Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Salah paham Clear


__ADS_3

Adam mendekat ke Nabila, membelai lembut rambut Nabila yang sedikit menutupi wajahnya. Wanita yang sedang tidur itu tidak menggeliat sama sekali. Adam tidak kemana-mana sampai Nabila bangun. Dia duduk di tepi ranjang menunggu Nabila bangun.


Sekitar jam setengah 12 siang, Nabila pun menggeliat pelan, wanita itu mulai membuka matanya perlahan. Samar-samar Nabila melihat sosok laki-laki memperhatikannya duduk tepat di sebelah tidur Nabila. “Mas Adam?” Gumam Nabila lirih. Nabila mengucek matanya untuk memastikan apakah yang dilihatnya memang benar adalah Adam.


“Kamu sudah bangun Bil?” Kali ini suara Adam menggema di telinga Nabila.


Nabila langsung bangun dan mendudukkan dirinya bersandar pada ranjang. “Mas ngapain disini?”


“Jemput kamulah, memang mau ngapain lagi?”


Nabila membuang muka saat Adam menatapnya dengan lembut. “Memang siapa yang minta di jemput?”


“Tidak ada yang minta, aku sendiri yang mau. Menjemput istri kan tanggung jawab suami Bil.” Adam berbicara dengan sangat lembut pada istrinya.


“Mas ingat kalau punya istri?” Sindir Nabila.


“Memang kapan aku tidak ingat kalau punya istri?Aku selalu ingat kamu Bil!Setiap saat.” Tegas Adam.


Cih, sekarang aja bilang ingat istri.


“Owh.” Kata Nabila singkat, padat dan jelas.


Adam meraih kedua tangan Nabila menggenggamnya. “Bil, kamu salah paham sayang.”


“Salah paham?”


Adam mencoba meraih kepala Nabila, agar wajahnya menghadap Adam. “Dengerin suami mu ini, kamu kemarin salah paham. Yang kamu lihat kemarin bukan aku, tapi Raga. Raga dan Diana yang kemarin kamu lihat. Raga itu sepupu aku, kamu memang belum pernah bertemu dengannya karena saat pernikahan kita Raga berhalangan hadir tapi Diana kamu udah pernah ketemu kan?Dia yang datang sama tanteku, yang waktu kita nikah dia nempel banged sama mama. Kamu ingat kan?”


Nabila mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan oleh Adam. “Bohong!Penampilanya aja beda kok.” Ngotot Nabila.


Adam menghela nafasnya pelan. “Itu karena Diana potong rambut Bil. Gini aja, kamu lihat ini!” Adam menyerahkan ponselnya pada Nabila, Adam memutar rekaman CCTV dari saat Nabila naik ke lift sampai Adam bertemu dengan Raga dan Diana.


Jadi aku salah paham sama sepupu mas Adam. Malunya.

__ADS_1


Setelah menonton video rekaman CCTV itu Nabila mengembalikan ponsel Adam.


Benar-benar hanya salah paham. Gimana nanti aku ketemu Diana, malu banged.


Adam menerima ponselnya dan tersenyum tipis melihat raut wajah Nabila menahan malu. “Gimana?Aku nggak bohong kan?”


“Hm.” Jawab Nabila.


“Hm aja?” Tang Adam.


“Ya, terus mau bilang apa?” Nabila masih ketus dengan Adam.


Adam meraih tubuh Nabila ke pelukannya. “Aku kangen banged sama kamu Bil, aku khawatir sama kamu dan calon baby kita. Lain kali semarah apapun kamu jangan kabur-kabur an lagi. Saat kamu marah kamu di rumah aja, kalau kamu nggak mau lihat mukaku lebih baik aku yang menghindar.Kamu nggak tau seberapa paniknya aku nggak bisa nemuin kamu semalam.”


Nabila membalas pelukan Adam. “Maafin Bila mas.”


Adam mengelus elus rambut kepala Nabila kemudian mengecup puncak kepala Nabila. “Kamu nggak perlu minta maaf sayang.”


Wajah Nabila mendongak ke arah Adam, dia masih di dalam pelukan Adam. “Mas, aku lapar.” Ucap Nabila polos seperti anak kecil.


“Aku mau makan Batagor yang di deket Monas.”


