
Nita dan Abel baru saja sampai dirumah sakit. Mereka langsung ke rumah sakit sepulang kuliah.
“Kalian datang?”
Nita dan Abel mengangguk.
“Aku titip Nabila sebentar, aku mau menemui dokter.” Ucap Adam yang diangguki Nita dan Abel.
Setelah Adam pergi, Nabila membuka kedua matanya. “Bil, udah sadar?Mana yang sakit?” Nita mendekati Nabila duduk di kursi sebelahnya.
“Bayiku gimana?” Tanya Nabila.
“Gak papa aman, kamu hanya kecapekan dan stres.” Jawab Nita.
“Lo gimana sih, Bil?Kok bisa pingsan, ceritain ke gue!” Abel membantu Nabila bersandar. Lalu manarik sofa kecil mendekati brankar dan duduk di sofa itu.
“Nggak tau, Bel. Rasanya kepalaku pusing terus semuanya seperti berputar-putar, setelah itu aku nggak ingat.” Ucap Nabila.
“Syukurlah kamu nggak papa, semua orang panik dapat kabar kamu pingsan. Apalagi mas Adam nggak dirumah.” Nita sudah tau Adam tidak pulang semalaman dari mama Silfi. Sebelumnya mama Silfi menelepon Riko menanyakan keberadaan Adam. Saat itu Riko sedang sarapan bersama Nita.
“Mas Adam nggak dirumah?Kan masih pagi, semalam mas Adam nggak pulang?” Tanya Abel yang langsung diangguki Nita.
“Kalian bertengkar?” Abel menatap Nabila mencari jawaban. Nabila memejamkan mata seraya mengangguk. “Karena?” Sangat jarang bahkan hampir tidak pernah Nabila dan Adam bertengkar sampai Adam tidak pulang.
“Bel, Nabila masih sakit. Bisa kan nanya nya besuk aja?!” Nita menatap Abel serius. Si Abel kayak nggak tau sikon aja. Bisa-bisa Nabila tambah setres.
“Sorry, lupa.” Balas Abel.
“Dah lo nggak usah sedih, ada gue yang akan selalu ada di pihak lo.” Abel menggenggam lembut tangan Nabila.
“Makasih, Bel.” Balas Nabila.
“Sahabat selamanya!” Nita meletakan tangannya diatas tangan Abel dan Nabila.
“Best friend forever!Jadi, kalau siapapun diantara kita ada masalah harus cerita. Kita akan cari solusinya sama-sama.” Ucap Abel.
“Siap!” Balas Nabila dan Nita bersamaan.
“Abel!” Panggil Nabila.
“Iya baby, mau apa?”
“Aku lapar, pengen cilok.”
__ADS_1
“Memang boleh makan cilok?” Sahut Nita.
Baru saja Abel mau berdiri dan mencari cilok. Mendengar pertanyaan Nita, Abel kembali duduk. “Boleh enggak?” Tanya Abel.
“Boleh, kalau hanya kita bertiga yang tau.” Jawab Nabila.
“Lah, ada suami lo di depan!Gimana gue bawanya?” Tanya Abel bingung. Abel mau-mau saja menuruti semua keinginan Nabila.
“Em, pura-pura aku yang pengen aja. Yang penting selama Nabila makan, mas Adam jangan sampai masuk kamar.” Ide dari Nita.
“Ya aneh dodol, kalau lo yang pengen kenapa gue yang beli?Terus kenapa mesti makan di ruangan Nabila?ntar mas Adam pasti curiga.” Abel tidak setuju dengan ide Nita. Apalagi Adam tau Nabila suka sama cilok. Jika mereka makan cilok di kamar Nabila sudah pasti Nabila ikut makan.
“Ya gimana dong?Abellll, aku pengen cilok.” Rengek Nabila.
“Iya-iya, cilok Mbah gondrong kan?” Cilok yang dijual di dekat perempatan apartemen Nabila. Nabila mengangguk.
“Kamu beli pakai tuperw*re aja, terus nanti di masukin ke tas kamu. Mas Adam nggak bakal tau. Sebentar lagi mas Riko sampai sini, mereka biar ngobrol di depan.” Ucap Nita memberi ide.
“Baiklah,” Abel beranjak berdiri. “Selain cilok apa?” Tanya Abel lagi.
“Nasi Padang, rendang yaa kuahnya di pisah.” Pinta Nabila.
