Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Pertengkaran hebat II


__ADS_3

“Shit..” pekik Daniel menoleh pada Abel. Bagaimana Abel bisa memiliki video ini. Batin Daniel.


“Sayang,, aku bisa jelaskan.” Menahan lengan Abel, lelaki itu tidak mau Abel kabur sebelum mendengar penjelasannya.


Abel hanya mengangguk sambil menahan cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya agar tidak terjun bebas ke pipi nya.


“Dengarkan aku sampai selesai, aku mohon jangan menyelanya sebelum aku menyelesaikan perkataanku.” Abel hanya mengangguk lagi mendengar ucapan Daniel.


“Aku di jodohkan oleh kakekku, kakek menjodohkan ku dengan cucu sahabatnya.” Ucap Daniel. Gemuruh badai mulai terdengar di hati Abel.


Daniel pun mulai menceritakan perihal perjodohannya pada Abel dengan hati-hati, ia juga menceritakan tentang kontrak pernikahan yang Daniel buat dan sudah di sepakati oleh calon tunangan pilihan kakeknya. Namun, Daniel tidak mengatakan nama calon tunangannya.


“Jadi, kau tidak berencana mengatakan semuanya padaku?” Tanya Abel.


“Maaf, aku tidak berani jujur padamu. Aku takut kehilanganmu, aku mencintaimu Abel. Aku sangat mencintaimu.” Ujar Daniel serius.


Abel tertawa getir mendengar kata cinta dari lelaki yang sebentar lagi menjadi tunangan wanita lain, bahkan sebulan lagi menjadi suami wanita lain.


“Kau mencintaiku?” Daniel mengangguk. “Lalu bagiamana dengan perempuan itu, calon istri pilihan kakekmu?” Rasanya Abel tidak sanggup mengatakan calon istri dengan bibirnya.


“Aku tidak mencintainya, dia tidak berarti apa-apa untukku. Aku dan dia hanya menikah kontrak, aku akan menceraikannya setelah setahun. Aku tidak akan menyentuhnya, Abel.” Jawab Daniel.


“Apa kau akan mengatakan tentang kontrak pernikahan itu pada kakekmu dan kakeknya?” Tanya Abel sinis.


“Mana mungkin, kontrak pernikahan itu rahasia antara aku dan dia.”


Lagi-lagi Abel tertawa getir. “Lalu kau akan membohongi para tetua karena keegoisanmu?”


“Mereka yang lebih dulu memulainya.” Jawab Daniel enteng. Abel menggelengkan kepalanya.


Abel pun bangkit berdiri seraya meremas tas nya. “Terimakasih, aku sudah cukup tau siapa dirimu. Ku rasa hubungan kita sampai disini saja.” Ucap Abel tegas.


“Tidak!!” Daniel menahan lengan Abel. “Aku mohon sayang, jangan!!Aku tidak bisa berpisah denganmu!” Pinta Daniel ikut bediri di hadapan Abel.


“Lalu, apa kau bisa menolak permintaan kakekmu?”


Daniel diam, lelaki itu tau ia tidak bisa menjawab pertanyaan Abel. Lebih tepatnya tidak bisa menolak perjodohan yang sudah di atur kakeknya.


“Tidak bisa, kan?” Abel tersenyum getir lagi. Ia sudah cukup lama menahan air matanya, secepat mungkin Abel harus keluar dari ruangan Daniel. Abel tidak mau terlihat lemah di hadapan Daniel.


“Maka lepaskan aku!” Tegas Abel menepis tangan Daniel. Perempuan itu berlari secepat mungkin meninggalkan Daniel.


Melepaskan Abel? Daniel mematung sesaat sampai kesadarannya pulih kembali. Ia pun mengejar Abel namun di depan ruangannya Arin menghentikan Daniel. Ia mendapat tamu penting yang sudah janjian dengan Daniel.


Terpaksa Daniel menemui tamunya dan tidak mengejar Abel.


***


Abel pulang ke apartemen nya. Sampai di apartemen perempuan itu menumpahkan kekesalan pada boneka beruangnya. Ia memukul bahkan membanting boneka beruang itu seolah-olah boneka itu adalah Daniel. Sambil menangis Abel melakukan semua itu hingga ia kelelahan dan tertidur.


