Menikahi Lelaki Pilihan Kakek

Menikahi Lelaki Pilihan Kakek
Kedatangan orang tua Nabila..


__ADS_3

Nabila baru sampai dirumah. Ia turun dari mobil begitu mobil yang di kemudikan pak Slamet berhenti di parkiran. Ia melihat mobil Riko di parkiran rumahnya, tapi, belum ada mobil suaminya. Nabila melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah milik suaminya.


Tidak ada siapapun diruang tamu, diruang keluarga juga tidak ada siapapun. “Bi Ijah!” Panggil Nabila pada Bi Ijah yang sedang membereskan ruang keluarga.


“Iya, Non.” Bi Ijah menoleh pada Nabila.


“Itu di parkiran ada mobil mas Riko, tapi orangnya kok nggak ada Bi?” Tanya Nabila pada Bi Ijah.


“Oh.. itu yang bawa Tuan Kevin, non. Tadi sama mbak Abel datangnya, tapi, mereka cuma naruh mobil Tuan Kevin saja. Terus Tuan Kevin sama mbak Abel nya pergi pakai mobil mbak Abel.” Bi Ijah menjelaskan apa yang dilihatnya. Sepertinya Kevin sahabat Abel titip mobil sama pak Bejo yang jaga pos satpam.


Nabila manggut-manggut. “Oh ya udah, saya ke atas Bi.”


“Baik, non.” Nabila berjalan menaiki tangga menunju kamarnya, ia berpapasan dengan Yoga yang sepertinya akan keluar rumah. Adik angkatnya itu sangat rapi dan wangi.


“Mau kemana kamu?” Tanya Nabila melihat penampilan Yoga dari atas sampai bawah. “Kamu kan masih mbak hukum, belum boleh keluar rumah.” Perempuan itu mengingatkan adik angkatnya tentang hukuman yang sudah mereka sepakati bersama. Ya, karena wajah tampan Yoga babak belur, Yoga mendapat hukuman dari Nabila tidak boleh keluar rumah selama satu minggu kecuali untuk sekolah yang wajib diantara jemput pak Slamet.


“Yoga enggak mau keluar rumah kok.” Jawab Yoga.


“Terus??Kalau nggak mau keluar rumah kenapa rapi, gaya banged kamu dirumah aja rapi, pakai parfum segala.” Tanya Nabila masih menyelidik, perempuan itu tidak bisa percaya bergitu saja.


“Yoga mau barbeque an di taman belakang, sama temen-temen Yoga. Makanya Yoga rapi, tuan rumah harus necis dan rapi dong.” Ujar Yoga. Ia dan teman-temannya akan mengadakan berbeque-an karena malam minggu, mereka akan begadang dan gitaran sampai pagi.


“Oh..” Nabila manggut-manggut. “Ya udah sana, mbak mau mandi.”


“Okay.”


***


Dua hari kemudian, Nabila belum sempat bertanya pada Adam perihal bunga yang selalu di terimanya. Perempuan itu selalu lupa bertanya pada Adam karna Adam pulang telat selama dua hari ini. Adam lembur karena mengejar proyek baru yang sedang ia kerjakan.


Hari ini Nabila tidak masuk kuliah karna akan menjemput bapak Hendra, Ibu putri, dan Kalek Sutejo. Juga papa Wisnu, mama Silfi dan Kakek Sutrisno. Mereka datang ke Jakarta untuk acara pengajian empat bulanan Nabila.

__ADS_1


“Bil!”


“Iya, Mas.” Nabila menoleh ke Adam, perempuan itu sedang menyisir rambutnya yang akan ia kuncir.


“Kamu nggak usah ikut ke bandara yaa, biar Tio sama pak Slamet aja yang jemput.” Ucap Adam menghampiri Nabila.


“Tapi, mas..” Nabila cemberut, padahal perempuan itu sudah bangun pagi dan semangat sekali akan menjemput keluarganya.


Adam sudah berada di dekat Nabila, laki-laki itu mangambil sisir dari tangan Nabila dan menyisir rambut istrinya dengan lembut. “Kita tunggu dirumah saja ya, nanti kamu capek. Apalagi jalan ke arah bandara baru di perbaiki pasti macetnya parah.” Tutur Adam lembut.


“Ya udah deh, gak papa Bila nunggu dirumah aja.” Meskipun sedikit kecewa Nabila tetap menuruti kata suaminya. Tangan Nabila kemudian mengambil kuncir berwarna pink di meja rias dan memberikan kuncir itu pada Adam. “Kenapa di kasih ke mas?” Tanya Adam heran saat menerima kuncir rambut dari Nabila.


