
Mama Lila sudah menceritakan keseluruhan cerita perjodohan Caca dan cucu kakek Han. Hanya saja mama Lila tidak mengatakan nama cucu kakek Han, dan Abel juga lupa menanyakan siapa namanya pada mama Lila. Abel akan bertanya pada kakak perempuan nya saja.
Kini Abel tau alasan Caca tidak pulang ke rumah semalam. Caca sedang sedih, Abel tidak tega membiarkan Caca sedih. Ia pun memutuskan untuk menyusul Caca di apartemennya. Sebelumnya Abel sudah menghubungi sekertaris Caca ternyata Caca tidak masuk ke kantor hari ini. Jadi, kemungkinan Caca hanya berdiam diri di apartemen.
Sampai di apartemen Caca, Abel langsung masuk ke dalam apartemen. Ia tau kode sandi masuk ke apartemen Caca, karena dulu Abel sering menginap di sana. Apartemen itu nampak sunyi, hanya isak tangis yang terdengar dari kamar Caca, pintu kamar Caca tidak tertutup rapat.
“Kak..” panggil Abel berjalan masuk ke dalam kamar Caca. Caca menoleh ke arah pintu, ia pun mengusap air matanya.
“Abel, kamu tau dari mana kakak disini?” Tanya Caca sambil tersenyum terpaksa.
“Abel tadi telepon sekertaris kakak, dia bilang kakak gak masuk kantor hari ini. Jadi, Abel kesini.” Abel mendudukan dirinya di sebelah Caca.
“Apa kakak baik-baik saja?” Caca mengangguk masih dengan tersenyum. Abel tau itu hanya senyum yang Caca paksakan karena tidak mau Abel melihatnya dalam kondisi terpuruk.
“Kak, sesekali terlihat rapuh tidak papa, kakak tidak harus selalu terlihat tangguh. Kakak bisa menangis jika itu bisa meringankan kesedihan kakak.” Ujar Abel. Dan, Caca pun langsung menangis sejadi-jadinya.
Abel hanya diam mendengarkan sambil menepuk-nepuk bahu Caca. Abel mengerti apa yang Caca rasakan saat ini, ia sendiri juga harus berpisah dan merelakan orang yang dicintainya karena keadaan. Pastilah Abel tau dengan jelas bagaimana perasaan Caca sekarang. Namun, Abel memilih untuk menyembunyikan kesedihannya. Abel tidak mau Caca semakin bersedih.
“Kamu tau, Bel. Aku dan Ilham, putus. Aku di jodohkan dengan orang lain oleh kakek. Dan dia sangat kejam, juga licik. Dia bahkan melemparkan kontrak pernikahan padaku. Dia sudah memiliki kekasih, tapi tidak berniat memutuskan kekasihnya meskipun kita menikah. Bayangkan saja, Bel, bagaimana aku bisa hidup dnegan lelaki seperti itu?Bagaimana?” Caca terisak mengingat pertemuannya dengan Daniel.
“Tidak ada yang baik dari lelaki itu, hanya wajahnya saja yang tampan, tapi hatinya busuk.” Lanjut Caca.
“Bagiamana dengan kak Ilham, kak?” Tanya Abel.
Caca tersenyum getir mengingat Ilham yang hampir memperkosanya. “Aku akan tetap berpisah dengannya, bagiamana pun saat menikah nanti aku hanya akan berbakti pada suamiku, Bel. Terlepas dari apa yang dia lakukan.” Ucap Caca berat.
“Apa calon tunangan kakak itu orang yang hebat?”
Caca mengangguk, Daniel memang lelaki yang cukup hebat. Apalagi setelah ia menyelidiki sendiri siapa Daniel. Lelaki yang mampu membangun usahanya tanpa bantuan finansial dari keluarga. Juga seorang pengacara yang hebat.
__ADS_1
“Cih..” Caca berdecih, “Dia memang hebat tapi kejam.”
“Aku jadi penasaran dengan wajahnya.” Gumam Abel.
Caca yang mendengarnya pun bangkit berdiri, ia berjalan ke arah ruang tamu, ia mencari majalah yang memuat foto Daniel. Caca kembali ke kamarnya membawa majalah itu.
Abel sendiri tengah bermain ponselnya saat Caca tiba-tiba keluar dari kamarnya. Abel meletakan ponselnya saat Caca menyerahkan majalah itu pada Abel. Abel tidak tau siapa tunangan Caca, di majalah itu hanya berisi laki-laki tampan dan mapan saja. Ada Adam suami sahabatnya juga Raka, suami mbak Ayu. Juga ada Kekasihnya dan berapa lelaki yang lain. Abel meninju majalah itu saat ia membuka lembaran yang berisi foto Daniel.