Abel mengernyitkan alisnya. “Beb, nggak boleh makan nasi Padang terlalu kental santannya. Apalagi udah makan cilok. Nasi padangnya Next time ya.” Bujuk Abel. Nabila merengut sedikit bersedih, tapi, tetap mengangguki ucapan Abel.
“Anak baik!” Abel mengelus rambut kepala Nabila. Lalu ia pun pergi untuk membeli cilok.
“Kamu nggak mau bagi masalahmu sama aku, Nit?”
“Bukan begitu, Bil. Tapi, kamu sendiri sedang ada masalah. Aku nggak mau menambah beban pikiranmu.” Ucap Nita sedih.
“Aku sama mas Adam hanya bertengkar sebentar, kami sudah baikan.” Ujar Nabila tidak mau Nita khawatir terhadapnya.
“Sepertinya aku hamil.” Ucap Nita berat seraya menunduk. Hamil diluar nikah adalah aib. Nita terlalu takut menghadapi kenyataan, bagaimana jika anaknya dianggap anak haram?Nita tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika itu sampai terjadi.
“Kamu udah cek pakai tespeck?”
Nita menggeleng. “Belum.”
“Udah ngomong sama mas Riko kemungkinan kamu hamil?”
Nita menggeleng lagi. “Belum.”
Nabila menghela nafasnya. “Sekarang kamu whatshap Abel, suruh dia beli tespeck.” Ucap Nabila.
__ADS_1
“Tapi, Bil?”
“Nggak ada tapi-tapi an, nanti kamu cek dikamar mandi. Kalau hasilnya positif sekalian kamu cek ke dokter kandungan selagi kita dirumah sakit. Biar Abel yang temani kamu!” Tegas Nabila. Harus cepat di cek. Seharunya Nita dan Riko menikah sesudah mereka melakukan kesalahan. Tapi, keluarga Riko baru bisa berkumpul bersama 6 bulan lagi. Makanya pernikahan Nita dan Riko akan diadakan 6 bulan lagi. Namun, jika Nita hamil akan berbeda keadaannya. Mereka harus menikah sebelum perut Nita membesar.
“Baiklah.” Nita mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ia mengirim pesan pada Abel untuk membelikan tespeck.
“Bagaimana?” Nita baru saja keluar dari kamar mandi untuk mengecek kehamilannya dengan tespeck. Nabila dan Abel menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas.
Nita menunjukan hasil nya satu garis jelas dan satu garis samar-samar. “Yang samar-samar dihitung nggak sih?” Tanya Abel bingung. Nita dan Abel sama-sama menatap Nabila. Dia yang sedang hamil pasti lebih tau.
“Aku juga gak tau, waktu itu punyaku dua garis jelas semua.” Jawab Nabila mengangkat kedua bahunya.
“Gimana dong?” Tanya Abel.
“Browsing coba!” Suruh Nabila pada Nita atau Abel. Abel langsung membuka ponselnya untuk browsing. “Kata kuncinya apa?” Tanya Abel.
“Ciri-ciri wanita hamil!” Ucap Nita yakin.
“Hiss, bukan itu kata kuncinya.” Sergah Nabila.
“Terus apa woii?Paket data gua tinggal 100 mb nih, buruan!” Seru Abel.
“Ya ampun bel, ngenes banged sih hidup lo.” Nabila menggelengkan kepalanya.
“Bukan ngenes, Bil. Dia pelit sama hpnya sendiri. Kamu jual aja Hp mu, Bel.” Ujar Nita.
“Iya, malu-maluin Bel. Merk handphone apel krowak (Read:iPhone) tapi ngga punya pekat data.” Timpal Nabila.
Abel nyengir. “Dah nggak usah banyak cingcong, jadi browsing enggak?” Abel sudah tidak sabar ingin mencari tahu seputar kehamilan.
“Kata kuncinya hasil tespeck dua garis samar-samar.” Ucap Nabila.
Dengan cepat Abel mengetik kata kunci sesuai yang di ucapkan Nabila. Abel membaca beberapa hasil dari pencarian di Google. Perempuan itu langsung menutup mulutnya yang menganga. “Oh My God.”
“Hasilnya apa?” Tanya Nita.
“Gue ngga tau harus seneng atau harus sedih. Kalian baca saja sendiri!” Abel menyerahkan ponselnya untuk dibaca Nabila dan Nita. Seketika air mata menetes di pipi Nita. Ia juga menyentuh perutnya yang masih rata.
“Maksudnya apa sih, Bel?” Nabila penasaran ia pun ikut membaca hasil seaching di ponsel Abel..
.
.
__ADS_1
.
.