***


Pertemuan Daniel dengan klien nya berjalan lebih lama dari perkiraan. Lelaki itu langsung meminta bantuan Wu bai untuk mencari tahu dimana keberadaan Abel.


Dia di apartemen nya sejak siang tadi. Satu pesan masuk dari Wu bai.


Tanpa menunggu lama Daniel langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Abel. Saat di basement Daniel melihat mobil Abel terparkir, seulas senyum tipis mengembang di bibirnya. Setidaknya Abel aman di dalam apartemen dari pada Abel keluyuran dengan membawa amarahnya.


Lelaki itu menekan kode sandi apartemen Abel dengan harap-harap cemas. Berharap Abel belum mengganti kode sandi apartemennya.


Klik.. pintu terbuka. Daniel masuk ke dalam apartemen Abel yang gelap, ia pun menghidupkan lampu ruang tamu. Tidak ada Abel di ruang tamu hanya ada buku-buku dan laptop di meja sofa.


Daniel berjalan ke arah kamar Abel dan membuka pintunya pelan, beruntung pintu itu tidak terkunci. Ia bisa melihat Abel meringkuk di atas tempat tidur dengan posisi meninju beruang sementara tisu berceceran di mana-mana, tisu yang sepertinya digunakan Abel untuk mengelap ingusnya saat menangis.


Perlahan Daniel menghampiri Abel dan duduk di tepi tempat tidur. Abel yang terlelap dengan mata membengkak membuat hati Daniel perih. Lelaki itu menyelipkan beberapa sulur anak rambut Abel yang menutupi sebagian wajahnya ke belakang telinga, ia mengelus pipi Abel dengan lembut. Lalu mengecup pipi nya. “Maaf kan aku sayang.” Ucapnya lirih di telinga Abel. Perempuan itu hanya menggeliat pelan namun tidak terbangun.


Daniel lalu berjalan ke arah sofa dan merebahkan dirinya di sana. Ia juga merasa lelah hari ini, tanpa ia sadari ia pun terlelap.


Sekitar pukul sepuluh malam Abel terbangun. Ia mengucek mata nya berulang-ulang saat mendapati Daniel tergelak di sofa. Lelaki itu tertidur dengan pulas.


Abel turun dari tempat tidur lalu menghampiri Daniel. Ia bisa melihat wajah lelah lelaki itu, Abel jadi tidak tega untuk membangunkannya. Abel melewati Daniel berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Daniel terbangun beberapa saat setelah Abel masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu langsung bangkit dan panik saat melihat tempat tidur Abel kosong, perempuan itu tidak ada di kamar. Namun, sejurus kemudian Daniel mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia yakin Abel tengah membersihkan diri.


Daniel memilih keluar dari kamar Abel. Ia memesan makan malam untuk mereka berdua. Sambil menunggu Abel selesai mandi.


***


“Makanlah dulu, kita bicara setelah makan.” Ucap Daniel pada Abel. Abel hanya diam dan menerima piring berisi nasi goreng dari Daniel.


Perempuan itu menelan nasi gorengnya dengan susah payah begitu juga Daniel. Sambil makan keduanya nampak terdiam, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.


“Biar aku yang cuci piring, kau tunggu saja di ruang tamu.” Titah Abel pada Daniel. Tidak mau Abel semakin marah padanya, Daniel pun menurut, ia menuju ruang tamu dan duduk di sofa.


**


“Aku tetap pada keputusanku!” Tegas Abel.


“Sayang...” bujuk Daniel memelas. Abel tak bergeming.


Daniel memposisikan dirinya dengan bersimpuh di hadapan Abel yang duduk di sofa ruang tamu. Lelaki itu menggenggam erat keruang tangan Abel seraya menunduk.


Andai Daniel bisa memutar waktu ia akan menolak perjodohan itu dengan tegas, lebih baik menyerahkan seluruh harta nenek dan kakek nya untuk pihak Defan dari pada melepas Abel, toh ia masih bisa menghidupi kakeknya. Tapi sekarang, Nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi, Abel nya meminta berpisah?


Bagaimana aku bisa Melepasmu, Abel?


Lelaki itu meneteskan air matanya, untuk kedua kali nya lelaki itu meneteskan air mata di dalam hidupnya. Pertama saat kematian sang ibu dan sekarang saat gadis yang dicintainya meminta berpisah.


“Aku salah Abel, aku minta maaf.” Menangis dengan menundukkan kepalanya di pangkuan Abel.


