Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Kata ajaib ala Abel


__ADS_3

Bprak! Terdengar suara pintu di dobrak. Tapi, bukan pintu kamar yang Nabila tempati.


“Bila..Nabila..Bila.” Teriak Adam dari lantai dasar.


“Bila..” panggil Abel.


Nabila merasakan secercah harapan saat mendengar suara yang ia kenal. Suara suami dan sahabat nya.


“Bila disini, mas, Bel.” Lirihnya tidak kuat untuk berteriak. Nabila menatap lurus ke arah pintu berharap Adam dan Abel segera menemukannya.


“Bila!” Seru Abel.


“Lantai tiga mas!” Teriak Abel mendongakan kepalanya keluar pintu. Abel pun masuk kedalam kamar mendekati Nabila.


“Bel, adek tolong Bel, adek.” Isak Nabila lirih pada Abel.


“Tenang, kamu jangan bicara simpan tenaga kamu. Adek pasti baik-baik saja.” Ucap Abel seraya melirik bagian bawah Nabila. Perempuan itu memejamkan matanya sebentar, ia tidak bisa membendung lagi air matanya yang sedari tadi sudah meronta untuk mengalir.


“Sayang..” menghampiri Nabila.


“Angkat Dam!” Seru Daniel.


Dengan cepat Adam mengangkat Nabila ke salam gendongannya dan membawanya keluar dari ruangan itu di ikuti Abel.


“Riko, kamu urus dia!” Seru Adam sebelum meninggalkan tempat itu. Riko pun mengangguk.


Riko tinggal di tempat itu bersama Yoga dan Wu bai. Sementara Adam membawa Nabila ke rumah sakit dengan Abel dan di sopiri oleh Daniel.


Adam duduk di kursi bagian belakang memangku kepala Nabila. Dan Abel duduk si sebelah Daniel.


“Sayang, kamu jangan tidur. Kumohon tetaplah terjaga.” Ucap Abel sambil menepuk-nepuk pipi Nabila. Berusaha membuat Nabila tetap dalam keadaan sadar.


“Sayang aku cerita kamu dengerin ya, tapi kamu jangan tidur.” Ucap Adam lagi sambil mengoceh. Adam terus mengajak Nabila bicara dengan berbagai kata.


Bukannya tambah sadar Nabila justru mengantuk. Ia merasa seperti di dongengi oleh ibu.


“Mas Adam dongeng ya, itu malah bikin Nabila ngantuk.” Kesal Abel melihat tingkat Adam.


“Terus gimana dong Bel, aku harus gimana?” Adam panik melihat kesadaran Nabila yang terus menurun.


“Bil, herm*s bakalan ngeluarin koleksi terbaru lho.” Ucap Abel keras. Daniel melirik Abel sekilas lalu mengernyit.


“Kapan?” Tanya Nabila lirih yang langsung membuat Adam dan Daniel melongo.


Padahal Adam sudah mengoceh dari tadi namun Nabila tidak menanggapinya. Satu kalimat ajaib dari Abel langsung di tanggapi Nabila.


“Akhir bulan depan kayaknya, kak caca yang bilang. Dia ada temen kerja disana.” Balas Abel.


“Kamu jadi beli yang mini?” Tanya Nabila lirih namun terdengar semangat.


“Jadilah, cari sponsor dulu. Duit gue nggak cukup beli sendiri.” Jawab Abel jujur.


“Mau minjem dulu nggak?Tapi, aku nitip.” Sahut Nabila lagi, sesuai rencana awal. Nabila akan meminjami Abel uang untuk membeli dan dibayar kredit namun Nabila nitip.


“Gimana mau minjemin, lo aja nggak ada semangat hidup gitu. Kalau lo keburu mati sebelum produk barunya launching gimana?” Abel ya Abel, blak blak an tanpa mandang tempat dan situasi.


“Abel!!” Teriak Adam dan Daniel bersamaan.

__ADS_1


“Kalian kenapa sih?Berisik.” Keluh Nabila.


“Ia berisik banged.” Abel menimpali sambil mengangkat bahunya.


“Emang selain aku, kamu punya sponsor lain?Jomblo aja sok-sokan punya sponsor.” Kekeh Nabila lirih seakan lupa dengan sakit yang ia rasakan. Adam sedikit lega dengan keadaan Nabila saat ini. Istrinya itu tidak selemah tadi.


“Kamu jomblo?” Tanya Daniel melirik Abel. Ia memang memasang telinganya dari tadi mendengar percakapan Nabila dan Abel. Abel pun mengangguk.


“Kapan putus?” Tanya Daniel lagi.


“Putus?” Tanya balik Abel. Daniel mengangguk, setahu Daniel, Abel adalah pacar Akbar.


“Putus gimana pacaran aja enggak.” Seloroh Nabila.


“Kamu enggak punya pacar?” Tanya Daniel lagi tidak percaya. Abel menggeleng.


“Kenapa jadi nanya-nanya gue sih,” gerutu Abel.


“Pokoknya aku nitip yang mini juga.” Ucap Nabila semangat.


