Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Pernikahan


__ADS_3

“Apa kamu sudah siap Nduk?” tanya ibu.


“Insyaallah sudah Bu.” jawab Aira.


Aira menuju tempat ijab qobul, semua mata tertuju pada Nabila yang sangat cantik mengenakan kebaya putih dengan paes Jogja putri. Adam nampak terpesona dengan kecantikan Nabila, dia bahkan tidak berkedip saat menatap Nabila.


Cantik sekali. Gumam Adam


Serangkaian acara demi acara terlewati dengan lancar. Adam mengucap Ijab Qobul dengan satu kali nafas dan langsung sah.


Pernikahan Adam dan Nabila digelar dengan sederhana, hanya dihadiri kerabat dekat dan beberapa rekan bisnis yang sudah dianggap seperti keluarga. Setelah pesta selesai Keluarga Adam kembali ke hotel, kecuali Kakek yang memutuskan untuk tinggal lebih lama.


Nabila masuk ke dalam kamarnya, seketika dia shock dengan perubahan dekorasi kamarnya. Kamar Nabila disulap menjadi kamar pengantin, dengan penuh bunga-bunga.



“Kenapa kamu tidak masuk?” tanya Adam melihat istrinya mematung di depan pintu, menatap ke arah ranjang.


“Ini bukan kerjaanku Mas.” ucap Nabila menunjuk ranjang dan bunga-bunga yang bergantungan di atas ranjang.


“Hahaha, mungkin ini ulah Kakek.” Adam terkekeh melihat pemandangan itu, lalu nyelonong masuk kamar.


Setelah masuk kamar, Nabila mengambil baju tidur di almari pakaiannya, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat sudah selesai membersihkan diri, Nabila mendapati Adam tengah terlelap di ranjangnya.


“Mas.. mas!” Nabila menggoyang bahu Adam, “Aku sudah siapkan air hangat, Mas mau mandi tidak?”


“Em, yaa.” ucap Adam mengerjapkan matanya. Dia berlalu untuk membersihkan diri.


Keluar dari kamar mandi Adam hanya mengenakan jubah mandi dan memegang handuk untuk mengusap rambutnya yang basah.


Deg...deg... jantung Nabila berdetak tidak karuan melihat penampilan Adam yang seperti itu.


“Sudah cukup melihatnya?” tanya Adam menghampiri Nabila.


“Apaan siapa juga yang melihat mu, kepedean.” gerutu Nabila.


“Keringkan rambutku!” Adam melemparkan handuk ke pangkuan Nabila yang sedang membaca buku bersandar di atas ranjang. Kemudian Adam duduk di kursi samping ranjangnya, Nabila mengusap rambut Adam yang masih basah lalu mengambil hairdrayer untuk mengeringkan rambut Adam.


“Bila?”


“Ya..”


“Besuk kita akan kembali ke Jakarta, apa kamu kecewa tidak bisa tinggal lebih lama?”


“Tidak Mas, aku juga harus kuliah.”


“Kita akan pulang ke Jogja setiap kali ada waktu luang, kamu tidak perlu bersedih.” ucap Adam, Nabila mengangguk pelan menyetujui perkataan suaminya. “Ayo kita istirahat!” Adam membaringkan tubuhnya di ranjang.


“Mas Adam tidur disini??” tanya Nabila.


“Ya iyalah, kalau enggak mau tidur dimana lagi?Di kamar ibuk?.. yang ada nanti aku di jotos Bapak.”


“Terus aku?” Bila menatap Adam dengan mengerucutkan bibirnya.


“Kamu juga tidur disini Bila, disampingku. Lagipula kita suami istri Sah dimata Agama dan Hukum.” ucap Adam penuh penekanan.


“Tapi Mas..” lagi lagi Nabila mencoba protes.


“Sudah jangan banyak omong, aku sangat lelah. Kamu tenang saja aku tidak akan meminta hakku sebagai seorang suami sekarang, beristirahatlah.” Adam mengerti kekhawatiran Nabila.

__ADS_1


“Baiklah, Mas.” setelah mengembalikan hairdryer pada tempatnya, Nabila membaringkan dirinya disamping Adam. Dilihatnya Adam sudah tidur, ia kemudian ikut memejamkan matanya.


Pagi harinya Adam dan Nabila sudah bersiap untuk kembali kejakarta. Bapak dan ibu mengizinkan mereka kembali, meskipun awalnya sedikit tidak rela. Sesampainya di Jakarta Adam tidak langsung pulang ke rumah tapi dia pergi keperusahaanya.


“Kita ke kantorku dulu, ada yang perlu aku urus.” ucap Adam. Sampai di kantor sudah disambut oleh para karyawan di depan pintu masuk, seperti menyambut raja. Nabila turun mengikuti Adam. Dia mengekor di belakang Adam dan melihat Gedung yang menjulang tinggi bertuliskan Aero Finance Grup .


“Selamat Pagi Presdir.” ucap karyawan yang menyambutnya serentak.


“Hemm.” Adam berlalu masuk ke dalam perusahaan, salah seorang staf menghampiri Adam seperti menjelaskan sesuatu pada Adam. Adam merasa ada yang kurang, lalu menoleh kebelakang, dilihatnya istrinya masih mematung memandangi logo perusahaan. Kemudian Adam berbalik kearah Nabila, dia menggenggam tangan Nabila sehingga menyadarkan Bila dari lamunannya. “Ayo!” Adam menggandeng Nabila.


