
“Bila!!” Adam menatap tajam Nabila. “Ada yang kamu sembunyikan dari suamimu?” Adam menggeser tubuhnya hingga miring kearah Nabila duduk.
Nabila menunduk takut. “Sebenarnya Bila sering menerima kiriman bunga mas, hampir dua minggu ini.” Ucap Nabila pelan. Niatnya Nabila akan jujur pada Adam dengan cara yang benar. Tidak taunya malah ada masalah setelah acara empat bulanan Nabila.
“Kenapa kamu nggak ngomong, Bil?!” Laki-laki itu menghela nafas kasar.
‘Berarti si pengacau itu berada di dekat Nabila, kemungkinan dia mengawasi Nabila.’ Batin Adam.
“Maaf, mas. Bila pikir bunga itu dari, mas.” Ujar Nabila jujur awalnya Nabila memang berpikir seperti itu.
Adam bangkit dari duduknya. “Aku akan keluar sebentar, kau tidurlah!” Ucap Adam sebelum meninggalkan Nabila. Laki-laki itu berjalan terburu-buru meninggalkan ruang kamarnya dengan menyambar kunci mobil tergelatak di nakas.
Nabila ingin sekali menghentikan langkah Adam dan menjelaskan semuanya. Tapi tidak berani ia mengira Adam pasti marah besar.
***
Mama Silfi dan ibu putri baru saja sampai dirumah. Seharian ini mereka bersenang-senang. Mama Silfi mengunjungi beberapa teman dekatnya bersama ibu putri. Juga mengunjungi kakek Trisno di rumah utama. Barulah kembali setelah jam makan malam. Karna kakek Trisno meminta mama Silfi dan ibu putri makan malam bersamanya.
Mama Silfi bisa melihat Adam menuruni anak tangga dengan terburu-buru. “Kamu mau kemana, Dam?” Tanya mama Silfi seraya duduk di sofa ruang keluarga.
“Adam mau keluar sebentar, ma. Ada perlu!” Ujar Adam mendekati mama Silfi.
“Nabila dimana, nak?Apa sudah tidur?” Gantian ibu putri yang bertanya. Ibu putri meletakan paperbag berisi martabak coklat kacang di meja persegi yang berada di tengah sofa.
“Bila di kamar, Buk. Baru saja mau tidur.” Ucap Adam.
“Jangan pulang malam-malam, Dam. Kasian Bila sendiri.” Mama Silfi mengingatkan.
“Iya, ma. Kalau gitu Adam pergi dulu, ma, buk.” Pamit Adam pada keduanya. Mama Silfi dan ibu putri pun mengangguk.
Dengan mobil sportnya Adam pergi ke apartemennya saat masih lajang. Disana ada ruang khusus yang biasa Adam gunakan untuk bekerja. Ruang khusus yang berisi beberapa layar monitor. Ruangan itu digunakan Adam untuk berpikir saat Adam sedang ada masalah. Atau saat Adam melawan musuhnya dalam persaingan bisnis.
Adam sampai di apartemennya setelah menempuh perjalanan 30 menit. Laki-laki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sudah ada Tio asisten pribadinya di apartemen Adam. Tio langsung menuju apartemen Adam begitu mendapat pesan dari Adam.
Adam masuk ke ruangan khusus itu dan melihat Tio sedang mengamati sesuatu. Laki-laki itu berjalan mendekati Tio.
“Tuan, sudah datang?” Tio menoleh sekilas lalu kembali fokus pada layar monitor di depannya.
__ADS_1
“Hm.” Adam berdiri dibelakang Tio ikut mengamati apa yang sedang dilihat Tio.
“Belum ada perkembangan?” Tanya Adam. Tio menggeleng. “Belum, Tuan.”
“Setiap hari pengirim bunganya ganti-ganti, Tuan. Saya menduga bunga itu juga di kirim dari beberapa toko yang berbeda.” Ujar Tio yang dari tadi sudah mengamati CCTV sekitar cafe Nabila. Bahkan Tio meretas CCTV milik marga jalan dan beberapa CCTV milik warga yang rumahnya dekat dengan cafe. Tio memeriksa semua CCTV yang dipasang sejauh radius 1km dari cafe milik Nabila.
“Orang itu sangat teliti, Tuan.” Lanjut Tio.
Adam manggut-manggut. “Cari beberapa orang untuk membantumu memeriksa CCTV selama 2 minggu Nabila mendapat keriman bunga. Periksa video CCTV itu 24 jam jangan ada yang terlewati!” Tegas Adam yang kemudian duduk di sebelah Tio.
“Baik, Tuan.”
Adam menghidupkan monitor yang ada didepannya. Ia akan melakukan sesuatu dengan komputer dihadapannya itu.
“Tuan, apa ada yang anda curigai?”
