Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Pulang


__ADS_3

“Tapi, Bagaiamana mungkin Dewi mengaku hal jahatnya pada Ilham?Apa perempuan itu bodoh?” Bukan menyembunyikan kejahatannya, Dewi justru mengungkapkan semua hal jahat yang dia lakukan pada Ilham.


“Entahlah, kakek rasa dua orang itu sama-sama bodoh. Terutama yang laki-laki, Bagaimana mungkin si bodoh itu selingkuh dari Caca, dan perempuannya sahabat Caca sendiri. Untung saja Abel mempunyai sahabat yang baik-baik.” Ucap kakek Han.


“Lebih baik Caca di selingkuhi sekarang dari pada setelah menikah, setidaknya Caca bisa terlepas dari lelaki ba jingan itu.” Balas Daniel.


“Kau benar, jadi, bagaimana sekarang?Kakek masih belum tenang, kakek takut ada orang lain yang ingin mencelakai Abel atau pun Caca.” Entah mengapa perasaan kakek Han tidak tenang. Seperti ada yang mengganjal di hatinya.


“Daniel yang akan menyelidikinya, kek. Kakek tenang saja, serahkan semuanya pada Daniel.” Ucap Daniel serius. Kakeh Han menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu kakek akan segera kembali ke Kanada, banyak hal yang harus di urus. Termasuk surat wasiat nenek dan pengalihan atas nama perusahaan pada mu.” Daniel sudah menikah dengan Abel yang merupakan cucu sahabat Kakek Han dan mendiang istri, yang berarti Daniel sudah memenuhi permintaan nenek yang tertulis di surat wasiat.


“Baiklah, Daniel akan menyusul dengan Abel setelah mengurus Dewi. Rencananya Daniel akan mengajak Abel bulan madu disana.” Ya, pengantin baru memang seharusnya menghabiskan waktu bersama. Dan, Kanada bukan tempat yang buruk. Lagi pula lebih hemat, disana Daniel mempunyai apartemen sendiri.


Kakek bangkit dari duduknya. “Jika kau tidak keberatan bawa pulang juga bocah itu!Bukankah sudah seharusnya dia bekerja.” Tutur kakek Han pada Daniel. Bocah itu yang kakek maksud adalah Defan.


“Apa kakek sudah bisa menerima Defan?” Tanya Daniel.


“Bisa atau tidak sudah terlanjur lahir mau bagaimana lagi.” Kata kakek ketus sambil berlalu meninggalkan ruang kerja Daniel.


Daniel tau kakek tidak membenci Defan. Kakek hanya tidak mau Defan menjadi licik seperti ibunya. Tersenyum melihat punggung kakek Han yang mulai menghilang dari pandangannya.


Sementara di pinggiran kota Jakarta seorang wanita di sekap dan dianiaya. Tubuhnya nampak lemah tak berdaya. Bekas tamparan nampak kebiruan di pipi mulusnya juga sudut bibirnya. Rambut panjangnya pun acak-acak an. Perempuan itu tidak bisa melawan penganiaya nya, kaki dan tubuhnya terikat dengan kursi yang dia duduki. Selain pasrah pada nasibnya, perempuan itu hanya bisa berdoa.


“Dasar tidak berguna!” Maki seseorang pada perempuan itu.


“Nyonya, saya mohon hentikan. Saya sudah melakukan apa yang nyonya minta, jika tidak berhasil apakah itu salah saya?” Lirihnya dengan sisa-sisa kekuatannya.


“Harusnya perempuan itu mati. Dan, pernikahan itu tidak terjadi.” Perempuan yang dipanggil nyonya itu nampak mondar mandir sambil menopang dagunya dengan tangan.


“Memang membuat orang mati semudah itu?Anda seharusnya berpikir kemungkinan rencana yang gagal atau setidaknya punya rencana cadangan.” Sahut perempuan yang penuh dengan luka tamparan. “Bukan seperti sekarang, rencana gagal, bahkan saya dicurigai, jika mereka menemukan saya maka saya akan mengatakan semua nya adalah rencana nyonya.” Ancam perempuan itu pada si perempuan yang ia panggil.

__ADS_1


“Kamu!! Berani kamu mengancam saya?” Nyonya itu menghampiri perempuan yang penuh luka lalu mencengkeram erat rahangnya.


