
Abel langsung di larikan ke rumah sakit terdekat yang jaraknya sekitar sepuluh menit dari tempat kejadian. Mobil ambulan segera datang setelah mendapat laporan kecelakaan dari masyarakat sekitar. Abel sendiri masih bisa sadar saat kecelakaan terjadi namun ia pingsan dalam perjalanan menuju rumah sakit.
***
Tepat saat Abel sampai dirumah sakit, Daniel pun sampai di rumah sakit. Lelaki itu langsung berlari ke arah ambulan yang membawa Abel.
Sungguh benar adanya, perempuan yang tak sadarkan diri dengan berlumuran darah itu adalah Abel nya. Kekasihnya, gadis kesayangannya.
“Minggir pak,” seorang perawat menyuruh Daniel menyingkir karena menghalangi jalan. Padahal perawat itu sedang terburu-buru membawa Abel ke ruang UGD. Daniel pun menyingkir dan mengikuti perawat itu dengan berlari.
“Korban kecelakaan mobil, dok.” Ucap salah seorang perawat pada dokter yang sudah menunggunya di UGD. Dokter perempuan itu mengangguk lalu memeriksa Abel.
“Renata..” panggil Daniel dan dokter perempuan itu menoleh.
“Daniel, apa yang kamu lakukan disini?Kamu sakit?” Dokter itu melihat betapa kusut ya wajah Daniel. Daniel menggeleng.
“Dia pacarku.” Menatap tubuh Abel yang tak sadarkan diri dengan sendu. Dokter itu kembali menatap Abel.
“Tolong, selamat kan dia, ku mohon.” Lirih Daniel frustrasi. Dokter itu mengangguk mengerti betapa khawatirnya Daniel melihat pacarnya terbaring penuh dengan darah.
“Akan ku lakukan semaksimal ku.” Jawab dokter itu yang bernama Renata.
Fyi: Renata adalah istri Wu bai, sahabat Daniel. Untuk kisah Wu bai dan Renata ada di ‘Love story:Nice to meet you’.
“Tolong, lakukan apapun untuk menyelamatkan dia.” Pinta Daniel lagi.
“Baiklah, tenangkan dirimu.” Ujar dokter Renata.
Dokter Renata menoleh pada perawat. “Siapkan ruang operasi, dan hubungi dokter Sarah!” Perintahnya pada salah seorang perawat yang langsung diangguki oleh perawat itu.
Flash back on
Sampai di rumah Daniel membersihkan diri, setelahnya ia mencoba menghubungi Abel lagi. Daniel tidak menyerah untuk menghubungi Abel. Daniel merasa semangat Abel menjawab teleponnya namun sedetik kemudian wajahnya menjadi sedih saat yang menerima teleponnya bukan Abel tapi seorang perawat di dalam ambulan. Perawat itu mengatakan Abel baru saja mengalami kecelakaan. Daniel bertanya kerumah sakit mana mereka membawa Abel dan langsung menyusulnya. Untung saja rumah sakit itu dekat dari rumah Daniel, hanya butuh waktu tiga menit untuk sampai ke rumah sakit itu.
Flash back off..
Daniel mondar mandir di depan ruang operasi dengan cemas. Sudah tiga pulang menit operasi berlangsung, seorang suster baru saja keluar dari ruang operasi lalu kembali lagi dengan membawa beberapa kantong darah.
__ADS_1
Kumohon bertahanlah, sayang. Aku tidak akan bisa hidup tanpa mu.
Lagi-lagi air mata lelaki itu menetes karena Abel.
“Daniel..” Papa Damar dan kakek Nanto tergopoh-gopoh datang menghampiri Daniel.
“Paman, kakek.” Pekik Daniel.
Apa yang mereka lakukan disini?
“Bagaimana keadaan Abel, Niel?” Tanya kakek Nanto khawatir.
“Iya, Abel baik-baik saja, kan, Niel?” Sahut papa Damar.
“Abel??” Ditengah kekalutannya karena operasi Abel tak kunjung selesai Daniel mengernyit dengan pertanyaan dua lelaki tua di hadapannya ini.
“Iya, Abel putri paman, baik-baik saja, kan?” Daniel tersentak mendengar papa Damar mengakui Abel sebagai putrinya.
“Putri paman?”
“Abel masih di ruang operasi, kek.” Jawab Daniel sambil mengacak rambutnya frustrasi.
