
Tok..tok.. Adam masih saja melamun, ia tenggelam dalam pikirannya. Ia mencari-cari cara agar Nabila tidak kesepian saat ia pergi keluar negeri. Ia bahkan tidak mendengar suara ketukan pintu.
“Mas!!” Nabila sudah berdiri tepat didepan meja kerja Adam. Perempuan itu sedikit kesal karna Adam tidak menyahuti ketukan pintunya. Adam masih diam.
“Mas, Hallo!” Adam melambai lambaikan tangannya di depan wajah Adam.
“Eh.. Sayang, kamu kapan datangnya?” Tersadar dari lamunannya.
“Hem, dah dari tadi.” Keluhnya, ia berjalan memutari meja kerja Adam lalu berdiri di sebelah kursi Adam.
Adam pun memutar kursinya, mengarah ke Nabila. Puk.. puk.. menempuh pahanya, Adam bisa membaca keinginan Nabila untuk duduk di pangkuannya. Benar sesuai dugaan Adam, perempuan itu langsung duduk di pangkuan suaminya. Adam pun melingkarkan kedua tangannya di perut Nabila lalu ia menyenderkan kepalanya di bahu Nabila. “Kamu sama siapa kesini?” Tanya Adam lembut.
“Bila minta antar pak Slamet tadi.” Sepulang kuliah Nabila meminta pak Slamet untuk menjemputnya lalu mengantarkan nya ke kantor Adam. Kebetulan mata kuliah terakhir hanya absen dan tugas. Jadi, ia bisa pulang lebih awal.
“Kok nggak whatshap dulu kalau mau kesini?”
“Sengaja, sekalian ngecek mas Adam kerjanya bener apa enggak.” Ia masih ingat dulu pernah salah paman pada Raga dan Diana. Nabila yang melihat Raga dan Diana berciuman diruangan Adam menjadi cemburu buta. Ia tidak meminta penjelasan Adam justru melarikan diri.
“Terus, menurut kamu, mas kerjanya benar nggak?” Lelaki itu ingin tau pendapat Nabila mengenai kinerjanya di perusahaan.
“Enggak.” Jawab Nabila singkat padat dan jelas.
“Kok nggak?” Adam mengernyit heran.
“Tadi aja mas Adam melamun, nggak denger pas Bila mengetuk pintu. Padahal Bila udah ketuk berulang-ulang, mas nggak fokus!” Turun dari pangkuan Adam. Ia merasa tidak enak terlalu lama duduk di pangkuan Adam. Apalagi berat badan Nabila sudah bertambah seiring berkembangnya kandungannya.
“Maaf, tadi mas lagi berpikir hal penting.” Keluar dari kursinya dan menggandeng Nabila untuk duduk di sofa.
Duduk di sofa. “Mas lagi banyak pikiran, apa ada masalah dengan perusahaan?” Tanya Nabila khawatir.
Adam ikut duduk di sebelah Nabila. Lelaki itu tiduran di paha Nabila. Kakinya ia selonjor kan di sofa. “Kalau mas bangkrut kamu masih mau sama mas?” Ia menghadapkan kepalanya ke atas menatap wajah Nabila yang sedikit menunduk.
__ADS_1
Nabila mengangguk. “Masalahnya serius ya, mas?”
“Jawab dulu masih mau sama mas nggak, kalau mas bangkrut dan miskin?”
“Mau kok mau, Bila masih punya cafe dan toko kue, mas lupa?Nanti kita kembangkan saja usaha Bila,” jawab Nabila.
“Kalau mas bangkrut dan punya banyak hutang, bahkan sudah jual rumah sudah jual semuanya. Nggak punya apa-apa lagi, masih mau?” Tanya Adam lagi.
“Mau, Bila terima mas apa adanya, bukan karna mas kaya atau cucu kakek Sutrisno Hanggara. Kalau pun Allah kasih cobaan dalam bentuk kita harus kehilangan semua harta benda kita, nggak papa!Asal keluarga kita utuh dan sehat, kita masih bisa bangun semuanya dari awal, mas!” Ucap Nabila penuh penekanan. Ia mengusap lembut pipi Adam.
“Yang paling penting kita sama-sama terus dalam keadaan apapun, entah itu keadaan susah atau senang.” Lanjut Nabila.
“Makasih sayang.” Meraih tengkuk Nabila agar perempuan itu menunduk. Lalu Adam sedikit mendongak, ia mengecup sekilas bibir Nabila.
