Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
F*ck boy impian Abel


__ADS_3

Maaf yaa, Lita telat update.


***


Abel terkekeh saat mengingat kejadian di kelas tadi. Bagaimana ia dan Nabila bisa menakut-nakuti teman sekelasnya agar tidak lagi menggosipkan Nita.


Kali ini Nabila dan Abel tengah ngopi di cafe milik Nabila setelah kelas usai. Seperti biasa Abel akan menemani Nabila menunggu jemputan.


“Lain kali gue bakal tampol mulut mereka pakai sendal kalau berani gosipin Nita lagi.” Ucap Abel seraya memakan sepotong red velvet cake.


“Hiss nggak boleh main tampol, nggak baik.” Nabila mencicipi red velvet cake milik Abel.


“Biarin, salah siapa asal nyiny*r aja.” Sungut Abel.


“Bila, Abel!” Panggil Rangga yang saat itu baru saja masuk ke cafe milik Nabila.


“Kak Rangga!” Nabila dan Abel menoleh.


“Kebetulan ketemu lagi, boleh saya gabung?” Menatap Nabila dan Abel penuh harap.


“Silahkan, kak.”


Rangga memilih kursi yang berada di sebelah Nabila. Ia tersenyum manis saat duduk di kursi itu. Wajahnya pun nampak bahagia. Terlihat dari cara Rangga tersenyum.


“Kalian sering nongkrong disini?” Tanya Rangga basa-basi. Padahal laki-laki itu sudah tau cafe dan toko kue sebelahnya adalah milik Nabila. Rangga sudah menggali informasi tentang Nabila sedetail mungkin.


“Sering lah kak. Hampir tiap hari.” Jawab Abel.


“Menu disini emang enak-enak sih, tempatnya juga cocok buat foto-foto anak hits.” Rangga mengamati setiap sudut interior cafe yang sangat unik. Cocok untuk para Selebgram mengambil foto untuk feed mereka.


“Kalau Abel sih yang penting gratis kak,” ucap Abel santai. Rangga menaikan alisnya sebelah. “Gratis?” Rangga masih pura-pura tidak tau.


“Iya, kak. Cafe ini kan milik Nabila, milik pribadi Nabila.” Ucap Abel bangga. Nabila hanya tersenyum malu mendengar Abel pamer. Lebih tepatnya memamerkan apa yang Nabila miliki.


“Benar itu, Bil?” Tanya Rangga memastikan.


Nabila mengangguk. “Ia kak,”


“Wah, hebat, kamu sudah cantik, pintar berbisnis pula.” Puji Rangga pada Nabila.


Bukan senang dipuji Rangga, Nabila justru merasa malu dan risih mendapat pujian dari laki-laki yang bukan suaminya.


“Hehe, Alhamdulillah, kak.” Balas Nabila.

__ADS_1


“Kak Rangga juga sering kesini?” Tanya Abel.


“Kadang nongkrong sama temen-temen disini, Bel. Soalnya sorum mobil sebelah itu milik temenku. Biasnya kita ngopinya disini.” Jawab Rangga bohong. Laki-laki itu sering nongkrong di cafe milik Nabila karna ingin dekat dengan Nabila. Walaupun awalnya ia hanya berani menatap Nabila dari jauh.


“Owh, temen Kakak ada yang cakep nggak, kak?” Biasalah Abel akan mulai mencari jodoh.


“Bel...” menepuk lengan Abel pelan.


“Apa sih, Bil?Gue kan mau nambah temen. Kali aja jodoh.” Jawbannya nyengir. “Boleh kan, kak?” Menatap Rangga.


Rangga terkekeh pelan, “Boleh, mau saya kenalkan, Bel. Teman saya sudah punya kerjaan semua kok, Bel.” Ucap Rangga.


“Yang f*ck boy ada nggak, kak?” Tanya Abel. Pertanyaan Abel sukses membuat Rangga menyemburkan kopi yang baru saja diminumnya karna kaget.


“Kamu mau cari f*ck boy?” Meletakan cangkir kopinya. Rangga menopang dagunya dengan kedua tangannya menatap lekat-lekat Abel.


“Iya, kak.” Jawab Abel serius.


“Alasanya?”


“Karna pengusaha udah terlalu biasa, kak.” Jawab Abel jujur.


“Pengusaha juga banyak yang f*ck boy, Bel.” Tutur Rangga lembut.


“Saya bilang kan banyak, Bel. Bukan semua pengusaha f*ck boy.” Rangga menghela nafasnya.


