
Hola hola, kita sudah memasuki musim kedua ya guys. Di musim kedua ini akan lebih banyak kisah Abel dan Daniel. Tapi, kalian jangan sedih untuk Nabila dan Adam akan tetap ada kok di musim kedua ini. Nyempil-nyempil di cerita Abel dan Daniel.
Oke, segini dulu yah cuap cuap dari author . Selamat membaca 🙃
Peluk jauh dari ku 😌
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daniel keluar dari kamar mandi dengan wajah dan sebagian rambutnya yang basah. Melihat itu Abel pun menutup novel yang ia baca lalu meletakannya ke nakas.
Abel turun dari tempat tidur berjalan menuju rak kecil di dekat pintu kamar mandi untuk mengambil handuk. Diberikannya handuk yang baru saja ia ambil pada Daniel.
“Makasih.” Ucap Daniel menerima handuk kecil dari Abel. Abel pun mengangguk. Di usapnya handuk kecil itu pada wajah dan sebagian rambutnya yang basah.
Daniel tergolong lelaki yang kuat minum alkohol, ia tidak akan mabuk jika hanya beberapa botol saja.
Abel sudah kembali duduk di atas tempat tidur dengan kaki berselonjor yang ia tutupi selimut.
“Jadi, ngapain kamu balik ke sini?” tanya Abel sambil menatap Daniel yang kini juga menatapnya.
“Ini diletakan dimana?” handuk kecil yang masih Daniel pegang.
“Rak khusus pakaian kotor di dekat pintu kamar mandi.”
Daniel membalik tubuhnya berjalan ke arah kamar mandi untuk menaruh handuk kecil. Setelahnya ia buru-buru menghampiri Abel.
“Aku mau menginap disini, seperti keinginanan kamu yang menahanku tadi!” seru Daniel, lelaki itu masih ingat dengan jelas bagaimana tadi Abel menahannya untuk tidak pulang.
Tadi aja marah-marah, sekarang tanpa diminta kisini sendiri.
“Ya udah kamu tidur di sofa!” menunjuk sofa panjang di dekat pintu masuk kamar Abel.
“Oke,” Berjalan menuju sofa dan langsung merebahkan dirinya disana.
Apa aku tanya saja apa hubungan Abel dan Kevin?Kenapa mereka sedekat ini sampai Kevin tau kode sandi apartemen Abel? Berbagai pertanyaan mengganggu pikiran Daniel sesekali lelaki itu melirik ke arah Abel yang sudah meringkuk di dalam balutan selimut.
“Kalau kamu nggak tidur, aku usir!” Ucap Abel tanpa membuka mata.
Cepat-cepat Daniel menutup matanya, ia meletakan salah satu lengannya di atas kepala. Lucunya. Batin Daniel.
Keesokan paginya Abel bangun lebih dulu, ia langsung membersihkan diri dan menunaikan ibadah lima waktunya.
Dilihatnya Daniel masih tidur pulas di sofa dengan selimut menempel di tubuhnya. Dini hari tadi Abel terbangun dan menyelimuti Daniel.
Apa dia memang tampan seperti ini? Gumam Abel memandangi wajah Daniel.
Tidak-tidak, tampan dari mananya. Abel geleng-geleng kepala dengan cepat menepis pikirannya namun sedetik kemudian ia menggumam kembali. Tapi, dilihat lebih seksama dia memang tampan, yah meskipun sudah om-om. Abel kemudian terkekeh sendiri.
__ADS_1
Usia Daniel memang sudah kepala tiga lebih, lelaki itu selain tampan juga matang dan mapan. Cocok untuk di jadikan suami.
“Apa aku tampan?” Tanya Daniel seraya menarik tangan Abel.
“Iya.” Jawab Abel dengan polosnya, “Eh, tidak.” Ralat Abel kemudian.
Daniel pun membuka matanya dan tersenyum. “Kau tau jawaban yang pertama adalah kebenaran.” Ujar Daniel seraya mendudukkan dirinya masih menggenggam tangan Abel.
Cih, narsis.
“Apa kau mau mandi?Tapi, tidak ada baju lelaki disini.” Ucap Abel mengalihkan pembicaraan.
Tidak ada baju laki-laki, baguslah berarti dia tidak membawa lelaki ke kamar ini selain aku. Pikir Daniel.
“Aku akan minta orang untuk mengirim bajuku, dari pada itu bolehkah aku bertanya?” Menatap lekat kedua bola mata Abel siap mencari jawaban dari nya.
“Apa?”
Tok..tok..
