
***
Adam mondar-mandir di depan ruang operasi begitu juga Abel.
Daniel merasa gemas sendiri melihat Abel yang ikut-ikutan Adam mondar-mandir. Lelaki itu akhirnya menarik lengan Abel.
“Apa?”
“Duduk.” Satu tangan Daniel menahan tangan Abel dan satu tangannya menepuk tempat duduk di sebelah nya.
Abel pun berjalan duduk di sebelah Daniel dengan menurut.
“Jangan bikin Adam tambah pusing sama kamu yang mondar-mandir, lebih baik kamu duduk anteng.” Tegas Daniel dan Abel mengangguk.
“Kamu serius mau jadi sponsor aku?”
“Hem, asal kamu anteng.”
Adam merebahkan dirinya di sebelah Abel. Ia mengusap wajahnya kasar sekalian mengusap air matanya.
“Kamu harus baik-baik saja sayang.” Gumam Adam.
“Bila sama adek pasti baik-baik saja, mas.” Abel menepuk pundak Adam pelan. Memberi semangat lelaki yang juga suami sahabatnya itu.
“Harus Bel, aku nggak akan bisa hidup tanpa mereka, Bel.” Tak dapat dihindari lagi air mata menetes di pipi Adam.
Ia tidak bisa berhenti merutuki kebodohannya sendiri, lebih mementingkan pekerjaan dari istrinya. Jika saja Adam tidak telat menjemput Nabila, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Nabila tidak akan melahirkan sebelum waktunya.
“Adam..” panggil mama Silfi dan ibu Putri bersamaan.
Mama Silfi dan ibu Putri memang di jadwalkan sampai di Jakarta sore ini. Hanya saja pesawat mereka sempat mundur beberapa jam, hingga akhirnya mereka berdua telat. Mama Silfi sedang berada di Jogja minggu lalu menghadiri pernikahan putri sahabatnya, itu sebabnya mama Silfi dan ibu Putri bisa barengan ke Jakarta.
Sementara bapak dan papa, serta kakek-kakek akan menyusul esok hari. Namun, setelah mengetahui keadaan Nabila. Bisa dipastikan mereka akan datang tengah malam ini.
“Mama, ibuk.” Adam bangkit dari duduknya dan langsung merangku kedua ibu nya itu.
“Ma, Buk, Adam takut Bila kenapa-napa.” Tangis Adam di pelukan kedua ibunya.
Serempak mama Silfi dan ibu Putri menepuk nepuk lembut punggung Adam.
“Bila dan anak kalian pasti baik-baik saja, Nak.” Tutur mama Silfi lembut.
“Iya mama kamu benar, le. Bila pasti baik-baik saja.” Ibu putri menimpali.
“Ini salah Adam, ma, buk. Maafin Adam, Adam gagal melindungi Nabila. Maafin Adam buk.” Penyesalan masih memenuhi kepala Adam.
“Tidak ada yang salah disini, le. Ini sudah takdir, dari pada menyalahkan diri sendiri lebih baik kamu berdoa, Le. Berdoa untuk keselamatan Nabila dan cucu ibuk.” Tutur Bu Putri lembut.
Pintu ruang operasi di buka.
“Tuan Adam!” Suster memanggil.
“Iya, saya sus.” Adam melepas peluknya dari mama dan ibu putri lalu menoleh pada suster.
“Nyonya Nabila ingin bertemu tuan, mari Silahkan masuk!” Ucap suster.
Dengan langkah panjang Adam mendekati suster. Ia memakai baju steril dan mendekat pada Nabila yang masih lemah. Dilihat dari perut Nabila yang sudah kempes sepertinya bayinya sudah lahir.
“Sayang..” lirih Adam menghampiri Nabila. Lelaki itu langsung menggenggam lembut tangan Nabila.
“Mas, kamu kok kacau kayak gini kamu kenapa?” Tanya Nabila melihat Adam yang kacau. Matanya sembab dan sayu.
“Aku nggak papa, kamu gimana?Anak kita?” Tanya Adam ragu tidak melihat anak mereka.