“Jangan didengarkan si Abel, kak. Dia emang rada error kalau menyangkut pencarian pasangan.” Sahut Nabila masuk ke percakapan Rangga dan Abel.


Rangga menggeser tubuhnya kesamping hingga menghadap Nabila, “Tapi, maunya Abel aneh, Bil. Kalau cewek normal nyarinya kan laki-laki yang baik. Lah, dia nyari yang f*ck boy.” Menunjuk Abel lalu geleng-geleng kepala.


“Jadi, menurut Kak Rangga Abel cewek yang nggak normal, kak?” Abel mengerucutkan bibirnya gemas.


“Kayaknya sih iya, Bel. Tapi, entahlah hanya kamu dan Tuhan yang tau!” Rangga mengangkat kedua bahunya dengan wajah datar.


“Lagian kamu kenapa sih Bel, harus banged yang f*ck boy?” Tanya Nabila menatap serius Abel. Sorot matanya mencari jawaban lewat mata Abel. Bersiap mendengar dan melihat alasan Abel menginginkan pasangan yang f*ck boy.


“Harus, pake banged!Pokoknya harus banged pasangan Abel nanti f*ck boy!” Jawab Abel serius.


“Iya, tapi, alasannya apa, Bel?” Nabila merasa gemas pada Abel yang ngotot ingin pasangan f*ck boy.


“Saya juga mau dengar alasan kamu, Bel. Harus yang logis ya, Bel!” Timpal Rangga.


“Nggak ada alasan khususnya sih. Cuman gini ya, Bil, Kak Rangga, kalau cari pasangan yang awalnya baik bisa aja di tengah-tengah berubah jadi f*ck boy. Nah, kalau udah gitu jatuhnya kecewa, kan?Soalnya dari awal kita ngiranya dia cowok baik-baik. Berbeda kalau cari pasangan f*ck boy, kalau udah dari awal f*ck boy seterusnya juga f*ck boy. Kita nggak akan kaget sama perubahan dia. Jika pun berubah malah mungkin dia berubah menjadi yang lebih baik.” Ucap Abel panjang lebar menjelaskan. Itu adalah alasan logis versi Abel.

__ADS_1


Rangga dan Nabila pun manggut-manggut mendengar alasan Abel.


“Gitu ya, Bel?”


“Iya, kak.” Abel mengangguk..


Drttt..drttt..ponsel Nabila yang berada di dalam tas berdering. Perempuan itu mengambil ponselnya dari dalam tas.


“Aku jawab dulu.” Pamit Nabila ingin menyendiri karna teleponnya berisifat privasi.


“Mas Adam?” Tanya Abel lirih. Nabila mengangguk.


‘Harusnya aku yang menelpon Bila.’ Batin Rangga.


Nabila pun menjauh beberapa langkah dari Abel dan Rangga. Ia memilih berada di sudut ruangan yang tidak ramai untuk menerima telepon dari Adam.


“Assalamualaikum, mas.” Jawab Nabila.


‘Walaikumsalam, sayang. Kamu masih di cafe?’ Tanya Adam.


“Masih, mas. Bila kan nunggu mas Adam jemput. Jangan bilang mas nggak jadi jemput lagi.” Cebik Nabila menebak. Ia pasti kecewa jika Adam tidak jadi menjemputnya. Apalagi akhir-akhir ini Adam sering ingkar janji saat akan menjemput Nabila.


‘Nggak, bukan itu sayang. Mas pasti jadi jemput kamu, tapi mungkin telat. Pekerjaan mas belum selesai.’ Ujar Adam menjelaskan.


“Nggak papa kok, mas. Bila tunggu sampai mas jemput. Lagian disini Nabila nggak sendiri, mas jangan khawatir.” Balas Nabila.


‘Memang kamu sama siapa sayang?Sama Abel?’ Adam penasaran. Laki-laki itu tau Nita sudah cuti, kemungkinan hanya Abel yang menemani Nabila menunggu jemputan.


“Ada Abel sama kak Rangga, mas.” Jawab Nabila.


‘Owh, Yaudah. Setengah jam lagi aku jemput.’


Adam pun menutup teleponnya. Setelahnya Nabila kembali bergabung dengan Abel dan Rangga.


***


Setelah menutup teleponnya. Adam menjadi gusar dan tidak tenang. Apalagi Nabila menunggu berama Rangga. Entah mengapa Adam merasakan perasaan kesal jika Nabila bertemu atau menyebut Rangga.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2