
Hola hola, kita sudah memasuki musim kedua ya guys. Di musim kedua ini akan lebih banyak kisah Abel dan Daniel. Tapi, kalian jangan sedih untuk Nabila dan Adam akan tetap ada kok di musim kedua ini. Nyempil-nyempil di cerita Abel dan Daniel.
Oke, segini dulu yah cuap cuap dari author . Selamat membaca 🙃
Peluk jauh dari ku 😌
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adam sendiri tak pernah meninggalkan Nabila sedetik pun. Ia melupakan sejenak ulah Rangga, saat ini Adam hanya ingin fokus pada Nabila dan kedua putranya.
Untuk Rangga sudah di urus oleh Riko. Ia akan membuat perhitungan pada Rangga setelah keadaan kedua putranya stabil, meskipun lahir dengan sehat namun Adam tetap khawatir pada si kembar karna lahir sebelum waktunya.
Adam sedang menggendong salah satu putranya menunggu diberi ASI oleh Nabila. Nabila sendiri sedang menyusuri putranya yang lain.
“Kamu sudah siapkan nama belum, Dam?” Tanya kakek Tedjo.
“Sudah kek.”
“Siapa?” Sahut Trisno.
“Akra dan Aksa, kek. Akra Ruhby Hanggara dan Aksa Ruhby Hanggara.” Jawab Adam sembari menciumi wajah mungil putranya.
“Yang mana yang Akra yang mana yang Aksa?” Tanya ibu Silfi.
Meskipun kembar, kedua putra Nabila masih bisa di bedakan karna mereka bukan kembar identik.
“Aksa yang sulung, Ma.Yang lagi di pangku Bila. Kalau yang Adam gendong ini Akra, Ma.” Jawab Adam lagi.
Semua yang ada diruangan itu pun manggut-manggut. Mama Silfi mengambil baby Aksa yang sudah selesai minum ASI. Sementara Adam meletakan Akra di pangkuan Nabila agar bisa disusui oleh bundanya.
Nabila memang belum bisa banyak bergerak karna takut jahitannya jebol. Apalagi ibu Putri yang membawa banyak peraturan-peraturan penting tinggalan nenek moyangnya. Membuat Nabila dan Adam hanya bisa menurut.
Padahal jaman sudah modern dan berkembang tapi kadang ibu Putri masih membawa kebiasaannya yang diturunkan oleh orang tua jaman dulu.
“Halo Aksa ini oma, sayang.” Ucap Silfi seraya menimang-nimang baby Aksa. Bayi mungil itu terlihat tidak bersemangat mungkin karena mengantuk, beberapa kali baby Aksa bahkan menguap.
“Kayaknya ngantuk, Jeng.” Ucap ibu Putri yang bediri di sebalah Bu Putri.
Benar saja setelah beberapa saat di timang-timang mama Silfi, baby Aksa tertidur.
“Gemasnya cucu oma, baru di gendong sebentar udah tidur.” Ucap mama Silfi seraya meletakan baby Aksa di box kaca.
“Buk, udah.” Ucap Nabila selesai menyusui baby Akra. Ibu Putri pun mengambil baby Akra dari pangkuan Nabila.
“Akra sama yangti dulu ya, biar bunda istirahat.” Ucap Ibu putri setelah menggendong Akra. Kemudian Ibu menimang Akra agar baby mungil itu tertidur seperti adiknya.
“Mas..” panggil Nabila pada Adam.
“Iya sayang.” Adam berjalan menghampiri Nabila lalu duduk di tepi brankar Nabila.
“Mau pipis.” Bisik Nabila pada suaminya. Ia malu karna banyak orang di ruangan itu meskipun semuanya kelaurga Nabila tetap merasa malu.
“Ayo, aku bantu.”
Dengan telaten Adam membantu Nabila turun dari brankar. Lelaki itu membawa infus Nabila di tangan kirinya sementara tangan kanannya memapah Nabila. Nabila sendiri masih sulit berjalan, ia terlalu takut dengan jahitannya. Meskipun dokter sudah mengatakan jahitannya aman berkali-kali pun, Nabila tetap takut.
“Mau kemana sayang?” Tanya mama Silfi. Perempuan paruh baya itu langsung berdiri dari duduknya mendekat pada Nabila dan Adam saat melihat pergerakan anak dan menantunya.
“Mau ke kamar mandi, ma.” Jawab Nabila.
“Mau mama bantu?” Tanya Silfi dan Nabila menggeleng.
“Sama mas Adam aja, Ma.”
