
Antrean tiket masuk gembira loka zoo cukup panjang hari ini. Abel harus extra sabar menunggu gilirannya. Usai mendapatkan dua tiket masuk, ia dan Daniel pun langsung berkeliling di kebun binatang itu.
Salah satu tempat yang sering digunakan untuk rekreasi keluarga dan rekreasi anak-anak TK. Disana banyak macam binatang. Cukup lengkap, dari yang hidup diair sampai yang bisa terbang.
Abel berjalan dengan semangat, sesekali ia memotret binatang yang ia lewati dengan kamera ponselnya.
“Jika tau akan kesini aku pasti bawa Dslr.” Gumam Abel.
Diam-diam Daniel mendengar gumaman Abel. “Apa perlu aku beli dulu?” Tanya Daniel.
“Hah?”
“Aku belikan Dslr jika kau suka memotret.” Ucap Daniel.
Terus maksud dia mau keluar beli Dslr terus balik lagi kesini, beli tiket lagi gitu?Namanya pemborosan. Batin Abel.
Abel menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu, pakai Hp juga bisa kok.” Ucap Abel. Daniel manggut-manggut.
Mereka sampai di depan kandang orang hutan. Abel berhenti sejenak untuk memandanginya dan memotret.
“Apa kau mau foto dengan kembaranmu?” Tanya Daniel sedikit berbisik di telinga Abel.
Perempuan itu kaget dan menoleh, hampir saja mereka berciuman hanya tinggal beberapa cm bibir mereka menyatu. Reflek Abel berjalan mundur menjauh dari Daniel, namun ia malah tersandung batu kecil, dengan sigap Daniel pun menahan tubuh Abel dengan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Abel.
“Hati-hati Abel, kau ceroboh sekali.” Ucao Daniel seraya membantu Abel berdiri tegap.
Deg..
Deg..
Jantung ih jantung nggak ada akhlak, jam segini udah diskonan aja. Kalau party malem aja woy, ini masih pagi udah jedag jedug aja. Batin Abel meneriaki jantungnya yang berdetak tak karuan.
“Bel..”
“Eh..iya, iya..” Abel salah tingkah sendiri dan memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tak bersitatap dengan Daniel. Lalu ia pun teringat ucapan Daniel tentang kembaran Abel.
Perempuan itu menoleh dengan kesal. “Kamu bilang itu kembaranku?” Daniel menangguk. “Memang benar, kan?”
Puk..satu timpukan lembut mendarat di bahu Daniel. “Sembarangan, cantik gini kamu kembarim sama orang hutan, aku gak terima.” Cebik Abel mengerucutkan bibirnya.
“Tapi, kalian mirip lho.” Goda Daniel.
“Aaaaaaa...Nggak mirip.” Kesal Abel sambil menghentakkan kakinya. “Pokoknya nggak mirip ya nggak mirip.”
Astaga gemasnya. Batin Daniel.
“Iya..iya nggak mirip, aku yang salah lihat.” Gemas Daniel menarik hidung Abel.
__ADS_1
“Jangan pencet hidungku.” Cebik perempuan itu lagi.
“Ayo lanjut jalan.” Ajak Daniel.
Melewati buaya, kandang burung, kandang singa dan harimau, kandang ular.
“Aku pengen naik itu!” Menunjuk gajah. Daniel melihat ke arah telunjuk Abel. Ada seorang remaja tengah naik ke atas gajah.
“Nggak, kasian gajahnya.”
“Daniellllll...” rengek Abel.
“Nanti kalau jatuh gimana?Keamanan nya nggak meyakinkan.” Ujar Daniel mencoba memberi pengertian mengapa ia melarang Abel naik gajah.
“Tapi aku pengen naik, pasti aman. Danielll...” rengeknya lagi.. “ya, ya, ya?Sekali saja..please.” Serangan memelas dari Abel. Jika begini Daniel bisa apa selain mengizinkan.
“Huft.” Menghela nafas, dan akhirnya mengizinkan. “Oke, aku tanya keamanannya dulu, kalau bisa dipastikan aman kamu baru boleh naik.” Tutur Daniel lembut. Abel menganggukkan kepalanya dengan berbinar.
Mengusap rambut kepala Abel dengan lembut. “Dasar kalau ada maunya.” Gumam Daniel seraya menuju ke pelatih atau petugas yang mengurusi gajah.
Setelah menunggu giliran akhirnya Abel bisa naik ke punggung gajah. Ia sangat bersemangat, ini, kan, pertama kalinya ia naik gajah. Tentu saja Abel akan mengabadikan moment ini.