“Mas kenapa tanya kayak gitu, masalah perusahaan serius, ya?” Tanya Nabila penasaran.
“Lumayan, tapi mas yakin masih bisa urus.” Balasnya.
“Salah satu klien membatalkan kerja sama. Kemungkinan mas harus keluar negeri untuk mengurusnya.” Ucap Adam hati-hati.
“Luar negeri?”
Adam pun bangkit dari tidurannya. Ia duduk dengan miring menghadap Nabila. “Iyaa.. Bagaimaana?Apa kamu mengizinkan mas keluar negeri?” Tangan kanan Adam meraih tangan Nabila. Ia pun menggenggam erat tangan istrinya itu.
“Boleh, mas, kan, keluar negeri karna urusan pekerjaan. Bukan karna liburan, kalau mas pergi liburan tapi nggak ngajak Nabila, baru nggak di kasih izin.” Ia tersenyum manis. Istri mana sih yang tidak mengizinkan suaminya pergi keluar negeri untuk mengurus masalah pekerjaan?Apalagi pekerjaan itu berhubungan dengan nasib ribuan karyawan yang menggantungkan nafkah bekerja di perusahaan suaminya. Nabila yakin jika Adam turun tangan langsung pasti itu proyek besar. Dan, jika gagal mendapat kerjasama itu pasti suaminya akan merugi besar. Nabila tidak mau itu terjadi.
“Mana mungkin mas liburan tanpa kamu sayang.”
“Ya, kali aja mas khilaf lupa istri.”
“Hiss, kok ngomongnya gitu?Amit.. amit, naudzubillah Bil. Itu nggak akan terjadi.” Mencubit pipi Nabila.
__ADS_1
“Kan, kali aja mas.” Cebik Nabila.
“Nggak, nggak ada kali-kali an. Lain kali kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, ingat ucapan itu doa!” Tegur Adam pada istrinya.
“Eh.. iya, astagfirullah.” Nabila menghela nafas. Baru sadar ucapannya tidak benar. Secara tidak langsung Nabila berdoa Adam melupakannya.
“Nah.. banyak-banyak istigfar ya bumilku. Biar dedeknya jauh dari hal-hal yang nggak baik.” Adam mengusap lembut perut Nabila.
“Iyaa, ayah!Ayah juga jangan lupa sholat nya. Bunda tau ayah masih suka bolong-bolong, kan, lima waktunya?” Gantian Nabila yang mengingatkan Adam atas kewajibannya sebagai seorang muslim. Yah, saling mengingatkan dalam hal kebaikan adalah kewajiban seorang muslim, kan?
Nabila juga tau Adam masih bolong-bolong lima waktunya. Apalagi saat Subuh, lelaki itu sulit sekali dibangunkan. Padahal subuh, kan, salah satu waktu terbaik.
“Ia bunda, maaf, ayah masih sering bolong sholat nya.” Jawab Adam patuh.
“Maaf sama gusti Allah dong, mas?Masa sama Bila?” Salah lagi kata-kata Adam.
“Ia bunda, ia.”
Dulu Adam bukan muslim yang taat. Namun, semenjak menikah dengan Nabila ia mencoba memperbaiki diri. Bukan karena Nabila, namun karna ia sadar ia memang seharunya memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Tapi, tidak bisa di pungkiri juga menikah adalah jalan awal baginya untuk memperbaiki diri. Ia sangat bersyukur mempunyai istri seperti Nabila.
Sebagai kepala rumah tangga untuk memimpin Nabila dalam hal agama Adam masihlah kurang. Namun, ia dan Nabila sama-sama belajar. Membawa pernikahan mereka ke arah yang baik dan benar. Mereka berharap pernikahan mereka bisa membawa mereka pada kebahagiaan dunia maupun akhirat. Insyaallah, ya. Kalau kata Nabila seperti itu.
***
Nabila dam Adam pulang kerumah mereka setelah pekerjaan Adam selesai. Banjir sudah mulai surut, mereka bisa pulang kerumah setelah beberapa hari menginap diapartemen.
Adam juga sudah menjadwalkan keberangkatannya ke luar negeri. Ia tidak bisa menunda lebih lama menyelesaikan masalah perusahaannya. Izin dari Nabila juga sudah ia dapatkan.
.
.
__ADS_1
.