“Bagimana kejadiannya?” Todong papa Damar. Daniel menggelengkan kepalanya. “Daniel tidak tau, paman. Yang Daniel tau mobil yang dikendarai Abel keluar jalur lalu bertabrakan dengan mobil dari arah berlawanan.” Jawab Daniel mendengar ucapan salah satu polisi yang ikut mengantar Abel sampai kerumah sakit.
“Astaga..” lutut kakek Nanto melepas seketika. “Bagaimana ini Damar, Caca dan Abel..” kakek pun mengeluarkan air matanya. Kedua cucu tersayangnya masuk ke dalam rumah sakit.
“Pak, kita duduk dulu. Damar yakin Caca dan Abel pasti baik-baik saja.” Memapah kakek Nanto untuk duduk di kursi depan ruang operasi.
Daniel pun masih bertanya-tanya apa maksudnya Abel adalah putri paman Damar, jangan bilang??Daniel semakin frustrasi jika yang ada dipikirkannya saat ini adalah kebenarannya.
Daniel mendekati papa Damar dan bertanya. “Paman, apakah Abel adalah Bella?” Teringat nama Abel adalah Isabella Anastasya. Sedangkan kakek Han pernah menyebut adik Caca yang bernama Bella. Papa Damar mengangguk.
Shit.. Daniel semakin mengacak rambutnya karena frustrasi.
“Paman juga baru tau, Niel. Paman baru tau kamu adalah pacar Abel, jika paman tidak salah Abel dalam perjalanan menemui saat kecelakaan terjadi.”
Bagai tersambar petir Daniel mendengar penuturan Damar. Abel nya kecelakaan karena ingin menemuinya.
__ADS_1
Bodoh..bodoh, bodoh. Rutuk Daniel pada dirinya sendiri.
Harusnya ia menyelidiki sedetail mungkin keluarga Caca, bukan malah hanya menyelidiki pacar Caca dan mantan-mantan Caca.
Daniel meninju tembok rumah sakit hingga berdarah, ia merasa kesal, sedih, bersalah. Jika saja ia tau lebih awal siapa Abel sebenarnya, kejadian ini mungkin bisa di hindari. Abel nya mungkin tidak akan kecelakaan, mereka juga tidak perlu berselisih paham.
“Tenangkan dirimu, nak.”
Kapan tiba nya kakek Han sudah berdiri di sebelah Daniel. Bukankah kakek Han masih di rawat dirumah sakit?Ternyata kakek Han langsung menyusul Daniel saat menerima kabar Abel kecelakaan. Ia sudah berkonsultasi dengan dokter sebelumnya.
“Bagaimana Daniel bisa tenang, kek?Abel terluka dan itu karena Daniel, dia terluka saat akan menemui Daniel?Menurut Kakek, Daniel masih bisa tenang, Hm?” Berteriak sambil Mengusap wajahnya kasar.
“Maafkan kakek, Niel.” Lirih kakek Han.
“Yaaa, ini semua memang salah kakek. Jika kakek tidak memaksa Daniel untuk bertunangan dengan Caca semua tidak akan terjadi, Abel tidak akan terluka. Kakek memang harus minta maaf secara langsung pada Abel.” Daniel menunjuk-nunjuk kakek Han dengan emosi.
“Daniel, ini rumah sakit, nak. Paman mohon kendalikan dirimu.” Tutur papa Damar menenangkan Daniel.
Daniel sedikit melunak, ia memilih mengabaikan kakek Han dan terfokus menatap bagian dalam ruang operasi lewat jendela kaca, meskipun ia tidak bisa melihat aktivitas di dalam rumah operasi karena tertutup gorden hijau.
Flash back on
Papa Damar, kakek Nanto dan mama Lila tengah berada di rumah sakit. Mereka menunggu dokter memeriksa Caca. Sejenak mereka lupa akan Abel.
Mereka lalu dihubungi oleh salah atau karyawan papa Damar yang kebetulan berada di lokasi kecelakaan Abel. Karyawan itu mengenali Abel karena selain ia karyawan di perusahaan papa Damar, dia juga tetangga papa Damar.
Usai mendapat telepon itu Papa Damar langsung menuju rumah sakit yang akan menangani Abel, kakek Nanto pun ikut bersamanya. Hanya mama Lila yang menemani Caca.
Mama Lila termasuk perempuan yang tegar, ia menguatkan hatinya agar tetap kuat setelah mendapat kabar yang menyesakkan dada. Dua putrinya masuk ke rumah sakit, sama-mama terluka parah. Jika memohon pada Tuhan, mama Lila mau menggantikan sakit yang dialami kedua putrinya.
Flash back off
.
.
.
__ADS_1