Mama Silfi mengangguk, ia paham mungkin menantunya malu-malu padanya. Ya sudahlah, toh Adam juga telaten mengurusi Nabila.
***
Hari berikutnya, Nabila menyusui satu persatu putranya. Ia ditemani oleh ibu Putri hari ini, mama Silfi dan yang lainnya sedang pulang. Sementara Adam pergi ke kantor.
Setelah selesai menyusui, Nabila kembali meletakan kedua putranya di box yang berada dia sebelah brankar. Ya, Nabila meminta kedua putranya berada di dekatnya bukan di ruangan khusus bayi.
Jessi sendiri yang baru saja datang bersama Abel dan Jordan kagum melihat kedua bayi mungil yang berada di dalam inkubator. Ia di gendong Abel karna ingin melihat adik bayi. Sementara Jordan di gendong oleh ibu putri.
“Selamat ya aunty.” Cicit Jessi.
“Terimakasih sayang.”
“Siapa nama adik bayi aunty?” Tanya Jordan penasaran.
“Aksa dan Akra, sayang.” Jawab Nabila.
“Hai baby Aksa dan baby Akra, Kaka Jessi dan Kaka Jordan datang. Nanti kita main bersama.” Cicit Jessi menyentuh box kaca dimana baby Aksa berada.
“Yangti, kenapa mereka belum bangun?” Tanya Jordan ingin mengajak bayi-bayi mungil itu berbicara.
“Mereka belum lama tidurnya sayang, mungkin sebentar lagi bangun.” Jawab ibu Putri. Ya, Jessi dan Jordan juga memanggil ibu Putri, Yangti. Seperti mereka memanggil orang tua mommy nya.
Yangti yang berarti eyang putri, panggilan untuk nenek. Sering kali orang Jogja memanggil nenek dengan panggilan Yangti atau Mbah Putri.
Sementara panggilan untuk kakek, biasanya Yangkung yang berarti eyang kakung. Atau panggilan lainnya bisa Mbah kakung.
__ADS_1
Tak terasa sudah masuk jam makan siang bahka bisa dikatakan lewat. Jessi dan Jordan pun sudah merasa lapar. Akhirnya Abel memutuskan untuk pamit mengaja kedua bocah itu untuk makan.
***
Abel mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit. Si kembar duduk di kursi bagian belakang, sementara Abel duduk sendiri di kursi kemudi.
“Kalian mau makan apa?” Tanya Abel seraya melirik Jessi dan Jordan dari kaca depan.
“Seperti biasa, aunty. Jessi mau bakso.” Jawab Jessi.
“Jordan?” Tanya Abel.
“Bakso juga boleh aunty, tapi kalau ada Jordan mau Mie ayam bakso.” Jawab Jordan.
Abel manggut-manggut seraya mengingat dimana kedai Mie ayam bakso yang enak. Lalu munculah satu warung Mie ayam bakso yang sering Abel and the genk datangi. Letaknya di dekat rumah almh. Ibu Sofi, yang tidak lain adalah ibu kandung Nita.
“Aunty, hp aunty berdering.” Ucap Jessi mendengar dering ponsel.
“Ah, iya sayang.”
Abel menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu berhenti sejenak untuk menerima telepon. Ia tidak mau mengambil resiko berbahaya dengan menerima telepon sambil mengemudi. Sebenarnya bisa saja dengan Bluetooth tapi lebih fokus menerima telepon saat mobil berhenti.
“Halo!” Sapa Abel pada si penelepon.
“Kamu dimana?”
“Aku lagi di jalan mau makan siang,” jawab Abel.
“Oke, aku susul!”
Klik si penelepon Abel mematikan panggilan teleponnya secara sepihak, bahkan tidak menunggu sahutan dari Abel.
Memang dia tau aku mau makan dimana? Gumam Abel.
“Siapa aunty?” Tanya Jordan penasaran. Sebenarnya samar-samar Jordan mengenali siapa yang menelepon Abel karna suaranya cukup keras meskipun Abel tidak mengaktifkan pengeras suara.
“Orang aneh.” Jawab Abel ngasal. Perempuan itu melajukan mobilnya kembali menuju tempat makan.
***
Abel menggandeng Jessi dan Jordan di tangan kanan dan kirinya menuju warung Mie ayam bakso setelah memarkir mobilnya. Jessi dan Jordan terlihat bersemangat makan salah satu makanan favorit mereka.