Ia akan menerima apapun dengan ikhlas jika ternyata anak mereka tidak bisa diselamatkan apalagi melihat betapa banyaknya darah yang di keluarkan Nabila. Yang penting baginya Nabila selamat, ia bisa membuat anak kapanpun.
__ADS_1
“Bila nggak papa, mas. Anak-anak kita baik-baik saja.” Jawab Nabila.
“Anak-anak kita?” Adam mengernyit heran.
“Anak kita ternyata kembar, mas. Kembar cowok semua.” Ucap Nabila berbinar.
“Hah?”
“Itu, kamu adzan in mas.” Nabila menunjuk dua suster yang membawa bayi-bayi mungil yang baru saja dibersihkan.
“Ini anak-anak kita, Sayang?” Adam menatap dua bayi mungil di gendongan suster dengan haru.
“Iya, mas.”
Adam mengumandangkan adzan pertama kali untuk kedua putranya.
“Terimakasih sayang, Terimakasih untuk perjuanganmu.” Tak henti Adam menciumi puncak kepala Nabila.
Ia juga selalu mengucap rasa syukur pada Tuhan yang maha esa atas berkah yang luar biasa ini. Dimana ia dan Nabila di beri kepercayaan oleh Tuhan dengan menjaga dua orang anak sekaligus.
“Loh, mereka mau bawa kemana anak-anakku, Bil?” Melihat suster menjauh dengan membawa kedua putranya.
“Adek akan di letakan di inkubator mas, apalagi mereka tergolong lahir prematur.” Jawab Nabila.
“Maaf.” Ucap Adam menunduk.
“Maaf untuk apa mas?”
“Karna kelalaianku mereka harus lahir sebelum waktunya.” Ucap Adam sendu.
“Tidak papa mas, yang penting mereka lahir dengan sehat, aku juga selamat dan sehat.” Nabila membelai pipi suaminya meyakinkan Adam bawah dirinya dan kedua anak nya baik-baik saja.
“Aku bahagia, sayang. Terimakasih memberiku kesempatan untuk menjadi ayah dari dua anak sekaligus.” Tutur Adam.
“Aku juga mencintaimu, mas.”
***
Tujuh pasang mata sedang mengamati dua inkubator bayi dari kejauhan tepatnya di luar ruangan bayi yang berdinding kaca.
“Kapan kita bisa lihat mereka?” Keluh kakek Tejo dan Trisno sudah tidak sabar melihat cicit mereka.
“Sabar pak.” Ucap mama Silfi dan ibu Putri.
“Huh, apa lihat lebih dekat tidak boleh?” Tanya Tejo lagi yang diangguki Trisno.
“Mbok kamu tanya sama suster to buk, bapak juga pengen lihat cucu-cucu bapak. Mau sampai kapan kita berdiri disini?” Ujar bapak Hendra pada Bu Putri.
“Mbok ya kamu tu sabar to pak, bukan cuma bapak yang mau lihat cucu-cucu, ibuk juga mau lihat.” Balas Bu Putri kesal dengan suaminya. Sudah pusing dengan keluhan para kakek, ini suaminya malah ikut-ikutan.
“Papa mau kemana?” Tanya mama Silfi melihat suaminya melangkahkan kakinya.
“Papa mau ketemu direktur rumah sakit ini, biar diizinkan ketemu cucu-cucu papa. Masak iya opa nya sendiri nggak boleh lihat, papa mau bikin perhitungan sama mereka.” Ujar papa Wisnu meninggalkan mereka. Sementara Pak Hendra dan ibuk Putri melongo mendengar perkataan besannya.
“Kamu benar Wisnu, cepat bikin perhitungan sama direkturnya. Enak aja kakek nggak boleh lihat cicit-cicit kakek.” Kesal Trisno mendukung Wisnu.
Mama Silfi geleng-geleng kepala melihat kelakuan suami dan mertuanya.
Akhirnya mereka semua di izinkan bertemu cicit dan cucu mereka.