“Gampang, tapi lo jadi sponsor gue Yah.” Abel menoleh ke belakang sambil nyengir dan Nabila mengangkat tangannya susah payah lalu mengacungkan jempol.


“Biar aku yang jadi sponsor kamu!” Seru Daniel serius.


“Hah?” Tanya Abel dan Nabila serentak.


“Sampai.” Daniel menghentikan mobilnya tepat depan pak rumah sakit.


Disana sudah ada dokter dan perawat yang menunggu kedatangan Adam. Sebelumnya Adam sudah menghubungi pihak rumah sakit.


“Kamu yang kuat ya sayang, kamu harus baik-baik saja.” Ucap Adam seraya menggenggam tangan Nabila berjalan menuju ruang unit gawat darurat. Abel mengikuti di belakang Adam.


“Kami akan berusaha semaksimal mungkin tuan.”


“Titip.” Lirih Nabila sebelum masuk ke ruang UGD.


Tak selang berapa lama, dokter keluar.


“Bagaimana dok ?” Tanya Adam.


“Kita harus melakukan operasi tuan, bayi-bayinya harus dikeluarkan segera, air ketuban sudah hampir habis dan tidak memungkinkan untuk nyonya Nabila melahirkan secara normal melihat nyonya sudah kehilangan banyak darah.” Ucap dokter menjelaskan.


“Lakukan yang terbaik dok.”


“Baik, tuan.”


Dokter dan perawat menyiapkan ruang operasi dan beberapa kantung darah.


“Mau kemana mas?” Tanya Abel.


“Titip Nabila sebentar, Bel. Saya mau ke mushola.” Ujar Adam yang langsung diangguki oleh Abel.


Abel duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang operasi. Disebelahnya ada Daniel.


“Nabila pasti baik-baik saja.” Ucap Daniel seraya menggenggam lembut tangan Abel.


“Semoga saja.”

__ADS_1


“Ayo ikut aku sebentar!” Ajak Daniel pada Abel.


Daniel sudah lebih dulu berdiri dan memeriksa lengan Abel.


“Kemana?”


“Ikut saja.”


Membawa Abel meninggalkan tempat operasi Nabila. Daniel ingin menenangkan Abel yang sama kacaunya dengan Adam. Ia bisa tau seberapa berharga Nabila untuk Abel. Persahabatan mereka tidak bisa diragukan lagi.


Ceklek .. Daniel membuka salah satu ruangan dokter di rumah sakit itu.


“Keluar kau, aku pinjam ruanganmu!” Seru Daniel pada orang yang berada di dalam ruangan itu.


“Hm..”


Mike berdiri dari kursi kebesarannya menghampiri Daniel dan Abel yang sedang menunduk di sebelah Daniel.


“Dia kenapa?” Tanya Mike.


Daniel memberi isyarat lewat gerakan kepala agar Mike keluar dari ruangannya dan tidak banyak bertanya.


“Baiklah, aku keluar.” Ujar Mike berlalu meninggalkan Abel dan Daniel.


Didalam ruangan itu ada sofa untuk tamu. Daniel menggiring Abel untuk duduk di sofa.


“‘Menangis lah sepuasmu.” Ucap Daniel lembut. Abel mengangkat kepalanya dan menatap lekat-lekat Daniel. Lelaki itu pun mengangguk.


Satu ..dua ..tiga..


“Huaaaaaaaaaa...hua..Keponakan gue harus lahir sebelum waktunya huaa..” tangis Abel pecah seperti bayi. Perempuan itu menangis setengah berteriak hingga membuat Daniel menutup kupingnya karna kaget.


“Hiks..hiks..hua hua.”


Seperti bayi yang merajuk Abel menangis berteriak-teriak. Bukan iba Daniel justru merasa bingung sekaligus gemas.


“Abel, tenang cup cup.” Berjongkok di depan Abel dan impulsif menciumi punggung tangan Abel.


“Katamu aku boleh menangis sepuasku, kenapa sekarang menyuruh ku tenang?Pembohong hua..hua..” cicit Abel.


“Ya..ya, menangis lah sepuasmu tapi jangan berteriak.” Ucap Daniel pasrah.


“Kau tidak lihat aku menangis?Memang kapan aku berteriak?hiks hiks hua.” Ucap Abel menunjuk pipinya yang basah.


‘Kau memang menangis tapi sambil berteriak.’ Batin Daniel.


Dua menit, empat menit, sepuluh menit berlalu akhirnya Abel tenang. Daniel masih sabar menemani Abel. Duduk dengan tegap sementara Abel menyender di bahunya.


Abel mengangkat kepalanya dari bahu Daniel lalu mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya.


“Dimana kamar mandinya?” Tanya Abel berniat untuk cuci muka.


Daniel menunjuk pintu di pojok ruangan. Seusai mencuci muka Abel mengajak Daniel kembali menemani Adam.


Entah sadar atau tidak, Abel merangkul lengan Daniel sepanjang jalan. Beberapa karyawan rumah sakit yang mengenal Daniel memandang kaget, pertama kalinya Daniel tidak mendorong perempuan yang manja padanya di tempat umum. Daniel justru seakan menikmati sikap manja Abel.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2