“Paman Daniel?” Teriak Jordan saat melihat sosok yang dikenalnya. Ia melepaskan begitu saja genggaman tangan Abel dan berlari ke arah lelaki yang biasa ia panggil paman.
Lelaki itu berjongkok seraya merentangkan tangannya siap memeluk Jordan. Dalam satu gerakan Jordan sudah masuk ke dalam dekapan Daniel. Lelaki itu langsung berdiri dan menggendong Jordan.
“Kalian lama sekali?” Tanya Daniel.
“Kenapa lama sekali?” Tanyanya pada Abel setelah Abel berada di hadapannya.
“Macet.” Jawab Abel cuek.
“Untung saja aku datang lebih dulu, kalau nggak kita nggak dapat tempat duduk.” Ujar Daniel.
Warung Mie ayam bakso itu memang terlihat ramai bahkan penuh. Hanya tersisa tempat duduk di pokok yang sepertinya sudah di pesan oleh Daniel. Syukurlah, masih kebagian tempat duduk meskipun lesehan.
Abel pun menggendong Jessi agar mudah membawa gadis kecil itu menuju tempat duduk yang tadi sudah di pesan Daniel.
“Kamu tau darimana tempat ini?” Tanya Abel sedikit berbisik.
“Apakah itu penting?” Balas Daniel juga berbisik. Abel menggeleng.
“Kalau begitu tidak perlu ku jawab.” Sahut Daniel acuh tak acuh.
Cih, sok rahasia rahasiaan. Dasar om-om.
“Kamu bilang apa?” Daniel mengernyit heran. Padahal Abel hanya membatin, tidak mungkin, kak, Daniel bisa membaca pikirnya.
“Kau tampan hari ini.” Jawab Abel seraya tersenyum.
“Maaf, aku memang tampan dari lahir.”
Abel melongo dengan kenarsisan lelaki di hadapannya ini.
“Haha, jangan pasang muka seperti itu menggemaskan.” Menarik hidung Abel lembut. Abel yang melongo menurut Daniel sangat menggemaskan. Menurut Daniel ya!Maklumi saja Daniel, kan, sedang kasmaran.
“Jangan sentuh hidungku!” Pekik Abel tidak terima hidungnya di pencet.
“Halah pesek juga.” Daniel terkekeh.
Sembarangan, pesek-pesek gini juga cantik. Gak tau aja dia seberapa banyak anak kampus yang ngejar gue. Gumam Abel.
“Aunty, kenapa pelayan nggak datang kesini?” Keluh Jessi. Sudah beberapa saat mereka duduk namun belum ada pelayan yang menghampiri mereka.
“Sabar sayang, kita tunggu antrean ya sayang. Mungkin belum sampai giliran kita.” Tutur Abel lembut seraya mengelus rambut Jessi yang duduk di sebelahnya.
Sementara Jordan duduk di hadapan Jessi disebelah Daniel.
Beberapa saat kemudian pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Abel pun menanyai Jessi dan Jordan secara bergantian apa yang ingin kedua bocah itu makan.
“Jessi mau bakso kuah, sama es campur, aunty.” Ucap Jessi.
__ADS_1
“Jordan mau Mie ayam bakso dan es jeruk, aunty.” Ucap Jordan.
Abel menatap Daniel. “Kamu?”
“Aku nggak tau, sama dengan punyamu aja.” Jawab Daniel. Abel pun mengangguk.
“Mbak, Mie ayam bakso 1, Bakso kuah 1, bakso komplit 2, minumnya es campur 3, es jeruk 1 sama di kasih air putihnya 4 ya, mbak!” Ujar Abel lembut pada pelayan. Pelayan itu nampak serius mencatat satu-persatu pesanan Abel.
Tidak perlu waktu lama dua pelayan membawa pesanan Abel. Abel membantu Jessi maupun Jordan membumbui bakso dan Mie ayam mereka dengan telaten. Semua gerak gerik Abel tak luput dari tatapan Daniel. Lelaki itu seakan kagum dengan sosok ke ibu an dari Abel.
Dia ternyata punya sisi seperti ini juga. Batin Daniel.
“Nggak usah pakai sambal, ya. Nanti kepedesan.” Ucap Abel, Jessi dan Jordan pun mengangguk.
Abel membumbui bakso Jessi dengan kecap dan sedikit saus. Sementara punya Jordan kecap dan sausnya seimbang.
“Mau pakai cuka enggak?” Tanya Abel pada Jessi. Jessi menggeleng. Tak lupa Abel membubuhkan satu sendok acar timun pada mangkuk kedua bocah kecil itu. Mereka juga menyukai acar timun.