Nabila memiringkan kepalanya dan menatap tajam Adam. “Mas kan udah bantu nyisir rambut Nabila sekalian bantu kuncirin dong!Gimana sih?!” Cebik Nabila.


“Lah aku kak nggak bisa sayang, kalau salah gimana?” Belum pernah selama lahir sampai sekarang hampir punya anak Adam menguncir rambut perempuan. Bagaimana dia akan melakukannya.


“Bisa!Sini aku kasih tutorial.” Nabila mengambil kembali kuncir rambut yang tadi ia berikan pada Adam, lalu memperagakan pada Adam bagaimana ia biasanya menguncir rambutnya. “Kayak gini, bisa kan?” Nabila baru saja selesai menguncir kuda rambutnya.


“Iya sayang, bisa kok.” Jawab Adam.


‘Lah tadi kan dia udah kuncir rambutnya sendiri, malah di copot. Kan harusnya kalau udah di kuncir ya udah nggak perlu di copot lagi kan.” Batin Adam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Mas.. inih.” Panggil Nabila lagi, menyerahkan kuncir yang dari tadi is sodorkan pada Adam, tapi laki-laki di hadapanya masalah termenung.


“Eh.. iya sayang.” Adam menerima kuncir rambut Nabila dan menguncir rambut Nabila sesuai tutorial dari Nabila. “Sudah!” Ucap Adam setelah selesai melaksanakan tugasnya menguncir rambut Nabila.


Nabila langsung bercermin melihat penampilan dirinya yang baru saja di kuncir Adam. “Kok miring sih?” Protes Nabila saat melihat hasil kuciran Adam miring ke kanan tidak lurus kebelakang atas. “Salah itu mas, ulang!Jangan miring nanti lucu, Nabila kan udah Gede. Jangan dikuncir kaya anak-anak.” Protesnya lagi.


“Salah ya?” Tanya Adam ikut melihat penampilan Nabila dari pantulan cerminan.


“Salah!!”

__ADS_1


Adam menghela nafasnya. ‘Sabar Dam, sabar. Ingat bumil memang banyak maunya.’ Batin Adam menenangkan dirinya. Sudah beberapa kali Adam menguncir Nabila dan selalu salah. Laki-laki itu mengulangnya dan masih juga salah sampai akhirnya ia menyerah dan menyuruh Nabila menguncir rambutnya sendiri.


***


“Kakek!” Nabila sedikit berlari menghambur kepelukan kakek Tejo. Laki-laki sepuh itu baru saja masuk ke dalam rumah Adam. Di belakangannya dan bapak Hendra dan ibu putri.


“Nduk, Kakek kangen banged sama kamu. Gimana kamu sehat to?Calon cicit kakek sehat juga to?” Tanya kakek memeluk cucu kesayangannya.


“Alhamdulilah sehat, Kek.” Balas Nabila.


“Jadi, cuma Kakek aja yang di peluk Nduk?Ibuk enggak?” Sindir putri yang berdiri di sebelah kakek Tejo. Nabila langsung melepaskan pelukannya dari kakek Tejo dan beralih memeluk putri. “Ya enggak lah buk, Nabila juga kangen sama ibuk. Kangen banged malahan.” Memeluk erat putri dan beralih memeluk Hendra.


“Bapak juga sehat to?” Tanya Nabila pada Hendra.


“Kami semua sehat Nduk.” Jawab pak Hendra.


“Ayo masuk pak, buk, kek!” Ajak Nabila pada keluarganya untuk masuk keruang keluarga.


“Suamimu kemana, Nduk?” Tanya pak Hendra tidak melihat Adam ikut menyapa mereka.


“Mas Adam baru keluar sebentar, Pak.” Jawab Nabila, ia menyuruh Adam untuk ke toko kue milikinya mengambil kue yang sudah di pesan Nabila pada karyawannya. Adam terpaksa pergi sendiri mengambil kue karena sopir dan asistennya menjemput keluarga Nabila dan Adam di bandara. Sementara Yoga masih berada dia sekolah.


Keluarga Nabila lebih dulu sampai di Jakarta, jadi, Pak Slamet membawa keluarga Nabila pulang dulu. Sementara Tio tinggal di bandara untuk menunggu keluarga Adam.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


Ini cerita Nabila dan Adam cerita santai yaa.. konfliknya nggak berat berat banged..


__ADS_2