Mendengar suara ketukan pintu, Abel melepaskan tangan Daniel dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
“Kenapa Vin?” Tanya nya pada Kevin yang berdiri di balik pintu.
“Semaleman Daniel tidur di kamar lo?” Tanya Kevin dengan tatapan menyelidik. Abel pun mengangguk.
“Apaan sih lo gaje.” Sergah Abel.
“Kenapa, Bel?” Entah kapan datangnya Daniel sudah berdiri di belakang Abel.
“Tau tuh si Kevin error.” Jawab Abel cuek seraya nyelonong melewati Kevin menuju ke dapur.
Daniel bergeming. “Kenapa, Vin?” Melihat Kevin yang menatapnya penuh tanya.
“Lo udah ena-ena sama Abel?Kok lo bisa kebablasan gini sih, man?Abel itu cewek baik-baik, harusnya di jaga, lo gimana sih?” Cerewet ya Kevin melebihi tante tetangga sebelah yang sedang menghakimi anaknya.
“Ena-ena dari mana, gue tidur di sofa semaleman!” Daniel sedikit memiringkan badannya sambil menunjuk sofa yang masih ada selimut diatasnya. Kevin memajukan sedikit tubuhnya melihat ke arah sofa yang ditunjuk Daniel.
Kevin baru bisa menghela nafas lega.
“Lagian senafsu-nafsunya gue kalau itu menyangkut Abel sebelum nikah juga bakal gue tahan.” Ujar Daniel kemudian.
“Syukurlah. Gue tunggu di ruang makan, kita sarapan bareng.” Ucap Kevin.
***
Abel dan Kevin sudah berada di meja makan. Mereka menata nasi goreng yang sudah Abel pesan dari langganan nya untuk sarapan. Juga ada beberapa roti tawar beserta bermacam-macam selai.
__ADS_1
“Sepertinya ada tamu.” Ujar Kevin mendengar bunyi bel.
“Biar aku buka.” Abel mendorong kursi nya lalu beranjak berdiri menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
“Dokter Mike!” Abel kaget saat tau tamu mereka adalah Mike, dokter yang memeriksanya kemarin sekaligus teman Daniel melihat dari interaksi mereka saat dirumah sakit.
“Maaf bertamu pagi-pagi, aku mengantarkan baju ganti untuk Daniel.” Lelaki yang berada dihadapan Abel itu mengangkat paperbagnya. Lalu menyerahkannya pada Abel.
“Ah iya, Silahkan masuk dokter.” Ucap Abel seraya menerima paperbagnya.
“Tidak perlu nona, sebaiknya saya langsung an saja.” Tolak Mike sopan. Lebih tepatnya karna tidak mau menggangu waktu Abel dan Daniel. Sepertinya lelaki itu sudah berpikiran yang tidak-tidak apalagi saat Daniel meminta nya untuk mengirimkan baju ganti di apartemen Abel.
“Jangan seperti itu tuan, karna tuan sudah sampai di sini sepagi ini lebih baik kita sarapan bersama. Mari masuk tuan, jangan sungkan.” Ajak Abel kekeuah.
“Ah, baiklah jika tidak merepotkan.”
“Tentu saja tidak.” Ucap Abel seraya tersenyum.
Abel dan Mike masuk ke dalam apartemen Abel. Abel mengajak Mike langsung menuju ke ruang makan.
“Kau!!” Sentak Kevin dan Mike bersamaan.
“Apa kalian saling kenal?” Tanya Abel dan keduanya pun mengangguk, “Ah, baguslah. Kalau begitu aku tinggal sebentar.” Abel berjalan ke kamarnya untuk memberikan baju ganti pada Daniel.
“Lo ngapain disini?” Tanya Mike seraya menarik kursi di ruang makan dan mendudukinya.
“Lo sendiri ngapain kesini?” Tanya balik Kevin.
“Gue nganter baju Daniel.” Jawabnya. Kevin pun hanya menjawab dengan “oh” saja.
“Lo sama Daniel terus Abel?” Entah apa yang dipikirkan oleh Mike.
“Gue tidur di kamar tamu, mereka sekamar Semalem tapi nggak ena-ena, gue udah nanya dan gue percaya sama Abel.” Jawab Kevin memahami apa pertanyaan dari Mike.
“Lo yakin mereka nggak ena-ena?” Mike nampak masih penasaran. Kevin mengangguk.
“Daniel tidur di sofa.” Kevin pun terkekeh.
“Hahaha, kasian sekali.” Mike ikut terkekeh.
.
.
.
.
__ADS_1