“Kamu tau apa salahmu?”


“Aku menerima perjodohan itu.” Jawab Daniel. Abel menggeleng, bukan itu salah Daniel di mata Abel.


“Bukan itu kesalahanmu, kamu tidak jujur padaku sejak awal rencana perjodohan itu di atur. Jika saja kamu jujur mungkin aku akan menemui kakek mu, aku akan mencoba memperjuangkan hubungan kita, memohon pada kakek mu untuk membatalkan perjodohan mu sebelum pertemuan antara dua keluarga terjadi!” Ucap Abel tenang. Ia menahan air matanya untuk tidak jatuh dengan susah payah.


Daniel mendongak seperti ada harapan untuk mempertahankan hubungannya dengan Abel. “Ayo lakukan sekarang, ayo kita temui kakek ku dan batalkan pertunanganku!” Ucap Daniel serius, lelaki itu bangkit berdiri namun Abel menahannya, perempuan itu lagi-lagi menggeleng.


“Tidak, Daniel.”


Abel mengelus-elus kepala Daniel. “Aku tidak mau menghancurkan harapan dua keluarga, sekarang keluargamu dan keluarga calon tunanganmu itu pasti sedang bahagia, mereka mempersiapkan acara pertunanganmu dengan sepenuh hati, jika aku datang, aku akan mengacaukan semuanya. Aku tidak mau, Daniel. Aku tidak mau menjadi perempuan egois dan jahat. Aku tidak mau melukai hati kakekmu dan hati keluarga calon tunanganmu hanya karena keegoisanku.” Tutur Abel lembut.


“Justru mereka yang jahat, mereka yang memisahkan kita.” Kekeuh Daniel.


Lagi-lagi Abel menggelengkan kepalanya. “Kita mungkin tidak di takdirkan bersama, Daniel. Mari berpisah untuk kebahagiaan semua orang!” Kata-kata itu lolos dari bibir Abel dengan susah payah bersama luruhnya cairan bening dari pelupuk mata Abel.


“Jangan bicara seperti itu, sayang.. Aku mohon, aku yakin kamu takdirku.”


“Cukup Daniel, lebih baik kamu kembali. Keputusanku sudah bulat. Kita berpisah, kamu jalani pertunanganmu dengan Ikhlas, begitu pun aku, aku akan mencoba mengikhlaskan mu.” Abel mendorong Daniel lalu bangkit berdiri meninggalkan lelaki itu menuju kamarnya.


Daniel langsung mengejar Abel namun telat, Abel sudah mengunci pintu kamarnya. Tak tinggal diam, Daniel menggedor-gedor pintu kamar Abel memohon pada perempuan itu untuk membuka pintu kamarnya.


Pulanglah.


Satu pesan masuk di ponsel Daniel yang dikirim Abel.


Daniel menghela nafas panjang. “Baiklah, aku akan pulang, tapi, bukan berarti aku menerima keputusanmu. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku akan kembali saat kau sudah lebih tenang, aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu, Isabella Anastasia!” Ucap Daniel lembut. Daniel yakin Abel berada di balik pintu, dan mendengar semua yang di ucapkan oleh Daniel.


Usai Daniel pergi, Abel memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia akan menginap sementara di rumah papa Damar untuk menghindari Daniel. Jika Abel tetap berada di apartemen Daniel pasti akan menemuinya terus menerus.


Dengan membawa tas ransel berisi laptop dan buku-buku, Abel pulang ke rumah papa Damar.


Dua puluh menit perjalanan Abel sampai dirumah papa Damar. Semua anggota keluarga sudah tidur, apalagi sudah hampir pukul dua belas malam. Abel pun langsung masuk ke kamarnya dan istirahat.


***


Sepulang dari apartemen Abel, Daniel pergi ke rumahnya. Kakeknya sudah sampai di Indonesia pagi tadi. Ia akan protes pada kakek Han untuk membatalkan pertunangannya dengan Caca.


Aku tidak bisa kehilangan Abel!


“Kakek!!!” Teriak Daniel begitu memasuki rumahnya. “Kakek!”


“Ada apa tuan, muda?” John yang mendengar teriakan Daniel langsung masuk ke dalam rumah. Ia sudah merasakan gelagat aneh dari tuan mudanya.

__ADS_1


“Dimana kakek?”