“Belum,”
***
Rangga Pov
Jika bukan karna urusanku di luar negeri, aku pasti sudah memilikinya. Padahal semua aku lakukan untuk Nabila. Setelah kematian kakak, aku belajar sungguh-sungguh. Aku sudah berjanji di depan pusara kakak, akan menjaga Nabila seperti kakak menjaga dan mencintainya. Aku mulai mempelajari manajemen dan berbisnis semua aku lakukan untuk Nabila. Dengan harapan saat kami menikah kehidupan Nabila akan berkecukupan. Bukan uang dari harta warisan papa, mama, tapi dari jeri payahku sendiri.
Aku shock ketika mendapat kabar Nabila sudah menikah. Bahkan, mama tidak mendapatkan undangan. Semua yang aku siapkan hancur. Semua yang aku usahakan hancur. Janjiku pada alm. Randy tak bisa ku wujudkan. Aku kembali shock ketika bertemu dengan Nabila di hari peringatan kematian kakak. Apalagi Nabila tengah hamil waktu itu.
Harapanku untuk merebut Nabila semakin susah dengan adanya bayi di kandungan Nabila. Dia pasti akan sulit berpisah dengan suaminya. Aku hampir menyerah waktu itu. Bagaimana pun aku dan alm. Randy hanya ingin Nabila bahagia. Jika, Nabila bahagia itu sudah cukup untukku.
Tapi, aku mulai mendapatkan harapan kembali saat tau kebenaran di balik pernikahan Nabila. Seorang teman memberitahuku tentang alasan dibalik pernikahan Nabila dan Adam yang terkesan buru-buru. Kenyataan pernikahan mereka yang berdasarkan perjodohan bukan atas dasar saling mencintai. Sejak aku tau kebenaran dari pernikahan Nabila, aku mulai memantaunya dari dekat. Mengamati setiap gerak geriknya. Dan, menunggu saat yang tepat untuk memunculkan diri. Perlahan aku akan memasuki kehidupan Nabila. Perlahan tapi pasti.
***
Tok..tok..tok.. “Siapa?” Sahut Nabila dari dalam kamar saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.
“Ini mama, sayang.” Ujar mama Silfi dari balik pintu.
Nabila turun dari ranjangnya berjalan mendekati pintu untuk membukanya. “Mama, sudah pulang?” Tanya Nabila.
__ADS_1
Mama Silfi mengangguk. “Ini martabak favorite kamu, kata ibuk.” Mama Silfi menyodorkan piring berisi beberapa potong martabak manis coklat kacang.
“Makasih, ma. Bila pikir mama sama ibuk mau nginep dirumah kakek.” Menerima piring yang berisi martabak dengan seulas senyum manis di bibirnya.
“Niatnya gitu, tapi kakek kamu nyuruh kami pulang. Kakek khawatir kamu masih belum pulih.” Ucap mama tersenyum.
“Kakek emang selalu sayang sama Bila.”
“Ya, udah. Kamu lanjutkan istirahatnya. Mama mau mandi.” Nabila mengangguk. Mama Silfi meninggalkan kamar Nabila.
Mama Silfi berjalan menuju kamar miliknya. Ia berpapasan dengan Yoga. Mama Silfi pun menghentikan langkahnya.
“Mama udah pulang?” Sapa Yoga.
“Sudah dari beberapa menit yang lalu, mau kemana kamu malam-malam begini?” Tanya mama Silfi. Yoga mengenakan jaket parasut dan menenteng helm full face hitam miliknya. Tak lupa membawa waist bag hitam yang senada dengan jaket.
“Nongkrong lah, ma. Anak gaul metropolitan euy.” Ucap Yoga seraya nyengir.
“Lagak bener anak mama yang satu ini, memang kamu punya uang mau nongkrong?” Mama Silfi tidak pernah menganggap Yoga anak angkat. Ia memperlakukan Yoga sebagaimana dulu memperlakukan Adam. Mama Silfi juga menyayangi Yoga seperti ia menyayangi Adam. Bagi mama Silfi, Yoga sudah dianggap anak kandungnya. Ya, anak bungsunya.
“Punya tapi dikit. Tambahin lah, ma.” Ujarnya memelas pada mama Silfi.
“Sini kamu ikut mama, mama kasih uang jajan.” Mama Silfi melanjutkan langkahnya.
“Asik.” Yoga girang dan mengekori mama Silfi.
Sampai di kamar mama Silfi membuka tasnya lalu mengambil uang pecahan seratus ribuan sebanyak 15 lembar totalnya satu juta lima ratus ribu. “Nih, jangan nakal. Awas kalau mama dapat laporan kamu nongkrong nggak bener!” Mama Silfi menyodorkan uang itu pada Yoga.
Yoga menerimanya dengan senang hati. “Makasih, ma.” Ucap Yoga semangat. “Yoga pamit dulu ya, ma.” Yoga mencium punggung tangan mama Silfi.
“Hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa motornya!”
“Siap.” Dengan tangan hormat lalu berjalan keluar dari kamar mama Silfi.
.
.
__ADS_1
.
.