
Daniel dan Mike mengurus masalah Dewi dengan rapi. Ilham terbukti bersalah dengan memberikan Dewi obat-obat an dengan dosis tinggi hingga perempuan itu overdosis. Setelah itu Ilham melakukan penganiayaan pada Dewi dan menghilangkan jejak. Beruntung ada CCTV yang memperlihatkan Ilham membuang barang bukti dan membeli obat-obat an terlarang. Juga barang bukti yang memperlihatkan Ilham dan Dewi bertemu Santi dan Robi.
Ilham dan Santi sempat bersekongkol dengan Santi dan Robi untuk menggagalkan rencana pernikahan Daniel, juga sabotase rem blong mobil Caca adalah ide Robi untuk menggagalkan rencana Pernikahan Daniel, bukan semata-mata karena kecemburuan Dewi.
Singkat cerita Ilham dan Dewi berdebat karena pembagian fee yang diberikan Santi tidak sama. Keduanya terlibat adu mulut karena hal tersebut hingga Ilham memutuskan menghabisi Dewi agar bisa menguasai semua uang yang di berikan oleh Santi. Karena hal itu Santi terpaksa terseret kasus sabotase mobil Caca, karena dia lah yang membayar uang atas tindakan Dewi. Meskipun ide nya berasal dari Robi. Semua sudah mendapat ganjaran masing-masing, Robi dan Santi serta Ilham masuk bui untuk mempertanggung jawab kan perbuatan mereka. Sementara Daniel mendapatkan kembali nama baiknya.
**
Sudah seminggu semenjak Daniel dan Abel kembali ke apartemen. Kehidupan rumah tangga mereka aman tenteram dan damai. Sesekali mereka berdebat karena hal kecil namun selalu bisa menyelesaikan masalah dengan baik.
“Bee, hari ini aku kerumah Nabila, ya!” Sambil memasangkan dasi kerja untuk suaminya.
“Ok, perlu sopir?atau mau bareng aku sekalian berangkat kerja?”
“Emang kamu nggak telat kalau nganter aku dulu?”
“Nggak, kamu siap-siap gih.”
“Okay.” Abel berlalu secepat kilat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Daniel menikmati sarapan nasi goreng dengan toping telur ceplok yang di buat Abel.
Abel sampai di rumah Nabila pukul 08:00 tepat, dengan menenteng kresek berisi cakwe dan donat kentang sembari menebarkan senyum pada satpam dan beberapa asisten rumah tangga di kediaman sahabatnya itu Abel melangkah santai masuk kedalam rumah sahabatnya.
“Akra, Aksa, aunty datang!” Teriak Abel senang.
Nabila yang sedang menyuapi si kembar secara bergantian pun menoleh.
“Pagi-pagi di rumah orang udah berisik aja sih buk.” Protes Nabila.
“Hai, keponakan genteng aunty.” Menyapa ai kembar yang duduk di stroller. “Sini biar gue yang siapin, lo mandi sana! Biar ntar pas Nita datang kita langsung berangkat.”
Seakan tidak percaya Abel bisa menyuapi kedua putranya Nabila menatap Abel serius.
“Bisa, gue bisa.” Abel dengan cepat memahami arti tatapan Nabila.
“Ih ponakan tante udah 7 bulan aja sih.. cepet banget gedenya.” Mengambil alih mangkuk berisi mp-ASI yang di pegang Nabila.
“Awas jangan sampe belepotan.”
“Iya-iya, bawel banget sih.”
Dengan telaten Abel menyuapi si kembar secara bergantian. Sesekali tangan si kembar bergerak-gerak seakan merespon apa yang Abel ucapkan pada kedua bocah itu.
Setelah sekian Purnama, Abel, Nabila dan Nita pun memiliki kesempatan jalan-jalan bersama. Kali ini Nabila dan Nita sudah membawa buntut bersamanya.
__ADS_1
Abel mendorong stroller Aksa dengan begitu orang-orang akan mengira ketiganya sudah memiliki anak. Padahal wajah Aksa dan Akra mirip.
“Lo kemana-mana bawa baby siter?” Melihat Nita yang datang dengan seorang pengasuh anak.
Nita mengangguk, “Mas Riko yang nyuruh, takut aku kecapekan ngurus Putri sendiri.” Nama anak Nita dan Riko adalah “Putri”.
Abel beralih menatap Nabila, “lo kenapa nggak bawa baby siter juga?”
“Kan ada lo.” Jawab Nabila.
What the hell.
“Lo kira gue pengasuh, astagfirulloh.” Abel mengusap dadanya pelan. Sementara Nabila terkekeh.
