Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Pertengkaran kecil


__ADS_3

Abel dan Daniel akan pergi ke rumah Raka, bos sekaligus sahabat Daniel. Abel sendiri akan menemui Ayu istri Raka dan memberikan oleh-oleh untuk si kembar Jessi dan Jordan.


Abel sudah menunggu Daniel menjemputnya, ia menunggu di depan pos satpam gedung apartemennya agar saat Daniel tiba mereka bisa langsung jalan tanpa perlu Daniel naik ke unit apartemen Abel.


Suasana jalanan kota Jakarta sore itu lumayan lenggang mungkin karena habis hujan jadi masyarakat malas keluar rumah. Di sepanjang perjalanan Abel dan Daniel mengobrol, banyak hal yang Abel ceritakan pada Daniel.


Sampai di kediaman Raka, keduanya di sambut dengan baik. Raka langsung mengajak Daniel menuju ruang kerjanya, sementara Abel langsung di kuasai oleh si kembar Jessi dan Jordan. Abel sendiri menghabiskan waktu di taman belakang bersama si kembar dan Ayu.


Abel memang dekat dengan si kembar Jessi, Jordan, apalagi Jessi, gadis kecil itu sering main bersama Abel. Jessi bahkan antusias mendengar cerita Abel yang baru pulang liburan dari Jogja. Jessi sendiri pernah pergi ke Jogja karna yangti dan yangkung nya tinggal di Jogja. Namun, Jessi belum sempat liburan disana.


“Nanti kalau aunty liburan lagi aunty ajak Jessi kesana.” Ucap Abel membujuk Jessi yang tiba-tiba merajuk minta liburan ke Jogja.


Jessi mendongak pada Abel. “Jangan bohong ya, aunty.”


“Iya sayang.” Dengan mengelus puncak kepala gadis kecil itu.


Sepertinya kisah asmara Abel dan Daniel bukan rahasia lagi, apalagi dari sikap Ayu yang bertanya-tanya kapan mereka akan menuju hubungan yang lebih serius. Abel hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayu dengan ‘Doa’kan saja ya mbak.’ ,karena Abel sendiri pun belum tau bagaiamana hubungannya dengan Daniel ke depannya.


Abel memang menyukai Daniel dan mau menjalin hubungan yang lebih serius dengan Daniel, tapi, ia tidak tau bagaimana perasaan Daniel padanya. Meskipun Daniel selalu mengatakan sayang, tapi belum tentu Daniel mau menghabiskan seluruh hidupnya bersama Abel.


***


Di ruang kerja Raka.. Raka menyerahkan amplop berisi foto-foto keluarga Daniel, yang tidak lain adalah kakeknya.


“Lihat ini.” Daniel menerima amplop coklat itu dan memeriksanya. Ia melihat satu persatu foto dan informasi yang ada di dalam amplop coklat itu.


Lelaki itu menghela nafas kasar. “Sudah ku duga.” Ucap Daniel.


“Kau yakin tidak akan pulang?” Pertanyaan yang selalu Raka tanyakan padanya akhir-akhir ini. “Aku tidak tau, aku belum memikirkannya.” Daniel enggan untuk pulang dan bertemu kakek nya.


“Sebaiknya kau pulang, dari pada menyesal di kemudian hari.” Raka tidak mau salah satu sahabatnya di rundung penyesalan di kemudian hari hanya karna tidak bisa mengendalikan ego nya.


“Akan ku pikirkan.” Daniel memasukan kembali foto-foto yang ia pegang ke dalam amplop coklat itu.


“Kau harus tau kesehatan kakekmu menurun drastis, beliau bahkan mengirim asisten pribadinya untuk menemui ku. Kau tau apa artinya, kan?” Raka tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Lelaki itu yakin Daniel sudah paham dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


Jika kakek Han sudah mengutus asisten pribadinya, berarti keadaan kakek genting dan mengharuskan segala cara untuk membuat Daniel pulang. Daniel juga bisa menebak apa yang terjadi pasti masalah perusahaan kakek yang membutuhkan penerus segera.


“Kakek mu sakit, beliau disana tanpa keluarga yang bisa beliau percaya, tidakkah kau mengkhawatirkan nya?” Lagi-lagi Raka mencoba menggoyahkan hati Daniel yang menolak pulang.


“Bagaimanapun beliau adalah ayah dari Daddy mu.” Lanjut Raka, “Kau mempunyai hubungan darah dengannya.” Bagaimana Daniel tidak goyah jika Raka membawa-bawa daddynya dan hubungan darah.


“Baiklah, aku akan pulang. Katakan pada si John asisten kakek itu!” Raka tersenyum senang mendengar ucapan Daniel, lelaki itu langsung mengangguk dan menghubungi seseorang.