Setelah selesai membumbui makanan si kembar, Abel membumbui baksonya sendiri.
“Makasih.” Ucap Daniel merebut bakso Abel yang sudah di bumbui.
“Kamu!” Geram Abel.
“Aku nggak bisa kasih bumbunya.” Ujar Daniel memelas.
“Hm, ngomong dong dari tadi, nggak usah rebut punyaku juga. Aku, kan, bisa kasih bumbu bakso punyamu.” Gerutu Abel seraya membumbui bakso milik Daniel karna miliknya sudah mulai dimakan Daniel. Mereka bertukar bakso.
“Oke, Next time kalau kita makan bareng. Aku serahkan perbumbuan sama kamu.” Jawab Daniel dengan mulut penuh makanan. Abel geleng-geleng kepala mendengar ucapan Daniel.
“Bel, aku mau seperti punya Jordan.” Ucap Daniel di sela-sela makannya.
“Mie ayam?” Daniel mengangguk.
“Tapi, harus dihabiskan ya!” Sekali lagi Daniel mengangguk.
Abel pun memanggil pelayan memesankan Mie ayam untuk Daniel. Sementara Jessi dan Jordan terlihat anteng menikmati makan mereka. Setelah Mie ayam Daniel tersaji di atas meja, Abel langsung membumbui sesuai arahan Daniel yang suka pedas. Lelaki itu langsung makan dengan lahap. Daniel menghabiskan satu porsi bakso komplit dan satu porsi Mie ayam. Untuk lelaki seperti Daniel dua porsi makanan itu masih lumayan lah.
“Paman, kata Daddy kalau kebanyakan makan junkfood nanti nggak keren lagi.” Cicit Jessi di sela makannya. Daniel sudah habis dua mangkuk, namun gadis kecil itu belum menyelesaikan makannya.
“Kenapa nggak keren sayang?” Tanya Daniel.
“Nanti perut paman jadi buncit, aunty Abel nggak suka.” Jawab Jessi.
“Benarkah?” Tanya Daniel dan Jessi mengangguk. Daniel sudah menatap tajam Abel.
“Uhukk..” Abel tersedak mendengar ucapan Jessi. Lalu ia geleng-geleng kepala seakan tidak menyetujui ucapan Jessi.
“Jessi sayang, kalau makan jangan sambil ngomong nanti tersedak seperti aunty.” Ucap Abel lembut. Mengalihkan pembicaraan.
“Iyaa aunty.” Ucap Jessi tidak membantah. Gadis kecil itu kembali menikamati baksonya dengan tenang.
Daniel merogoh ponselnya dari saku celana kemudian mengetik sesuatu.
Daniel mengirim pesan pada Abel.* Ia memberi isyarat pada Abel untuk membuka ponselnya.
Aku rajin ngegym, kau tenang saja tidak akan buncit!Tubuhku masih sispack, kalau kau tidak percaya aku bisa menunjukannya.
Seketika Abel membelalak saat membaca pesan dari Abel. Ia lalu melotot pada Daniel, sementara lelaki yang di pelototinya malah mengedipkan sebelah matanya seakan menggoda Abel.
Up to you!
Balas Abel pada Daniel. Daniel lagi-lagi terkekeh karna Abel.
“Biar aku yang nyetir!” Ujar Daniel menyahut kunci mobil yang digenggam Abel.
“Kau tidak bawa mobil?” Daniel menggeleng, “Aku diantar sopir.” Jawab Daniel kemudian.
Diantar sopir, bilang saja kau ingin mengikutiku kemana-mana. Batin Abel kepede-an.
“Paman, aunty, bagaimana jika kita pergi ke taman bermain?” Tawar Jessi yang belum puas menghabiskan waktunya dengan Abel.
“Paman setuju, bagaimana denganmu?” Melirik Abel yang duduk di sebelahnya.
“Hm, jika kalian semua setuju, aku bisa apa?Gas lah.” Ucap Abel seraya menoleh ke belakang dimana Jessi dan Jordan duduk. Tak lupa perempuan itu tersenyum pada kedua bocah yang sering mengajaknya makan bakso.
“Okey, Lets go !” Seru Daniel semangat. Ia pun memutar lajur mobilnya menuju taman bermain.
“Yeay.” Cicit Jessi semangat.
.
.
.
Oke ini 2000 kata lebih yaa.. bisanya dua Chapter, ini aku jadikan satu Chapter..
__ADS_1
Selamat membaca hyung 😊