“Jauh Bil, kita cari Batagor dekat sini aja yaa?” Adam membujuk Nabila, dari cafe sampai kemana hampir butuh waktu 2 jam karena macet, apalagi sekarang hampir jam makan siang pastilah lebih macet.


Nabila menggelengkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya. “Nggak mau, maunya yang deket Monas.”


Adam meraih ponselnya yang tadi sempat ia letakan di nakas samping tempat tidur Nabila. “Oke, oke. Aku WhatsApp Frans untuk beliin.”


Nabil menggelengkan kepalanya lagi. “Nggak mau di beliin, maunya makan disana langsung.” Ucap Nabila. “Mas, nggak sayang sama aku ya?”


Adam menghentikan jarinya tangannya yang sedang mengetik whatshap untuk Frans. “Sayang Bil, aku sayang banged sama kamu.”


“Kalo sayang kenapa gitu?Yang mau makan Batagor bukan hanya aku mas tapi-.” Nabila meraih tangan kiri Adam yang tidak memegang ponsel lalu mengarahkan tangan kiri Adam untuk mengelus-elus perutnya.

__ADS_1


Adam akhirnya paham Nabila sedang ingin bermanja-manja, mungkin bawaan debay. “Baiklah, ayo kita beli Batagor!” Adam memasukan ponselnya ke saku celananya.


Adam bangkit untuk berdiri mengambil jasnya yang terlampir di sofa. Nabila juga mencuci mukanya lalu memoles sedikit wajahnya dengan bedak tipis dan lip tint. Adam dan Nabila turun dari lantai atas, Nabila mencari-cari sosok Nita tapi tidak menemukannya. Dia bertanya pada karyawannya ternyata Nita pergi berbelanja kebutuhan cafe dengan karyawan lain. Sementara Riko kembali ke kediamannya.


Adam membukakan pintu mobil untuk Nabila dan membantu Nabila memasang sabuk pengaman. Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Nabila menyuapi Adam dengan roti yang dibawanya dari cafe, Nabila tau Adam pasti belum sarapan. Jadi, Nabila membawa roti dan jua jeruk. Di sepanjang perjalanan menuju Monas Nabila terus-terusan menyanyi dengan bahagia. Raut wajah Nabila sangat cerah berbeda dengan tadi saat bangun tidur. Nabila menambah isi daya ponselnya yang telah mati sejak semalam. Lalu ia menyalakan ponselnya. Banyak sekali pesan masuk dan berpuluh-puluh panggilan tak terjawab. Nabila mengecek satu persatu pesan yang masuk, ada 2 nomor baru yang WhatsApp Nabila dan itu adalah Raga dan Diana. Raga dan Diana mengirim pesan berkali-kali untuk menjelaskan kejadian di kantor Adam. Yoga juga mengirim beberapa pesan.


“Mas.. Kemarin jadi ke sekolah Yoga untuk rapat wali murid nggak?” Tanya Nabila teringat Yoga.


“Jadi kok, cuman disuruh bayar apa lah lupa aku.” Jawab Adam.


“Syukurlah.”


“Dia kayaknya udah punya bangak temen kok Bil, kamu tenang aja.” Kata Adam.


Nabila mengangguk. “Baiklah.”


Setelah hampir 2 jam akhirnya sampai. Nabila langsung turun dari mobil menuju penjual Batagor kaki lima. Nabila memesan dua porsi. Nabila sangat menikmati Batagor itu, begitu juga dengan Adam. Butuh perjalanan hampir dua jam untuk sampai ke tempat penjual Batagor, tapi hanya butuh waktu 10 menit untuk memakannya.


“Mau nambah enggak?” Tanya Adam saat Nabila baru saja selesai memakan Batagor terakhir dipiringnya.


“Enggak, udah kenyang.” Jawab Nabila.


“Setelah ini kita pulang yaa?Raga, Diana sama Yoga pasti udah nunggu kamu.” Bujuk Adam.


“Oke. Mampir ke supermarket bentar yaa, mau beli daging sapi. Nanti malam kita barbeque an di rumah.”


“Dengan senang hati Tuan putri.” Setelah membayar Adam kembali melajukan mobilnya meninggalkan area penjual Batagor menuju kediamannya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2