalah, dari pada itu, apa ada masalah lain, bos?” Tanya Daniel menatap Raka. Daniel tidak bisa untuk tidak peka pada tatapan Raka yang sejak tadi mengarah padanya.
“Kakekmu.” Raka tau hanya satu itu sudah bisa Daniel pahami apa masalah yang terjadi.
“Hm.. kita bicarakan besok saja, bos. Aku akan kekantormu setelah mengantar Abel pulang.” Ucap Daniel menunduk menatap Abel yang tidur pulas seperti bayi. Tatapan sendu yang tidak bisa di utarakan.
“Baiklah.” Raka bisa mengerti Daniel mungkin tidak mau membicarakan masalahnya dengan kakeknya di hadapan Abel.
Meskipun Abel sedang tidur, tetap saja ada Abel diruangan itu.
Pukul 02:00 dini hari pertemuan antara Daniel dan sahabatnya baru selesai. Daniel tidak tega untuk membangunkan Abel, ia terpaksa membawa Abel pulang ke apartemen nya.
__ADS_1
Daniel membaringkan Abel di ranjang King size miliknya. Setelahnya ia pun membersihkan diri. Usai membersihkan diri Daniel memilih tidur di sofa.
“Hubunganku dan Abel baru saja berjalan, apa sebenarnya yang kakek inginkan?Bukankah sudah ku katakan dengan jelas, aku tidak peduli dnegan surat si alan itu.” Gumam Daniel sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
Banyak hal yang Daniel pikirkan saat ini semua itu membuat Daniel terjaga hingga pukul 04:00 pagi, ia baru tetidur setelah pukul 04:00.
Keesokan paginya Abel bangun kesiangan, sudah pukul 10:00 perempuan itu baru mengerjap-ngerjakan matanya. Ia pun melihat kesekeliling menyadari tempat yang ia kenali. Abel pernah menginap disini bersama Jessi saat itu setelah mereka menonton balap mobil. Ya, ruangan yang ia tempati saat ini adalah kamar di apartemen Daniel.
Pandangan Abel pun tertuju pada sosok laki-laki yang masih tidur pulas di sofa. Ia tersenyum melihat pemandangan saat ini.
Pacarku yang tampan. Gumam Abel seraya turun dari tempat tidur menghampiri Daniel.
Bukan dengan Morning kiss Abel membangunkan Daniel, namun, ia malah menunjuk-nunjuk pipi Daniel dangan jari telunjuknya.
“Sayang..bukan seperti itu cara membangunkanku.” Daniel menangkap tangan Abel kemudian membuka lebar kedua matanya.
“Kamu sudah bangun?” Tanya Abel sambil nyengir.
“Bagaimana aku tidak bangun jika pipiku kau tunjuk-tunjuk seperti itu.” Ia pun bangun dan duduk, masih menggenggam tangan Abel.
“Maaf.” Ujar Abel.
“Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Daniel dan Abel mengangguk.
“Aku mau mandi.” Ucap Abel.
“Berikan Morning kiss dulu.” Goda Daniel.
“Lepaskan dulu tanganku.”
Daniel menurut, ia melepaskan tangan Abel. Namun bukannya mendapat Morning kiss Abel justru kabur dengan berlari menuju kamar mandi setelah Daniel melepaskan tangannya.
Daniel sendiri hanya geleng-geleng kepala. Sepertinya kedepannya hubungan mereka akan semanis ini. Semoga saja.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Oke .. satu bab dulu hari ini yaa.. jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Sarange 💕