Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
S2 Perempuan jadi-jadi an..


__ADS_3

“Kau sudah datang?”


“Sudah lama sampai kelaparan.” Keluh Defan yang membuat Daniel terkekeh.


Daniel baru saja menyelesaikan rapatnya. Ia meletakan beberapa berkas di atas meja lalu mendudukan dirinya di sofa tunggal yang terletak di sebelah utara sofa yang Defan duduki.


“Mau makan apa?” Tanya Daniel.


“Aku ingin mencoba sate, sate Padang yang sering kakak pamerkan pada ku.”


Hubungan Defan dan Daniel berangsur membaik semenjak Daniel menuduh Defan untuk liburan.


“Oke.” Daniel menelpon sekertarisnya untuk memendam sate Padang.


“Apa kau akan pulang ke Kanada?Aku akan mengaturnya.” Ucap Daniel santai seraya menyulut rokoknya dengan pemantik.


Jika ada Abel, Daniel jarang merokok, pencitraan mungkin lelaki itu saat dihadapan kekasihnya.


“Apa kakak mengusir ku?” Terlihat Defan kecewa dengan pertanyaan Daniel.


“Mana mungkin, aku hanya bertanya, jika kau masih ingin disini tidak masalah. Aku bisa mengaturnya.” Balas Daniel.


“Benarkah?” Mata Defan nampak berbinar-binar.


“Hm.”


“Aku mau ketempat yang ada di foto itu!”


Defan menunjuk figura yang berada di atas meja kerja Daniel. Daniel menoleh ke arah jati telunjuk Defan, seulas senyum terbit di bibir Daniel kala mengingat moment di foto itu. Itu adalah saat dimana dirinya meminta Abel untuk menjadi kekasihnya.


“Itu di Jogja, kau bisa kesana tapi cukup jauh perjalanannya dari kota.”


“Tidak masalah.” Jawab Defan.


“Baiklah.”


Obrolan mereka berakhir saat Daniel harus menemui klien penting. Defan pun pulang ke apartemen Daniel, ia akan tinggal di apartemen Daniel karena di rumah Daniel ada kakek Han. Sementara kakek Han masih dingin pada Defan.


***


Abel terbangun setelah tidur selama dua jam. Ia menelepon Daniel namun tidak diangkat oleh Daniel.


“Kemana sih dia?Udah jam segini, nggak ngabarin mau jemput jam berapa, seharian juga nggak kirim pesan. Sesibuk apa sih dia sampai nggak inget aku. Kesel deh, awas aja nanti kalau ketemu.” Gerutu Abel seraya turun dari tempat tidur.


Abel melangkah menuju dapur untuk minum. Ia juga membuka kulkas yang isi nya hanya ada beberapa buah. Salah satunya buah jeruk. Abel mengupas buah jeruk itu dan memakanya seraya duduk di kursi pantry.


Ting tong..


“Siapa sih, ganggu aja.” Gerutu Abel melangkah menuju pintu setelah mendengar bunyi bel.


Ting tong.. Bel berbunyi lagi.


“Iyaa, sebentar!” Teriak Abel.


Memang bakalan denger ya kalau aku teriak?!

__ADS_1


Abel terkekeh sendiri. “Siapa ya?!” Membuka pintu apartemennya. Terlihat dua orang di depan pintu apartemen Abel satu perempuan dan satu lagi, em.. entahlah perempuan jadi-jadian sepertinya alias bencong.


“Maaf ini benar apartemen nona Abel?” Tanya salah satu orang itu. Abel pun mengangguk.


“Iya, saya Abel. Cari siapa ya, mbak?” Tanya balik Abel.


“Saya disuruh bapak Daniel untuk membantu mbak Abel bersiap.”


Apa lagi maunya Daniel, seharian nggak ngabarin aku malah kirim orang mana yang satu jadi-jadian pula.


“Iya say, kita bakalan bikin elu cantik sampai tuh bule ganteng nggak bisa berhenti natap elu say.” Perempuan jadi-jadian itu akhirnya turut bersuara. Ia juga mendorong tubuh Abel agar mundur sedikit dan ia pun nyelonong begitu saja masuk ke dalam apartemen Abel.


“Boleh kita masuk, kan, say?” Bencong itu duduk di sofa ruang tamu.


Lah, lu udah masuk ke apartemen gue Bambang!Harusnya kalau mau nanya tadi sebelum lu masuk gitu aja.


“Maaf, ya mbak. Teman saya itu memang gitu.”


“Iya, gak papa mbak. Silahkan duduk dulu, mbak, siapa namanya?” Tanya Abel.