***


Tiba hari dimana kakek Han dan John kembali ke Kanada. Abel dan Daniel mengantar kakek sampai di bandara. Usai mengantar kakek Han, Abel dan Daniel pulang ke rumah papa Damar. Semenjak menikah Abel dan Daniel memang belum pulang ke rumah papa Damar karena kesibukan Daniel.


Daniel memarkir mobilnya di depan garasi mobil, ia lalu keluar dari mobil bersama Abel.


Abel membawa oleh-oleh buah jeruk dan duku. Papa Damar memang senang makan buah-buahan apalagi buah yang berair. Seperti jeruk, semangka, dan jambu air. Abel juga sengaja membawa buah tangan untuk menyogok papa Damar agar ia dan Daniel tidak di marahi karena lupa pulang.


“Mama, papa, Abel pulang!” Teriak Abel menyapa papa Damar dan mama Lila yang sedang minum teh di ruang keluarga. Keduanya menoleh ke arah suara.


“Kalian ingat pulang juga?Papa pikir kalian sibuk di dalam kamar sampai lupa orang tua.” Sindir papa Damar. Daniel seakan membeku di tempat mendapat sindiran dari papa Damar yang sepenuhnya benar.


“Hahaha, papa sama mama kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja.” Jawab Abel menghabur ke pekukan mama Lila. Sementara Daniel mendudukan dirinya di sebelah papa Damar setelah mencium punggung mama Lila dan papa Damar.


“Papa pernah jadi pengganti baru tapi nggak seperti kalian juga sampai lupa orang tua.” Melirik Daniel yang tengah mengusap belakang lehernya. Salah tingkah nampaknya Daniel di kerjai oleh papa Damar.


“Maaf, pa.” Satu kata lolos dari mulut Daniel.


Daniel mengangguk. “Itu Daniel dan Abel lup..”


“Bee, kamu kenapa sih?Papa cuman bercanda kali Bee, nggak usah di serius in.” Potong Abel melihat suaminya yang bingung menjawab pertanyaan papa Damar.


“Sudah-sudah, papa juga apa-apaan, anak baru pulang sudah di godain.” Sahut mama Lila.


“Papa, kan, cuman menyindir dikit, ma.” Mengankat kedua bahunya.


“Iya tapi menantu papa jadi salah tingkah.” Benar kata mama Lila. Daniel masih salah tingkah dan kikuk karena sindiran papa Damar.


“Masak sih, ma?” Melirik menantunya yang hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


“Papa ih ngapain lirik-lirik suami Abel, Ayo Bee kita ke kamar aja!” Abel bangkit berdiri dan menarik lengan Daniel.


“Cie udah mau ngamar aja, baru juga datang.” Goda papa Damar.


“Ya biarin udah sah kok! Ayo Bee!” Menarik narik lengan Daniel. Daniel serba salah. Mengikuti Abel tapi tidak enak dengan kedua mertuanya. Tidak menuruti Abel pasti istrinya itu merajuk nantinya.


“Sudah kamu ikuti saja istri kamu, Niel. Dari pada nggak dapat jatah.” Goda papa Damar lagi. Selain itu papa Damar bisa membaca apa yang Daniel pikirkan saat ini, yaitu Daniel ingin menuruti kemauan istrinya.


Daniel pun memangguk. “Kalau begitu Daniel ke kamar dulu, pa, ma.” Pamitnya pada papa Damar dan mama Lila.


“Iya, nanti kalian turun pas makan malam saja.” Ucap mama Lila.


“Baik, ma.”


“Ayo Bee!”


“Iya sayang,” berdiri mengekori Abel yang menarik tangannya berjalan mendahului Daniel.


Sampai dikamar Abel menyuruh Daniel untuk mandi. Lebih tepatnya mandi berdua sekaligus mandi keringat di kamar mandi karena permainan panas mereka.


Seperti kata mama Lila, Abel dan Daniel turun saat jam makan malam. Di ruang makan sudah ada papa Damar dan mama Lila.


“Kak Caca nggak pulang, ma?” Abel tidak melihat batang hidung kakaknya bahkan sejak ia datang tadi.


“Sibuk lembur, pulangnya ke apartemen karena lebih deket.” Jawab mama Lila.


Apa kakak masih sedih ya?!


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2