***


Abel merasa heran dengan sikap Daniel, di sepanjang perjalanan pulang lelaki itu terus-terusan menciumi punggung tangan Abel. Seakan lelaki itu tidak rela Abel jauh darinya.


“Apa ada masalah?” Tanya Abel.


“Aku akan pergi ke Kanada besok.” Menjawab tanpa menoleh pada Abel, Daniel fokus pada kemudi nya dan menatap lurus pada jalanan yang ramai.


“Besok, weekend?luar negeri?” Pertanyaan Abel membuat Daniel menoleh sekilas, ia baru sadar jika besok adalah weekend. Padahal sebelumnya Daniel berjanji akan mengajak Abel kencan mengganti waktunya yang sibuk selama beberapa hari ini.


“Maaf sayang, ini acara mendadak.” Ucap Daniel lirih merasa bersalah.


Jika tau begini aku akan ikut mama, papa dan kak Caca. Aku rela nggak ikut mereka liburan demi kencan, tapi yang mengajak kencan malah ingkar janji.


Daniel menyadari perubahan ekspresi dari Abel. “Maaf sayang, aku akan selesaikan urusanku dengan cepat lalu pulang.” Ujar Daniel meraih bahu Abel agar menoleh padanya dnegan tangan kiri.


“Iya..” jawab Abel seraya menepis tangan Daniel. Ia malas menoleh pada Daniel apalagi memperlihatkan ekspresi kecewa nya pada Daniel.


Hening.. keadaan menjadi hening sampai mereka tiba di depan apartemen Abel.


“Hati-hati di jalan, semoga perjalananmu besok lancar.” Ucap Abel lalu keluar dari mobil Daniel. Biasanya Abel akan keluar dari mobil setelah Daniel mencium keningnya tapi kali ini Abel keluar begitu saja bahkan terkesan mengabaikan Daniel.


“Huft.” Daniel mengacak rambut nya kesal. Sial, apa aku ajak saja dia?Tapi, Bagaiamana reaksi kakek. Daniel langsung geleng-geleng kepala.


Ia tidak mau ambil resiko mempertemukan Abel dan kakeknya sebelum ia tau dengan jelas keinginan Kakeknya. Alasan lain karena Daniel tidak mau Abel sampai sakit hati jika kakeknya tidak bisa menerima Abel.


Daniel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia bukan dalam perjalanan menuju apartemennya namun hanya mengemudi ke sembarang arah.

__ADS_1


“Tidak..tidak bisa begini, aku tidak bisa pergi dengan Abel dalam keadaan marah.” Gumam Daniel yang langsung memutar arah kemudinya menuju apartemen Abel.


Masih jam 22:00, tidak masalah bertamu jam segini lagipula lingkungan apartemen Abel bebas.


Untuk beberapa saat Daniel berdiri di depan pintu apartemen Abel. Ia bingung harus mengucapkan apa pada Abel agar perempuan itu tidak marah lagi. Jika wanita yang biasanya bersama Daniel, ia hanya perlu menghabiskan beberapa dolar untuk membujuk wanita-wanita itu. Tapi, dengan Abel, uang tidak ngaruh. Bahkan bisa di bilang Abel tidak peduli.


Sepuluh menit sudah Daniel mondar-mandir di depan pintu apartemen Abel hingga akhirnya pintu apartemen Abel terbuka. Daniel menoleh ke arah pintu, seingatnya ia belum menekan bel.


“Mau sampai kapan kamu mondar-mandir di depan apartemenku?” Tanya Abel yang muncul dari balik pintu.


“Sayang aku..” ucap Daniel ragu.


Awalnya Abel menyadari sikap nya kekanak-kanakan, ia bermaksud pergi ke apartemen Daniel untuk minta maaf tapi siapa sangka saat akan keluar dari apartemen ia melihat dari celah pintu Daniel sedang berdiri di depan apartemennya. Abel menunggu Daniel untuk menekan bel, namun yang ditunggu tak kunjung menekan bel malah mondar-mandir. Hal itu sontak membuat Abel geram, Abel pun memutuskan untuk membuka pintu.


“Kamu mau masuk atau tidak?Atau aku tutup kembali pintunya.” Ujar Abel.


“Jangan..” Daniel menahan pintu apartemen Abel. “Aku masuk.” Melewati Abel dan masuk ke apartemen Abel.


.


.


.


.


Hari ini kayaknya satu bab aja Yah!


Mampir ke karya aku yang lain juga ya guys..


1. Bersamamu


2. Pengacara tampanku


3. Nice to meet you

__ADS_1


4. My Dave


__ADS_2