Banyak pasang mata yang menyaksikan sang Presdir tengah menggandeng seorang wanita, beberapa memandang kagum karena mereka tampak serasi, beberapa menatap sinis ke Nabila sehingga membuatnya merasa tidak nyaman. Nabila memilih untuk menundukkan kepalanya. Mereka masuk ke lift khusus Presdir untuk menuju ruangan Adam.


“Selamat pagi Pak.” ucap Selfi sekertaris Adam.


“Hem.” jawab Adam masuk ke ruang kerjanya. Adam menyadari sedari tadi Nabila hanya diam. “Apa kamu sakit?” tanya Adam.


“Tidak, mas.”


“Kenapa diam saja?Duduklah di sofa aku akan menyelesaikan pekerjaanku.”


“Baik.” jawab Nabila langsung menuju sofa. Adam membuka laptop miliknya dan mulai fokus memeriksa laporan yang masuk.


“Mas?”tanya Nabila mendekati Adam.


“Apa?”


“Ini kantor siapa?” tanyanya polos.


“Ya kantorku lah Bil, kamu ngga lihat aku sedang duduk di kursi Presdir?” jawab Adam.


“Tapi ini bukan Hanggara Grup, bukankah perusahaan keluarga mas Adam Hanggara Grup?”


“Ini perusahaan pribadiku, keluargaku tidak ada yang tahu.” jawabnya santai.


“Tapi sekarang ada satu keluargaku yang tahu.” ucap Adam.


“Siapa?” tanya Nabila polos.


“Kamu!”


“Aku?” Nabila menunjuk pada dirinya.


“Iya kamu, sekarang kamu kan istriku tentu saja kamu keluargaku!” tegas Adam.


“hehe, iya juga sih, ya sudah mas Adam lanjutkan kerjanya aku akan menunggu di sofa.” Nabila kembali duduk di sofa.


“Hemm.”


Entah karena lelah atau bosan menunggu, Nabila ketiduran di sofa.


Tok tok


“Masuk!” jawab Adam.


Selfi masuk ke ruangan Adam dengan membawa beberapa laporan yang perlu ditanda tangani Adam, dia melirik ke arah sofa dimana Nabila sedang terlelap.


“Dia istriku!” ucap Adam menyadari Selfi sedang memperhatikan Nabila, “Kami baru saja dari Jogja langsung ke kantor, sepertinya dia kelelahan.”


“Maaf, Pak saya kira bapak belum menikah, apa perlu saya ambilkan selimut untuk Ibu?” tanya Selfi sopan.

__ADS_1


“Tidak perlu, saya akan pulang setelah menandatangani ini.” menyerahkan laporan yang sudah ditanda tangani.


“Kalau begitu saya permisi Pak.” Selfi meninggalkan ruangan Adam.


Adam membereskan mejanya, lalu berjalan ke arah Nabila. Memperhatikan Nabila, sekilas Adam menyunggingkan bibirnya.


Bisa-bisanya ketiduran saat aku sibuk bekerja, seperti *** bahkan tidak dengar ada aktivitas di sekelilingnya, aku jadi khawatir saat dia tidur begini, bagaimana kalo dia ketiduran di tempat umum?bagaimana jika ada orang jahat?*. Gumam Adam yang kemudian mengangkat tubuh Nabila. Sebelumnya dia sudah menghubungi Tyo untuk menyiapkan mobil. Adam menggunakan lift khusus Presdir sampai ke basement, disana Tyo sudah menunggu.


“Ke rumah!” ucap Adam pada Tio.


Entah kurang hati-hati, Tyo tiba-tiba mengerem mendadak sehingga membangunkan Nabila.


“Mas Adam?” Nabila mengucek matanya, dia sedikit kaget karna hampir terbentur kursi depanya tapi dihalangi tangan Adam


“Maaf Tuan, tadi ada kucing.” ucap Tyo.


“Tidak papa.” jawab Adam lalu memperhatikan Nabila “Apa kamu kaget?”


Nabila mengangguk pelan. “Tidurlah jika masih mengantuk, kita akan pulang ke rumah!” ucap Adam menyenderkan kepala Nabila di bahunya.


“Tidak!Aku tidak lelah, Maaf merepotkanmu hari ini, apa mas Adam yang membopong ku sampai mobil?” Nabila masih ngantuk sebenarnya tapi dia tidak enak jika tidur lagi.


“Tentu saja, kamu pikir siapa yang mau menggendong mu selain aku?”


“Mas Adam kan bisa membangunkanku!”


“Aku sudah melakukannya, kamu tidak bangun. Tidurmu sudah seperti mati suri saja!”


“Ya, aku minta maaf.” ucap Nabila lirih.


“Kenapa minta maaf, memangnya kamu melakukan kesalahan?hanya tidur saja.”


Ya terus aku harus gimana dong, minta maaf salah hmm .


“Ia ia,”


Bersambung.


.


.


.


.


Like


Like


Like


Komen


Komen


Komen


VOTE

__ADS_1


VOTE


VOTE


__ADS_2