“Nanti kamu foto aku yah, pakai ponsel kamu. Terus kayak candid-candid gitu yang bagus, dari samping yang banyak. Soalnya hidung aku mancung kalau dari samping.” Cerocos Abel sebelum naik ke atas gajah. Daniel hanya manggut-manggut. Lelaki itu lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam waist bag siap memotret Abel.
“Hati-hati jangan banyak gerak pas diatas, jangan sampai gajahnya marah terus nge lempar kamu!” Tutur Daniel mengingatkan.
Aku seperti sedang menjaga anak TK. Gumam Daniel melihat Abel yang sudah menaiki gajah lalu melambai-lambai padanya.
“Iya, ini aku foto.” Ucap Daniel sedikit berteriak. Abel memintanya untuk mulai memotret dirinya di atas gajah.
Cekrek ..
Cekrek..
Cekrek ... banyak gaya yang sudah di potret oleh Daniel. Sepertinya sudah cukup, hingga sang pemilik foto akan kesulitan untuk memilihnya.
Usai naik gajah, Daniel melanjutkan berkeliling. Lalu ia melihat perahu bebek. Cukup lama Abel memandangi perahu bebek itu.
“Em, Daniel...” ucap Abel ragu-ragu.
“Nggak boleh!” Tegas Daniel seakan tau apa yang akan Abel minta.
“Sebentar aja, satu puteran.” Pinta perempuan itu.
“Nggak Abel, naik yang lain saja!” Kali ini Daniel tidak mau dibantah. Abel pun mengalah, meskipun sebenarnya ia sangat ingin naik perahu bebek yang dijalankan dengan pedal seperti naik sepeda itu.
Abel memilih melanjutkan berkelilingnya sembari cemberut dan mendiamkan Daniel.
__ADS_1
Daniel sendiri merasa Abel sedang merajuk. “Lain kali aku ajak naik perahu bebek yang lebih bagus, kamu nggak lihat tadi ada yang macet di tengah jalan. Perahu bebek yang tadi sudah tua.” Tutur Daniel lembut.
“Jangan ngambek lagi.” Membujuk gadis yang saat ini masih merajuk itu.
“Janji ya..” Abel mengangkat jari kelingkingnya.
“Iyaa,, janji.” Mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Abel.
***
pukul 11:00 Abel dan Daniel keluar dari gembira loka zoo. Lebih dari dua jam mereka di kebun binatang. Di dalam kebun binatang Abel sudah mendapat ratusan foto yang disimpan di ponsel Daniel. Karna Daniel lebih sering memotret Abel dengan ponselnya.
Daniel melajukan mobilnya menuju Ambarukmo Plaza atau Mall yang kerap disebut amplaz. Usai memarkir mobilnya di basement, keduanya pun masuk ke Mall.
Mereka akan membeli baju ganti. Karena memang Abel dan Daniel hanya membawa baju ganti satu stel saja.
Abel lebih dulu menemani Daniel belanja pakaiannya. Setelah itu baru Daniel menemani Abel belanja.
Abel menolak keras saat Daniel akan membayar barang belanjaannya. Mereka bahkan berdebat cukup lama di depan kasir. Sampai akhinya Daniel mengalah dan membiarkan Abel membayar sendiri barang belanjaannya.
Baru kali ini ada perempuan nolak gue bayarin belanjaannya. Biasanya mereka akan senang, bahkan beberapa kalap dalam berbelanja. Batin Daniel.
“Mau kemana lagi?” Tanya Daniel seraya menenteng dua paperbag berisi barang belanjaannya dan Abel.
“Makan siang dulu, terus ke Jogja city Mall.” Daniel mengangguk.
“Mau makan disini atau diluar?” Tanya Daniel lagi.
“Disini aja deh, hemat waktu.”
Pun, Abel mengajak Daniel menuju food court. Mereka makan siang mengisi energi sebelum melanjutkan berkeliling.
“Aku mau boba, kamu mau nggak?” Tanya Abel dan Daniel menggeleng.
Gila aja gue minum boba kayak ABG.
“Yaudah aku beli sendiri, padahal enak.” Gumam Abel seraya menuju stan boba di Mall itu.
Abel membeli dua varian rasa brown sugar dan red vel-vet. Lalu ia membeli donat Jco salah satu donat yang paling diminati di beberapa Mall Jogja. Abel membeli donat itu setengah lusin berisi 6 biji.
Sambil menenteng kresek berisi boba dan donat J-Co, Abel menghampiri Daniel yang masih menunggu di food court.
“Ayo!” Ajak Abel. Daniel beranjak berdiri mengikuti Abel meninggalkan amplaz.
.
.
__ADS_1
.