“Biasanya kalau jalan ‘kan gue sama mas Adam, jadi nggak bawa pengasuh atau kadang sama mertua.”
“Iya juga sih.”
Mereka berhenti di cafe Mall itu. Sekedar ngopi dan bercerita.
**
Taksi biru yang Abel tumpangi berhenti di depan gedung firma hukum terbesar kota Jakarta saat ini. Gedung yang juga tempat suaminya bekerja. Usai membayar ongkos taksi Abel turun dari taksi dan melangkahkan kaki menuju lobi gedung itu.
“Siang, mbak. Saya mau bertemu bapak Daniel.”
Petugas itu mengangguk, “baik ibu, sebelumnya apakah ibu sudah memiliki janji temu dengan bapak Daniel?” Tanyanya sopan pada Abel.
Abel mengira petugas itu adalah karyawan baru karena tidak tau dia adalah istri bosnya.
“Belum, mbak. Tapi, tolong sampaikan ke sekertarisnya ada ibu Abel mau bertemu bapak Daniel.”
“Baik, ibu. Mohon ditunggu sebentar.” Abel mengangguk dan menunggu petugas itu menghubungkan pesan Abel pada sekertaris Daniel. Setelah beberapa saat raut wajah petugas itu berubah cemas.
“Gimana, mbak?”
“Maaf ibu saya tidak tau ibu istri dari pak Daniel.”
Abel tersenyum ramah, “nggak papa, mbak. Suami saya ada?”
“Ada ibu, ibu bisa langsung naik ke lantai ruangan pak Daniel.”
“Terima kasih, mbak.”
__ADS_1
“Sama-sama, ibu.”
Sampai di sebelah ruangan milik suaminya Abel bertemu banyak orang yang kemungkinan adalah calon karyawan. Ia melenggang santai melewati perempuan-perempuan cantik yang duduk berjejer di kursi panjang sedang menunggu antrean.
Menyapa singkat sekertaris Daniel dan masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Di dalam ruangan besar dengan interior gold itu Daniel nampak serius membaca berkas, lelaki itu sampai tidak menyadari kehadiran Abel.
“Serius banget, Bee.”
“Eh?” Daniel menengadah melihat Abel sudah berada di sebelah kursi putarnya. “Kamu udah lama?” Menarik lengan Abel hingga perempuan itu duduk di pangkuan suaminya, dipeluknya erat sang istri sembari menghirup aroma Abel.
“Aku baru aja sampai, terus lihat kamu kayak serius banget. Padahal aku udah ketuk pintu berulang-ulang, nggak ada sahutan. Terus sekertaris kamu nyuruh aku langsung masuk aja.” Cerita Abel pada suaminya.
“Maaf, aku nggak dengar.”
Cup, satu kecupan mendarat di tengkuk leher Abel. Membuat bulu kuduk Abel berdiri, bukan karena merinding namun terangsang. Apalagi Daniel mengulang-ulang kecupannya hingga beberapa kali.
“Main yuk, sayang.” Ajakan Daniel langsung mendapat cubitan mesra di perut lelaki itu. “Kok akunya di cubit sih.” Meskipun hanya cubitan kecil namun tetap kerasa.
“Ya kamu ngajak main di kantor. Nggak ah, nggak boleh.”
“Kenapa emang? Aku pengen sayang, nolak permintaan suami dosa loh.”
Bisa-bisa nya Daniel mengeluarkan senjata andalannya, menolak permintaan suami itu dosa. Jika sudah begitu Abel luluh juga.
Satu jam pasangan pasutri itu memadu kasih di ruang istirahat milik Daniel. Hingga Abel kelelahan dan tertidur di ruangan itu, sementara Daniel meneruskan pekerjaanya. Lelaki itu seakan telah mencharge baterai semangatnya. Usai berhubungan suami istri dengan.
“Sayang..” panggil Daniel lirih berusaha membangunkan Abel. Namun, Abel tak bergeming. Daniel merasa gemas sendiri dan mencubit pipi Abel.
Terjadi pergerakan dari istrinya, perempuan yang baru saja ia cubit dan unyel-unyel pipinya itu terbangun dengan malas.
“Dasar tukang tidur.” Sambil menyentil hidung Abel.
“Masih ngantuk.” Keluh Abel.
“Nanti lanjut tidur di mobil, udah sore kita pulang dulu, ya?” Bujuk Daniel.
Abel mengangguk, “tapi gendong.” Merentangkan kedua tangannya. Sesuai permintaan sang istri Daniel menggendong Abel ala bayi koala menuju parkiran mobil di basement dengan lift khusus.
.
.
.
__ADS_1
.