
Abel sudah kembali masuk kuliah... Setelah liburan usai, ia sempat izin pada pihak kampus untuk pemulihan tubuhnya pasca operasi. Kini ia sudah menyelesaikan skipsinya tinggal menunggu sidang. Ya, selama di rumah sakit Abel menghabiskan waktunya untuk mengerjakan skripsi. Ia juga melakukan pertemuan dengan dosen pembimbing di rumah sakit. Bagiamana bisa dosen pembimbing yang mendatangi mahasiswinya? Tentu saja bisa, semua karena campur tangan Adam, sebagai pemilik yayasan kampus, Adam menggunakan kekuasaanya sekali perintah mau dosen ataupun pimpinan kampus juga akan tunduk.
Satu minggu kemudian waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Sidang Abel kali ini berjalan lancar, dan finally, ia telah menyelesaikan kuliahnya. Menjadi seorang sarjana.
Diluar ruang sidang kedua sahabat Abel sudah menunggu dengan hai dia masing-masing. Nabila membawakan figura lucu yang di dalamnya ada foto mereka bertiga. Sementara Nita membawa boneka wisuda lucu.
Kenapa tidak ada keluarga Abel?Karena Abel tidak memberi tahu keluarganya, ia akan langsung memberitahu keluarganya saat wisuda.
“Nggak nyangka kamu duluan yang lulus, ku terharu.” Nabila menghambur memeluk Abel. Nita pun mendekat namun tidak ikut merangkul, dikarenakan perut Nita sudah semakin membesar.
“Selamat ya, Bel. Sebentar lagi ijazah dan ijabzah hampir beriringan.” Ucap Nita menyerahkan kado boneka pada Abel.
“Terimakasih, bumil.” Abel menerima kado nya dengan senang hati. Ia juga langsung menerima kado dari Nabila dan menunduk mengamatinya. Pun, Abel langsung menaikan salah satu alisnya.
“Ini kenapa muka gue paling jelek difoto ini?” Protes Abel.
“Masa sih?” Nabila dan Nita ikut menuduk kearah kado Nabila.
“Itu foto yang paling lucu menurut kita.” Nabila ikut mengomentari kado yang tadi ia bawa. Nita mengangguk menyetujuinya.
“Iya kah?” Gumam Abel. Nabila dan Nita pun mengangguk.
“Baiklah, Terimakasih untuk kado-kadonya guys. Karena hari ini berjalan lancar, gue akan traktir kalian makan sepuasnya.” Tutur Abel bersemangat.
Nita menggeleng kan kepalanya. “Aku gak ikut, aku mau ke dokter kandungan sama mas Riko.” Ucap Nita yang sudah memilik jadwal memeriksakan kandunganya ke dokter bersama Riko.
Abel melirik ke arah Nabila.
“Maaf, aku juga nggak bisa. Aksa agak panas pas aku tinggal tadi, jadi, aku mesti balik cepat.” Ucap Nabila yang terlihat mencemaskan putranya.
__ADS_1
“Yahh.. sayang sekali, ya sudah deh. Lain kali saja.”
Abel pulang ke apartemen nya, dengan malas Abel menaruh sepatu nya ke rak sepatu di sebelah pintu masuk kemudian memakai sandal rumahannya.
Abel menaruh dua paperbag coklat berisi kado-kado dari sahabatnya ke atas sofa kamarnya. Lalu ia pun mendudukan dirinya di sofa, menyadarkan dirinya di sandaran sofa. Ia memejamkan kedua matanya sejenak sambil menghirup udara lalu menghembuskannya pelan.
Selamat Abel akhirnya kamu lulus juga!
Boleh, kan, Abel berbangga pada dirinya sendiri. Tentu saja boleh, selama ini ia sudah berusaha menyelesaikan kuliahnya dengan baik, mengerjakan skripsi dengan rajin.
Abel melirik jam dinding yang berada di kamarnya, yang menunjukan jam dua siang. Malam ini ia ada janji makan malam bersama Daniel, Abel hanya tidak mau sampai telat. Namun, melihat jam masih siang, sepertinya Abel bisa tidur sebentar. Lagi pula Daniel kemungkinan menjemputnya sepulang kerja atau sore hari sekitar an jam lima sorean bisa juga magrib jika perkerjaan Daniel banyak.
Abel memutuskan untuk membersihkan diri sebelum tidur. Ia hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mandi, Abel memang hanya mandi kilat. Toh, nanti bangun tidur juga mandi lagi. Yang terpenting badannya sekarang tidak terasa lengket seperti tadi.
