
Nita mengikuti Abel keluar dari restoran. Abel masih bisa menyetir namun pelan. Ia terus terisak saat di jalan sembari mengemudi.
“Ada apa Abel?” Tanya Nita lembut.
Abel hanya diam dan terus menangis, kini mereka sampai di sebuah hotel. Abel sering menginap di hotel itu saat galau. Setelah cek in Abel mengajak Nita masuk ke kamar yang ia pesan. Perempuan itu langsung merebahkan dirinya di kasur dan menangis sekencang-kencangnya.
“Be rengsek, badajidingadan, anying, tikus, baby, kuda Niel be rengsek.” Umpat Abel sambil berteriak.
Nita mengelus perutnya lembut. “Dek, jangan di dengerin ya, tante Abel sedang marah. Adek nggak boleh kaya tante Abel besok.” Ujarnya lembut.
Abel menoleh pada Nita. Ia menghentikan umpatannya lalu kembali menangis. Kini hanya menangis sesenggukan. “Hiiiiiii, hiks, hiks,”
Nita duduk di sebelah Abel menepuk-nepuk bahu Abel lembut sambil menunggu Abel tenang. Setelah satu jam menangis Abel pun tenang. Ia turun dari tempat tidur dan meraih telepon di atas nakas. Abel memesan makanan pada pihak hotel.
“Laper?” Tanya Nita, Abel pun mengangguk.
Nita jadi terkekeh, bisa-bisanya Abel ingat makanan saat lagi galau. “Udah bisa cerita?” Nita memberanikan diri bertanya. Abel mengangguk lalu mencari tas slingbag nya untuk meraih ponselnya dan memberikan ponselnya pada Nita.
“Apa ini?” Nita menerima ponsel Abel dengan bingung ia langsung mem play video yang di tunjukan Abel. Seketika kedua mata Nita membelalak sempurna, “Abel ini tuan Daniel?” Abel mengangguk. Nita kaget dengan apa yang ditonton nya. Daniel kekasih Abel itu membahas pernikahan dengan orang lain.
Empat hari lagi kita akan bertunangan, satu bulan kemudian kita akan menikah. Pernikahan kita hanya akan dihadiri oleh kerabat dekat dan juga teman terdekat. Setelah itu kau tinggal bersamaku, saya sudah siapkan rumah untuk kita tinggali.
Begitu lah ucapan Daniel pada perempuan di hadapannya yang sempat terekam oleh kamera ponsel Abel. Sementara perempuan di hadapan Daniel hanya mengangguk.
“Abelll...” lirih Nita namun lembut, wanita hamil itu merentangkan kedua tangannya memeluk Abel.
“Dia be rengsek Nit, gua nggak nyangka dia udah ada tunangan, mau nikah, lalu gue ini apa, Nit?Sebenarnya apa arti gue bagi dia?Kenapa dia sejahat ini, kenapa?” Isak tangis Abel lagi-lagi pecah di pelukan Nita. Perempuan mana yang tidak terluka memergoki kekasihnya berduaan dengan perempuan lain bahkan membicarakan pernikahan.
“Dia selalu bersikap manis di depan gue, tapi kenyataanya di belakang gue dia ada WIL. Gue ****** udah termakan kata manisnya, sekarang gue harus gimana, Nit?Gimana?Gue cinta sama dia, gue sayang sama dia, tapi dia dajjal, iblis, setan, kampret.” Pekik Abel sambil sesenggukan.
Fyi: WIL (wanita idaman lain)
Nita melepaskan pelukannya lalu menatap Abel sendu. Ia ikut terluka melihat Abel terluka, baru saja Abel bisa membuka hati kenapa harus tersakiti lagi, pikir Nita sedih.
__ADS_1
“Abel menangislah, luapkan semua amarahmu, kesedihanmu, namun jangan terpuruk. Jika ia bisa menyakitimu, kau juga harus bisa mengobati hatimu sendiri. Dalam cinta luka dan bahagia itu selalu berdampingan, kemungkinan saat ini kamu sedang di uji dengan luka di cintamu. Jangan jadi lemah, aku percaya kamu Abel yang kuat. Kamu bisa hadapi ini, aku dan Nabila selalu bersamamu. Kita akan bantu kamu melewati luka ini bersama-sama.” Tutur Nita lembut.
Ceklek.. pintu hotel terbuka, terlihat Nabila terburu-buru masuk kedalam kamar hotel hanya memakai daster dan jaket. Nabila langsung menyusul ke hotel setelah mendapat pesan dari Nita, Abel sedang terluka. Perempuan itu menitipkan Aksa dan Akra pada ibu Putri dan mama Silfi.
Nabila mendekati Abel lalu duduk di sebelah Abel dengan susah payah sambil memegangi perutnya yang masih belum pulih sepenuhnya dari operasi cecar. Ia pun menepuk bahu kanannya lembut agar Abel bersandar.
“Nggak papa, ada aku dan Nita. Everything is fine.” Tutur Nabila lembut.