“Ada apa, Niel?Kenapa kau teriak-teriak?” Kakek Han tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Beliau baru saja dari taman belakang. Menikmati angin malam meskipun sudah hampir tengah malam.


“Aku ingin membatalkan pertunangan ku dengan Caca!”


Kakek Han melotot pada Daniel seraya menghentakkan tongkat nya. “Tidak bisa!”


“Terserah aku tidak meminta persetujuan, setuju atau tidak aku tetap akan membatalkan pertunanganku dengan Caca!” Tegas Daniel berlalu meninggalkan kakek.


Kakek Han akan mengejar Daniel namun beliau merasakan nyeri di dada nya, beliau memegangi dadanya dengan tangan nya lalu tak sadarkan diri.


“Tuan besar.” Pekik John melihat kakek Han tak sadarkan diri. John langsung berlari ke arah kakek Han.


Daniel menoleh, lelaki itu berdecak lalu membalik tubuhnya menghampiri kakek Han. “Sudahlah, kek. Jangan berakting lagi, aku tidak akan tertipu.” Ujar Daniel yang sudah terbiasa dengan tipu daya kakek.


“Tuan besar tidak berakting, tuan muda. Beliau pingsan.” John memeriksa denyut nadi kakek Han. Daniel terkesiap, ia pun ikut memeriksa Kakek.


Shit..


“Kita bawa kakek ke rumah sakit.”


Daniel mondar mandir di depan ruang UGD menunggu dokter yang sedang memeriksa Kakek Han.


“Bagiamana dengan kakek saya, Dok?”


“Beliau terkena serangan jantung, untung saja segara di bawa kemari. Jika tidak bisa berakibat fatal.” Tutur dokter itu. “Untuk sekarang kondisi beliau sudah stabil, sementara jangan biarkan beliau stres ataupun mendengar berita yang bisa memperburuk penyakitnya.” Lanjut Dokter itu. Daniel mengangguk dan berterima kasih pada dokter itu.


Ia dengan telaten menunggui kakek yang sudah di pindang kan ke ruang rawat inap.


***


Pagi harinya papa Damar dan mama Lila bangun pagi untuk jogging, mereka melihat mobil si bungsu di prakiraan.


“Kapan Abel pulang, ma?Sepertinya sebelum kita tidur belum ada nongol?” Tanya papa Damar.


“Mungkin malam.” Jawab mama Lila.


“Caca tidak pulang, Abel pulang. Kapan dia anak itu terlihat dirumah semua.” Gumam papa Damar.


Papa Damar dan mama Lila keluar dari gerbang rumahnya untuk jogging di sekitar an komplek.


**


Papa Damar sudah siap berangkat ke kantor, ia sedang di ruang makan untuk sarapan bersama mama Lila.


“Abel belum bangun, ma?” Mama Lila menggeleng, “Mama mau bangunin tapi kamarnya di kunci, pa.” Jawab mama Lila.


Beberapa waktu yang lalu mama Lila pergi ke kamar Abel untuk membangunkan putri bungsunya, namun ternyata kamar Abel dikunci. Mama Lila sudah memanggil Abel beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar Abel.


“Ya sudah, biarkan saja. Nanti jangan lupa kasih tau lusa adalah acara pertunangan Caca, jadi, biar Abel menginap sampai hari itu. Mama Lila pun mengangguk.


*


“Siapa pa?” Tanya mama Lila.


Papa Damar baru saja mendapat telepon, raut wajahnya berubah setelah mendapat telepon itu.


“Bapak, ma. Bapak bilang, Paman Han masuk rumah sakit karena serangan jantung. Bapak menunda acara pertunangan Caca dan Daniel.” Ucap papa Damar.


“Kenapa paman Han bisa terkena serangan jantung, pa?bukannya kemarin baik-baik saja saat telepon nan dengan bapak.” Mama Lila khawatir, ia sudah menganggap kakek Han seperti ayahnya sindiri.


“Entahlah, ma. Papa akan ke kantor sebentar lalu kerumah sakit, bapak juga sudah mengatur penerbangan ke Jakarta. Mama duluan saja ke rumah sakit minta antar Abel.” Ucap papa Damar. Mama Lila mengangguk.


.


.


.


.

__ADS_1


Guys ini udah 2000 kata lebih ya, kasian dong sama aku kasih Vote. Sekali-kali aku mau maksa deh..


__ADS_2