Dengan semangat empat lima, Abel melompat ke atas kasur dan langsung berbaring sambil memeluk guling nya. Tidak butuh waktu lama, perempuan itu langsung terlelap.
Sekilas perkenalan dari Defan.
Defan baru saja menyelesaikan liburannya di Indonesia. Ia berkunjung ke bebeapa daerah di Indonesia. Kini lelaki itu sudah berada di dalam taksi menuju kantor kakaknya. Sebelumnya Defan sudah menghubungi Daniel jika dirinya akan datang.
Defan masih kesulitan berbahasa Indonesia, ia saja selalu menggunakan jasa penerjemah saat liburannya. Untung saja karyawan di kantor Daniel cukup fasih berbahasa Inggris, jadi, Defan bisa dengan mudah menemui Daniel setelah mengatakan maksud dan tujuan nya mencari Daniel di kantor.
“Silahkan ditunggu dengan nyaman, pak. Bapak Daniel sedang rapat dan akan selesai setengah jam lagi.” Tutur karyawan Daniel pada Defan. Ia pun mengangguk lalu mendudukan dirinya di sofa panjang.
Kantor kak Daniel lumayan juga!
Lelaki itu mengamati sekeliling ruangan Daniel. Seperti ruangan bos-bos pada umumnya tidak ada yang mencolok. Namun, ada satu barang yang cukup menyita perhatian Defan. Barang itu tergeletak di atas meja kerja Daniel. Karena penasaran, Defan pun bangkit dari duduknya berjalan ke arah meja kerja Daniel dan meraih barang itu.
Sebuah figura kecil dari kayu, didalam nya terdapat foto Daniel dan Abel saat liburan di Jogja.
__ADS_1
Ini pacar kak Daniel?Cantik, dan masih muda.
Defan meletakan kembali figura itu, ia beralih ke dekat jendela kaca. Ia melihat ke arah luar jendela, banyak gedung-gedung menjulang tinggi dan bangun rumah yang nampak rapat satu sama lain.
Sepertinya tinggal di kota ini tidaklah buruk, pantas saja kak Daniel betah di kota ini.
Defan juga ingin hidup mandiri seperti Daniel. Namun, ia tidak punya keberanian sebesar Daniel yang rela memberontak dan pergi dari rumah demi kebebasannya. Ia masih takut hidup miskin, mungkin ketakutan itu ia warisi dari sifat ibunya.
Sekali Defan memutuskan keluar dari rumah maka ia tidak akan mendapat bantuan finansial lagi dari ibu nya meskipun ia anak tunggal. Apa Defan bisa hidup tanpa bantuan finansial dari ibunya, sementara dirinya belum mempunyai pekerjaan tetap. Defan sudah pernah bekerja di Daehan Group saat magang, namun, hanya sebentar. Kini ia sudah menyelesaikan S2 nya, sudah seharunya Defan mencari pekerjaan dan tidak bergantung pada ibunya.
Saat degan kabur ke Indonesia, ibunya memblokir semua kartu kredit dan ATM milik Defan dengan harapan Defan akan pulang. Namun, siapa sangka Defan sudah memikirkan itu sebelumnya. Biaya liburannya di tanggung oleh Daniel. Bahkan, Daniel memberi kartu pada Defan. Jadi, selama liburan Defan tidak perlu dipusingkan oleh biaya.
Sebenarnya Defan tidak enak menerima uang dari Daniel, namun ia butuh. Ia juga mau kabur sejenak dari omelan ibu dan pamannya. Oleh sebab itu Defan langsung setuju saat Daniel menawarinya liburan.
Selama satu bulan lebih di Indonesia Defan cukup beradaptasi dengan budaya Indonesia. Meskipun beda daerah beda budaya namun ada satu yang membuat Defan kagum, masyarakatnya. Mereka terlihat ramah, setiap daerah yang Defan kunjungi, ia selalu mendapatkan perlakuan ramah dari penduduk sekitar maupun dari guide.
Aku ingin mencoba peruntungan hidup di negara ini. Gumam Defan pelan. Lelaki itu melamun beberapa saat.
.
.
.
Bab kedua hari ini..
Mampir ke karya aku yang satu ya guys.. Judulnya Pengacara Tampanku..
Kisah cinta antara Jessica Rahardian Pratama dan Yoga Dennis Hanggara (Adik angkat Adam dan Nabila) ..
__ADS_1