“Ceri, mbak.” Jawab perempuan itu.


“Kalau mas, eh mbak?” Abel buru-buru meralat panggilan nya saat si bencong melotot.


“Panggil eyke, Santi, cin.” Jawab banding itu.


Tadi say sekarang cin entar jadi apa lagi.


“Oh, saya kira namanya Santo.” Gumam Abel.


“Itu kalau malam mbak, kalau malam dia jadi Santo.” Satu Ceri.


Ealah Abel, itu mah bukan keren lagi tapi kurang kerjaan. Entahlah apa motivasi Santo menjadi Santi di siang hari. Hanya dia yang tau.


“Sebentar ya, saya angkat telepon dulu. Pacar saya telepon.” Ucap Abel saat ponselnya bergetar mendapati telepon masuk dari Daniel. Ceri dan Santi pun mengangguk.


Abel kembali ke kamarnya, tak lupa ia menutup pintu dan mengaktifkan mode kedap suara.


“Iya, halo.” Satu Abel cuek.


“Kok ketus sih, yang?Kamu marah?” Balas Daniel di seberang.


“Nggak.”


“Hm, ya udah kalau aku salah aku minta maaf.” Andalan Daniel ia selalu memilih minta maaf meskipun tidak tau kesalahannya apa. Dari pada bertengkar tidak jelas, lebih baik lelaki itu mengalah.


“Itu ada dua orang kesini katanya suruhan kamu, mana yang satu jadi-jadian pula.”


Daniel terkekeh. “Maksud kamu Santo yang jadi-jadian?”


“Kalau siang hari namanya Santi.” Ucap Abel.


“Iyaa, aku lupa.”


“Terus maksudnya apa?” Tanya Abel.

__ADS_1


“Aku mau ajak kamu dinner-.”


“Di restoran ramen lagi?” Potong Abel sebelum Daniel menyelesaikan ucapannya.


“Dengerin dulu dong, sayang.”


“Abis kamu tuh nggak ada yang bener kalau ngajak dinner, aku jadi males. Mie ayam jadi ramen, bakso jadi sushi. Php tau nggak kamu tuh.” Gerutu Abel yang beberapa kali kena php oleh pacarnya sendiri.


“Iya..iya, maaf. Besok nggak lagi. Tapi, kali ini dinner beneran deh, ada lilin-lilinnya gitu-.”


“Emang mati lampu pakai lilin segala.” Saut Abel sekenanya.


Terdengar Daniel menghela nafanya. “Biar romantis. Sayang. Sudah sana mandi, nanti dandan yang cantik di bantu Ceri sama Santo.” Tutur Daniel.


“Santi.”


“Iya, Santo atau Santi sama aja.”


“Oke.” Abel memutuskan panggilan telepon Daniel sepihak.


Abel pun kembali ke ruang tamu untuk menemui Ceri dan Santi. Ia membuatkan kedua tamunya minum dan camilan. Setelahnya Abel kembali ke kamar untuk membersihkan diri.


Butuh waktu satu jam untuk Ceri dan Santi merias Abel. Ceri sendiri sudah menyiapkan gaun untuk di pakai Abel dinner bersama Daniel.


“Mbak tolong foto kan dulu!” Pinta Abel seraya menyerahkan ponsel nya pada Ceri. Ceria menerima ponsel Abel.


Cekrek..Cekrek .. beberapa kali Ceri memotret Abel dengan berbagai pose. Sampai Abel menemukan satu pose yang bagus menurutnya.


Abel sengaja berpose yang seksi dengan memperlihatkan bagian bahu sebelahnya yang terbuka.


Setelah Ceri mengembalikan ponsel pada Abel. Abel langsung mengirim foto itu pada Daniel.



Tak berselang beberapa detik Daniel pun menelepon Abel. Namun, Abel sengaja meriject nya. Ia sedang mengganti baju nya dengan gaun yang sudah di siapkan Ceri.


***


Disisi lain Daniel nampak kesal saat Abel menolak panggilan teleponnya. Ia saat itu sedang bersama Mike memperiapkan dinner romantis dengan Abel.


“Kenapa dengan muka lo?” Tanya Mike heran.


“Kesel.” Jawab Daniel singkat.


“Karena Abel?”


Daniel mengangguk. “Tu anak gak angkat telepon gue setelah kirim foto menggoda.” Gerutu Daniel.


Mike menepuk-nepuk pundak sahabatnya. “Kasian, sabar ya!” Mike pun terkekeh.


“Sabar Daniel sabar, bentar lagi nikah. Sabar.” Gumam nya pada diri sendiri.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2