“Jagoan semua kata Adam.” Ucap Tedjo kagum dengan bayi-bayi mungil yang sedang terlelap dalam mimpi.
“Wah langsung dua pewaris nggak perlu rebutan.” Sahut Trisno. Hendra dan Wisnu mengangguk setuju.
“Selamat Jeng, akhirnya jadi oma.” Ucap Putri pada Silfi.
__ADS_1
“Selamat juga Jeng, akhirnya di panggil yangti.” Mama Silfi semangat langsung memeluk Putri.
“Jadi, Oma, opa, yangkung dan yangti?” Tanya Trisno. Keempatnya pun mengangguk.
“Bagus sekali, siapkan pesta penyambutan.” Ujar Tedjo semangat.
***
Abel menarik-narik lengan Daniel untuk melihat baby. Ia sudah tidak sabar melihatnya, dari tadi Abel harus menunggu giliran untuk melihat baby.
Abel dan Daniel pun masuk ke ruang Bayi dan menuju bayi kembar laki-laki yang baru saja di lahirkan Nabila.
“Aaa.. gemoy, aku juga mau.” Ucap Abel kagum. Ia ingin menggendong tapi tidak di perbolehkan suster. Hanya bisa melihat bayi kembar yang berada di dalam box inkubator itu.
“Daniel, Daniel lihat!” Menunjuk bayi-bayi kembar itu dengan tangan satunya menarik-narik jas Daniel.
“Kamu pengen?” Tanya Daniel dan Abel pun mengangguk polos.
“Aku bisa buatkan satu.” Bisik Daniel di telinga Abel yang seketika membuat wajah Abel memerah.
“Jangan ngaco kamu.” Mencubit lengan Daniel.
“Aww, sakit Bel.” Daniel meringis.
Drtt..Drtt.. ponsel Abel berdering. Ia pun mengajak Daniel keluar dari ruangan bayi.
“Hallo, Bar. Gimana?”
“...” Sahut akbar.
“Oh, Oke. Iya, iya, jaga kesehatan ya, Bar. Miss u too!” Abel pun mengakhiri panggilan telepon dari Akbar.
“Siapa?” Tanya Daniel.
“Temen.” Jawab Abel tiba-tiba terhuyung. Untung saja Daniel sigap menahan Abel.
“Kamu kenapa?” Daniel yang tadi marah pun berubah khawatir.
“Aku pusing, antar aku pulang!” Pintanya pada Daniel.
.
.
.
End.. Musim pertama.
Akan langsung dilanjut musim kedua dengan cerita Abel dan Daniel.
Untuk ekstra Chapter Adam dan Nabila akan masuk ke cerita Daniel dan Abel. Nyempil-nyempil di sana.
Finally, Aku ucapkan Terimakasih Teruntuk para pembaca yang sudah membaca kisah Nabila dan Adam dari awal cerita sampai bab ini.
Jujur banged, Aku nggak ada BASIC nulis sama sekali. Awalnya Lita nulis untuk membunuh waktu, juga membahagiakan diri sendiri pas lagi galau.
Pas pertama kalinya dapat komentar positif dari pembaca, aku nggak bisa ungkapin seberapa bahagianya aku. Merasa tulisan aku yang masih acak-acakan itu di hargai oleh orang lain, bahkan di beri Komen positif itu bener-bener membuat aku jadi semangat.
Aku terharu banged sama kalian yang mau membaca tulisanku yang masih berantakan ini. Aku senang baca komentar-komentar kalian entah itu Komen positif maupun negativ. Aku juga suka sama kalian yang mau ikut campur sama alur cerita meskipun akhirnya tetep aku yang mutusin alur ceritanya hehe.
Aku bukannya nggak mau ngikutin alur sesuai saran kalian. Tapi sebelum nulis aku udah tetapin out line nya. Kalau aku di tengah jalan tiba-tiba rubah alur cerita maka yang ada ceritanya jadi kacau balau, aku bisa pusing sendiri.
Aku tanpa kalian hanyalah butiran pasir pantai Baron.
🙏🙏
__ADS_1