
Adam langsung menarik Nabila ke dalam pelukannya, menenangkan istrinya yang tengah menangis sesenggukan mengingat kembali masa masa lalunya. Sebelumnya Nabila memang bercerita akan mengunjungi makam sahabatnya tapi Nabila belum mengatakan bahwa itu makam Randy mantan pacarnya.
Bergitu juga Nita langsung di peluk Abel yang duduk di sebelahnya. Riko hanya bisa menatap Nita dengan perasaan sedih. “It’s Okay, semua sudah berlalu.” Abel selalu mengatakan hal yang sama saat Nita teringat kejadian naas itu.
“Itu bukan salahmu, kamu tidak bersalah.” Kata Abel lagi.
***
Hari berikutnya Nabila mengajak Adam untuk mengunjungi makam Randy. Riko, Nita dan Abel kembali ke Jakarta bersama pak Slamet. Mereka kembali lebih dulu karena Nita mendapat telefon bahwa budhe nya harus pulang ke Bandung, Nita khawatir jika ibunya sendirian dirumah. Sementara Adam dan Nabila akan kembali setelah mengunjungi makam Randy.
Nabila dan Adam menaburkan bunga di pusara Randy. “Assalamualaikum Randy, kali ini aku datang tidak bersama dengan sahabatku lagi. Aku ingin mengenalkan seseorang padaku, dia adalah suamiku.”
Adam tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan istrinya itu. “Bro, tidak ada kata yang bisa aku ucapkan selain Terimakasih, Terimakasih telah mencintai Bila lebih dari nyawamu, aku berjanji akan mencintai dan melindungi Bila lebih dari nyawaku juga, aku tidak akan mengecewakan mu yang sudah mengorbankan nyawamu. Aku akan membahagiakan Bila seperti yang kau inginkan, aku yakin kau pun bahagia di atas sana.”
Lumayan lama Nabila dan Adam di pusara Randy, hampir satu jam mereka di sana.
Nabila dan Adam langsung menuju Jakarta siang harinya, sampai di Jakarta Adam mengantar Nabila pulang kerumah, sementara Adam harus ke perusahaan.
“Non kelihatan capek, mau ibu panggilan tukang pijet, Non?” Tanya Bi Sumi.
“Nggak usah, Bi. Saya mau langsung istirahat aja.”
__ADS_1
“Baik, Non. Mau reques apa non untuk makan malam nanti?”
“Sop ayam ya Bi, lagi pengen maem yang berkuah.”
“Siap, Non.”
***
Adam langsung mengurus kerjaanya begitu sampai di perusahaan, laporan yang perlu di tanda tangani Adam sudah menumpuk di meja kerjanya. Padahal Adam hanya sehari tidak masuk kerja. Ia menghembuskan nafasnya kasar saat menatap dokumen yang menumpuk itu. “Suruh Tio keruangan saya!” Adam menghubungi sekertarisnya.
Tak lama kemudian Tio pun masuk keruangan Adam. “Anda memanggil saya, Tuan?”
“Sudah, Tuan.”
“Bagus, laporkan juga hasilnya pada Riko.”
“Baik, Tuan.”
Yang Adam bicarakan bersama Tio adalah perusahaan keluarga Dio, Adam melahap habis semua bisnis yang di jalankan keluarga Dio. Tidak menyisakan satu pun, mulai detik ini dipastikan bisnis keluarga Dio guling tikar.
Kerjaan Adam hari ini tidak bisa terselesaikan dengan cepat, terpaksa Adam harus lembur. Adam bahkan lupa untuk mengabari istrinya karena terlalu fokus bekerja. Sekitar jam 10 malam Adam baru menyelesaikan pekerjaanya, ia langsung pulang di antar oleh Tio.
__ADS_1
Sampai dirumah keadaan sudah sepi, Nabila dan Yoga mungkin sudah tidur. Adam menaiki satu persatu anak tangga dengan langkah lunglai, menuju kamarnya.
Kriet... Adam membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, ia tidak mau membangunkan Nabila yang sudah tidur. Namun, Adam tidak menemukan siapapun di kamarnya, istrinya tidak ada di kamarnya, Adam mencarinya di setiap sudut kamar, di walk in closet maupun kamar mandi Nabila tetap tidak ada disana. Adam pun keluar dari kamarnya untuk mencari istrinya.
.
.
Bersambung..
Vote
Vote
Vote
Like
Like
Like
__ADS_1