Caca terkekeh melihat Abel meninju foto Daniel, loh.. Abel, kan, belum tau rupa calon tunangan Caca, kenapa ia meninju foto Daniel?Caca merasa ada yang aneh. Ia pun menggerakan jari telunjuknya ke arah foto Daniel. “Iya.. lelaki itu yang di jodohkan dengan kakak, kamu bisa menebak dengan benar.” Ujar Caca.
Abel terkesiap mendengar ucapan Caca, ia menengadahkan ke atas menatap Caca yang masih berdiri di hadapan. “Di..dia calon tunangan kakak?” Tanya Abel terbata-bata. Caca mengangguk.
“Jangan tertipu tampangnya, dia adalah lelaki yang kejam. Mana ada lelaki yang mau menikahi wanita yang dijodohkan dengannya tapi tidak mau memutuskan pacarnya. Bukankah dia tidak masuk akal dan egois?” Cibir Caca.
Jreng.. Abel meremas majalah itu, entah apa yang akan Abel lakukan saat ini. Mau marah atau bersyukur?
“Tapi, Dia pacar Abel, kak!” Teriak Abel. Teriakan Abel sangat keras menggema memenuhi seisi kamar Caca. Caca sendiri sampai menutup kedua telinganya, dengan telapak tangan.
Abel mengangguk. “Dia pacar Abel, kak. Daniel pacar Abel hua hua hua...” Abel mulai menangis dengan keras, merajuk pada kakaknya seperti bayi.
“Kakek tega Jodohin kakak sama pacar Abel, hua hua hua.. nggak adil, kalian jahat, hua.” Abel guling-guling di kasur Caca. Seperti biasa saat merajuk sejak kecil Abel bersikap seperti itu. Ia sangat manja pada semua orang, papa, mama bahkan dengan Caca.
“Nggak boleh, pokoknya nggak boleh, pacar Abel nggak boleh sama kak Caca... huaaa, mama jahat, papa jahat, kakek jahat, kakak sedikit jahat.”
Lucunya.. batin Caca. Melihat Abel yang merajuk sambil menangis dan guling-guling di atas kasur itu membuat Caca ingin menggoda adik kecilnya.
“Ya, gimana dong, Bel. Kakek maunya Daniel tunangan sama kakak. Kamu ngalah ya, kasih pacar kamu ke kakak.” Goda Caca menahan sambil menahan tawanya. Abel tentu saja tidak terima.
Abel berdiri di atas kasur Caca sambil berkacak pinggang. “Nggak boleh!!Kakak nggak boleh sama Daniel... Daniel itu pacar Abel, pokoknya nggak boleh. Kakak yang ngalah, kakak, kan, yang lebih tua. Seharusnya kak Caca yang ngalah, lagi pula kak Caca sudah punya mas Ilham. Daniel punya Abel..Titik No debat!!” Teriak Abel.
__ADS_1
“Pfttt.” Seketika tawa Caca pecah.
“Kenapa kakak tertawa, Abel nggak lagi bercanda!” Sungut Abel merasa kesal. Ia pun berganti duduk di kasur Caca dengan kaki bersila seraya bersedekap.
“Kamu lucu kalau lagi marah.” Caca ikut naik ke atas kasur dan duduk bersila di sebelah Abel.
“Makasih ya, Bel.”
“Makasih untuk apa?Abel nggak mau kasih Daniel ke kak Caca, kakak nggak perlu berterimakasih.” Sungut Abel.
“Hahaha.. kamu pikir Daniel barang yang bisa dikasih-kasih, kan?” Lagi-lagi Caca terkekeh.
“Dia milik Abel!” Ucapnya bersungut-sungut. Caca pun mengangguk.
“Iyaaa.. Daniel milik Abel, Ilham milik Caca.” Tutur Caca lembut.
“Itu baru benar..Mana ponsel kakak, Abel mau protes sama kakek, beraninya kakek menjodohkan pacar Abel sama kak Caca.” Caca memberikan ponselnya pada Abel.
Abel pun langsung mengutarakan protesnya pada Kakek Nanto. Kabetulan saat ditelepon kakek Nanto sedang bersama papa Damar dan Mama Lila. Jadi, semua nya bisa mendengar protes Abel. Papa dan mama pun menjadi korban protes Abel karena tidak menceritakan perjodohan Daniel dan Caca sejak awal.
Abel tidak mau tau, ia memaksa kakek Nanto untuk bicara dengan kakek Han agar mengganti dirinya yang di jodohkan dengan Daniel. Mau tidak mau Kakek Nanto pun menuruti kemauan Abel.
Namun, Abel melarang kakek Han maupun kakek Nanto memberitahu Daniel. Abel sendiri yang akan memberi tau Daniel.
.
.
.
__ADS_1
.
Nah, akhirnya Abel tau yang sebenarnya ya guys.. Semoga Abel bisa segera memberi tahu Daniel.