“Dia bohongin gue, Bil. Dia nipu gue.” Keluh Abel.
“Cih, beraninya dia nipu Abel kita, kamu tenang aja nanti kita hajat si kuda Niel itu, kalau pergi kita kirim ke gembira loka buat makanan aligator.” Cibir Nabila.
“Serius?” Tanya Abel.
“Ialah, kamu tenang aja.”
Nabila dan Nita menemani Abel hingga sore hari sampai Abel benar-benar tenang. Keduanya menasihati Abel agar tidak terburu-buru mengambil keputusan apalagi masih dalam kondisi diliputi amarah. Nabila dan Nita juga menyarankan agar Abel tidak menemui Daniel sebelum Abel bisa berpikir jernih dan memutuskan langkah apa yang akan ia ambil untuk Daniel.
***
Tidak papa jadi janda muda, yang penting masih perawan. Batin Caca. Setidaknya ia masih punya mahkota yang selama ini ia jaga dengan baik.
“Empat hari lagi kita akan bertunangan, satu bulan kemudian kita akan menikah. Pernikahan kita hanya akan dihadiri oleh kerabat dekat dan juga teman terdekat. Setelah itu kau tinggal bersamaku, saya sudah siapkan rumah untuk kita tinggali.” Tegas Daniel dan Caca pun mengangguk.
Hening untuk bebeapa saat setelah Daniel mengucapkan kata-kata itu.
“Apa saya masih bisa bekerja setelah menikah?” Tanya Caca berhati-hati.
“Terserah.” Balas Daniel acuh tak acuh.
Syukurlah, aku masih bisa bekerja.
Akan ku buat pernikahan kita seperti neraka. Seringai jahat Daniel kembali terlihat.
__ADS_1
***
Caca tidak kembali ke kantornya setelah bertemu Daniel. Ia memilih pulang ke rumah untuk istirahat. Kepala nya terasa pusing dengan apa yang baru saja ia alami.
Sampai di rumah Caca tidak menemukan siapapun, dimana papa dan mama nya? Caca pun tidak ambil pusing keberadaan orang tuanya, mungkin kedua orang tua nya ada urusan di luar.
Ia merebahkan dirinya di kasur. Kontrak pernikahan si alan. Pekik Caca.
Sekarang Caca memikirkan hubungan nya dengan Ilham. Niat awalnya Caca akan mengikhlaskan Ilham dan menjadi istri yang baik. Namun, setelah pertemuannya dengan Daniel siang ini Caca menjadi ragu. Ia tidak rela melepaskan Ilham. Apa lebih baik Caca jujur saja pada Ilham tentang kontrak pernikahannya, mungkin Ilham bisa memahami Caca. Lagi pula Daniel, kan, mengatakan tidak akan menyentuh Caca selama mereka terikat pernikahan.
Apa Ilham bisa menerima keadaan seperti itu? Gumam Caca menerawang jauh.
Tak mau menerka-nerka, Caca pun bangkit dari tidurannya. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Caca memutuskan akan menemui Ilham. Ia harus jujur pada Ilham. Apapun tanggapan Ilham, Caca akan menerimanya dengan lapang. Caca juga tidak mau berbohong pada Ilham, ia sudah terbiasa selalu jujur pada Ilham.
Dengan mengendarai mobilnya, Caca menuju apartemen Ilham. Ia sudah menghubungi Ilham sebelumnya.
Caca menekan kode sandi apartemen Ilham dan masuk kedalam. Pacarnya itu baru saja selesai membersihkan diri. Ilham memakai celana pendek dan kaos putih polos sedang berkutat di dapur. Caca langsung berlari dan memeluk Ilham dari belakang.
“Aku Merindukanmu.” Ucap Caca menyenderkan kepalanya di punggung Ilham. Ilham menghentikan aktivitas nya lalu membalik tubuhnya. Lelaki itu menatap Caca sekilas dan memeluknya. “Aku juga Merindukanmu, sayang.” Mengecup kening Caca lembut.
Dari kecupan kening, cipika-cipiki, sampai kecupan bibir dan berikut ciuman panas. Keduanya saling berpagutan, Caca membalas ciuman Ilham tak kalah liar. Ilham sendiri menyusupkan tangannya ke dalam blouse Caca, gaya berpacaran mereka memang sudah sampai s*ks Wilda (wilayah dada). Tapi, tidak sampai bagian intim karena Caca masih takut pada mama dan papa nya. Hanya sampai r*mas-r*mas dada dan ciuman liar di bibir saja.
Ilham mengajak Caca untuk makan malam, lelaki itu sudah masak sederhana untuk dirinya dan Caca. Ini yang disukai Caca dari Ilham, Ilham itu lelaki yang perhatian, penyayang dan penyabar.
.
.
.
.
Oke guys, aku up lagi. Aku usahakan akhir bulan ini menyentuh akhir untuk kisah Abel dan Daniel..
__ADS_1